Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 78


__ADS_3

Siang itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dirga bergegas menuju kantor Satya.


"Aku lupa, kita hampir saja terlambat. Hari ini kamu ada jadwal kencan dengan Lily Harland. Putri Pengusaha Cokro Harland. Dia baru saja menyelesaikan sekolah bisnisnya di Eropa, dan saat ini, menjabat sebagai direktur di anak perusahaan ayahnya," terang Dirga.


"Ayo cepat!" kata Dirga kemudian seraya keluar dari ruang kerja Satya.


Satya pun bergegas mengikuti langkah Dirga dengan merapikan kancing jasnya.


Pengusaha kaya itu, terlihat sangat tampan saat mengenakan setelan jas dengan warna apa pun.


Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Satya sudah berhenti di halaman parkir hotel bintang lima.


Ternyata Dirga mengatur pertemuan Satya dengan putri pengusaha kaya itu, di sebuah restoran mewah yang ada di dalam hotel ini.


Saat ini Satya telah duduk di restoran, menunggu wanita cantik yang akan dia temui.


"Dia masih di jalan," bisik Dirga saat Satya berkali-kali melihat arloji di tangannya.


Beberapa menit kemudian seorang wanita cantik berblazer cokelat muda berjalan masuk ke dalam restoran.


Dua orang bodyguard laki-laki, dan tiga orang asistem perempuan tampak mengikuti langkahnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Dirga saat Satya memperhatikan wanita itu.


Satya bergeming. Bahkan dia hanya menatap wanita cantik itu dengan tatapan datar.


"Auuuuuw!!"


Pyaar!!


Tiba-tiba terdengar teriakan saat seorang pelayan restoran tidak sengaja menabrak wanita itu.


"Maaf.... Maaf!!" kata seorang pelayan restoran, saat melihat minuman yang dia bawa tumpah di baju mahal wanita itu.


Seketika wanita berblazer cokelat itu mengambil minuman yang ada di meja pengunjung dekat dia berdiri.


Dengan kasar wanita itu langsung menyiramkan minuman ke wajah sang pelayan.


"Bilang sama manager restoran ini, untuk segera memecat dia!" kata wanita itu angkuh seraya menepis tubuh pelayan yang masih berdiri di hadapannya.


Satya yang melihat kejadian itu segera bangkit dari tempat duduknya. Dia terlihat merapikan kancing jasnya dan melangkah pergi.


"Hai, mau kemana kamu?" tanya Dirga.


Satya tampak acuh, mengabaikan pertanyaan Dirga, dengan terus berjalan meninggalkan restoran mewah itu.


"Ayolah kawan. Ada apa ini, kenapa kamu tiba-tiba pergi?"


Dirga berlari mengikuti langkah cepat Satya. Dirga heran dengan sikap sahabatnya yang terkadang susah ditebak itu.


"Wanita macam apa dia. Sangat kasar pada pelayanan. Jelas-jelas pelayanan tadi tidak sengaja menabraknya," gerutu Satya dengan terus berjalan cepat.


"Kamu tau Hilya? Bahkan dia sangat sopan ketika berbicara dengan pelayan yang tidak sengaja menabraknya di pesta."


Satya mulai membandingkan Hilya dengan wanita itu


"Aku tidak berakhlak. Tidak memiliki adab. Bahkan tidak memiliki belas kasih," tambah Satya dengan wajah geram.

__ADS_1


"Hmmmmh!"


Dirga membuang napas keras.


"Lalu bagaimana?" tanya Dirga.


"Temui saja dia sendiri. Aku tidak mau bertemu dengan dia," kata Satya seraya menekan tombol lift untuk keluar dari Restoran yang ada di lantai tujuh itu.


"Aku langsung ke kantor," katanya kemudian saat pintu lift sudah terbuka.


"Huuuuuuh!!!"


Dirga membuang napas seraya mencengkeram kepalanya. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat.


"Kurang ajar sekali dia!" maki Dirga kesal, saat Satya meninggalkannya sendirian di tempat itu.


Tampak di dalam dada Dirga berkecamuk, saat melihat sahabatnya yang selalu bersikap semaunya sendiri.


*****


Hari telah berganti. Di sebuah gedung pengadilan, Dirga tampak sibuk dengan kliennya, dan di tengah-tengah kesibukannya itu, tiba-tiba handphone di saku jasnya bergetar.


"Ada apa? Aku sibuk," kata Dirga saat mengangkat telepon.


"Sekarang juga ke kantorku!"


"Aku masih sibuk. Aku sudah atur jadwal pertemuanmu, kamu bisa pergi sendiri!" sahut Dirga.


"Aku tidak mau. Setelah urusanmu selesai, cepat ke sini!" putus laki-laki yang menelepon Dirga, seraya menutup teleponnya.


Beberapa jam kemudian pekerjaan Dirga selesai. Dirga bergegas menuju kantor sahabatnya. Setelah sampai di area parkir kantor, Dirga berjalan cepat menuju ruang kerja sahabatnya tersebut.


"Maaf aku terlambat!" kata Dirga saat masuk ke dalam kantor sahabatnya.


Sahabatnya, yang saat itu tengah berkonsentrasi di depan laptop, hanya melirik sebentar, dan kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Hmmmh!"


Dirga menghela napas panjang seraya duduk di hadapan sahabatnya.


"O iya, hari ini kamu ada janji dengan Melly Zavala," ujar Dirga.


"Siapa itu?"


Satya mengernyitkan dahi.


"Penyanyi dangdut yang lagi viral. Dia adalah salah satu penyanyi dangdut terkaya, cantik, seksi, dan yang pasti mempesona," terang Dirga dengan mengangkat kedua alisnya, dan tersenyum nakal.


"Yang benar saja. Aku meninggalkan Hilya hanya untuk mendapatkan penyanyi dangdut?" Satya seketika menyeranga.


"Kenapa? Dia cantik.... Kaya...." ujar Dirga.


"Hilya juga cantik. Dia juga anak orang kaya."


"Tapi Hilya gadis kampung!" sahut Dirga.


Braaak!!

__ADS_1


Seketika Satya meletakkan laptop dan mendobrak mejanya.


"Aku tidak mau bertemu dengan penyanyi itu. Mengerti!!"


Satya mengatakannya dengan geram, dan menatap tajam mata Dirga.


Dirga seketika menelan saliva.


"Okey, kalau begitu, akan aku atur jadwal pertemuanmu dengan Risty Purnama."


"Siapa lagi itu?"


"Penyanyi dangdut, tapi dia berhijab, salihah, dan yang pasti kaya, karena dia termasuk jajaran penyanyi dangan bayaran mahal."


"Hmmm!"


Satya membuang napas keras.


"Dengar ya! Hilya berhijab, salihah, dan dia juga merdu saat mengaji, apalagi saat bernyanyi. Jadi, itu artinya. Aku tidak mau bertemu dengan dia."


"Okey, kalau begitu fix, kamu masih menyukai Hilya. Jadi, kembali saja padanya!"


Satya mengatakan dengan mendongakkan kepala kesal.


Braaak!!!


Satya kembali memukul meja.


"Apa maksudmu?"


"Semua wanita yang sudah kamu temui tidak ada yang cocok. Selalu saja dibandingkan dengan Hilya. Itu artinya apa? Kamu masih tidak bisa melupakan Hilya. Jadi, sudah cukup aku mengatur jadwal pertemuanmu dengan wanita-wanita itu. Tidak berguna!" ujar Dirga dengan wajah kesal seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu!"


Satya segera menghentikan langkah sahabatnya yang hendak keluar dari ruangannya itu.


"Apa lagi?" tanya Dirga menyerangah.


"Duduk dulu!" pinta Satya dengan suara sopan.


Berlahan Dirga kembali untuk duduk.


"Okey.... Okey.... Atur lagi jadwalnya! Aku mau bertemu dengan siapa saja wanita yang kamu pilihkan," kata Satya dengan suara pelan, seolah pasrah karena takut ditinggalkan oleh sahabatnya itu.


"Hmmmmh!"


Dirga kembali membuang napas keras.


"Okey, besok kamu makan siang dengan Amerta. Dia model, dan baru saja berhijrah."


"Ya, baiklah! Terserah kamu saja," sahut Satya.


"Aku kembali ke kantor dulu!" pamit Dirga kemudian seraya bangkit dari tempat duduknya meninggalkan ruang kerja Satya.


"Hati-hati!" jawab Satya dengan tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2