
Satya menarik kursi yang ada di sebelah kanan tempat tidur Hilya. Dia duduk dengan raut wajah cemas. Tangannya terus menggenggam tangan wanita yang terkulai lemas di hadapannya.
Satya bergegas membuka kerudung Hilya ketika Bi Rum menyodorkan minyak kayu putih padanya. Dia tampak sigap mengoleskan minyak hangat itu pada leher, dada, dan pada bagian bawah hidung Hilya.
"Tuan! Biar bibi saja yang mengoleskan minyak kayu putih itu pada tubuh mbak Hilya," kata Bibi Rum menawarkan membantu majikannya.
"Tidak usah," jawab Satya dengan terus mengoleskan minyak itu ke telapak tangan dan telapak kaki Hilya.
"Tapi tuan, Mbak Hilya kan, bukan muhrim tuan muda. Pasti nanti Mbak Hilya malu kalau tuan membuka hijab dan menyentuh tangan serta kakinya."
Seketika Satya menoleh ke arah Bibi Rum.
"Ini kan darurat, Bik!"
"Oooh begitu," sahut bibi dengan mengangguk.
Terlihat setelah itu Satya memasang kembali kerudung Hilya yang sempat dia buka.
"Tolong bibik ambil air dan waslap ya! Hilya badannya sangat panas. Aku mau kompres dia."
"Baik, Tuan."
Bibi mengangguk seraya keluar dari kamar itu untuk mengambil barang yang majikannya butuhkan.
Beberapa menit kemudian Bibi Rum sudah kembali ke kamar.
"Ini, Tuan!" kata bibi dengan menyodorkan baskom berisi air dan waslap pada majikannya.
"Terimakasih, Bik!"
"Sama-sama Tuan."
Setelah itu Satya mengompres kening Hilya dengan waslap yang sudah dibasahi air. Sembari meletakkan baskom berisi air itu di meja yang ada di sebelah kanannya.
Satya masih terlihat cemas dan gelisah. Dia kembali menggenggam tangan Hilya dengan menatap wajah wanita yang masih belum sadar itu dengan mata lembut.
"Tuan! Mbak Hilya kayaknya sudah sadar," kata bibi saat melihat Hilya mulai membuka matanya.
"Hilya!" ucap Satya lirih.
Sontak Hilya terkejut, dia tiba-tiba duduk, dan seketika menghempaskan tangan Satya yang menggenggam kedua tangannya.
"Mbak Hilya tadi pingsan. Tuan muda yang menggendong mbak Hilya ke kamar," ujar bibi pada wanita yang terlihat marah pada seorang laki-laki yang duduk di samping tempat tidurnya.
"Oooh! terimakasih ya, Bik!" sahut Hilya dengan tersenyum ke arah Bibi Rum.
"Aku yang menggendong kamu. Bukan bibik," cetus Satya.
"Terimakasih," jawab Hilya dengan tidak melihat laki-laki itu.
__ADS_1
"Bik! Tolong ambilkan handphoneku di kamar! Aku mau menelepon dokter," ujar Satya kemudian.
"Untuk apa menelepon dokter?"
Seketika Hilya menoleh ke arah Laki-laki yang masih duduk di sebelah tempat tidurnya.
"Untuk memeriksa kamu."
"Aku tidak mau," jawab Hilya ketus.
Wanita itu terlihat mengambil tasnya yang ada di meja, kemudian membukanya, dan mengambil obat, seraya meminumnya dengan air putih yang ada di meja.
"Aku sudah minum obat. Aku mau istirahat!" kata wanita itu dengan membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dan membalikkan badan membelakangi Satya.
"Bagaimana, Tuan? Apa handphonenya, jadi saya ambilkan?" tanya bibi kemudian.
"Tidak usah, Bik. Nanti aku ambil sendiri," jawab Satya seraya bangkit dari tempat duduknya.
Laki-laki itu masih berdiri di sebelah tempat tidur Hilya dengan memandang lekat wanita yang berbaring membelakanginya.
Berlahan dia menyentuh selimut yang ada di ujung kaki Hilya, dan menutupkan benda hangat tersebut ke tubuh Hilya.
"Aku pergi dulu Bik!" pamitnya pada wanita yang terlihat masih berdiri di belakangnya.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk.
******
Sementara itu, di sebuah gedung berlantai dua, tampak dua orang wanita sedang cemas menunggu kedatangan Satya.
"Satya ini di mana sih? Kok belum datang juga?" gumam Ibu Diana dengan menyentuh berulang layar ponselnya.
"Kok nggak diangkat sih? Padahal teleponnya aktif," kata seorang wanita cantik bergaun merah jambu dengan wajah panik.
Wanita itu tampak berjalan mondar-mandir dengan mengulang-ulang memencet layar ponselnya.
"Ya Tuhan!" desah wanita cantik itu kesal dengan memejamkan mata.
Lima menit lagi, acara pemotongan pita peresmian butiknya akan dilaksanakan. Namun sampai saat ini Satya tunangannya belum juga datang.
"Mami, gimana ini? Satya nggak bisa dihubungi?" kata wanita cantik itu kemudian pada ibunya.
"Sabar ya sayang! Calon mertua kamu juga lagi berusaha menghubungi tunangan kamu."
Terlihat wanita berdress hitam itu memeluk putrinya yang tampak panik, cemas, dan gelisah.
Sementara di sudut ruangan, Ibu Diana terlihat sedang bicara dengan seseorang melalui telepon selulernya.
"Bibik! Tuan muda masih ada di rumah atau sudah berangkat?" tanya Ibu Diana pada pembantunya.
__ADS_1
"Sudah Bu," jawab Bibi Rum.
"Sudah tadi?"
"Sudah agak tadi Bu. Mungkin sekitar 20 menit," terang Bik Rum.
"Ooh ya sudah."
Setelah mengakhiri obrolannya dalam telepon, Ibu Diana bergegas menghampiri calon menantunya.
"Sayang! Satya sudah berangkat, mungkin 15 menit lagi sampai," kata Ibu Diana dengan menyentuh lengan calon menantunya lembut.
"Iya ma," sahut wanita bergaun merah jambu itu sembari mengangguk.
Sementara di sisi lain, Satya tampak mengemudikan mobilnya dengan kencang. Mobil Satya terlihat kembali memasuki gerbang rumahnya.
Pria itu bergegas keluar dari mobil setelah sampai di halaman rumah.
"Bibik! Bibik!" serunya saat masuk ke dalam rumah.
"Iya, Tuan muda."
Bibik bergegas keluar dari dalam rumah menghampiri majikannya itu.
"Bik! Ini aku beli obat turun panas, madu, dan ada sari kurma juga. Tolong bibik bantu Hilya untuk minum ini semua, ya!" ujar laki-laki itu dengan menyodorkan kantong plastik warna putih kepada bibi.
"Baik, Tuan."
"O, ya. Bik! Titip Hilya ya! Kalau ada apa-apa, tolong bibik langsung telepon saya!" pesan Satya sembari melangkah meninggalkan bibi menaiki tangga rumahnya.
"Tuan! Tadi nyonya besar telepon. Nyonya tanya, tuan muda sudah berangkat atau belum?" kata bibi saat melihat Satya berjalan menuju kamarnya.
"Iya, Bik. Sebentar lagi aku berangkat. Aku mau ambil handphone dulu di kamar," sahut Satya sembari menoleh ke arah bibi dengan mengangguk.
Setelah mengambil handphonenya yang tertinggal di kamar, Satya bergegas menuju acara peresmian butik tunangannya.
Dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang, karena sudah lebih dari satu jam dia telat dalam acara tersebut.
Acara sudah hampir selesai, namun Satya baru saja sampai. Dia bergegas masuk ke dalam gedung lantai dua, yang sudah dipenuhi dengan tatanan busana rancangan wanita yang sangat dia cinta.
Dengan langka ragu, dan perasaan bersalah Satya berjalan menghampiri Clarissa, wanita cantik yang terlihat membuang muka kesal saat melihatnya.
"Sayang!" sapa Satya dengan mencium pipi wanita yang mengacuhkannya itu.
Wanita itu terlihat semakin mengabaikan Satya. Dia terus berbincang-bincang dengan beberapa teman yang menghadiri pesta peresmian butik barunya tersebut..
Satya yang merasa bersalah terus mengikuti langkah wanita itu meskipun dirinya diacuhkan.
Bersambung
__ADS_1