
Subuh menjelang. Hilya sudah duduk di atas sajadahnya.
Setelah melaksanakan salat subuh, dia menoleh ke arah Satya, yang masih tertidur pulas di atas ranjang.
Berlahan Hilya menghampiri laki-laki itu. Duduk di sampingnya, dan menyentuh lembut pipinya.
"Mas!"
Hilya menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.
"Sayang!"
Satya terjaga dengan senyum menyapa Hilya.
"Katanya Mas Satya mau belajar bertaubat. Ayo bangun, salat subuh!"
"Sayang! Mas masih ngantuk," sahut Satya manja dengan merangkul pinggang Hilya dan tidur di pangkuannya.
"Mas! Ayo bangun! Nanti kalau sudah salat subuh! Hilya kasih hadiah!" rayu Hilya dengan mengusap-usap lembut rambut Satya.
"Apa?"
Seketika Satya mendongakkan kepala.
"Waktu mandi, aku gosokin punggungnya," ucap Hilya dengan senyum nakal.
Satya pun tersenyum girang, sembari langsung duduk tegap.
"Bener? Janji?"
Satya mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Hilya.
"Iya janji!" sahut Hilya dengan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Satya.
Satya pun tersenyum seraya mencium pipi Hilya. Laki-laki ini tampak bersemangat bangkit dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.
Melihat tingkah Satya yang kekanak-kanakan Hilya menggeleng-gelengkan kepala.
'Andai saja ini bukan kawajibanku sebagai seorang istri untuk mengingatkanmu dalam kebaikan, Mas! Pasti aku tidak akan merayu kamu seperti ini.' Kata Hilya dalam hati.
Sepertinya Hilya sungguh-sungguh ingin mengubah Satya menjadi laki-laki yang salih. Dan Hilya terlihat cukup menerima kekurangan Satya, yang sama sekali tidak memahami ilmu agama.
********
Waktu terus bergulir, kini sudah jam tujuh pagi, Satya sudah bersiap hendak berangkat ke kantornya.
"Terima kasih ya, sayang!"
Satya mengucapkan terima kasih saat Hilya memasangkan dasi di lehernya.
"Ayo temani aku sarapan!"
Satya menggandeng tangan Hilya saat keluar dari kamarnya menuju meja makan.
"Sayang, pulang kerja nanti! Gosok punggungku lagi, ya!"
"InSha Allah," sahut Hilya dengan menoleh ke arah Satya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ehm!" terdengar Ibu Diana mendehem.
Satya dan Hilya yang baru sampai ruang makan keluarga tersenyum kepada Ibu Diana.
"Mama apa kabar? Sehat pagi ini?" tanya Satya.
Ibu Diana hanya melirik Satya tanpa menyahutinya.
Satya menoleh kepada Hilya, sembari tersenyum kecewa karena sikap mamanya yang acuh padanya.
Tiba-tiba saja saat meraka hendak duduk bersebelahan, Clarissa datang dan mulai mengeruhkan suasana.
Clarissa yang tampak cantik mengenakan dress warna biru muda langsung menyapa Satya.
"Sayang? Ingat baju ini? Waktu itu, kamu selalu bilang kalau aku cantik, saat aku mengenakan baju ini."
Satya tersenyum dengan melihat ke arah Clarissa, sembari tangannya erat menggenggam tangan Hilya.
"Iya," sahut Satya.
"Ayo sayang, duduk!" kata Satya kemudian pada Hilya dengan menarik kursi di meja makan untuknya.
"Terima kasih, Mas!" sahut Hilya.
Mereka berdua pun duduk di depan Ibu Diana dengan mengabaikan Clarissa.
"Satya! Nanti malam mama ada undangan party dari kolega mama. Dia juga mengharapkan kamu datang. Karena tidak mungkin kamu mengajak Hilya. Jadi kamu pergi sama Clarissa, saja!" kata Ibu Diana.
"Aku ajak Hilya saja, Ma!"
"Loh! Hilya kan masih sakit. Lagi pula Hilya tidak pernah datang ke perta seperti itu, kasihan Hilya, kalau tidak bisa menyesuaikan diri nanti di sana."
"Mama, benar, kan?"
"Aku akan ajak Hilya saja!"
"Satya! Ini pesta orang-orang kalangan atas. Yang benar saja kamu! Jangan mempermalukan, Mama!"
Ibu Diana berkata seolah Hilya tidak pantas datang ke pesta itu.
Tentu Hilya merasa tidak nyaman dengan perdebatan Ibu Diana dan Satya.
"Saya, ke kamar mandi dulu!" pamit Hilya kemudian seraya meninggalkan meja makan.
Setelah Hilya pergi, Ibu Diana mulai melanjutkan percakapannya kembali.
"Hilya! Dia gadis kampung. Yang benar saja kamu, mau mengajak Hilya ke pesta Tante Merry! Ini pesta penting, banyak kolega mama di sana," ujar Ibu Diana.
"Ma! Hilya memang dari kampung, tapi dia tidak kampungan," sahut Satya.
"Aku tetap akan ajak Hilya. Jangan khawatir! Istriku cantik, aku akan membuat semua orang di pesta kolega mama itu, terpesona melihat Hilya!" ucap Satya penuh percaya diri. Meski sebenarnya Satya teramat bingung dengan apa yang hendak dia lakukan agar semua kolega mamanya terkesan pada Hilya.
"Terserah, kamu!" sahut Ibu Diana kesal, seraya beranjak dari kursinya. "Tapi, kalau sampai istrimu itu mempermalukan mama. Awas, ya!"
"Ayo, Claris!"
Kemudian Ibu Diana mengajak Clarissa untuk keluar dari rumahnya.
__ADS_1
********
Waktu terus berjalan, kini sore telah menjelang. Satya masih berada di kantor. Tampak laki-laki itu berulang-ulang mencengkeram kepalanya.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
"Hilya! Apa dia bisa berjalan dengan sepatu hak tinggi? Berjalan elegan di depan banyak orang? Berbicara dengan anggun di depan kolega mama? Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Dia sama sekali tidak punya pengalaman pergi ke pesta. Bahkan waktu itu, dia tidak bisa makan steak di atas hot plate menggunakan pisau? Ya Tuhan!"
Pikiran Satya tampak kacau, memikirkan pesta yang akan dia hadiri nanti malam bersama Hilya.
Setelah lama berpikir akhirnya Satya bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, dia langsung mencari Hilya.
Dia melihat Hilya sedang duduk di ranjang dengan melihat sesuatu di laptopnya.
"Sayang! Kamu lihat apa?" tanya Satya penasaran.
"Maaf ya, Mas! Aku lancang ambil laptop di ruang kerja Mas Satya."
"Iya, nggak papa, kamu pakai saja."
"Mmm... Mas Satya yakin, mau ajak aku ke party kolega mama?"
Kemudian Hilya bertanya dengan wajah cemas.
"Iya, tentu."
Satya tersenyum sembari duduk di tepi ranjang menemani Hilya. Dan mengintip sesuatu di laptop yang ada di hadapan Hilya.
"Aku lagi mempelajari pesta orang kalangan atas Mas."
Hilya meringis dengan menoleh ke arah Satya yang mengintip laptopnya.
"Ooooh!"
Satya tersenyum tipis.
Ternyata Hilya sedang melihat video suasana pesta yang dilakukan pengusaha-pengusaha kaya di media sosial.
"Aku tidak ingin Mas Satya malu. Makanya aku harus belajar dulu. Aku kan, tidak pernah pergi ke pesta seperti itu, Mas!" terang Hilya dengan wajah tidak percaya diri.
"Hmmm!"
Satya tersenyum dengan merangkul Hilya.
"Di sana nanti, Mas Satya akan selalu temani kamu! Jadi tidak perlu khawatir! Mas akan selalu berada di dekat kamu, dan menjaga kamu!"
Satya berusaha menenangkan perasaan Hilya yang tampak cemas.
"Kita bergandengan tangan terus, nanti di sana," tambah Satya.
Hilya pun mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Karena sejujurnya di dalam hatinya, masih dipenuhi rasa khawatir.
"Sekarang ayo bersiap! Mas mau ajak kamu ke butik langganan! Kita cari baju yang paling bagus buat kamu! Mas ingin nanti malam, kamu menjadi wanita berhijab yang paling cantik! Mengalahkan wanita-wanita yang berpakaian seksi!" goda Satya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Mas Satya!"
__ADS_1
Hilya masih terlihat cemas, meskipun Satya berusaha menenangkannya dengan kalimat-kalimat perhatian.
Bersambung