Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 73


__ADS_3

Di rumah keluarga Agung Wijaya, Clarissa mulai merajuk diperlukan Ibu Diana.


Dia terisak tangis saat mengungkapkan isi hatinya.


"Bagaimana Ma, jika aku hamil? Satya tidak mau bertanggung jawab," kata Clarissa dengan memeluk Ibu Diana saat mereka berada di ruang keluarga.


"Sudah-sudah! Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu! Mama pastikan, Satya akan secepatnya menikahi kamu," ujar Ibu Diana dengan membelai lembut rambut mantan tunangan putranya itu.


*****


Beberapa menit kemudian Ibu Diana dan Clarissa sudah berada di meja makan. Ibu Diana meminta Bibi Rum memanggil Hilya yang saat itu masih berada di dalam kamar.


Sesaat kemudian. Hilya pun sudah duduk di hadapan Ibu Diana dan Clarissa.


"Kamu harus mengijinkan Satya menikah lagi dengan Clarissa!"


Ibu Diana mengatakan hal itu dengan menatap Hilya.


"Satya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Clarissa. Terlebih kalau Clarissa sampai hamil," tambah Ibu Diana.


Hilya yang semula menunduk, mulai menegakkan kepala.


"Aku.... Tidak akan menikah dengan Clarissa."


Tiba-tiba suara seorang laki-laki muncul saat Hilya hendak menyampaikan sesuatu pada Ibu Diana.


"Satya!"


Ibu Diana menoleh ke arah suara itu. Begitu juga dengan Hilya.


Seketika Satya melemparkan sebuah botol bekas air mineral tiga ratus lima puluh mili liter ke arah Clarissa.


"Apa maksudnya kamu mencampurkan obat perangsang dalam minumanku ini?"


Mata Clarissa terbelalak saat Satya melemparkan botol itu kepadanya. Seketika muncul dalam ingatan Clarissa ketika dia membeli sebuah cairan di apotek dan mencampurnya pada air mineral yang diminumkannya kepada Satya malam itu.


"Kamu sengaja menjebak aku! Kamu memanfaatkan aku, saat aku sedang mabuk! jawab!"


Satya berteriak dengan mendobrak meja makan yang ada di hadapannya.


"Kamu tahu! Bahkan kamu begitu tolol, karena sudah meninggalkan botol cairan berbahaya itu di dalam mobilmu!" tambah Satya.


"Semua bukti kejahatanmu sudah dipegang oleh pengacaraku. Pengacaraku akan mengatur semuanya. Dan aku pastikan, jika kamu macam-macam, kamu akan mendekam di penjara!"


Satya menunjuk wajah Clarissa dengan sorot mata kebencian.


Clarissa yang melihat amarah Satya seketika meneteskan air mata. Dia kembali mengingat kalau dia lupa membuang botol cairan itu, dan botol air mineral itu dari dalam mobilnya.


Seseorang pasti telah masuk ke dalam mobilnya untuk mengambil bukti-bukti itu.


Clarissa menjadi semakin bingung, hingga tidak sanggup menatap mata Satya yang penuh kemarahan padanya.


"Satya! Kamu tidak boleh bersikap seperti itu! Pikirkan, jika Clarissa sampai hamil bagaimana?" kata Ibu Diana dengan bangkit dari tempat duduknya.


"Hmmmh!"

__ADS_1


Satya tersenyum sinis.


"Mama tidak perlu khawatir, jika dia sampai hamil, dan terbukti itu anakku. Aku akan memberikan namaku pada anak itu. Dan.... Mengambilnya dari wanita yang tidak pantas menjadi ibunya."


Satya mengatakannya dengan tegas, seraya kemudian menghampiri meja Clarissa mengambil botol yang tadi sempat dia lemparkan, dan membawa naik ke atas lantai dua rumahnya.


Hilya yang semula mematung di meja makan, bergegas mengikuti langkah Satya.


Ceklek!


Satya mulai membuka pintu kamar, menarik dasinya yang melekat di leher kemudian membuka jasnya.


Hilya yang terlihat baru saja menutup pintu kamarnya, dengan sigap membantu membukakan jas laki-laki yang suasana hatinya masih terlihat buruk itu.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu," kata Satya dengan membalikkan badannya melihat ke arah Hilya.


Hilya menghela napas, seraya melangkah membawa jas yang baru saja dia lepaskan dari tubuh Satya menuju ranjang tidur.


Berlahan wanita hamil tujuh bulan itu duduk di tepi ranjangnya.


"Mas Satya menghianatiku," ucap Hilya lirih.


"Maksud kamu apa? Ada bukti yang menunjukkan kalau aku dijebak."


"Mas Satya berkhianat kerena sudah minum alkohol. Mas Satya sudah janji tidak akan minum, kan? Tapi kenapa Mas Satya melakukannya?"


"Hilya...."


Seketika Satya melangkah dan berlutut di hadapan Hilya.


"Aku minta maaf untuk hal itu!" katanya dengan wajah merayu.


"Jika Mas Satya tidak minum, pasti Clarissa tidak akan punya kesempatan untuk berbuat seperti itu pada Mas Satya," ujar Hilya.


"Jadi kamu tidak memaafkan aku?"


Hilya bangkit dari tempat duduknya berusaha menghindari Satya.


Dia melangkah hendak keluar dari kamarnya, untuk meletakkan jas kotor milik Satya di ruang cuci.


"Aku mau taruh pakaian kotor ini dulu," kata Hilya seolah menghindari pembicaraan.


"Jawab dulu pertanyaanku! Apa kamu tidak memaafkanku?" tanya Satya dengan menghalangi langkah Hilya.


"Jika kamu sungguh-sungguh berubah, dan memperbaiki diri, aku pasti akan memaafkanmu!" ucap Hilya.


"Tapi yang terpenting bukan maaf dari aku Mas! Melainkan, maaf dari Tuhanmu!" tambah Hilya.


"Sayang! Aku masih baru belajar agama. Aku berjanji akan berubah. Soal malam itu, aku tidak bisa menolak keinginan Mr. Jhon, aku dipaksa, aku dirayu," jelas Satya.


"Jika Mas Satya sungguh-sungguh ingin berubah, pasti tidak akan tergoda paksaan dan rayuan orang untuk berbuat tidak benar," sahut Hilya sedikit geram.


"Iya, aku minta maaf! Maafkan aku! Aku janji akan berubah!"


Satya mendekat ke arah Hilya seraya mencium tangannya. Dan kemudian berusaha mencium bagian sensitif di bawah hidungnya.

__ADS_1


Hilya pun bergegas menghindar, berusaha menolak dicumbu oleh Satya.


"Sayang!"


Satya menatap mata Hilya penuh harap. Dan masih menghalangi langkah Hilya yang ingin pergi meninggalkannya.


"Aku mohon mengertilah! Maafkan aku!" rayu Satya lagi dengan wajah memelas.


"Sayang!"


Satya menatap mata Hilya, seraya kembali berusaha menyentuh bagian sensitif di bawah hidung Hilya dengan bibirnya.


Seketika Hilya mendongakkan tubuh Satya.


"Sayang!"


Satya menyebut nama Hilya dengan menatapnya dalam.


"Bahkan, hanya sebuah ciuman kamu menolakku?" tanya Satya lembut dengan sorot mata penuh kesedihan.


"Hmmmh!"


Hilya menghela napas dalam seraya mengalihkan pandangannya.


Dalam pikiran Hilya mulai terbersit. Bahkan sebelum tidur seorang istri hendaklah meminta Ridha suaminya. Dan jika hanya sebuah ciuman kecil dia menolak, mungkinkah malaikat tidak melaknatnya?


Hilya kembali menoleh ke arah Satya, dan melihat tatapan mata Satya yang penuh pengharapan padanya.


Sejujurnya dalam hati Hilya masih sangat kecewa dengan perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh Satya.


"Sayang! Maafkan aku! Aku berjanji akan berubah!"


Suara lembut Satya kembali terdengar.


Pikiran Hilya mulai berkata lagi, bahkan Asiyah yang memiliki seorang suami Raja yang begitu kejam dan jahat, tetap mampu bersabar dan menjadi istri salihah.


Sungguh dirinya merasa bersalah jika tidak mampu memaafkan dan membimbing Satya ke jalan yang lebih baik.


'Ya Allah! Aku Ridha akan takdirMu, dan jika dia adalah sebenar-benar jodoh yang kau tetapkan untukku. Maka mampukan aku untuk bersabar, agar dapat membimbingnya ke jalan yang benar!' doa Hilya dalam hati, ketika Satya semakin mendekat kepadanya.


"Sayang!" Aku minta maaf!" ucap Satya lagi dengan semakin mendekat dan menggiring Hilya ke atas ranjang tidurnya.


"Mmm...."


Hilya mengangguk.


Satya tersenyum sembari mulai melakukan sesuatu pada Hilya.


"Sayang...." ucap Satya lembut seraya semakin mendekatkan diri kepada Hilya.


Dengan gemetar, dan wajah cemas Hilya pun membiarkan Satya melakukan sesuatu pada dirinya.


Sungguh Hilya tidak kuasa menolak, karena kesehatannya sudah berangsur pulih, dan melayani suami adalah kewajiban yang harus dia lakukan sekali pun dia sedang dalam keadaan marah yang begitu sangat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2