
Pagi telah menjelang. Dan Satya sudah terlihat berada di dapur menghampiri bibi.
"Tuan muda mau bibi buatkan sarapan apa?" tanya bibi saat laki-laki yang masih mengenakan piyama itu berdiri di belakangnya.
"Bi, buah-buahan yang tadi malam saya beli, sudah bibi simpan di kulkas?"
"Iya, Tuan! Sudah," sahut bibik dengan mengangguk. "Ada susu juga, tapi tidak ada kotaknya tuan, hanya dibungkus alumunium foil saja," ujar bibik.
"Iya," sahut Satya.
Kotak susu tersebut memang telah sengaja dibuang oleh Satya.
"Bi, tolong setiap hari, suruh Hilya makan buah-buahan! Atau bibi buatkan jus! Dan tolong juga buatkan Hilya susu ya Bi! Tiga kali sehari," kata Satya kepada bibi, membuat bibi mengernyitkan dahi heran.
"Kalau Mbak Hilya tidak mau, Tuan?"
"Paksa ya, Bi! Soalnya ini untuk kesehatan Hilya," ujar Satya. "Ini untuk bibi!" tiba-tiba Satya memberikan beberapa lembar uang kertas warna merah ke tangan bibik.
"Tuan, ini uang apa?" tanya bibi penasaran saat menerima uang yang dia anggap tidak wajar itu.
"Ini uang tambahan buat bibi. Tolong! Bibi bantu saya. Jagakan kesehatan Hilya!"
Setelah mengatakan hal itu, Satya bergegas pergi meninggalkan Bibi Rum.
"Aneh?" gumam bibi penuh tanya, dengan terus memandangi langkah laki-laki yang sedari kecil diasuhnya. "Apa ini karena rasa kemanusiaan? Atau karena rasa sayang? Ya Allah! Apa mungkin tuan muda jatuh cinta pada wanita lain, selain Non Clarissa?"
Pikiran bibi langsung dipenuhi tanya.
"Bibi kenapa?" tanya Hilya, saat melihat bibi termenung di depan wastafel dapur.
"Mmm... Mbak Hilya!"
Seketika lamunan bibi memudar saat Hilya tiba-tiba datang dan menyapanya.
"Bi! Mana saja yang dibawa ke meja makan? Hilya mau bantu Bibi!" kata Hilya.
"Mbak Hilya tolong ambilkan buah-buahan, dan sayuran di kulkas, ya! Bibi mau buat jus! Ibu minta jus wortel dicampur seledri, sama apa lagi ya, bibi lupa?"
"Iya, Bi!" sahut Hilya sembari tersenyum dan mengambil barang-barang yang bibi butuhkan di dalam kulkas.
"Mbak Hilya bibi buatkan jus juga ya, tolong nanti diminum! Mbak Hilya sukanya jus apa?" kata bibi sembari bertanya.
"Mmm... Hilya lebih suka buahnya dimakan langsung, Bi. Dari pada dibuat jus," sahut Hilya.
"Ya, sudah. Nanti bibi kupaskan. Mbak Hilya mau buah apa?"
"Bibi! Hilya bisa sendiri," sahut Hilya dengan tersenyum sembari menoleh ke arah bibi yang sibuk memanggang roti untuk sarapan majikannya.
__ADS_1
"O, ya. Mbak! Bibi boleh bertanya tidak?" tanya bibi kemudian pada wanita muda yang sedang mencuci buah dan sayur itu.
"Boleh. Mau tanya apa, Bi?"
"Kalau ada laki-laki kaya yang sudah memiliki pasangan, terus suka sama Mbak Hilya. Mbak Hilya terima tidak cintanya?"
Sontak Hilya terkejut.
"Kenapa, Bibi bertanya seperti itu?"
"Soalnya Mbak Hilya cantik. Pasti banyak orang yang suka," sahut bibi dengan tersenyum.
Sejenak Hilya bergeming. 'Apa bibi bertanya seperti itu, karena bibi mengira tuan mudanya menyukaiku ya?' tanya Hilya dalam hati.
"Mmm... Bi! Hilya sudah menikah. Jadi Hilya tidak mungkin menyukai laki-laki lain. Apalagi orang yang sudah punya pasangan. Insya Allah Hilya akan selalu menjaga hati Hilya, Bi!" sahut Hilya dengan menyentuh tangan bibi, dan tersenyum. Seraya kemudian duduk di kursi yang ada di meja dapur membawa buah dan sayur yang telah selesai dia cuci.
Mendengar jawaban Hilya. Bibi Rum kembali berpikir.
'Berarti, aku harus nasehati tuan muda, agar tidak jatuh cinta pada wanita yang sudah memiliki suami,' kata bibi dalam hati.
"Apa benar Mbak Hilya sudah menikah?" tanya bibi kemudian.
"Iya," Hilya mengangguk.
"Lalu suami Mbak Hilya dimana?
"Mmm... Bekerja," sahut Hilya ragu.
"Iya."
Spontan Hilya mengiyakan jawaban bibi, meski hatinya penuh beban karena dia telah berbohong.
Tidak lama setelah itu, Hilya beranjak dari tempat duduknya.
"Bi! Hilya bawa ke meja makan ya, roti-roti ini?" kata Hilya saat bibi telah selesai memanggang roti.
"Iya." Bibi mengangguk.
*****
Beberapa hari ini, Hilya terlihat lebih sering membantu bibi, karena dua pembantu di rumah ini sedang cuti. Dan, tiga pembantu lain yang bertugas membersihkan rumah serta halaman, tidak punya waktu untuk membantu bibi, karena harus membersihkan kediaman Ibu Diana yang begitu luas.
Tidak terasa pagi itu telah berlalu. Kini malam menjelang. Seperti biasa, Hilya membantu Clara mengerjakan PR di kamarnya. Dan setelah itu menemani cucu Ibu Diana ini hingga tertidur lelap.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 24.00 malam. Hilya masih belum dapat memejamkan mata. Sepertinya ibu yang sedang hamil muda ini merasakan lapar yang sangat di perutnya.
Berlahan dia bangkit dari tempat tidur dan keluar menuju dapur.
__ADS_1
Sementara itu disebuah ruang kerja yang ada di rumah Ibu Diana, tampak seorang laki-laki yang sudah mengenakan piyama, tengah berkutat dengan laptopnya.
Sepertinya laki-laki ini sedang menyelesaikan pekerjaan kantor yang belum sempat dia selesai di kantornya tadi.
"Ce'k!"
Laki-laki ini mendesis saat air minum yang ada di gelasnya telah habis. Padahal sepertinya dia sangat haus.
Berlahan laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Sesampai di dapur dia melihat Hilya sedang menggoreng sesuatu.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya, dan mulai memperhatikan Hilya.
Ternyata Hilya sedang menggoreng dua buah telur mata sapi. Dan setelah telur itu matang, Hilya bergegas memindahkannya di piring.
Tampak wanita itu langsung meniup telur yang masih panas itu dan memakannya.
'Hilya? Dia kan, tidak suka makan makanan panas. Tapi kenapa sekarang dia langsung makan telur yang baru dia angkat dari wajan?' tanya laki-laki itu dalam hati. 'Mmm... Mungkin dia sedang ngidam,' katanya lagi dengan tersenyum tipis.
Di tengah-tengah keasyikannya memperhatikan Hilya tiba-tiba.
"Klontang!"
Suara piring yang terbuat dari plastik anti pecah jatuh.
"Aduh!" gumam Hilya.
Satu telur mata sapi yang belum habis Hilya makan jatuh dan tercecer di lantai.
Hilya bergegas membungkuk dan memungutnya.
Namun dengan sigap, Satya menghampiri wanita itu dan mengambil telur goreng yang tercecer di lantai, sebelum dipungut oleh Hilya.
Seketika Hilya mendongakkan kepala, dan melihat laki-laki yang membuang telur goreng itu ke tempat sampah.
"Kenapa dibuang?" tanya Hilya.
"Itu kotor."
"Itu belum lima menit."
"Duduk! Aku akan gorengkan lagi telur untukmu!" kata Satya sembari menghidupkan kompor dan menggoreng telur mata sapi untuk Hilya.
Beberapa menit kemudian telur itu matang, dan Satya langsung menyodorkannya pada Hilya.
"Ini!" kata laki-laki itu dengan menyodorkan piring berisi telur mata sapi pada Hilya.
__ADS_1
"Aku tidak mau! Telur itu terlalu banyak minyaknya," tolak Hilya, sembari membalikkan badan meninggalkan Satya dan telur mata sapi yang sudah susah payah Satya goreng untuknya.
Bersambung