
Kini Satya sudah berada di sebuah acara yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi Fashion, tempat di mana Clarissa akan menerima penghargaan.
Clarissa menjadi wanita paling cantik yang menjadi pusat perhatian dalam acara malam itu.
Semua mata takjub memandang Clarissa. Sorot kamera para fotografer pun tertuju pada penampilan menawannya.
"Clarissa sangat cantik, ya?" puji Ibu Diana dengan bertanya kepada Satya yang saat itu berdiri di sampingnya.
"Mmmm...."
Satya tersenyum tipis dengan memperhatikan mantan kekasihnya yang saat itu berdiri di atas panggung tengah menerima penghargaan.
"Andai saat ini dia menjadi istrimu, pasti saat ini adalah malam istimewa untuk kita," tambah Ibu Diana.
"Sudah, Ma! Aku sudah menikah," pungkas Satya.
Acara pun terus berjalan. Ibu Diana terlihat menikmati acara tersebut, sementara Satya tampak gelisah dan kurang bersemangat.
"Ma! Aku pulang dulu! Mama bisa pulang dengan Pak Jun."
Satya berpamitan kepada Ibu Diana untuk pulang terlebih dahulu.
"Iya," sahut Ibu Diana datar.
Satya pun bergegas keluar dari gedung itu. Gedung yang ada di lantai tujuh hotel berbintang.
Satya mulai masuk ke dalam lift untuk segera keluar dari hotel. Dan saat pintu lift terbuka.
"Mr. Jhon!"
"Satya!"
Satya bertemu dengan rekan bisnisnya. Mereka berpelukan dan kemudian berbincang akrab. Satya yang saat itu hendak pulang mengurungkan niatnya, karena Mr. Jhon memintanya untuk menemaninya makan malam di sebuah restauran yang ada di dalam hotel itu.
Setelah berbincang lama dengan Mr. Jhon dan beberapa temannya Satya kemudian menuju sebuah room karaoke yang juga ada di dalam hotel itu.
Sepertinya malam ini Satya bersenang-senang dengan Mr. Jhon dan beberapa orang temannya.
"Ayo minum!"
Mr. John menawarkan sebuah minuman beralkohol yang dia pesan saat di dalam room karaoke itu.
"Tidak!"
Satya menolak dengan tersenyum. Dalam pikiran terbersit wajah Hilya yang berpesan agar dirinya tidak minum, minuman keras tersebut.
"Ayolah! Sedikit saja!" rayu Mr. Jhon.
Entah apa yang Mr. Jhon katakan, hingga Satya bersedia meneguk minuman itu.
Akhirnya Satya pun hanyut dalam kesenangan dunia malam bersama Mr. Jhon dan teman-temannya.
****
Sementara itu di rumah megah berlantai tiga, tampak dari jendela kamar Hilya memperhatikan Ibu Diana yang baru keluar dari dalam mobilnya.
Mata Hilya menyelidik. Dia hanya melihat hanya Ibu Diana yang keluar dari dalam mobil.
Hilya mulai cemas karena tidak melihat Satya dan Clarissa datang bersama Ibu Diana.
Hilya mulai meraih ponselnya yang tergeletak di meja riasnya. Wanita cantik itu, mulai menyentuh layar ponselnya berusaha menghubungi Satya. Tapi entah kenapa Satya tidak mengangkat panggilan darinya.
Hingga kemudian Satya mengirimkan pesan.
'Aku saat ini bersama rekan bisnis.'
Pesan yang ditulis Satya.
Hilya pun merasa lebih tenang. Dia berpikir kalau saat ini Satya sedang membicarakan pekerjaan dengan rekan bisnisnya.
Tidak ada kecurigaan di hati Hilya, karena dia adalah wanita yang tulus, yang percaya kepada suaminya.
Tiba-tiba Hilya mendengar suara mobil datang. Hilya pun bergegas mengintip dari jendela kamarnya.
Clarissa terlihat keluar dari dalam mobil sendirian.
__ADS_1
Hilya mulai bernapas lega. Ternyata kepercayaan pada Satya tidak sia-sia. Satya benar-benar sedang bersama rekan bisnisnya.
Akhirnya dengan rasa tenang Hilya mulai merebahkan diri di atas tempat tidur. Hilya memutuskan untuk beristirahat dengan memejamkan mata.
****
Sudah mampir jam dua puluh empat, namun Satya masih asyik bersama Mr. Jhon dan teman-temannya di dalam sebuah room karaoke.
Mr. Jhon berulang-ulang menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas Satya. hingga Satya terlihat mabuk berat.
Beberapa menit kemudian mereka pun keluar dari room tersebut.
Dengan langkah agak sempoyongan Satya berjalan menuju tempat parkir mobil.
"Maaf!" kata Satya pada seorang wanita yang tidak sengaja dia tabrak saat dia berusaha mencari mobilnya yang entah terparkir di mana.
Wanita itu memperlihatkan Satya dan kemudian meraih ponselnya, dia terlihat menelepon seseorang.
Selang beberapa menit Satya pun menemukan mobilnya yang terparkir. Mobil yang sebenarnya tidak jauh dari tempatnya mondar-mandir.
Mungkin pengaruh alkohol benar-benar membuat Satya linglung. Hingga saat di dalam mobil pun, dia tidak segera menghidupkan mesin mobilnya.
Terlihat wanita yang tadi tidak sengaja ditabrak Satya masih memperhatikan laki-laki tampan itu dari dalam mobilnya. Hingga kemudian seorang wanita datang menghampirinya.
"Claris! Dia pacar kamu, kan?" kata wanita itu pada temannya dengan menunjuk mobil Satya.
"Dia baru keluar dari room karaoke, sepertinya dia mabuk berat," kata wanita itu lagi.
"Ok! Terima kasih," sahut wanita yang baru datang itu seraya pergi menghampiri mobil Satya.
Setelah sampai di mobil Satya, wanita itu bergegas membuka pintu mobil.
"Clarissa.... Tolong telepon Dirga! Aku tidak bisa menyetir mobil," kata Satya dengan suara dan wajah lemah.
"Iya," sahut Clarissa seraya membantu Satya keluar dari dalam mobilnya.
"Uweek!"
Satya mulai ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.
"Kita mau kemana?" tanya Satya saat Clarissa memapahnya masuk ke dalam mobil Clarissa.
Setelah Satya masuk ke dalam mobil, Clarissa langsung melajukan mobilnya.
"Uweek!"
Satya pun mulai memuntahkan isi perutnya di dalam mobil Clarissa. Dan setelah itu dia tampak semakin terkulai lemas.
Clarissa meliriknya sembari tersenyum sinis. Dan semakin melajukan mobilnya dengan kencang
****
Waktu terus berjalan. Tidak terasa pagi telah menjelang. Hilya mulai terjaga dari tidurnya.
'Mas Satya...'
Tangan Hilya menyentuh tempat tidurnya. Dia tidak melihat ada Satya di sana.
Pikirannya mulai cemas. Dia segera meraih ponselnya. Melihat mungkin saja ada pesan yang Satya kirim untuknya.
"Ya Allah! Aku di mana Mas?" gumam Hilya dengan bertanya, saat tidak melihat satu pun pesan dari Satya.
Meski sulit Hilya berusaha menepis rasa cemasnya. Dia bergegas bangkit dari tempat tidur, dan membersihkan diri di kamar mandi, berwudhu dan kemudian mengerjakan salat Subuh.
***
Tidak terasa sinar matahari mulai masuk di sela-sela fentilasi kamarnya.
Hilya mulai membuka jendela, melihat di sudut halaman, memperhatikan beberapa mobil yang terparkir di sana. Mobil Ibu Diana, mobil Clara, mobil Clarissa, dan hanya mobil Satya yang tidak terparkir di sudut halaman rumah itu.
'Kamu di mana Mas?' tanya Hilya dalam hati dengan perasaan cemas.
Hilya tidak bisa memendam rasa kecemasannya sendirian. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia ingin menanyakan tentang keberadaan Satya pada Ibu Diana.
Namun saat dia hendak menuruni tangga. Tampak Bibi Rum, dan Mbak Ira membawa nampan berisi makanan.
__ADS_1
"Mau kemana, Bi?" tanya Hilya.
"Non Claris sakit Mbak, ini mau nganterin makanan ke kamarnya."
"Sebanyak ini?"
"Iya, Non Claris yang minta. Susu, teh hangat, air hangat, air madu, sari kacang hijau, bubur, sup, dan apa ini lagi ya...." cerita bibi.
"Oooh," gumam Hilya.
"Bibi! Mbak Ira!"
Terdengar suara Clara memangil-manggil mereka berdua.
"Duh, Non Clara, ada apa ya?"
Bibi dan Mbak Ira menoleh ke arah Clara yang memanggilnya dari lantai satu.
"Mbak Ira, urus Clara aja ya! Biar aku yang bantu Bibi."
Hilya mulai meraih nampan yang dipegang oleh asisten rumah tangga itu.
"Baik Mbak, terima kasih!" kata Mbak Ira seraya bergegas menghampiri Clara.
Akhirnya Hilya dan Bibi Rum yang mengantarkan makanan itu ke kamar Clarissa. Kamar yang letaknya di lantai dua di bagian paling ujung kanan lantai ini.
Saat bibi hendak mengetuk pintu kamar Clarissa. Tiba-tiba Ibu Diana datang dan berdiri di belakang mereka.
"Kata Mbak Ira, Clarissa sakit, aku mau lihat dia," kata Ibu Diana.
"Iya, Bu."
Bibi Rum yang semula berdiri di depan pintu segera mundur, dan membiarkan wanita itu yang mengetuk pintu.
Ceklek!
Ternyata pintu tidak dikunci, akhirnya Ibu Diana pun langsung membukanya.
"Sayang! Kamu sakit apa?" tanya Ibu Diana saat membuka pintu.
"Mama!"
Seketika Clarissa terperanjat dari atas tempat tidurnya.
Tampak wanita itu berada di tempat tidur tanpa sehelai pakaian di tubuhnya.
"Satya!"
Mata ibu Diana memerah saat melihat Satya juga berada di atas tempat tidur itu tanpa sehelai pakaian di tubuhnya.
"Sayang bangun!"
Clarissa tampak mengguncang tubuh Satya yang sebagian tertutup oleh selimut.
"Haaa? Ada apa?"
Satya mulai membuka matanya sembari menguap. Dan kemudian terperanjat kaget saat melihat dirinya tidak menggunakan sehelai pakaian pun di atas tempat tidur Clarissa.
Satya tampak bingung saat mamanya, Hilya, dan Bibi Rum memperhatikan dirinya berdua dengan Clarissa tanpa sehelai pakaian di atas tempat tidur.
"Satya!"
Ibu Diana berteriak dengan lantang dan dengan wajah geram.
Sementara Hilya tampak meneteskan air mata, melihat sebuah kenyataan pahit di depan matanya.
"Sayang!"
Satya bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan hendak mengejar Hilya yang membalikkan badan melangkah cepat meninggalkan kamar itu.
"Sial!" desahnya dengan memegang selimut saat melihat dirinya tidak memakai sehelai apa pun.
"Kamu benar-benar keterlaluan!"
Plaaak!!
__ADS_1
Ibu Diana menghampiri Satya dan menampar kuat wajah laki-laki itu.
Bersambung