Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 31


__ADS_3

Dua puluh menit setelah berada di gedung yang bertuliskan "Clarissa Beutik". Satya dan mamanya terlihat keluar dari tempat itu.


Mama Satya, Ibu Diana tampak kesal saat berjalan menjejeri putranya tersebut.


"Mama heran. Bisa-bisanya kamu terlambat di acara penting seperti ini?"


Ibu Diana mengungkapkan kekesalannya pada Satya saat mereka berjalan keluar gedung.


Dan di depan gedung, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka.


"Silahkan Bu!" kata Pak Hadi seorang sopir yang mengantar Ibu Diana ke acara itu, sembari membukakan pintu mobil untuknya.


"Pak Hadi, pulang sendiri ya! Saya pulang sama Satya."


Setelah mengatakan hal itu pada sopirnya, Ibu Diana bergegas berjalan menuju mobil milik putranya yang masih terparkir di halaman gedung.


"Kamu benar-benar tidak memikirkan perasaan Clarissa. Bisa-bisanya kamu sampai terlambat," kata Ibu Diana lagi, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tadi di jalan macet Ma, ada kecelakaan," sahut Satya.


Wajah Satya tampak tidak bersemangat. Dia terus mengemudikan mobilnya dengan tidak sedikitpun menoleh ke arah mamanya, seolah tidak memperhatikan dan memperdulikan amarah wanita itu.


"Bukan alasan," cetus Ibu Diana kesal.


"Iya ma aku tahu. Tapi tadi ada hal yang tidak bisa aku tinggalkan, sebelum aku lewat jalanan macet itu," sahut Satya dengan mulai menoleh ke arah mamanya. "Hilya pingsan Ma, jadi aku bantuin bibik. Semua pembantu kan pada cuti. Bibik sendirian, nggak mungkin kan, aku ninggalin bibik sendirian, Ma?" terang Satya.


"Hilya pingsan?" Ibu Diana terlihat kaget.


"Iya."


"Trus kamu bantuin bibik mengurus Hilya?"


"Iya, Ma."


"Syukurlah! Selama ini mama lihat sepertinya kamu tidak suka sama Hilya. Dan sekarang kamu mau membantu dia. Mama jadi senang, ternyata kamu adalah anak mama yang baik."


Mendengar penjelasan dari Satya, kemarahan Ibu Diana mereda.

__ADS_1


"Hilya itu sangat baik. Mama lihat dia sangat menyayangi Clara. Jujur mama sangat suka sama dia," ucap Ibu Diana dengan tersenyum. "Mama bersyukur kamu dapat melihat kebaikan Hilya, dan mau menolongnya," tambah Ibu Diana.


"Mmm," Satya tersenyum kecil sembari menoleh ke arah mamanya.


Akhirnya malam itu pun berlalu. Dan kini pagi telah menjelang.


"Ibu dengar, tadi malam kamu pingsan?" tanya Ibu Diana pada Hilya yang saat itu tengah membantu bibi menyiapkan sarapan di meja.


"Iya, Bu. Maaf!" sahut Hilya sembari menunduk.


"Jaga kesehatanmu ya! Kalau kamu merasa kurang enak badan, kamu istirahat saja!" kata Ibu Diana lembut sembari duduk di kursi yang ada di sebelah Hilya berdiri.


"Terimakasih, Bu."


"Sekarang bagaimana keadaanmu?"


"Saya sudah lebih baik Bu," jawab Hilya dengan wajah masih menunduk.


"Ya sudah, kalau kamu merasa kurang sehat, kamu boleh istirahat. Biar Clara diantar bibik saja," ujar Bu Diana sembari menyentuh tangan Hilya yang masih berdiri di sebelahnya.


"Saya sudah lebih sehat Bu. Biar saya saja yang mengantar Clara," kata Hilya kemudian.


Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki mendehem.


Laki-laki yang baru masuk ruang makan itu tampak menarik kursi dan duduk di hadapannya mamanya.


Terlihat matanya memperhatikan Hilya yang saat itu masih menunduk dengan memegang teko, menuangkan air putih di gelas Ibu Diana.


"Tolong air putih!" kata laki-laki itu pada Hilya.


Hilya pun melangkah ke arah tempat duduknya, dan menuangkan air putih itu ke dalam gelas laki-laki itu.


"Ma! Pagi ini aku ada meeting. Aku sarapan di kantor," kata laki-laki itu setelah meneguk air putih yang dituangkan Hilya.


"Iya, hati-hati!" sahut Ibu Diana saat laki-laki itu menghampiri dan mencium pipinya.


Setelah itu dia berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di garasi rumahnya.

__ADS_1


"Pak Juned! Ke sini sebentar, aku mau bicara!" kata laki-laki itu pada Pak Juned, sopir yang biasa mengantar- jemput keponakannya sekolah.


"Baik, Tuan!" sahut Pak Juned sembari mengangguk.


Laki-laki yang terlihat mengelap mobil sedan warna hitam milik majikannya itu, bergegas mengikuti langka Satya yang berjalan menuju mobilnya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Pak Juned saat sudah berada di dalam mobil laki-laki tampan itu.


Satya tidak segera menjawab pertanyaan Pak Juned. Dia terlihat menghelan nafas sembari memainkan setir mobilnya yang mesinnya masih belum dinyalakan.


"Mmm... Selama ini, Hilya kan sering pergi dengan Pak Juned. Apa dia pernah bercerita tentang penyakitnya pada Pak Juned?"


Satya mulai mengutarakan pertanyaan pada Pak Juned.


"Tidak, Mbak Hilya tidak pernah cerita apa-apa. Apa mbak Hilya sakit, Tuan?" sahut Pak Juned dengan mengernyitkan dahi sembari bertanya.


"Beberapa hari ini, aku lihat wajahnya pucat. Siapa tahu dia cerita tentang kondisi kesehatannya pada Pak Juned, atau meminta tolong Pak Juned untuk diantar periksa mungkin?"


"Tidak Tuan. Mbak Hilya itu sangat pendiam. Tidak pernah meminta tolong apapun pada saya," terang Pak Juned. "Mungkin kalau minum obat di mobil, saya sering lihat. Kata Mbak Hilya, itu obat tambah darah dan vitamin," tambah Pak Juned. "Apa mungkin wajah pucatnya Mbak Hilya, karena kurang darah itu ya, Tuan?"


"Mmm... Iya. Mungkin?" jawab Satya dengan tersenyum sembari menoleh ke arah Pak Juned. "O, ya. Pak! Aku ingin Pak Juned mengawasi Hilya. Jika ada hal yang mencurigakan pada wanita itu, tolong Pak Juned hubungi saya!"


"Mencurigakan bagaimana tuan? Mbak Hilya itu anaknya sangat pendiam, dan sopan. Sepertinya dia tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan dan aneh-aneh."


"Maksud aku. Pak Juned bilang ke aku, kalau Hilya tiba-tiba pergi ke rumah sakit. Atau Pak Juned tawarkan saja pada Hilya, kalau Pak Juned mau mengantar dia periksa! Karena aku ingin tau, sebenarnya dia sakit apa," ungkap Satya. "Pak Juned jangan berpikir macam-macam. Aku ingin tahu penyakit Hilya, karena aku khawatir dengan Clara. Aku takut dia mengidap penyakit yang berbahaya, dan dapat menular pada Clara. Karena itu, lebih cepat aku mengetahui penyakitnya, itu lebih baik. Agar aku bisa segera melakukan tindakan."


"Maksud tuan, tuan mau memecat Mbak Hilya, kalau terbukti Mbak Hilya sakit?"


Seketika Satya menoleh ke arah Pak Juned yang duduk di sebelahnya. Wajah Pak Juned tampak cemas.


"Mbak Hilya orangnya baik tuan, kasihan kalau dipecat, apalagi dia sedang sakit."


"Kenapa Pak Juned, jadi berpikir seperti itu? Apa aku sejahat itu pak?" tanya Satya dengan tersenyum tipis. "Tentu tidak pak. Jika Hilya benar-benar sakit, aku akan cari solusi dan jalan keluar bagaimana supaya dia bisa segera sembuh."


"Ooh begitu? Baik, Tuan."


"Ya, sudah. Aku mau berangkat. Pak Juned lanjutkan pekerjaan Pak Juned!" kata Satya dengan isyarat mempersilahkan Pak Juned keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2