Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 32


__ADS_3

Mobil sedan warna hitam yang dikemudikan Pak Juned mulai melaju keluar dari gerbang rumah mewah milik Ibu Diana, istri almarhum bapak Agung Wijaya.


Tampak di dalam mobil Clara dan Hilya sedang bercanda. Dan di tengah-tengah tawa kecil mereka. Pak Juned yang dari tadi memperhatikan mereka dari spion depan mobil, mulai mengajukan pertanyaan kepada Hilya.


"Mbak Hilya tadi malam pingsan ya?" tanya Pak Juned sembari terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.


"Iya, Pak," jawab wanita yang duduk di belakang kursi Pak Juned itu dengan mengangguk.


"Sekarang bagaimana keadaannya?"


"Alhamdulillah, sudah lebih baik."


"Memangnya Mbak Hilya sakit apa?"


"Mmm... Anemia Pak," sahut Hilya ragu.


"Ooh! Kalau mbak Hilya ingin periksa, jangan sungkan-sungkan bilang! Saya akan mengantar mbak Hilya ke rumah sakit."


Pak Juned mulai menawarkan diri untuk mengantarkan Hilya periksa ke rumah sakit.


"Terimakasih, Pak!" jawab Hilya dengan mengangguk.


Tidak lama setelah itu mobil yang mereka naiki telah sampai di depan gerbang sekolah Clara.


Seperti biasa Hilya bergegas keluar dari mobil untuk mengantar gadis kecil itu masuk ke halaman sekolahnya.


Dan beberapa saat kemudian dia telah masuk kembali ke dalam mobil.


Pak Juned mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya untuk kembali pulang ke rumah Ibu Diana.


"Mmm... Pak Jun!"


Wanita yang duduk di belakang Pak Juned ini terlihat ragu saat hendak berbicara dengan Pak Juned.


"Iya, Mbak?" sahut Pak Juned dengan terus mengemudikan mobil


"Apa Pak Jun, benar-benar berkenan, jika saya meminta Pak Jun untuk mengantar saya ke klinik?" tanya wanita itu dengan nada pelan.


"Iya, Mbak. Nggak papa! Memangnya Mbak Hilya minta saya antarkan periksa ke klinik mana?"


Hilya sejenak terdiam setelah mendengar tawaran dari Pak Juned.


"Mmm... Saya ingin Pak Jun mengantar saya ke klinik dokter Melvina. Apa Pak Jun tahu?" tanya Hilya kemudian.


"Ooh, klinik dokter Melvi sahabatnya nyonya besar."

__ADS_1


"Iya, Pak Jun."


"Iya saya tahu mbak. Mari saya antar ke sana!"


"Apa orang rumah nggak marah Pak Jun, jika kita pulang terlambat?" tanya Hilya sedikit khawatir.


"Ya enggak lah, Mbak. Yang penting kita nggak terlambat jemput Non Clara," jelas Pak Juned. "Lagian kita kan perginya ke klinik untuk periksa. Dan Mbak Hilya memang benar-benar sakit," tambah Pak Juned. "Kalau nyonya besar tahu saya mengantar mbak Hilya periksa, pasti beliau sangat senang. Beliau kan orangnya baik, dan perduli sama kesehatan anak buahnya, Mbak."


"Masak sih, Pak?"


"Iya, Mbak. Ibu Diana itu baik. Biasanya kalau pembantunya di rumah ada yang sakit, pasti langsung beliau suruh istirahat, dan tiba-tiba dipanggilkan dokter untuk diperiksa."


Hilya tersenyum kecil mendengarkan cerita Pak Juned.


"Jadi kan Mbak, saya antar ke klinik dokter Melvi?" tanya Pak Juned kemudian.


"Iya Pak Jun, jadi."


Hilya mengangguk sembari tersenyum kecil.


"Kita mampir pom dulu ya, Mbak? Isi bensin," kata Pak Juned dengan membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin.


"Iya," sahut Hilya dengan mengangguk.


Setelah sampai di sebelah kasir pom bensin. Pak Juned bergegas turun.


Sembari menunggu petugas pom itu mengisi bensin ke dalam tangki mobilnya, Pak Juned mulai mengirimkan pesan untuk Satya.


"Tuan. Saat ini saya dalam perjalanan mengantar Mbak Hilya ke klinik dokter Melvina."


Kata-kata itu Pak juned tuliskan sebagai pesan untuk Satya, yang dia kirim melalui ponselnya.


Tidak lama kemudian Satya membalas pesan tersebut.


"Terimakasih informasinya."


Setelah menerima balasan dari tuannya, Pak Juned segera membayar bensin yang dia beli, dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Mbak Hilya pusing?" tanya Pak Juned saat melihat Hilya memijit-mijit kepalanya.


"Sedikit pusing, Pak Jun!" sahut Hilya lemah sembari menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


Pak Juned mulai mengemudikan mobilnya menuju klinik dokter Melvina.


Dalam perjalanan, terlihat tubuh Hilya semakin melemah. Dia tampak bersandar di kursi dengan mata yang di tutup rapat.

__ADS_1


Dan lima puluh menit kemudian.


"Mbak Hilya! Sudah sampai!" kata Pak Juned membangunkan Hilya yang sepertinya tertidur di dalam mobil.


"Mmm... Iya Pak Jun!" sahut Hilya sembari membuka matanya, dan duduk tegak. "Saya masuk dulu ya, Pak Jun!" pamit wanita cantik itu kemudian, seraya membuka pintu mobil dan berjalan menuju klinik.


"Sepertinya kita pernah ketemu!" kata salah seorang perawat di klinik tersebut.


"Saya Hilya suster. Dulu pernah ditolong dokter Melvina, dan dirawat di sini," ujar Hilya dengan tersenyum.


"Ooh, iya. Aku baru ingat."


"O, ya. Suster! Dokter Melvina ada tidak?"


"Ada, ada, baru saja datang," sahut perawat itu.


"Saya ingin bertemu beliau. Bisa tidak?"


"Bisa, kamu masuk saja ke ruangannya. Kamu tahu kan, ruangannya?"


"Iya." Hilya mengangguk sembari berjalan menuju ruang dokter Melvina.


Sementara itu di halaman parkir klinik, tampak seorang laki-laki berjas hitam, yang baru keluar dari dalam mobilnya tersenyum ke arah Pak Juned.


"Mbak Hilya, sudah ada di dalam tuan," kata Pak Juned.


"Iya," sahut laki-laki itu dengan tersenyum, sembari melangkah untuk masuk ke dalam klinik.


"Mbak! Saya mau bertemu dokter Melvi!" kata laki-laki itu saat sampai di meja resepsionis.


"Dokter Melvi masih memeriksa pasien Pak. Silahkan ditunggu dulu!" jawab seorang perawat yang bertugas sebagai resepsionis.


"Iya," sahut Satya dengan tersenyum. "O, ya. Kalau boleh tahu, dokter Melvi memeriksa pasien di mana ya?" tanya Satya kemudian.


"Di ruang KIA, Pak!"


"Ruang KIA?" gumam Satya lirih.


Seketika pikiran Satya berbicara, "Ruang KIA, ruang kesehatan ibu dan anak. Hilya diperiksa di ruangan itu?" pikiran Satya penuh tanda tanya.


"Ruangannya ada di pojok sebelah kanan, Pak. Silahkan jika bapak ingin menunggu di depan sana! Bapak bisa duduk di kursi tunggu yang ada di sana!" ujar perawatan itu dengan sangat ramah.


Berlahan Satya melangkah menyusuri koridor poli kesehatan yang ada di klinik itu. Dia berjalan melewati ruang praktek dokter gigi, ruang praktek dokter umum, ruang rawat inap pasien, hingga ruang KIA.


Satya mendekati pintu ruangan itu. Dibukanya dengan pelan pintu yang tidak tertutup rapat. Dia melihat, Hilya berbaring di bad yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan seorang perawat tampak meremas-remas sebuah benda berbentuk bulat yang menyambung dengan selang berwarna hitam, sebuah alat yang digunakan untuk memeriksa tekanan darah Hilya.

__ADS_1


Mata Satya dengan seksama memperhatikan dokter dan perawat yang saat itu sedang memeriksa kesehatan Hilya. Namun di tengah konsentrasinya, tiba-tiba perawat yang baru saja selesai memeriksa tekanan darah Hilya, keluar dari ruangan itu, hingga mengejutkan Satya.


Bersambung


__ADS_2