
Beberapa menit kemudian mobil dokter Melvina sudah terparkir di halaman klinik itu.
"Assalamualaikum dokter, selamat pagi!" sapa beberapa perawat di klinik pada dokter cantik yang mengenakan hijab itu.
"Waalaikum salam," sahutnya dengan tersenyum ramah.
Setelah itu dokter Melvina terlihat menuju ruang kerjanya.
"Suster Maya!" dokter Melvina memanggil salah seorang perawat yang menangani Hilya. "Bagaimana keadaan gadis itu?"
"Sudah lebih baik dokter. Ini berkas-berkas laporan kesehatan pasien!" kata perawat itu dengan menyerahkan map kepada dokter Melvina.
"Okey, terimakasih!"
Setelah itu dokter Melvina mulai mempelajari berkas yang diserahkan oleh salah seorang perawat di kliniknya. Dan kemudian dia mulai beranjak dari tempat duduknya menghampiri kamar rawat Hilya.
"Assalamualaikum!" ucap dokter Melvina saat masuk ke kamar Hilya.
"Waalaikum salam," jawab Hilya dengan tersenyum.
"Saya periksa dulu ya!" kata dokter Melvina dengan ramah.
Terlihat dokter Melvina menyentuh kening Hilya, dan mulai memeriksa dada, perutnya dengan stetoskop.
"Ada keluhan apa?" tanya dokter Melvina kemudian.
"Saya sudah lebih sehat dokter," kata Hilya sembari berusaha duduk dari posisinya yang berbaring.
"Alhamdulillah."
"Apa saya sudah boleh pulang dokter?"
"Belum! Kamu masih harus istirahat dulu!" kata dokter Melvina dengan menyentuh pundak Hilya.
Terlihat Hilya menunduk dan *******-***** jari-jemarinya seolah mencemaskan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya dokter Melvina dengan kembali menyentuh pundak Hilya seraya duduk di kursi yang ada di sebelah kanan bed Hilya.
"Mmm... Saya tidak punya uang dokter untuk membayar biaya rumah sakit. Tapi saya punya cincin ini, dokter bisa ambil cincin saya ini, jika kurang nanti pasti akan saya bayar setelah saya bertemu dengan orang tua saya," kata Hilya dengan menoleh ke arah dokter Melvina.
"Iya, tidak perlu pikiran biaya, yang penting kamu sembuh dulu," jawab dokter Melvina dengan tersenyum. "O, ya. Aku tidak menemukan identitas di tas kamu. Jadi aku minta maaf belum bisa menghubungi keluarga kamu."
"Mmm, iya." Hilya menoleh ke arah dokter Melvina dengan mengangguk. "O, ya. Dokter, kenapa saya masih harus istirahat di rumah sakit. Memangnya saya sakit apa?" tanya Hilya kemudian.
"Dari hasil lab, kamu terkena tipus. Jadi kamu harus istirahat. Istirahat total, biar kamu lekas sembuh," jelas dokter Melvina. "Dan hasil lab juga menunjukkan, kalau kamu sedang hamil!"
Seketika mulut Hilya menganga, matanya tampak tajam menatap ke depan dengan pandangan yang kosong.
"Hamil?" ucap Hilya lirih. "Aku hamil dokter?" tanyanya dengan air mata yang mulai menetes.
"Iya. Kenapa? Kamu lari dari rumah karena hamil, atau kekasihmu tidak mau bertanggung jawab?" tanya dokter Melvina lembut dengan mata penuh selidik saat menatap wajah Hilya yang tampak sedih dan kebingungan.
"Tidak dokter," sahut Hilya dengan terisak tangis sembari menunduk dan menutup kedua matanya.
Tampak dokter Melvina menepuk-nupuk pundak Hilya dengan lembut.
"Dokter? Apakah aku boleh meminjam handphone dokter untuk menghubungi orang tuaku?"
"Tentu!" sahut dokter Melvina dengan meraih handphone di dalam saku jasnya dan memberikannya pada Hilya. "Teleponlah keluargamu!" kata dokter Melvina kemudian sembari beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Hilya.
Setelah menerima handphone dari dokter Melvina, Hilya mencoba mengingat-ingat nomor telepon abah dan umminya. Diketiknya empat belas digit angka di layar handphone tersebut.
"Alhamdulillah!" ucap Hilya saat mendengar suara 'tuuuut... tuuuut...' pertanda nomor handphone yang dituju aktif.
Beberapa menit kemudian Hilya mulai beruluk salam.
"Assalamualaikum, Ummi! Ini Hilya," kata Hilya.
"Waalaikum salam. Hilya! Bagaimana kabarmu Nak? Ummi sangat rindu," sahut ummi Hilya. "Dirga sering menghubungi ummi. Dirga bilang kamu sedang ikut suamimu perjalanan bisnis ke luar negeri, karena itu kamu tidak pernah menghubungi kami, karena kalian sangat sibuk di sana, kata Dirga."
'Masya Allah! Begitu jahat mereka, hingga tega memutus silaturahmi antara aku dan orang tuaku' kata Hilya dalam hati saat mendengar umminya bercerita.
__ADS_1
"Hilya!" panggil umminya ketika Hilya tidak segera menjawab kata-katanya.
"Iya Ummi,"
"Sebentar ya Nak. Abahmu memanggil ummi!" kata ummi Hilya kemudian.
Hampir empat menit ummi Hilya meninggalkan panggilannya, dan dia mengangkat teleponnya kembali setelah urusannya dengan abahnya selesai.
"Maaf ya Nak, sudah menunggu lama! Ummi sedang membantu abahmu di kamar mandi."
"Tidak apa-apa Ummi. Memangnya, kenapa Ummi membantu Abah ke kamar mandi?"
"Maaf ya Nak! Ummi tidak mengabarimu, ummi takut mengganggu pekerjaan suamimu, karena kalian masih sangat sibuk di luar negeri. Abah sakit. Abah terkena stroke, abah habis kena musibah. Orang kepercayaan abah, ada yang membawa kabur uang Abah senilai tujuh ratus ratus juta lebih. Itu yang membuat Abah tiba-tiba jatuh sakit. Tapi sekarang Abah sudah lebih baik, Nak. Abah sudah bisa menerima musibah ini dengan ikhlas. Dan dokter bilang, selain menjaga pola makan, saat ini Abah tidak boleh terlalu banyak pikiran dan stres," jelas ummi Hilya panjang lebar.
"Iya ummi," sahut Hilya.
"Abahmu juga senang, saat ummi bilang kamu sekarang menelepon. Ummi bilang pada abah, kalau kamu sangat bahagia di sana, karena suami kamu sangat menyayangi kamu. Ummi benar kan nak?" kata ummi Hilya sembari bertanya.
"Iya Ummi, Hilya bahagia."
"Alhamdulillah, ummi sangat bahagia mendengarnya. Segera kasih ummi cucu ya, Nak! Dan setelah kamu pulang dari luar negeri, pulanglah sebentar ke kampung untuk menjenguk abah dan ummi!" kata ummi Hilya kemudian.
"Iya Ummi! Pasti! Insha Allah!" sahut Hilya dengan meneteskan air mata.
"Ya sudah, ummi mau siapin makanan dan obat buat abah dulu! Jaga dirimu! Kalau ada waktu luang, sering-seringlah menelepon abah dan ummi!"
"Iya Ummi."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam," jawab Hilya sembari menurunkan telepon seluler itu dari telinganya.
Hilya mulai menangis.
'Bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan seperti ini? Abah baru saja terkena musibah dan sakit? Aku sedang hamil muda dengan kondisi telah ditalak oleh suamiku. Jika abah tahu kemalanganku ini, pasti kondisi abah akan semakin memburuk. Ya Allah! aku harus bagaimana?'
__ADS_1
Hilya kembali menutup kedua matanya dan menangis tersedu-sedu.
Bersambung