
Sepertinya Clara cukup menikmati liburannya di hotel pamannya itu.
Seharian ini, Hilya menemani Clara berenang dan berjemur di sebuah kolam renang yang pemandangannya mengarah ke pantai.
Indah dan nyaman memang suasana alam yang ada di kawasan hotel ini. Dan meski tidak ikut bermain air dengan Clara di dalam kolam, namun Hilya cukup menikmati suasana indah di tempat ini.
"Kak Hilya, aku sudah selesai!" kata Clara sembari menghampiri Hilya yang duduk di samping kolam renang menemaninya.
Dipakaikannya kimono handuk ke tubuh Clara oleh Hilya.
"Ayo mandi air hangat di kamar!" kata Hilya sembari menggandeng gadis kecil tersebut untuk kembali ke kamar hotel.
Setelah sampai di kamar. Hilya segera mengurus gadis kecil itu, membantunya mandi hingga memakaikannya baju.
Tidak terasa magrib pun menjelang.
Hilya mengajak Clara untuk sholat magrib berjamaah dengannya seperti biasa.
"Kak, aku lapar!" rengek Clara setelah mereka melakukan ibadah sholat.
"Iya, sebentar ya! Kakak pesankan makanan," kata Hilya yang saat itu sedang melipat mukenahnya.
"Kak! Kita makan di restauran aja ya! Aku bosan makan di dalam kamar terus!"
"Iya."
Hilya mengangguk, seraya merapikan jilbabnya di depan cermin.
"Sini! Kaka rapikan bajumu!" kata Hilya kemudian sembari merapikan baju Clara, dan menyisir kembali rambut gadis kecil itu. "Sekarang sudah cantik. Ayo kita keluar!" ajak Hilya kemudian pada gadis kecil itu.
Di dalam perjalanan mereka menuju restauran, Clara mulai mengajukan berbagai pertanyaan kepada Hilya.
"Kenapa ya, Kak. Sekarang Om Satya sayang sama aku?"
Seketika Hilya menoleh ke arah Clara.
"Dari dulu, Om Satya, kan memang sayang sama Clara."
"Dulu Om Satya tidak pernah ajak Clara pergi kemana-mana. Tapi sejak ada Kak Hilya. Om jadi sayang sama Clara. Sering masuk ke kamar Clara, nganterin Clara sekolah, terus ajak Clara liburan ke sini," ungkap Clara dengan senyum bahagia.
"Dulu. Om sangat sibuk. Sekarang Om sudah ada waktu."
__ADS_1
"Bukan karena Om Satya suka ya, sama Kak Hilya?"
Hilya seketika menoleh ke arah Clara dengan mengerutkan dahi.
"Tentu saja tidak. Om, kan sudah punya tunangan. Pasti sukanya pada Tante Clarissa," jelas Hilya dengan tersenyum.
"Tapi aku lebih suka, Om Satya menikah dengan Kak Hilya. Aku tidak suka Tante Clarissa."
"Tante Clarissa baik, karena itu Om Satya mau bertunangan dengan dia. Jadi Clara seharusnya juga suka sama, Tante Clarissa, agar Om Satya tidak sedih," nasihat Hilya.
"Clara mau buat rencana jahat, agar Om Satya tidak jadi menikah dengan Tante Clarissa. Bagaimana menurut Kak Hilya?"
Clara mengungkapkan idenya dengan menoleh ke arah Hilya dan berkedip-kedip.
"Hmmm..."
Hilya tersenyum, dan seketika membungkukkan badannya.
"Clara gadis kecil yang baik. Yang sangat Kak Hilya sayangi. Jadi, Kak Hilya tidak ijinkan Clara berteman dengan setan, untuk merencanakan perbuatan jahat. Karena itu, jangan pernah berpikir untuk membuat rencana jahat yang akan menyakiti hati orang lain!"
Hilya memberikan nasihatnya dengan tersenyum sembari kemudian mencubit hidung Clara.
"Okey! Clara tidak akan membuat rencana jahat. Clara mau berdoa aja sama Allah, agar kakak dan Om Satya berjodoh. Kalau berdoa bukan perbuatan jahat kan, Kak?" tanya Clara.
"Mmm... Kakak lapar. Ayo cepat jalannya!" ajak Hilya kemudian dengan menarik tangan Clara, agar berjalan lebih cepat menuju restauran.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di restauran hotel tersebut.
Hilya dan Clara seketika menghentikan langkahnya saat berada di pintu restauran. Pandangan mata mereka berdua tertuju ke arah yang sama.
"Aku tidak suka dengan Tante Clarissa, kenapa dia harus ada di sini?" gumam Clara lirih saat melihat wanita cantik itu sedang duduk di meja restauran bersama pamannya.
"Clara!" seru wanita bernama Clarissa itu sembari beranjak dari tempat duduknya menghampiri Clara.
Terlihat wanita itu berjalan ke arah Clara, lalu mencium pipi Clara saat telah sampai di depan gadis kecil itu. Dan kemudian menggandeng tangan Clara untuk diajak duduk di meja restauran bersamanya.
Hilya ya saat itu juga menggandeng tangan Clara, mengikuti langkah Clarissa.
"Clara mau duduk di dekat tante, atau Om?" tanya Clarissa dengan ramah.
"Aku mau duduk dekat Kak Hilya," sahut Clara sembari memegang kuat tangan Hilya.
__ADS_1
"Ooh, boleh! Silahkan duduk Hilya!" kata Clarissa kemudian, dengan mempersilahkan Hilya dan Clara duduk.
Akhirnya Hilya dan Clara menarik kursi yang ada dihadapan Satya dan Clarissa.
Dan, tidak lama setelah Clara dan Hilya duduk, tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja biru tosca menghampiri meja mereka.
"Clarissa, Kapan kamu datang? Kok tidak bilang-bilang?" tanya laki-laki itu pada Clarissa, seraya duduk di sebelah Satya.
"Mmm... Aku memang sengaja datang ke sini diam-diam. Karena aku ingin memberi kejutan pada Satya. Seperti Satya, yang selama ini sering memberikan kejutan padaku. Iya, kan sayang?" kata Clarissa dengan menoleh ke arah Satya, seraya melingkarkan tangannya di lengan Satya, dan menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.
"Mmm... Iya. Benar-benar kejutan, yang membuat terkejut," sahut Dirga lirih dengan tersenyum geli, dengan melirik sahabatnya, yang hanya berekspresi datar menanggapi sikap mesra kekasihnya.
"O, iya. Hilya. Kamu tahu tidak? Majikan kamu ini, adalah laki-laki yang sangat penyayang. Sangat romantis, dan sangat perhatian. Dia selalu mendukung karier aku, dan selalu mengatakan, kalau dia akan bahagia, jika aku bahagia. Iya kan sayang?" kata Clarissa lagi, dengan menoleh ke arah Satya dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu, seraya kemudian mencium pipinya.
Hilya tersenyum sembari mengangguk saat mendengarkan cerita Clarissa.
Sementara itu, Clara terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Hilya.
"Kamu tahu butik aku, Hilya? Tempat usaha aku itu, adalah hadiah kejutan dari tunanganku, waktu aku baru pulang pendidikan dari Jepang."
Clarissa terdengar bercerita lagi kepada Hilya.
"Aku masih ingat. Waktu itu, majikan kamu ini menjemput aku dari bandara. Terus mengajak aku melihat lokasi butik, padahal saat itu aku tahu, dia sangat sibuk. Tapi dia, masih menyempatkan waktu untuk memberi kejutan padaku."
Hilya kembali tersenyum mendengar cerita Clarissa.
"Makasih ya Sayang! Aku bahagia, Tuhan telah memilihkan kamu menjadi pendamping hidup aku," kata Clarissa dengan memegang erat jari-jemari Satya dan menoleh ke arah Satya dengan kembali mencium pipinya.
"O, ya. Hilya! Maaf! Aku jadi cerita banyak tentang kisah bahagiaku ini sama kamu."
"Tidak apa-apa," sahut Hilya dengan tersenyum.
"O, ya. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Clarissa kemudian pada Hilya.
"Mmm... Orang tuaku melarang aku berpacaran. Jadi aku tidak punya pacar," jawab Hilya.
"O, iya. Maaf! Tiba-tiba aku pusing. Aku ke kamar dulu, ya!" kata Hilya kemudian. "Ayo, Clara!"
Hilya bergegas bangkit dari tempat duduknya, menggandeng tangan Clara, dan meninggalkan meja makan.
"Kak, aku lapar!" kata Clara dengan suara lemah.
__ADS_1
"Iya, nanti kita pesan makanan. Kita makan di kamar saja, ya!" sahut Hilya dengan mempercepat langkahnya.
Bersambung