Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 37


__ADS_3

Sore menjelang. Saat ini Hilya tengah membantu Bibi Rum di dapur. Terlihat wanita yang sedang hamil muda itu begitu cekatan dan rajin saat menyelesaikan pekerjaan rumah.


"Bik! Bibik duduk saja, biar hari ini Hilya yang memasak untuk makan malam," kata wanita cantik itu.


"Mbak Hilya, nanti kecapean, lo!"


"Enggak, Bik! Hari ini Hilya memang pingin masak. Jadi, bibik istirahat aja ya! Bibik duduk aja temani Hilya!"


"Mmm... Iya deh terserah Mbak Hilya!" sahut Bibi Rum. "Malam ini. Ibu minta bibi masak ayam goreng, rendang, cah sawi jagung manis, terus soup jamur," terang bibi. "Mbak Hilya sanggup masak itu semua sendirian?"


"Insya Allah sanggup, Bik. Sini Bibi duduk!" kata Hilya dengan menarik kursi yang ada di dapur, dan meminta bibi untuk duduk.


Terlihat Hilya mulai memasak. Wanita itu tampak bersemangat, dan sepertinya semua karena pengaruh dari hormon kehamilannya.


"O, ya. Bik! Aku lupa, Clara minta nasi goreng. Berarti menunya tambah nasi goreng ya, Bik?"


Bibi Rum mengangguk sembari tersenyum saat Hilya menoleh ke arahnya.


Waktu terus berjalan, dan tidak terasa suara adzan magrib terdengar.


"Masya Allah, Bi! Sudah magrib. Hilya sholat dulu ya, Bi? Biasanya Clara nunggu Hilya untuk sholat berjamaah."


"Ya, sudah. Biar bibi yang melanjutkan memasak," sahut bibi. "Mbak Hilya, kan, harus bantuin Non Clara belajar juga. Jadi, sana sudah urus Non Clara!"


"Terimakasih ya, Bi!" jawab Hilya dengan tersenyum. "O, ya. Bi! Ayamnya sudah aku bumbui dan aku ungkep, tinggal digoreng saja!"


"Iya, Mbak. Siap!" sahut bibi. "Eh, Mbak! Mbak Hilya minum susu dulu, barusan sudah bibi buatin!" kata bibi saat Hilya hendak meninggalkannya.


"Bibi! Kenapa harus repot-repot buatin aku susu?"


"Ya, kan. Memang tuan muda yang nyuruh Bibi."


"Apa?" Hilya terperanjat.


"Mmm... Duh keceplosan!" gumam bibi lirih dengan menepuk-nepuk bibirnya.


"Maksud Bibi, Tuan Satya yang nyuruh Bibi bikinin Hilya susu?"


"Mmm... Iya, Mbak."


"Hmmm!"


Hilya membuang napas keras.


"Kalau seandainya susu yang dia berikan itu dicampur racun, bagaimana, Bi?"


"Masak sih, Mbak? Tadi pagi bibi buatin susu Mbak Hilya, dan sampai sekarang Mbak Hilya nggak apa-apa itu," sahut bibi. "Sebentar, ya!" kata bibi sembari meneguk susu coklat hangat yang sudah dia buat untuk Hilya.


Setelah menghabiskan segelas susu itu, bibi berkedip-kedip.


"Bibi, nggak papa ini Mbak!"


"Hmmmh!"


Hilya menghela napas kesal.


"Bilang sama tuan muda ya, Bi! Tidak perlu membeli apa pun buat aku. Dan aku tidak mau menerima apapun dari dia!" ujar Hilya kesal.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Bibi juga heran, kenapa tuan muda itu sangat perhatian ya, sama Mbak Hilya. Padahal kan, dia sudah punya tunangan?"


"Nah, itu Bi! Saya takut terjadi fitnah!" jawab Hilya. "Sekarang mana susu yang dia belikan untuk saya, Bik? Saya mau buang di tempat sampah."


Hilya berjalan menuju almari yang ada di dapur, untuk mencari barang-barang yang dibeli oleh Satya.


Wanita itu mulai mengeluarkan susu bubuk yang hanya dibungkus alumunium foil dari dalam almari.


"Mbak Hilya, serius mau membuang itu semua?"


"Iya, Bik! Biar tidak terjadi fitnah!" ujar Hilya kesal. "Lagi pula Hilya tidak tahu ini susu apa? Kalau ini susu kadaluarsa, Hilya bisa mati berlahan kan, Bi?" kata Hilya dengan suara meninggi. "Ini, madu, sari kurma, juga dari tuan muda?"


"Iya, Mbak?"


"Ini juga harus dibuang, Bik! Hilya nggak mau barang-barang ini masuk ke dalam perut Hilya!" kata Hilya dengan membawa barang-barang itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Namun tiba-tiba seseorang memegang tangan Hilya, ketika tubuh Hilya membungkuk di depan tempat sampah.


Seketika Hilya menoleh. Ternyata Satya yang memegang tangan Hilya.


"Aku bukan orang jahat! Jadi berhenti berpikir kalau aku akan meracunimu!" ujar Satya dengan menatap mata wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


"Dan, aku! Tidak percaya padamu!" sahut Hilya sembari menepis tangan laki-laki itu, seraya meninggalkannya dengan raut wajah kesal.


"Hmmmh!"


Satya terdengar menghela napas panjang. Dia tidak menoleh ke arah Hilya yang pergi meninggalkannya.


Satya berusaha memahami kemarahan Hilya, dengan menahan emosinya untuk tidak berdebat dengan wanita itu.


"Bibi, tidak salah. Tidak perlu minta maaf!" sahut Satya dengan menoleh ke arah bibi, sembari menyentuh lengannya.


"Tapi, Mbak Hilya benar, Tuan! Mbak Hilya membuang barang-barang itu agar tidak terjadi fitnah."


"Maksud, Bibi?"


"Tuan kan, sudah punya tunangan. Jadi, Mbak Hilya takut, barang-barang yang tuan belikan untuknya itu, menimbulkan fitnah. Lagi pula, memang tidak seharusnya tuan muda memperhatikan Mbak Hilya berlebihan seperti ini!"


Bibi Rum mencoba menasehati majikannya itu dengan sopan, dan berkata lembut.


"Mmm... Iya, Bi!" sahut Satya dengan menepuk lengan Bibi Rum, dan meninggalkannya pergi.


******


Tiga puluh menit kemudian, Clara dan Hilya sudah terlihat berada di ruang keluarga dengan membawa peralatan belajarnya.


"Kak Hilya! Aku mau belajar di sini, ya?"


"Iya, terserah Clara. Dimana pun tidak masalah, yang penting Clara belajar!" sahut Hilya sembari menata meja belajar di atas karpet yang ada di ruangan itu.


Terlihat setelah itu Clara dan Hilya duduk di atas karpet yang ada di sebelah kanan sofa ruang keluarga.


Clara mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya di bantu Hilya.


Dan tidak lama setelah itu, Ibu Diana masuk ke dalam ruang keluarga bersama seorang wanita cantik yang mengenakan Sleeve Less atau blouse tanpa lengan dengan celana jeans yang senada dengan warna pakaiannya.


Terlihat Ibu Diana dan wanita itu duduk di atas sofa.

__ADS_1


"Kenapa ya ma, akhir-akhir ini, Satya jarang sekali ada waktu buat Clarissa? Bahkan kadang telepon dari Clarissa, sekertarisnya yang angkat?"


Terlihat wajah Clarissa cemas saat mengungkapkan isi hatinya pada calon mertuanya.


"Sayang! Kamu nggak usah cemas seperti itu. Satya memang benar-benar sibuk," kata Ibu Diana dengan memeluk calon menantunya dan membelai-belai rambut panjangnya dengan lembut


"Mama yakin?" tanya Clarissa ragu. "Jujur, Claris cemas Ma. Claris takut, Claris takut! Satya tertarik dengan wanita lain!" kata Clarissa dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang!" Ibu Diana kembali memeluk calon menantunya itu penuh simpati.


"Ma! Sikap Satya benar-benar berubah akhir-akhir ini. Sikap Satya tiba-tiba dingin banget sama Clarissa, Ma!"


"Sayang! Itu hanya perasaan kamu. Dengarkan mama! Mama kenal Satya, dia tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita mana pun, dan selama ini dia sangat mencintai kamu. Motivasi kerjanya, semangat hidupnya, semua karena dia cinta sama kamu," kata Ibu Diana meyakinkan calon menantunya dengan kembali membelai lembut rambutnya.


"Coba ingat perjuangan dia untuk mempertahankan cinta kalian? Dia kuliah di luar negri, dia tetap setia sama kamu. Kamu kuliah di luar negeri, dia juga setia menunggu kamu. Dia kerja keras, dia bilang ke mama, semua itu untuk membahagiakan kamu. Jadi, kenapa kamu mesti ragu sayang?" tanya Ibu Diana dengan menyeka air mata yang menetes di pipi desainer muda cantik itu.


"Clarissa? Kenapa tidak bilang kalau mau kesini?"


Tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja biru muda yang baru masuk ke dalam ruangan itu bertanya pada Clarissa.


"Satya! Kamu dari belanja?" tanya Ibu Diana yang melihat putranya membawa goodie bag besar, entah berisi apa. "Apa itu?"


"Ooh, ini susu dan vitamin untuk Bibi,"


"Ooh!" sahut Ibu Dian dengan tersenyum.


Belum selesai Ibu Diana dan Satya berbicara, terdengar Clara yang juga ada di ruangan itu, meminta minum pada Hilya.


"Kak Hilya! Aku mau minum susu hangat."


"Iya, kakak buatkan. Sebentar, ya!" sahut Hilya sembari berusaha berdiri dari posisinya yang semula duduk menemani Clara di atas karpet.


"Hilya!"


Satya menjerit saat melihat Hilya yang berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.


Seketika laki-laki itu berlari ke arah Hilya, dan menopang tubuh Hilya yang hampir terjatuh dengan memeluknya.


Sementara Ibu Diana dan Clarissa bangkit dari tempat duduknya, memperhatikan sikap sigap Satya saat menolong Hilya.


Saat itu terlihat kedua mata Satya dan Hilya saling bertatapan.


Satya tampak menatap lekat wajah Hilya dengan penuh kekhawatiran.


Dan Clarissa menyaksikan adegan yang dilakukan kekasihnya itu, dengan perasaan penuh kecemburuan.


"Sayang!" gumam Clarissa lirih, menyadarkan kedua insan yang saling bertatapan.


"Maaf!" kata Hilya dengan melepas pelukan tangan Satya yang melingkar di pinggangnya.


Bergegas Hilya meninggalkan ruangan itu. Dan Satya, masih terlihat memperhatikan langkah Hilya yang berjalan meninggalkannya.


"Satya!" seru Ibu Diana.


"Ooh! Iya Ma," sahut Satya sembari menoleh ke arah mama dan tunangannya. "Aku, ke atas dulu! Aku mau mandi!" kata laki-laki itu sembari meninggalkan Clarissa dan mamanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2