
Terlihat Clarissa berdiri di depan kamar Satya dengan tangan dilipat di depan dada.
"Selarut ini kamu berada di kamar Clara?" tanya Clarissa menyeranga saat Satya tiba di depan pintu kamar hotelnya.
"Aku membacakan buku cerita untuk Clara," sahut Satya tenang.
"Bukankah Clara punya Neny, yang bisa membacakan dia cerita," ujar Clarissa kesal.
"Clarissa! Aku sengaja mengajak Clara ke sini untuk bersenang-senang. Jadi, tidak mungkin jika seharian penuh aku biarkan dia hanya bermain dengan Hilya," terang Satya dengan suara meninggi.
"Apa aku salah memperhatikan Clara, keponakan aku sendiri?" tanya Satya kemudian.
"Tolong kamu mengerti! Clara butuh aku sebagai pengganti orang tuanya!" Satya terdengar menurunkan nada suaranya yang semula meninggi.
"Okey! Aku minta maaf!" sahut Clarissa dengan meraih tangan Satya dan menyandarkan tubuhnya di dada bidang laki-laki itu.
"Sekarang! Ayo aku antar kamu ke kamarmu!" kata Satya kemudian dengan menggandeng tangan Clarissa, mengajaknya melangkah meninggalkan kamarnya.
"Sayang! Aku tidak mau!"
Clarissa merengek, menolak untuk kembali ke kamarnya.
"Aku ingin kita menghabiskan malam ini bersamamu!" katanya. "Akhir-akhir ini kamu sibuk, aku juga sibuk. Kita jarang bertemu. Jadi, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini sayang! Kita habiskan malam ini bersama, ya!"
Clarissa mulai merangkul lengan Satya, lalu bersandar di pundaknya, dan mengungkapkan keinginannya dengan manja.
Satya terus melangkah menuju kamar desainer muda itu, tanpa menghiraukan sikap manjanya.
"Besok pagi aku masih ada meeting. Aku capek, aku ingin istirahat. Jadi, aku mohon kamu mengerti!"
Berlahan Satya melepaskan tangannya dari rangkulan Clarissa.
"Istirahatlah! Aku akan kembali ke kamarku," kata Satya dengan ekspresi wajah lesu, seraya melangkah meninggalkan Clarissa yang masih berdiri di depan kamar hotelnya.
Terlihat jelas kekecewaan di mata Clarissa. Wanita cantik bergaun merah itu hanya bisa diam melihat sikap kekasihnya yang tidak biasa mengacuhkannya seperti ini. Dia hanya bisa memperhatikan langkah laki-laki yang dicintainya itu meninggalkannya, dengan mata berkaca-kaca.
*****
Jam dinding terus berputar. Tidak terasa pagi pun menjelang. Dan kini waktu sudah menunjukkan jam 06.00 pagi.
"Sepagi ini sudah mengantar sarapan?" tanya Hilya pada tiga orang pelayan hotel yang tengah membereskan sisa makan malamnya, dan menggantinya dengan berbagai menu makanan baru.
"Iya, Bu. Pak Dir yang memerintahkan!" sahut salah satu diantara mereka dengan tersenyum.
Hilya pun membalas senyum para pelayan itu.
"Selamat pagi Clara!"
Tiba-tiba direktur utama hotel ini masuk ke dalam kamar, dan menyapa Clara yang sudah duduk di meja makan.
__ADS_1
"Tugas kami sudah selesai, Pak! Kami permisi dulu!" pamit tiga orang pelayan hotel itu kemudian pada Satya.
Akhirnya pagi ini Satya, Hilya, dan Clara sarapan bersama di dalam kamar hotel.
"Kalau kamu mau menu yang lain, aku bisa panggilkan pelayan!" kata Satya saat melihat Hilya yang tidak begitu berselera makan.
"Tidak usah, terima kasih!" jawab Hilya datar.
"Clara, mau makan makanan yang lain?" tanya Satya kemudian kepada keponakannya.
"Mmm... Tidak! Ini sudah cukup," sahut Clara.
Mereka bertiga mulai menikmati menu sarapan yang disuguhkan oleh pelayan restauran hotel berbintang ini.
Terlihat Clara mulai bersikap manja kepada pamannya, dengan minta dilayani dan disuapi oleh pamannya yang tampan itu.
Dan di tengah-tengah kehangatan mereka. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Hilya segera bangkit dari tempat duduknya untuk membuka pintu.
"Jadi kamu ada di sini! Aku menunggu kamu berjam-jam di depan kamar kamu!" Teriak seorang wanita cantik berambut coklat panjang sebahu dengan menatap laki-laki berjas abu-abu tua yang sedang bercanda dengan Clara di meja makan.
"Maaf! Masuklah dulu! Jangan berteriak-teriak seperti ini!" kata Hilya lembut, menasehati seorang wanita yang tiba-tiba berteriak di depan pintu hotel, saat melihat Satya berada di dalam kamarnya.
"Dengar ya! Aku tidak tahu, apa yang ada dalam hati dan pikiran wanita berbalut busana panjang seperti kamu! Entah itu pikiran kotor atau pikiran busuk dan licik untuk menggoda tunanganku!"
Kata-kata pedas yang keluar dari mulut Clarissa sontak memancing emosi Hilya.
"Selesaikan urusanmu dengan dia, dengan cara baik-baik! Jangan berteriak-teriak di depan umum, karena itu akan mempermalukan dirimu sendiri!" tandas Hilya, seraya meninggalkan Clarissa yang masih berdiri di depan pintu hotel.
Seketika Satya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Clarissa. Laki-laki itu terlihat menarik pergelangan tangan Clarissa dan mengajak wanita itu pergi.
"Tidak perlu meneriakiku seperti itu! Aku kan, sudah bilang padamu! Aku sengaja mengajak Clara ke sini, untuk membuat anak itu bahagia. Clara tidak memiliki orang tua, dan aku adalah pengganti orang tuanya."
Satya berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan di dalam kamar keponakannya kepada Clarissa, sembari menarik tangan wanita cantik itu pergi.
"Aku minta maaf, jika aku salah karena telah menemani Clara sarapan pagi ini! Jadi, apa sekarang yang kamu inginkan dariku? Kamu ingin aku menemanimu sarapan di restauran? Atau di kamarmu, seperti apa yang aku lakukan pada Clara?" tanya Satya dengan menghentikan langkahnya menatap wanita itu.
"Apa Hilya benar-benar sudah menikah, dan dia tidak akan mengganggu hubungan kita?" tanya Clarissa dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tahu kan, wanita seperti apa yang bisa membuat aku jatuh cinta. Jadi tanyakan hal itu pada dirimu sendiri!" sahut Satya.
"Hmmmmh!"
Seketika Clarissa membuang napas keras.
"Hilya hanya seorang Neny, tidak ubahnya seperti seorang pembuat. Mana mungkin kamu akan tertarik padanya. Karena yang aku tahu, kamu hanya akan tertarik pada wanita yang cantik dan cerdas. Jadi, kenapa aku sangat bodoh, dan tiba-tiba cemburu tanpa alasan kepada Hilya?" kata Clarissa dengan tersenyum, seolah-olah menyesali sikap konyolnya.
"Sayang maafkan aku, ya! Aku ke kamar dulu! Dan, semoga meeting kamu pagi ini sukses!" kata wanita cantik itu kemudian dengan mencium pipi Satya, seraya melangkah meninggalkan Satya pergi.
__ADS_1
Wajah Satya tampak datar saat menerima ciuman sayang dari kekasihnya itu.
"Ya Tuhan! Ini salah!" katanya kemudian saat memperhatikan langkah Clarissa yang berjalan meninggalkannya.
Kedua tangannya terlihat mencengkeram kepala, matanya terpejam, dan suara napasnya naik turun.
Sementara itu di kamar Clara, tampak Hilya mulai mengemasi barang-barangnya.
"Kak Hilya kurang enak badan. Kak Hilya mau pulang ke rumah pagi ini! Kalau Clara masih tetap ingin di sini, tidak apa-apa," kata Hilya kepada seorang gadis kecil yang terlihat bingung setelah melihat percekcokan antara dirinya dan Clarissa.
"Clara ikut Kak Hilya pulang!"
"Iya," Hilya tersenyum sembari mengusap-usap kepala gadis kecil itu.
Setelah selesai berkemas, Hilya dan Clara bergegas keluar dari kamarnya. Dan, ketika mereka berdua hampir sampai di lobbi hotel, tiba-tiba tangan seorang laki-laki menyentuh pergelangan tangan Hilya.
"Kamu mau ke mana?" tanya laki-laki berjas abu-abu tua itu, menghentikan langkah Hilya.
"Aku dan Clara mau pulang," sahutnya dengan menoleh ke arah laki-laki itu.
"Kenapa?"
"Aku kurang enak badan, aku ingin segera pulang."
"Tunggu aku selesai rapat. Nanti akan aku antar pulang!"
"Tidak usah, aku bisa pulang naik taksi."
"Aku akan suruh sopir mengantar kalian pulang," kata laki-laki itu dengan masih memegang kuat pergelangan tangan Hilya dan menariknya untuk ikut berjalan bersamanya.
Dengan menggunakan semua energi, Hilya menghempas tangan laki-laki itu.
"Berhenti menjadi seorang pecundang! Berhenti menyakiti perasaan Clarissa, dan juga perasaanku! Aku bisa pulang sendiri, meski tanpa diantar oleh sopirmu!" kata Hilya kesal seraya menarik tangan Clara dan melangkah lebih cepat meninggalkan direktur Agung Wijaya group itu.
Seketika direktur Agung Wijaya group itu mengejar langkah cepat Hilya.
Dengan paksa dia membawa koper yang ada di tangan Hilya.
Tanpa berbicara apa pun dia melangkah cepat mendahului Hilya membawa koper tersebut, sembari salah satu tangannya yang lain memegang telepon seluler yang dia tempelkan di telinga.
"Cepat! Aku sudah ada di depan!" kata laki-laki itu yang entah berbicara dengan siapa.
Terlihat mobil BMW X5 warna hitam sudah berada di depan lobbi ketika laki-laki itu keluar dari pintu utama hotel.
Laki-laki itu bergegas memasukkan koper milik Hilya ke dalam bagasi mobil. Dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Clara dan Hilya.
Hilya dan Clara pun segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Setelah rapat selesai, aku akan segera menyusul kalian pulang!" kata laki-laki itu kepada Hilya seraya menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
Hilya hanya bergeming, tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
Bersambung