
Hilya berjalan menyusuri jalanan ibu kota setelah keluar dari apartemen milik Satya.
Air matanya terus mengalir.
"Ummi, Abah!" ucapnya lirih sembari menyeka air matanya yang tidak berhenti mengalir.
Wanita itu terus berjalan, hampir setengah hari dia berjalan, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah halte.
Hilya duduk dan beristirahat di kursi halte yang membujur panjang. Hatinya masih diselimuti kesedihan. Dia duduk membungkuk dengan menutup kedua matanya. Terlihat wanita itu masih terisak tangis. Dan setelah beberapa menit kemudian baru dia mulai menegakkan kepalanya.
"Bagaimana aku bisa pulang, aku tidak memiliki uang sepeserpun," kata wanita itu dalam hati. "Ya Allah, beri aku jalan!" ucapnya lirih dengan *******-***** jari jemarinya.
Hilya mulai merasakan sesuatu yang menempel di salah-satu jarinya.
"Ya Allah... Cincin ini. Iya, aku bisa menjual cincin ini," ucap Hilya dengan memperhatikan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Aku harus mencari toko perhiasan agar bisa menjual cincin ini," ucapnya lagi dalam hati, sembari menoleh ke kanan kiri mencari pertokoan.
Hilya mulai mengernyitkan dahinya ketika melihat di seberang jalan ada beberapa ruko berjajar, kemudian dia bergegas bangkit dari tempat duduknya.
"Ya Allah, kenapa aku jadi pusing ya!" ucap Hilya saat merasakan matanya berkunang-kunang dengar rasa sakit yang tiba-tiba datang di kepalanya.
Wanita ini tampak memijit-mijit kepalanya saat mulai melangkah menyebrangi jalan melalui zebra cross.
"Ya Allah, ini pasti karena aku belum makan seharian. Tapi tidak, aku harus kuat. Selama ini aku sudah terbiasa berpuasa dan tidak makan seharian, jadi aku pasti kuat!" kata Hilya berusaha menguatkan dirinya.
Namu tiba-tiba.
"Tiiiiiiiiiiiiin!!!!"
Sebuah mobil membunyikan klakson begitu keras disaat Hilya terjatuh dan pingsan di tengah jalan.
******
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain. Tampak dua orang laki-laki sedang melakukan perjalanan di dalam sebuah mobil. Dan salah satu dari mereka terlihat sibuk berbicara di dalam telepon.
"Iya, baik. Aku dan Pak Satya sedang perjalanan menuju lokasi."
Laki-laki bernama Dirga itu tampak menutup teleponnya setelah berbicara banyak.
"Kemungkinan pemerintah dakan menutup proyekmu," kata Dirga kemudian pada kaki-laki yang duduk di sebelahnya. "Aneh sekali, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada gempa, tiba-tiba gedung yang pondasinya sudah sangat kuat itu ambruk dan memakan korban hingga lebih dari tiga ratus pekerja."
"Hmmmh..."
Tampak Satya membuang nafas keras saat mendengarkan sahabatnya berbicara.
"Polisi sudah ada di lokasi, dan sepertinya proyekmu ini terancam di tutup oleh pemerintahan kota," lanjut Dirga. "Perusahaan juga harus mengeluarkan uang banyak, untuk memberi ganti rugi pada para pekerja yang menjadi korban."
"Hmmmh..."
Satya kembali membuang nafasnya.
"Ya." Dirga mengangguk-angguk, sembari mengernyitkan dahinya. "Sebentar... Aku berfikir, belum satu hari kamu menyakiti perasaan Hilya, tiba-tiba musibah besar datang padamu. Jangan-jangan Hilya mengutukmu!"
Dirga mengatakannya dengan menoleh ke arah laki-laki yang sedang gelisah itu.
"Omong kosong! Kamu sendiri kan yang bilang padaku, kalau wanita itu sangat baik, jadi mana mungkin dia mengutukku. Karena orang yang benar-benar baik, tidak mungkin berdoa jelek untuk orang lain."
"Satya! Mungkin Hilya memang tidak berdoa jelek untukmu. Tapi bisa jadi malaikat yang berdoa jelek untukmu, karena malaikat tidak terima kamu menyakiti wanita sebaik Hilya. Kamu sudah melukai seorang bidadari yang sengaja Tuhan kirim untukmu. Kamu menyia-nyiakan dia, kamu menyakiti dia, hingga membuat malaika marah, dan Tuhan murka," sahut Dirga.
"Stop!!!" seketika Satya meninggikan suara. "Hal seperti ini wajar dalam bisnis. Jadi tolong! Jangan kamu hubung-hubungkan masalah kecelakaan dalam proyekku ini dengan Hilya." Tegas Satya dengan wajah memerah.
"Okey! Maaf!" sahut Dirga kemudian dengan mengalihkan pandangannya dari laki-laki berjas hitam yang tampak kesal itu.
Waktu terus berlalu. Kini Satya dan Dirga tengah sibuk mengurus sebuah kecelakaan besar yang tiba-tiba terjadi di sebuah proyek pembangunan gedung berbintang yang ditangani oleh perusahaannya.
__ADS_1
Sementara Hilya, saat ini tengah berada di sebuah klinik yang terletak di pinggiran ibu kota.
Malam telah menjelang, Hilya yang pingsan dari tadi sore, kini telah sadar.
"Hallo, dokter Melvi! gadis yang dokter bawa kesini tadi sore, sekarang sudah sadar. Tapi saat ini demamnya sangat tinggi, badannya juga menggigil kedinginan, kondisinya sangat lemah," kata seorang perawat pada dokter Melvina di dalam telepon, seorang dokter cantik berusia kurang lebih 48 tahun yang telah menolong Hilya.
"Kamu lakukan tes urin atau tes darah ya, untuk mengetahui lebih lanjut kondisi gadis itu, agar kita bisa berikan obat dan penanganan yang tepat pada gadis itu," sahut dokter Melvina. "Aku tidak bisa ke klinik malam ini, aku ada jadwal operasi di rumah sakit. Jadi tolong kamu rawat gadis itu dengan baik!" pesan dokter Melvina sebelum menutup teleponnya.
Akhirnya perawat di klinik itu pun melaksanakan perintah yang diberikan oleh dokter Melvina, seorang dokter pemilik klinik tempat Hilya dirawat.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan sesuai yang disarankan atasannya, perawat itu mulai memberikan suntikan dan obat kepada Hilya, hingga Hilya dapat tertidur pulas dan beristirahat malam ini.
Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga akhirnya pagi pun menjelang.
Hilya mulai membuka matanya. Dan terlihat seorang perawat sedang mengganti botol cairan infus yang mengalir melalui selang ke pori-pori punggung tangan Hilya.
"Bagaimana keadaannya mbak? Sudah lebih baik?" tanya perawat itu ramah.
"Alhamdulillah!" sahut Hilya dengan tersenyum.
"Saya tinggal dulu ya! Mbak silahkan istirahat lagi!" kata perawat itu.
"Mbak! Saya sudah lebih sehat. Apa boleh saya keluar dari rumah sakit ini sekarang?" tanya Hilya dengan berusaha duduk tegak, ketika perawat itu hendak meninggalkannya.
"Tunggu dokter dulu ya mbak! Sebentar lagi dokter datang," sahut perawat itu seraya meninggalkan kamar rawat Hilya.
Hilya menghelan nafas panjang dengan mata mengikuti langkan seorang perawat yang pergi meninggalkannya.
"Ya Allah, bagaimana aku bisa membayar biaya rumah sakit ini!" ucap Hilya lirih dengan menunduk dan meneteskan mata.
Bersambung
__ADS_1