
Waktu terus berjalan. Siang ini, tampak Satya sedang gelisah di ruang kerjanya, pikirannya serasa melayang, tatapan matanya kosong, dan gairah kerjanya menghilang.
Dia mengabaikan laptop yang sudah menyala, mengabaikan tumpukan file yang memenuhi meja kerjanya. Dia termenung menatap hamparan langit berwarna putih bersih di depan jendela kaca ruang lantai tujuh itu.
Sesekali matanya berkedip-kedip sembari menghelan nafas panjang. Dan tak lama kemudian ditariknya jas berwarna abu-abu muda yang menengger di kursi kerjanya, dia berjalan cepat sembari mengenakan jas tersebut, menuju lift untuk turun ke area parkir mobil.
Dihampirinya mobil mewah Loxus LS warna sonic silver yang ada di area parkir tersebut.
Dan terlihat setelah itu, Satya melajukan mobilnya dengan kencang.
Ternyata direktur utama Agung Wijaya group itu sedang menuju apartemennya. Apartemen yang hampir satu bulan tidak dia kunjungi.
"Kreek!!"
Terdengar Satya membuka pintu apartemen itu.
Seorang gadis yang saat itu sedang mencuci tangannya di wastafel dapur apartemen bergegas menghampiri pria tampan itu.
"Assalamualaikum Mas Satya!" sapa wanita itu dengan meraih tangan kanan Satya untuk dia cium.
"Waalaikum salam," jawab Satya datar.
"Masya Allah, aku senang melihat Mas Satya sehat," kata wanita itu dengan senyum mengembang. "Mas Satya mau minum apa, aku buatin teh, kopi, jus, atau susu?" tanyanya ramah.
"Tidak usah! Aku mau istirahat, aku mau tidur dulu ya!" sahut Satya dengan tersenyum kecil sembari melangkah ke arah tempat tidur.
Berlahan Satya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut. Namun tiba-tiba wanita itu menghampiri Satya, dan menyentuh sepatu Satya yang belum dilepas.
"Hilya, tidak usah!" seketika laki-laki itu terjaga.
"Tidak apa-apa mas, biar aku yang lepas sepatumu!" kata wanita bernama Hilya itu lembut sembari melepas sepatu suaminya. "Mas Satya istirahat saja! Aku mau siapkan makanan siang dulu,"
__ADS_1
"Mmm... tidak usah, aku masih kenyang, kamu istirahat saja!" tolak Satya seraya membalikkan badannya untuk beristirahat.
Bibir Hilya terkatup dan tidak menjawab apapun, dipandanginya suami yang terlihat acuh, dan tidur di ranjangnya itu.
"Mungkin Mas Satya?" tanya Hilya dalam hati. "Mungkin Mas Satya belum meminta aku melayaninya karena dia masih sangat lelah," katanya lagi dalam hati.
Tidak lama setelah berfikir, Hilya menutupkan selimut warna putih yang ada di ranjang itu ke tubuh suaminya.
"Ya Allah semoga suamiku selalu sehat, dan selalu engkau lindungi!" doanya dalam hati saat menyelimuti pria itu.
Hilya segera melangkah menuju dapur. Meski tidak diijinkan menyiapkan makanan oleh suaminya, Hilya tetap memasak, dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
Beberapa menit kemudian pekerjaan Hilya di dapur telah selesai. Setelah semua masakan tertata rapi di meja. Hilya bergegas membuka lemarinya, mengambil pakaian terbaik yang dia punya, seraya kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hilya mulai menghidupkan shower. Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga tiga puluh menit, akhirnya ritual membersihkan diri di kamar mandi selesai.
Hilya mulai mengenakan pakaian dan jilbabnya di kamar mandi. Terbersit dalam hatinya untuk melepaskan jilbab dan membiarkan rambutnya tergerai saat dia keluar dari kamar mandi. Namun seketika dia tepiskan keinginan itu.
"Mas Satya tidak pernah memintaku untuk melepaskan jilbabku, jadi untuk apa aku membukanya," kata Hilya dalam hati.
"Kreek!!"
Terlihat pria itu bangkit dari tempat tidur, matanya mulai memandang ke arah wanita yang berdiri di sebelah kanannya, tepatnya di depan pintu toilet kamarnya.
Satya menatap dalam wajah Hilya, wajah gadis cantik yang dibalut kerudung warna jingga.
"Dreeet!!"
Tiba-tiba sebuah getaran terasa di saku jasnya.
Satya terjaga dari lamunan, dan segera meraih benda yang bergetar itu. Digeseknya dengan jari telunjuk layar sebuah benda berbetuk persegi panjang yang baru diambilnya.
__ADS_1
"Iya, iya, iya aku akan segera ke sana," kata Satya kemudian.
Setelah berbicara dengan benda tersebut, Satya bergegas beranjak dari tempat tidurnya.
"Hilya aku minta maaf, aku harus segera kembali ke kantor. O, iya. Aku tidak bisa pastikan kapan aku bisa datang lagi, karena proyekku di luar kota yang kemarin belum selesai."
Satya mengatakannya dengan tersenyum.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan minta Dirga untuk selalu mengunjungimu, dan jika sempat aku akan meneleponmu."
Setelah mengatakan hal itu Satya berbalik dan melangkah untuk keluar dari apartemen.
"Mas!" seru Hilya menghentikan langkah Satya.
Pria itu seketika menoleh ke arah gadis yang memanggilnya, seorang gadis yang berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku pergi untuk bekerja!" kata Satya dengan menatap dalam mata gadis itu.
"Iya," Hilya mengangguk dengan menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes.
Berlahan gadis itu menghampiri Satya. Diraihnya tangan kanan pria yang hendak pergi meninggalkannya, seraya kemudian menciumnya, dan menyematkan doa di dalamnya.
"Semoga ikhtiar Mas Satya dalam mencari nafkah diridhoi, semoga Allah selalu memudahkan jalan Mas Satya, dan Allah selalu menjaga keselamatan Mas Satya!" ucap Hilya lembut.
"Iya, aamiin," sahut Satya lirih, seraya berbalik membuka pintu apartemennya, dan meninggalkan Hilya.
Satya menghelan nafas panjang setelah keluar dari ruangan itu. Dia berjalan cepat menuju lift yang mengantarkannya ke arah parkir mobil.
"Ya Tuhan!" ucapnya saat masuk ke dalam mobil. "Huuuuu!!" terdengar dia membuang nafas keras seraya menyentuh setir mobilnya. "Tidak!" ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala saat bayangan Hilya tiba-tiba menyelinap di pelupuk matanya.
Iya, tatapan mata Hilya, senyuman Hilya, untaian doa dari bibir Hilya, semua itu tampak menguasai pikiran Satya dan menjadi bayangan yang berkali-kali menyelinap di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Tidak!!!" ucap Satya lagi. "Clarissa, aku mencintai Clarissa, dan hanya dia yang harus ada di pikiranku!" ucap Satya meyakinkan diri. "Iya, Clarissa, hanya Clarissa yang ada di pikiran dan hatiku," ucapnya lagi seraya menghidupkan mobil, dan mengemudikannya dengan kencang.
Bersambung