Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 65


__ADS_3

Hilya bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Setelah sampai di kamar, Hilya melangkah menuju tempat tidur dan berniat untuk membaringkan tubuhnya, namun disaat dia hampir berbaring, tiba-tiba Clarissa membuka pintu kamar dengan paksa tanpa permisi.


Gubrak!!


"Ada apa?" tanya Hilya dengan wajah kesal.


"Hmmmh!"


Clarissa menyahutinya dengan tersenyum sinis.


"Dengar ya, gadis kampung!" ujar Clarissa kemudian. "Kalau kamu berpikir aku iri dengan statusmu sebagai istri tuan muda rumah ini, kamu keliru besar," lanjutnya. "Kamu bukanlah wanita yang diinginkan Satya. Kamu juga sama sekali bukan tipe Satya," tambahnya. "Dan kalau pun saat ini Satya memperhatikan kamu, itu bukan karena dia menginginkan kamu, melainkan, karena anak dalam kandungan kamu itu. Jadi, berhenti bersikap seolah kamu permaisuri di rumah ini!"


Clarissa terlihat sangat geram saat mengatakan hal tersebut pada Hilya.


Sementara Hilya masih terlihat duduk tenang di tepi ranjang tidurnya, dengan memperhatikan Clarissa yang berdiri di tengah pintu kamarnya dengan tangan dilipat di depan dada.


"Sejujurnya! Aku kasian padamu. Dan aku sangat malu, jika aku jadi dirimu! Wanita yang sama sekali tidak punya harga diri! Masih bertahan di rumah ini meski tidak ada yg menginginkan!" kata Clarissa lagi. "Kamu tahu? setelah kamu melahirkan nanti. Aku pastikan Satya akan menendang kamu keluar dari rumah ini. Kenapa? Karena kamu sudah tidak berguna lagi."


Clarissa mencibir. Sementara Hilya masih terlihat tenang.


"Sejujurnya! Aku iba melihatmu. Mempermalukan diri, tinggal di rumah laki-laki yang jelas-jelas sudah mengkhianatimu, dan tidak menginginkanmu," tukas Hilya dengan tersenyum geli.


"Kamu!"


Clarissa seketika menjadi geram.


"Kamu pikir Satya menginginkan kamu. Tidak! Satya sama sekali tidak pernah menginginkan kamu! Sekalipun saat ini kamu sedang hamil, itu bukan karena Satya menginginkan kamu, tapi karena Satya tidak sengaja melakukannya. Dia berada di bawah pengaruh alkohol saat melakukan semua itu padamu. Jadi itu artinya, dia sama sekali tidak menginginkan kamu. Dan hanya menginginkan aku," terang Clarissa kesal.


"O, iya?" sahut Hilya masih dengan tersenyum tenang. Membuat Clarissa yang melihatnya semakin geram.


"Iya. Satya tidak pernah sudi menyentuhmu dalam keadaan sadar. Kamu tahu kenapa?Karena dia sama sekali tidak menginginkanmu!" ujar Clarissa kesal.


"Berbeda dengan sikapnya padaku. Satya sangat menginginkanku, karena itu dia selalu memperlakukanku dengan cinta, menyentuhku, membelaiku, dan selalu mencumbuku dalam keadaan sadar dengan mesra."


Clarissa sengaja menceritakan kemesraannya dengan Satya untuk memancing emosi Hilya.


"Kamu mau tahu di mana Satya mencumbu aku dengan penuh cinta?" tanya Clarissa kemudian.


"Di dalam kamar ini. Iya, dia berkali-kali mencumbuku, menyentuh tubuhku dengan mesra dan penuh cinta di dalam kamar ini, di atas ranjang yang kamu duduki itu, di atas seprei putih yang saat ini kamu duduki itu," cerita Clarissa dengan tersenyum licik.


Sepertinya Clarissa sengaja mengatakan semua itu agar perasaan Hilya menjadi kacau.


"O, iya?"


Hilya tetap terlihat tenang, meski sebenarnya aliran darah dan detak jantungnya mulai berjalan tidak normal.

__ADS_1


"Iya," jawab Clarissa dengan senyum mengejek. "Aku juga masih menyimpan jubah handuk capel yang biasa kita kenakan saat kita mandi bersama," katanya. "Apa kamu juga mau tahu?"


"Hmmm!"


Hilya masih menunjukkan senyum tenang.


"Simpan saja! Karena aku sama sekali tidak tertarik dengan barang kenangan kamu," jawab Hilya. "Atau? Kamu mau aku bawakan sprei ini? Siapa tahu kamu ingin menyimpan sprei ini juga, karena bisa jadi kamu masih sering membayangkan suamiku, dan ingin memeluk sprei ini sebagai obat rindumu yang tidak kesampaian," ucap Hilya dengan senyum mengejek.


Hilya masih duduk di atas tempat tidurnya dan tetap bersikap tenang.


"Sejujurnya, aku kasihan padamu!" kata Hilya kemudian. "Kamu tahu kenapa Satya meninggalkanmu? Mungkin karena kamu tidak terlalu berharga di matanya," lanjut Hilya.


"Kamu terlalu murah, karena tidak dapat menjaga kehormatan sebagai seorang wanita baik, berpendidikan, dan elegan," tambah Hilya. "Kamu tahu, kenapa Satya lebih memilih aku sekali pun dia tidak mencintaiku? Tentu dia tahu, bahwa aku wanita berharga, yang pantas dia pertahankan dan dia jaga," tandas Hilya dengan senyum mengejek Clarissa.


Terlihat tangan Clarissa mulai mengepal seolah ingin menghantam wajah Hilya.


"Ada apa ini?"


Seketika konsentrasi percakapan Hilya dan Clarissa terpecah saat Satya tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar, tepatnya di belakang Clarissa.


"Clarissa? Sedang apa kamu disini?" tanya Satya sembari menjejeri Clarissa yang berdiri di tengah pintu kamarnya.


Hilya yang saat itu masih duduk di atas tempat tidurnya, melihat Clarissa dan suaminya berdiri bersebelahan seketika merasakan mual, dan seolah ingin segera memuntahkan semua isi yang ada dalam perutnya.


"Uweek! Uweek!"


"Sayang! Kamu kenapa?"


Seketika Satya berlari menghampiri Hilya.


"Clarissa! Tolong kamu pergi dari sini, karena sepertinya istriku butuh istirahat!" kata Satya kemudian pada Clarissa yang masih berdiri di tengah pintu kamarnya.


Clarissa pun bergegas meninggalkan kamar mantan tunangannya itu dengan wajah kesal.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Satya lagi dengan memijit-mijit punggung Hilya yang masih muntah di wastafel kamarnya.


"Uweek! Uweek!"


"Apa yang sudah Clarissa lakukan, sampai kamu muntah-muntah seperti ini?" tanya laki-laki itu khawatir.


Hilya masih terlihat memuntahkan semua isi yang ada dalam perutnya.


"Aku harus temui Clarissa dan minta penjelasan darinya!" gumam Satya kesal sembari membalikkan badan hendak berjalan keluar kamar.


"Tidak!"

__ADS_1


Spontan muntah dari mulut Hilya terhenti, dan tangan Hilya terlihat menarik lengan Satya.


"Sayang! Clarissa harus bertanggung jawab, karena dia sudah membuat kamu seperti ini."


"Aku mau tidur," kata Hilya dengan tenaga yang terlihat lemah karena sebagian isi perutnya telah dia muntahkan.


Satya dengan sigap membopong istrinya itu menuju tempat tidur.


Namun tiba-tiba rasa mualnya kembali datang, saat melihat sprei warna putih dengan motif bunga mawar warna merah jambu yang tergerai rapi di tempat tidurnya.


"Uweek!"


Hilya kembali berbalik menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Aku! Aku tidak mau itu!"


Wanita itu terlihat menoleh ke arah tempat tidur dan menunjuk sprei yang terpasang di atas tempat tidurnya.


"Tidak mau apa?" tanya Satya berusaha memahami maksud kata-kata istrinya.


"Itu! Aku tidak mau tidur di atas situ!" kata Hilya dengan masih menunjuk sprei warnah putih itu.


"Apa?"


"Itu! Kotor!"


"Apa? Spreinya diganti?"


"Iya,"


Hilya mengangguk.


"Tadi pagi, Mbak Ira baru saja mengganti spreinya, itu masih bersih," terang Satya.


"Kotor!"


Teriak Hilya dengan mengusap mulutnya yang baru saja mengeluarkan muntahan.


"Iya, iya, aku ganti," sahut Satya dengan lembut, seraya menuju tempat tidur dan menarik sprei yang ada di sana.


"Uweek!" Hilya kembali muntah saat melihat Satya menarik sprei yang ada di atas tempat tidurnya.


"Aneh!" gumam Satya heran dengan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap istrinya yang mengatakan bahwa sprei itu kotor. "Wangi," kata laki-laki itu lirih dengan mencium sprei yang memang masih bersih itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2