Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 76


__ADS_3

Kini pagi telah tiba. Satya sudah berada di ruang kerjanya berjibaku dengan laptop dan berkas-berkas yang berserakan di meja.


Seorang laki-laki tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Satya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya laki-laki yang tidak lain adalah pengacara Satya tersebut.


Satya melirik laki-laki itu tanpa menjawab pertanyaannya, seraya kemudian melanjutkan mengetik sesuatu di laptopnya.


"O, iya. Bagaiman kabar Clarissa? Kapan kalian menikah?" tanya pengacara itu kemudian sembari duduk di hadapan Satya.


"Clarissa sudah pergi. Dia memutuskan untuk kembali ke Jepang setelah kejadian kemarin," sahut Satya dengan masih mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Oooh.... Pantas, kamu terlihat frustasi sekali. Ternya, dua orang wanita yang sangat mencintaimu, kompak meninggalkan kamu secara bersamaan," ejek Dirga dengan terkekeh.


"Hmmmh!"


Satya membuang napas keras sembari melirik Dirga dengan wajah kesal.


"Kapan rencana kamu menyusul Clarissa ke Jepang?" tanya Dirga lagi.


"Siapa bilang aku mau menyusul Clarissa ke sana?" Satya bertanya dengan wajah geram.


"Bukankah kamu tidak mau memperbaiki hubunganmu dengan Hilya, karena ingin kembali kepada Clarissa?"


"Omong kosong! Mereka semua meninggalkanku. Kamu pikir aku akan membuang waktuku untuk mengejar mereka? Tidak!" tegas Satya dengan melemparkan sebuah file ke arah Dirga.


Dengan sigap Dirga menangkap sebuah map berwarna biru itu.


"Apa ini?" tanya Dirga seraya membuka file tersebut.


"Itu daftar wanita yang akan kencan denganku. Jadi, tolong kamu atur jadwal pertemuannya?"


"Kamu?" Dirga mengernyitkan dahi heran.


"Kenapa? Bukankah tidak mungkin jika pengusaha kaya sepertiku pergi menghadiri pesta tanpa seorang pendamping?" sahut Satya dengan wajah tanpa rasa berdosa.


"Oooh. Iya."


Dirga mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ada urusan dengan klien, aku pergi dulu!" pamit Dirga dengan membawa file itu.


*****


Tidak terasa esok hari pun tiba. Setelah urusan Dirga di kantornya selesai, Dirga bergegas menuju kator sahabatnya, karena ada tugas yang harus pengacara muda itu selesaikan.


"Maaf, aku datang terlambat!" kata Dirga saat masuk ke dalam ruangan sahabatnya.


Terlihat laki-laki berjas hitam yang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya hanya menjawab Dirga dengan tatapan datar.

__ADS_1


Dirga duduk di hadapannya dengan menghela napas panjang.


"Hari ini kamu ada janji dengan tiga orang wanita. Syeli, Mariska, dan Nova. Aku sudah hubungi mereka bertiga. Jam satu saat makan siang nanti, kamu akan menemui Syeli di Savano resto. Jam dua lanjut menemui Mariska di CokelatCaffe, dan jam empat kamu akan menemui Nova di Sandrina Spa," terang Dirga.


"Semua jadwal pertemuan sudah aku sesuaikan dengan jadwal kerja dan jadwal meeting kamu dengan klien," tambah Dirga.


"Okey, terima kasih!" sahut Satya datar.


"Ini sudah hampir jam satu. Ayo cepat siap-siap. Aku tunggu kamu di mobil!" kata Dirga seraya bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang direktur utama Agung Wijaya Group itu.


******


Beberapa menit kemudian mobil mewah Satya melaju meninggalkan area parkir kantornya.


Didamping oleh Dirga Satya mulai berkencan dengan wanita-wanita yang ada dalam daftar pencarian jodohnya itu.


Hari ini Satya mulai menemui salah seorang di antara mereka.


Diawali dengan menemui seorang gadis bernama Syeli, kemudian Mariska, dan yang terakhir adalah Nova.


Dengan sabar, Dirga mendampingi sahabatnya itu. Sekalipun ada rasa kesal di hatinya, namun kekesalan itu berusaha dia tahan.


Akhirnya missi Satya menjadi Arjuna mencari cinta hari ini telah selesai.


Saat sudah berada di dalam mobil, Dirga Mulai melontarkan pertanyaan.


"Bagaimana? Ada yang tersangkut di hatimu?"


"Aku rasa, tadi Nova sangat cantik. Kamu tidak tertarik padanya?"


"Cantik apanya?"


"Kamu tidak lihat? Tubuhnya tadi sangat mulus dan seksi," ungkap Dirga.


"Hmmmh!" Satya tersenyum sinis.


"Wanita macam apa dia, menemui laki-laki yang bukan muhrimnya hanya mengenakan handuk yang menutupi dada," tambah Satya.


"Hai.... Itu wajar. Kita kan menemui dia, saat dia sedang spa."


"Tapi apa tidak bisa, dia memakai baju dulu. Seperti wanita murahan saja, tidak berbudaya." Satya mengatakannya dengan wajah kesal.


"Hai.... Kenapa kamu marah? Itu kan urusan dia, mau menemuimu telanjang atau pakai baju," sahut Dirga.


"Wanita timur itu seharusnya berbudaya, dan memiliki agama, jadi tidak pantas dia menemuiku dengan hanya mengenakan handuk seperti itu."


"Okey, mungkin masalahnya, dia belum belajar budaya dan agama," sahut Dirga dengan suara santai. "Lagi pula, di data pribadinya, juga tidak tertulis apa agamanya."


"Maksudmu?" Satya seketika menoleh ke arah Dirga.

__ADS_1


"Sebelum mengatur jadwal kencanku, seharusnya kamu memeriksa dulu, seperti apa wanita yang pantas menjadi calon pendampingku. Aku tidak mau bertemu dengan wanita yang tidak sopan seperti itu, tidak memiliki akhlak yang baik," ujar Satya geram.


"Akhlak yang baik? Oh, maksudmu seperti Hilya?" Dirga menoleh ke arah Satya dengan tersenyum kecut.


"Jika masih cinta, kenapa harus sok jual mahal?" gumam Dirga lirih dengan membuang mukanya.


"Kamu bilang apa?" sahut Satya.


Seketika Dirga menoleh ke arah sahabatnya. Tampak kekesalan terpancar di sorot mata Dirga.


Dreeet!


Belum sempat Dirga menjawab pertanyaan Satya, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering.


"Hilya yang menelepon," kata Dirga.


Seketika Dirga mengangkat telepon itu.


"Istri macam apa dia. Bukannya menelepon suaminya, malah menelepon pengacara suaminya," gerutu Satya lirih dengan *******-***** tangannya.


Terlihat wajah Satya memerah saat melihat Dirga berbicara dengan Hilya di telepon. Dan wajah Satya semakin geram ketika Dirga sesekali tersenyum renyah saat menjawab telepon itu.


Selang beberapa menit kemudian Dirga pun mengakhiri percakapannya dengan Hilya.


"O, iya. Istrimu tadi menanyakan kabarmu, dia titip salam," kata Dirga.


Satya hanya melirik Dirga tampa menyahutinya.


"Kira-kira, tujuh Minggu lagi istrimu melahirkan. Hari perkiraan lahirnya sekitar tanggal dua November," tambah Dirga.


"Aku sudah tau. Aku ini suaminya. Tentu aku lebih tau dari kamu. Lagi pula dokter sudah pernah mengatakan hal ini padaku," sahut Satya dengan wajah kesal.


"Oh, aku pikir kamu belum tahu."


"Kamu pikir aku suami macam apa? Masak iya tidak tahu hari perkiraan lahir istrinya," sahut Satya dengan wajah masih tampak kesal.


"Okey, maaf!" Dirga tersenyum kecil seraya mengucapkan maaf pada sahabatnya tersebut. Berlahan Dirga menoleh ke arah jendela mobil sebelah kirinya sembari tersenyum geli.


"Dasar suami gila," ujar Dirga lirih.


"Apa?"


Satya bertanya dengan meninggikan nada suaranya.


Seketika Dirga menoleh ke arahnya.


"Mmm.... tepat jam tujuh nanti kamu ada meeting. Tiga puluh menit lagi," sahut Dirga berusaha mengalihkan pembicaraan, seraya tersenyum, seorang berusaha meredam emosi dalam diri sahabatnya.


Terlihat sopir yang mengemudikan mobil mereka juga tersenyum geli, saat melihat sikap kekanak-kanakan Satya dari spion depan mobilnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2