
Pagi itu di rumah Dokter Melvina, tampak Hilya sedang membantu Mbok Nah menyiapkan sarapan untuk keluarga.
"Mbak Hilya istirahat saja! Jangan terlalu capek!" kata wanita paruh bawa itu.
"Nggak papa, Mbok! Aku capek kalau harus istirahat terus," sahut Hilya.
"Ya sudah, kalau begitu tolong bantu Mbok Nah menata makanan ini di meja!"
"Siap, Mbok!" sahut Hilya sembari membawa makanan yang sudah selesai Mbok Nah plating ke meja makan.
Terlihat dokter Melvina sudah berada di meja makan pagi itu.
"Selamat pagi Hilya!" sapa dokter Melvina sembari tersenyum ketika melihat Hilya menata makanan di meja.
"Selamat pagi dokter."
Hilya tersenyum.
"Jangan terlalu capek, ya!" pesan dokter Melvina kemudian.
Hilya terlihat mengangguk sembari tersenyum.
"O, ya. Dok? Kapan saya bisa mulai bekerja di tempat yang baru?" tanya Hilya pada dokter Melvi, saat menata makanan itu.
"Kalau kamu sudah lebih sehat," sahut dokter Melvina.
"Saat ini, badan saya sudah terasa lebih sehat Dok. Saya yakin, jika saya memiliki kegiatan yang positif, badan saya akan lebih sehat," sahut Hilya.
"Kamu benar-benar ingin segera bekerja?"
"Iya, Dok." Hilya mengangguk.
"Ya, sudah. Nanti akan ibu tanyakan pada anak ibu, ya. Kapan kamu bisa mulai bekerja."
"Terima kasih banyak, Dok!" ucap Hilya dengan wajah sangat bahagia.
Hilya kembali menuju dapur, mengambil masakan Mbok Nah yang belum selesai dia tata.
"Mbok dengar tadi, Mbak Hilya mau bekerja? Memangnya mau kerja di mana, mbak?" tanya Mbok Nah saat Hilya masuk ke dalam dapur.
"Mmm... Kata dokter Melvina kemarin. Salah satu teman anaknya, ada yang memiliki yayasan pendidikan Islam, Mbok. Dan Hilya bisa bekerja sebagai tenaga pengajar di sana."
"Oooh, Mbak Hilya mau jadi guru, di sana?"
"Insya Allah, Mbok! Doakan ya!"
"Iya. Mbok, doakan," kata Mbok Nah sembari menepuk lengan Hilya.
"O, ya. Mbok! Ini di tata di meja semua?" tanya Hilya kemudian, saat melihat beberapa menu makanan yang belum dia bawa ke meja.
"Biar mbok saja! Mbak Hilya tolong rebuskan air, ya? Si Mbok mau bikin teh," kata Mbok Nah sembari membawa makanan itu ke ruang makan.
Sementara Hilya masih tetap berada di dapur, membantu Mbok Nah merebus air.
"Makasih ya, Mbok!" kata dokter Melvina pada Mbok Nah, saat wanita paruh baya itu menata masakannya di meja makan.
"Sama-sama, Bu!" sahut Mbok Nah dengan tersenyum.
"Kayaknya ada yang mengetuk pintu deh Mbok, coba dibukakan!" kata Dokter Melvina saat mendengar suara seseorang mengetuk pintu.
Bergegas Mbok Nah berjalan menuju ruang tamu.
"Assalamualaikum, Mbok!" sapa seorang laki-laki berkemeja putih kepada Mbok Nah.
"Waalaikum salam, Den Bagus!" jawab si Mbok ramah.
"Mama, ada Mbok?"
"Sudah menunggu Den Bagus, di meja makan," kata si Mbok sembari mengikuti langkah laki-laki berkulit putih bersih itu menuju meja makan.
"Assalamualaikum, Ma!" sapa laki-laki itu pada dokter Melvina seraya mencium tangan dokter cantik itu dan kemudian duduk di hadapannya.
"Waalaikum salam, Sayang!" sahut dokter Melvina dengan bibir mengembang melihat putranya kesayangannya datang.
"O, ya. Ma! Gimana kabar... Siapa itu yang mama tolong? Mama jadi bawa dia pulang ke rumah ini lagi?"
"Iya, sesuai saran kamu. Kalau menolong jangan setengah-setengah. Jadi, mama segera membawa gadis itu pulang ke sini," sahut dokter Melvina. "Namanya Hilya."
__ADS_1
"Oooh iya, Hilya," sahut laki-laki tampan itu.
"O, iya. Sayang! Hilya tanya, kapan katanya dia bisa mulai bekerja. Sepertinya gadis itu ingin segera bekerja."
"Memangnya kondisi dia sudah sehat, Ma?"
"Mama lihat, dia anak yang suka bekerja. Dan, sepertinya diam di rumah membuat dia stres," jelas dokter Melvina.
"Dia sedang hamil muda, dan kata mama kondisinya sangat lemah. Jadi, apa mungkin dia bisa maksimal dalam bekerja?"
"Sayang! Mama rasa tidak ada salahnya kita coba. Mengajar di sekolah kan, bukan tugas yang berat. Setelah selesai mengajar, Hilya bisa langsung pulang ke rumah ini, dan istirahat. Karena mama rasa, dia butuh kegiatan, biar dia tidak stres memikirkan masalah-masalahnya."
"Okey! Kalau gitu, Candra akan coba tanyakan lagi pada teman Candra ya, Ma? Kapan dia bisa masuk untuk bekerja."
"Terima kasih, ya?" sahut dokter Melvina dengan tersenyum, dan menyentuh tangan putranya. "Ayo sekarang kita sarapan!" kata wanita itu kemudian.
Terlihat setelah itu, dokter Melvina dan putranya yang bernama Candra mulai menundukkan kepala untuk berdoa.
"O, iya. Sayang! Mama ajak Hilya untuk makan bersama kita, ya? Boleh, kan?"
"Iya, boleh!" sahut Candra dengan mengangguk.
"Hilya! Hilya! Ayo ke sini! Kita sarapan!" seru dokter Melvina.
Sementara itu di dapur.
"Kedengarannya, Dokter Melvi, memanggil saya. Mbok dengan tidak?" tanya Hilya ragu pada Mbok Nah.
"Iya, Mbak. Cepat ke sana! Biar si Mbok yang ngelanjutkan cuci piring!"
Hilya yang saat itu, membantu Mbok Nah mengerjakan pekerjaan dapur, bergegas menuju ruang makan menghampiri dokter Melvina.
"Iya, Dokter!" kata Hilya saat sudah sampai ruangan tersebut.
Berlahan laki-laki berkemeja putih yang duduk membelakangi Hilya menoleh ke arahnya.
Tidak sengaja mata mereka saling bertatapan.
Hilya segera menundukkan pandangan.
Dokter Melvina mengenalkan putranya kepada Hilya.
Dokter Candra pun terlihat tersenyum kepada Hilya.
"Assalamualaikum, dokter!" ucap Hilya seraya mengatupkan kedua tangan, dan menganggukkan kepala.
"Waalaikum salam!" jawab dokter Candra sembari tersenyum.
"Ayo duduk sini!" kata dokter Melvina sembari meminta Hilya untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
Akhirnya Hilya pun duduk di sebelah dokter Melvina, berhadapan dengan Dokter Candra.
"O, iya? Apa kamu yakin, sudah siap untuk bekerja?" tanya dokter Candra kemudian pada Hilya.
"Insya Allah, Dokter!" jawab Hilya dengan kepala masih menunduk.
"O, iya. Kata mama, kamu sangat mahir dalam bahasa Arab. Boleh aku tahu, selain kemampuan bahasa Arab, kamu bisa bahasa apa lagi?"
"Mmm... Bahasa daerah, bahasa Jawa," sahut Hilya.
"Hmmmh!" Dokter Candra tersenyum. "Selain itu?"
"Mmm... Bahasa Inggris mungkin," sahut Hilya.
"Pasif, atau aktif?"
"Mmm... Aktif," sahut Hilya. "Mmm... Thank you Doctor Candra, and Doctor Melvina for helping me, giving me a place to live and giving me a job!" kata Hilya dengan memberanikan diri menunjukkan kemampuannya dalam berbicara bahasa Inggris di hadapan Dokter Candra.
"Okey, sama-sama!" sahut dokter Candra dengan tersenyum.
"Apa dokter juga ingin mendengarkan saya berbicara dalam bahasa Arab?" tanya Hilya kemudian.
"Tidak usah," sahut dokter Candra. "Ayo sarapan!" katanya dengan tersenyum.
*****
Sementara itu disebuah apartemen, tampak dua orang sahabat juga tengah menikmati sarapan.
__ADS_1
"Lain kali jika kamu patah hati, olah raga saja, tidak perlu mabuk seperti tadi malam!" celetuk Dirga.
"Siapa bilang aku patah hati," sahut Satya dengan mengoles selai kacang di atas roti tawarnya.
"Lalu, kenapa semalaman kamu mengigau nama Hilya terus? Berisik di telingaku!"
"Mmmmh..." Satya menyahutinya dengan tersenyum kecil.
"Segera buat keputusan. Tetap bersama Clarissa, atau mempertahankan pernikahanmu dengan Hilya!"
"Hmmmh..." Satya kembali tersenyum.
"Jika kamu memilih Clarissa, segera ceraikan Hilya. Pulangkan dia dengan cara baik-baik kepada keluarganya. Aku akan menemanimu, karena aku juga terlibat dalam skandal pernikahan kacaumu ini."
Dirga mulai menasihati sahabatnya.
"Jika kamu memilih Hilya. Segera batalkan pertunanganmu dengan Clarissa. Cepat cari Hilya, perbaiki semuanya! Yakinkan dia kalau kamu adalah ayah terbaik untuk anaknya! Jangan sampai kamu menyesal! Karena keburu, ada laki-laki lain yang mandekati Hilya," tambah Dirga.
"Maksudmu?"
"Hilya bukan wanita yang jelek, dia juga bukan wanita yang tidak menarik. Dia adalah wanita yang cantik dan cerdas. Bisa jadi anak Dokter Melvi jatuh cinta padanya," ucap Dirga dengan senyum menggoda Satya.
"Maksud kamu, Candra?"
"Mungkin?" sahut Dirga dengan terkekeh.
"Dokter Candra ada di Singapore, melanjutkan pendidikan spesialisnya."
"Jika tiba-tiba dia pulang, dan kemudian di rumahnya ada wanita cantik, lalu dia tertarik. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Hmmmh!"
Satya kembali membuang napas keras.
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Bodoh! Jika kamu memang ingin memperbaiki pernikahanmu dengan Hilya. Minta maaf padanya! Katakan sungguh-sungguh kalau kamu ingin rujuk!"
"Dia selalu mengatakan padaku, kalau aku sudah mentalaknya, dan aku sudah menceraikannya."
"Memangnya berapa kali kamu mengatakan cerai padanya?"
"Seingatku hanya sekali, waktu di apartemen bersama kamu dulu."
"Itu artinya, kamu masih sekali mentalaknya, dan kalian masih bisa rujuk. Jadi, rayu dia agar dia mau kembali padamu!"
"Hmmmh!" Satya kembali membuang napas keras.
"Kenapa? Kamu ragu? Semakin lama kamu mempermaikan kedua wanita itu, semakin kamu akan tersiksa dan tidak akan pernah mendapatkan dua-duanya. Sekarang! Lakukan saranku! Cepat putuskan pertunanganmu dengan Clarissa. Kejar wanita yang akan melahirkan anakmu itu! Sebelum kamu menyesal seumur hidup!"
"Apa yang harus aku lakukan jika Hilya menolakku?"
"Bodoh! Kamu adalah suaminya! Bawa dia di suatu tempat yang hanya ada kalian berdua di sana. Lakukan sesuatu pada Hilya. Sebuah sentuhan yang tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya. Dengan begitu, aku yakin, Hilya akan ketagihan, dan tergila-gila padamu!" sahut Dirga dengan terkekeh.
"Aku tidak perlu jelaskan bagaimana caranya, kan? Karena aku yakin kamu lebih mahir dariku!" goda Dirga masih dengan terkekeh.
"Hmmm!"
Satya kembali membuang napas keras, sembari meraih jasnya yang tergeletak di sofa, dan melangkah keluar dari apartemen sahabatnya itu.
"Satya! Ingan pesanku! Kamu akan menyesal! Jika ada laki-laki lain yang mendekati wanita hamil itu!" teriak Dirga. "Ingat, Dokter Candra sudah pulang ke Indonesia!"
"Dari mana kamu tau?"
Seketika Satya menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Dirga yang masih duduk di meja makan.
"Aku kan, seorang netizen," sahut Dirga.
"Hmmmh! Asal kamu tahu, Candra sudah memiliki tunangan. Laura, mantan pacarmu!" balas Satya.
"Mereka sudah putus. Laura akan menikah bulan depan dengan pengusaha tambang," sahut Dirga dengan kembali terkekeh.
"Hmmmh!"
Terlihat setelah itu Satya melanjutkan langkahnya meninggalkan apartemen Dirga, tanpa memperdulikan lagi apa yang hendak dikatakan oleh sahabatnya itu.
Bersambung
__ADS_1