Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 17


__ADS_3

Malam semakin larut. Suasana di tempat hiburan malam itu semakin ramai. apalagi ketika pukul dua puluh tiga malam, diskotik mulai dibuka di tempat hiburan itu, suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ cukup membuat pecah seisi ruangan.


Suara musik saling bertabrakan. Ada yang menyanyi di room-room karaoke, dan ada juga yang berjoged di diskotik tempat hiburan malam ini.


"Satya, jangan terlalu banyak minum! Ingat kamu tidak biasa minum banyak!" bisik Dirga saat sahabatnya itu berulang-ulang meneguk gelas yang berisi minuman keras.


Sepertinya Satya tidak mendengarkan nasehat Dirga. Pria itu benar-benar lepas kendali hingga dia mengalami mabuk berat malam ini.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dirga segera berpamitan pada Mr. Jhonson untuk undur diri.


Dipapahnya seorang pria yang berjalan sempoyongan itu keluar dari area klub malam menuju tempat parkir mobil.


"Aku bahagia, aku bahagia!" teriak Satya saat berada di area parkir.


"Jangan teriak-teriak, bikin malu!" ujar Dirga kesal saat melihat sahabatnya itu berteriak-teriak seperti orang gila.


"Ayo masuk!" Dirga berusaha menggiring Satya untuk masuk ke dalam mobil.


Namun tiba-tiba.


"Uweek!" Satya memuntahkan isi perutnya ke pintu mobil Dirga. Dan muntahannya itu sedikit menciprati baju Dirga.


"Sial!!" gumam Dirga kesal.


Dirga segera membuka pintu mobilnya dan berusaha mendorong pria yang mabuk berat itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Aku antar kamu pulang kemana ini? Ke rumah orang tuamu, atau ke rumah Clarissa?" tanya Dirga kesal.


"Jangan! Mamaku dan Clarissa pasti marah jika melihat aku mabuk... hehehehe..." sahut pria itu dengan terkekeh.


"Terus kamu mau tidur dimana?" tanya Dirga kesal.


"Uweek!!!" pria itu kembali memuntahkan isi perutnya. Dan kali ini dia memuntahkannya di dalam mobil Dirga.


"Sial!!" maki Dirga kesal.


"Aku... Tidur... Di apartemenmu saja!" kata Satya dengan suara terbata-bata.


"Tidak! Aku tidak mau apartemenku kotor dengan muntahan yang keluar dari perutmu!" jawab Dirga kesal. "Aku antar kamu ke apartemenmu saja, di sana ada Hilya yang akan mengurusmu!"


"Iya, iya, biar gadis itu yang mengurusku," jawab Satya kemudian. Dan setelah itu dia tergeletak lemas.


"Hmmh!"

__ADS_1


Dirga mulai membuang nafasnya keras saat melihat sahabatnya itu tergeletak dengan bau tajam alkohol, dan muntahan yang tidak sedap di tubuhnya.


"Sial!!" makinya lagi kesal dengan melirik sahabatnya yang telah terkapar.


Selang beberapa menit kemudian mobil yang dikemudikan Dirga telah sampai di apartemen yang ditempati Hilya.


Dirga berusaha memapah Satya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.


"Kreek!" Dirga bergegas membuka pintu apartemen itu.


"Masya Allah! Mas Satya, kenapa Mas?"


Hilya yang saat itu baru selesai melipat mukenahnya, dan hendak naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat segera menghampiri Satya yang dipapah oleh Dirga.


"Suamimu... Masuk angin, dia muntah-muntah," terang Dirga dengan berfikir, meyakinkan Hilya yang tampak panik saat melihat suaminya lemas dipelukannya.


"Oooh!!"


Hilya segera menggantikan posisi Dirga untuk memapah Satya.


"Hmmmh..."


Hilya sedikit membuang nafas dan memalingkan muka saat mencium bau mulut Satya yang menyengat.


"Suamimu habis minum?" kata Dirga.


"Maksudku minum obat herbal, makanya mulutnya bau, kan?"


"Oooh, minum obat herbal untuk masuk angin, ya mas?" tanya Hilya polos.


Wanita ini benar-benar tidak mengetahui kalau bau tajam yang keluar dari mulut suaminya, adalah bau alkohol.


"Iya minum obat masuk angin," jawab Dirga dengan tersenyum kecil.


"Uweek!!" Satya kembali memuntahkan isi perutnya.


"Ya Allah!!" ucap Hilya.


Kali ini laki-laki itu memuntahkan isi perutnya ke lantai apartemen dan ke baju Hilya.


"Dari tadi Satya muntah-muntah, tolong kamu ganti bajunya ya!" ucap Dirga pada Hilya.


"Iya mas," jawab Hilya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku pamit dulu!" kata Dirga.


"Iya, terimakasih," jawab Hilya.


Namun ketika Dirga hendak keluar.


"Mas, apa Mas Satya tidak perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Hilya dengan wajah cemas.


"Tidak perlu! Besok pagi dia pasti sudah sehat," jawab Dirga.


"Oooh..." Hilya mengangguk, kemudian kembali memapah suaminya itu ke atas tempat tidur, dan membiarkan Dirga keluar dari apartemennya.


Sejenak Hilya memandangi wajah Satya yang terbujur lemas di atas tempat tidur. Bau menyengat dari muntahan yang menempel di baju dan tubuh Satya sangat mengganggu penciuman Hilya.


Akhirnya Hilya pun bergegas membuka almari untuk mencari pakaian. Wanita itu berniat untuk mengganti pakaian suaminya yang kotor. Disiapkan juga air hangat untuk menyeka tubuh suaminya yang lengket dan bau karena muntahan.


Berlahan Hilya mulai membuka kancing baju Satya. Sesekali dia melihat pria itu menggeliat.


"Aku seka dulu ya mas!" ucap Hilya lirih setelah membuka jas dasi dan kemeja suaminya.


Dengan lembut Hilya mengusapkan waslap yang telah dibasahi air hangat ke tubuh Satya. Dia melakukannya hingga tubuh Satya tidak berbau. Setelah itu dia melanjutkannya dengan mengusap wajah dan bibir Satya.


Namun tiba-tiba Satya terjaga.


"Mas Satya bangun? Mas Satya mau aku buatkan minuman hangat?" tawar Hilya dengan suara lembut.


Satya tidak bergeming. Terlihat mata sendunya menatap dalam wajah Hilya. Dan tampak senyum manis terukir di bibir Satya saat memandang Hilya.


Hilya merasa ada yang aneh pada diri suaminya, namun meskipun demikian, dia tetap membalas senyum manis dari suaminya itu dengan lembut.


"Hilya!" sebut Satya lirih, saat Hilya beranjak dari tempat tidurnya meletakkan air dan lap yang telah dia gunakan untuk menyeka dirinya di atas laci yang ada di sebelah tempat tidurnya.


"Iya," sahut Hilya dengan menoleh ke arah laki-laki tersebut.


Tiba-tiba tangan kekar Satya menyentuh pipi Hilya. Sebuah sentuhan lembut pertama dari tangan Satya yang pernah Hilya rasakan.


"Mas Satya?" gumam Hilya lirih.


Hilya pun menyambutnya dengan rela belaian lembut dari suami, hingga akhirnya terjadi sesuatu di ranjang tidur Hilya malam itu.


Di bawah pengaruh alkohol Satya melakukan kewajibannya sebagai seorang suami pada Hilya, dan Hilya pun menyambutnya, Hilya merelakan diri untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri malam itu.


Tak terasa air mata Hilya menetes. ada rasa bahagia di hati Hilya, dia tidak menyangka kalau malam ini suaminya akan membelainya dengan lembut dan mesra.

__ADS_1


Karena tidak dimungkiri kalau selama ini, sebagai seorang wanita sehat dan normal, Hilya pun mendamba belai dan kasih dari suaminya.


Bersambung


__ADS_2