
Hilya bergegas keluar dari mobil saat telah sampai di rumah Ibu Diana.
Satya yang merasa ada yang aneh dengan sikap Hilya, bergegas keluar dari mobil mengikuti langkah wanita itu.
"Ueeek!! Ueeek!"
Terdengar Hilya memuntahkan semua isi perutnya di kamar mandi.
Satya berdiri di depan kamar mandi dengan perasaan tidak tenang, sembari mondar-mandir dan sesekali mengusap kepalanya. Laki-laki itu sepertinya merasa khawatir dengan keadaan Hilya.
"Kreek!"
Hilya membuka pintu kamar mandi dengan pelan.
Wajah Hilya tampak pucat, dan badannya terlihat lemas.
"Kamu sakit apa?" tanya Satya dengan memegang kuat lengan Hilya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku nggak sakit," sahut Hilya dengan berusaha melepas memegang kuat tangan laki-laki itu.
"Kamu pucat. Ayo ke rumah sakit!" kata Satya dengan masih memegang lengan Hilya, sembari menarik wanita itu untuk ikut bersamanya
Seketika Hilya menghempaskan tangan laki-laki itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
"Aku tidak mau ke rumah sakit."
Hilya menatap laki-laki itu kesal.
"Dengan ya Hilya! Kalau kamu berpikir, aku akan membawa kamu ke rumah sakit karena aku perhatian sama kamu, kamu salah besar!" kata Satya dengan menatap Hilya. "Aku ingin membawa kamu ke rumah sakit, karena aku tidak mau mamaku rugi. Dia sudah menggaji kamu mahal, dan tiba-tiba setelah itu kamu sakit, lalu tidak bisa mengurus Clara. Bisa kamu bayangkan berapa kerugian yang akan keluargaku perolehan?"
"Dengan ya tuan muda! Untuk masalah itu, tuan tidak perlu khawatir. Aku bukan orang yang tidak memiliki tanggung jawab. Sekalipun aku sakit, aku bisa melakukan tugasku dengan baik."
Hilya menjawab dengan sinis, uangkapan laki-laki yang bersikap angkuh dan sombong itu. Seraya berbalik dan berjalan cepat meninggalkannya.
"Hmmmmh!!"
Terdengar kemudian laki-laki berjas coklat tua itu membuang nafasnya keras, dengan memperhatikan langkah Hilya yang berlalu meninggalkannya.
Entah kenapa bayangan Hilya terus membuntuti hati dan pikiran direktur utama Agung Wijaya group ini. Ketika dia berjalan, ketika dia menyetir mobil, ketika dia berada di lift, bahkan ketika dia sudah berada di kantor.
Terlihat direktur muda itu, tidak henti-henti menghelan nafas panjang, disaat bayangan wajah pucat dan lemas Hilya muncul berulang-ulang di pelupuk matanya.
"Sakit apa sebenarnya wanita itu?" gumamnya lirih saat dia tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seraya kemudian mencoba menepis bayangan wanita itu dan kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, jam dinding di ruang kerja Satya sudah menunjukkan pukul 18.00. Satya bergegas menutup laptop dan merapikan berkas-berkas yang memenuhi meja kerjanya. Seraya kemudian keluar dari kantornya, menuju tempat parkir, dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Setelah sampai di halaman rumah, Satya bergegas masuk ke dalam dan menuju lorong dapur. Sebuah lorong yang menghubungkan dengan pintu kamar Hilya.
"Mbak Hilya suka minum susu ya? Saya lihat dari kemarin mbak Hilya minum susu terus," kata Bik Rum pada Hilya saat mereka berdua ada di dapur.
"Iya, Bik. Saya memang suka minum susu," jawab Hilya sembari mengaduk susu coklat yang tengah dia buat.
Tampak dari ujung ruangan itu Satya yang baru pulang kerja memperhatikan mereka.
"Mbak Hilya sakit apa sih? Kok setiap hari bibik lihat, selalu minum obat?" tanya bibi lagi saat melihat Hilya hendak meminum obat.
"Nggak sakit apa-apa kok, Bik. Ini cuma vitamin," jawab Hilya meyakinkan bibik.
"Mbak! Yang pernah bibik dengar, habis minum obat nggak boleh minum susu dulu, nanti obatnya nggak berfungsi sempurna."
"Iya, Bik. Makasih nasehatnya. Susunya mau aku minum nanti setelah dingin," sahut Hilya kemudian.
"Ya udah. Bibik mau beresin meja makan dulu ya! Sebentar lagi nyonya besar dan tuan muda datang, biasanya mereka langsung makan malam."
Hilya mengangguk.
"Mau aku bantuin, Bik?
"Nggak usah. Mbak Hilya tunggu di sini aja dulu, biar bibik yang beresin."
Sesekali Hilya mengatur nafasnya, sembari memijit-mijit kepalanya. Hilya merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya saat ini. Sepertinya kehamilan Hilya yang sudah memasuki dua bulan sangat mempengaruhi hormon tubuh dan kesehatannya.
"Ehm!"
Terdengar suara seseorang mendehem.
Hilya segera menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata laki-laki berkulit putih bersih, tinggi, kekar, sedang berdiri di belakangnya.
Seketika Hilya bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke arah laki-laki tersebut.
Terlihat tangan Satya menyentuh kening wanita berkerudung coklat muda itu.
Dan seketika Hilya menepis tangan laki-laki itu.
"Kamu sakit apa? Badan kamu panas?" kata Satya.
"Aku sehat."
__ADS_1
"Kamu sakit," kata Satya dengan memegang erat telapak tangan Hilya. "Lihat ini! tangan kamu juga terasa panas," kata laki-laki itu.
Hilya kembali menghempaskan tangan Satya yang tiba-tiba memegang tangannya.
"Aku sehat!" kata Hilya kasar dengan menegakkan kepala, dan menatap laki-laki itu kesal.
"Ada apa ini?" tanya Bibi Rum tiba-tiba, mengejutkan Hilya dan Satya.
Seketika Hilya dan Satya menoleh ke arah bibik.
"Mmm... Aku mau minta bibik buatkan aku jus tomat. Bisa kan, Bik?"
Satya berkata dengan tenang dan tersenyum. Meyakinkan bibik kalau saat itu tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Hilya.
"Bisa tuan," jawab bibik dengan mengangguk.
"Aku pamit ke kamar Clara dulu ya, Bik! Mau bantu Clara mengerjakan PR," pamit Hilya kemudian, seraya melangkah meninggalkan bibik dan Satya.
Terlihat setelah itu, Bik Rum dan Satya memandangi langkah Hilya yang berjalan cepat keluar dari dapur.
"Ya Allah. Susunya mbak Hilya belum diminum!" kata bibi, saat melihat gelas berisi susu coklat yang masih penuh di meja.
"Biar saya yang antar ke kamar Clara Bik. Bibik buatkan saya jus aja, ya!"
Satya menyentuh lengan bibik dengan berkata lembut, seraya membawa gelas berisi susu itu keluar dari dapur.
"Mmm... Aneh?" gumam bibik dengan memperhatikan langkah majikannya.
Sepertinya bibik merasa bingung dengan sikap dua orang laki-laki dan perempuan yang baru saja berada di dapurnya.
Setelah itu bibik kembali berkonsentrasi dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kreek!"
Satya yang saat itu membawa susu milik Hilya telah sampai di depan kamar Clara. Berlahan dia membuka pintu kamar tersebut.
Seketika Clara dan Hilya yang saat itu sedang berkonsentrasi di depan meja belajar, menoleh ke arah Satya secara bersama-sama.
"Om bikinkan aku susu? Aku kan udah minum susu," kata Clara saat melihat pamannya yang tampan itu membawa susu coklat ke dalam kamarnya.
"Ini susu buat Kak Hilya, tadi ketinggalan di dapur," kata Satya sembari tersenyum ke arah Clara dan Hilya, lalu meletakkan susu itu di samping tangan Hilya yang sedang bertumpu di atas meja belajar Clara.
"Terimakasih!" kata Hilya datar tanpa melihat ke arah Satya.
__ADS_1
"Sama-sama," sahut Satya lirih, seraya meninggalkan kamar keponakannya tersebut.
Bersambung