Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 69


__ADS_3

"Maaf ya Kak!"


Seorang pelayan perempuan dengan penuh rasa bersalah meminta maaf pada Hilya.


Setelah membereskan gelas yang jatuh di lantai, dia segera menyentuh baju Hilya dengan lap untuk membersihkannya.


"Tidak apa-apa! Tidak usah!" tolak Hilya lembut, sembari menepis pelan tangan pelayan itu.


"Hati-hati ya, kalau bekerja!" nasihat Hilya kemudian dengan tersenyum.


"What's going on here?"


Tiba-tiba Merry Salvina menghampiri Hilya dan bertanya.


"This maidservant accidentally bumped into me Ma'am."


(Pelayan perempuan ini tidak sengaja menabrak saya, Bu) Hilya menjawab pertanyaan Merry Salvina juga dengan bahasa Inggris.


"But you're okay?"


"No Ma'am, I'm okay."


"Who are you? I never saw you before. Are you my guest?"


Kemudian Merry Salvina bertanya (Kamu siapa? Saya tidak pernah melihat kamu sebelumnya, apa kamu tamu saya?)


"Yes, I'm here with my husband, fulfilling your invitation, Ma'am."


Hilya pun menjawab (Iya, saya ke sini bersama suami saya, memenuhi undangan Ibu)


"Oh? Who is your husband?" tanya Merry Salvina kemudian.


Seketika Hilya menoleh ke arah Satya yang saat itu tengah berdiri di belakang Merry Salvina. Hilya ragu untuk mengatakan kalau Satya adalah suaminya. Karena Hilya takut apa yang baru saja dia alami akan membuat Merry Salvina tidak simpati pada Satya dan Ibu Diana.


"Dia istrinya saya, Tante!"


Tanpa ragu Satya melangkah ke arah Hilya, dan menggandeng wanita itu di hadapan Merry Salvina, Ibu Diana, dan Clarissa.


"Istri kamu?"


Merry Salvina mengernyitkan dahi tidak percaya.


"Satya! Istri kamu sangat lembut dan sopan saat menegur pelayanan yang bersalah tadi," ucap Merry Salvina. "Tante sangat suka! Dia sangat bersahaja," pujinya kemudian.


Satya tercengang. Dia tidak menyangka kalau pemilik pesta itu akan memuji istrinya.


"O, iya? Kamu mau ganti baju? Ada beberapa baju rancangan dari desainer ternama di belakang sana?"


Kemudian Merry Salvina menawarkan Hilya untuk mengganti bajunya.


"Terima kasih, Bu! Tidak usah! Baju saya, hanya basah sedikit."


Hilya mengatakan dengan tersenyum lembut.


Di tengah-tengah percakapan mereka tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya berpenampilan jutawan dan seorang gadis cantik berhidung mancung datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hey mom, sorry I'm late"


Gadis cantik itu tampak mencium Merry Salvina.


"Yes dear, it's okay," sahut Merry Salvina dengan tersenyum manis menyambut gadis itu.


"Sayang! Itu anak tiri Tante Merry. Tante Merry sudah menikah empat kali. Dan ini, anak dari suami barunya. Kalau tidak salah mereka dari Suriah," bisik Satya lirih di telinga Hilya.


Hilya hanya mengangguk dengan terus memperhatikan kemesraan ibu dan anak tirinya tersebut.


Dan tiba-tiba gadis berhidung mancung itu menoleh ke arah Hilya.


"Hi who is this? Jamiilatun jiddan?"


Gadis itu menatap wajah Hilya seraya memuji (Hai siapa ini? Cantik sekali?)


Hilya tersenyum tipis, sembari berkata "Syukron."


"Hal tastathi'ina allughotal 'arobiyyah?" tanyanya kemudian.


"Na'am, astathi'u alllughotal 'arobiyyah," sahut Hilya.


"Masya Allah, ana masrurun bitta'rifi 'alaik."


Terlihat kemudian Hilya dan putri tiri Merry Salvina berbincang akrab dalam bahasa Arab.


Tentu putri tiri Merry Salvina sangat lancar berbicara dalam bahasa Arab, karena dia berasal dari Suriah.


*****


Kini Hilya dan putri cantik Merry Salvina menjadi pusat perhatian dalam pesta tersebut.


Suasana seperti itu, tentu membuat Satya menjadi sangat bahagia.


"Istri kamu sangat cerdas! Tante sangat suka!" ujar Merry pada Satya dengan memperhatikan Hilya yang saat itu sedang menemani putri tiri kesayangannya.


"Kapan kamu menikah? Kenapa Tante tidak diundang?" tanyanya kemudian.


"Mmm... Keluar Hilya adalah orang terpandang di desanya. Tapi mereka sangat sederhana, jadi itulah yang membuat pernikahan kami tidak dirayakan. Biaya pernikahan kita gunakan untuk beramal Tante," sahut Satya.


Sungguh laki-laki ini sangat pintar berbohong untuk mendapatkan simpati.


Ibu Diana yang mendengarkan cerita bohong Satya, melirik Satya dengan tersenyum datar.


"Luar biasa! Aku melihat gadis itu memang sangat bersahaja!" puji Merry Salvina dengan masih mempertahankan Hilya.


"Ya, Tante! Itulah yang membuat Satya jatuh cinta padanya."


"Jatuh Cinta? Bukankah dulu kamu bertunangan dengan..." Merry Salvina melirik ke arah Clarissa yang saat itu berbincang dengan tamu pesta yang lain.


"Hmmmm!" Satya tersenyum. "Jodoh itu Tuhan yang atur Tante. Semua terjadi di luar kendali kita."


"Iya, iya, kamu benar."


Merry Salvina menepuk-nepuk pundak Satya.

__ADS_1


"Okey! Tante mau menyapa tamu yang lainnya, ya!" kata wanita itu kemudian seraya beranjak pergi.


Sesaat setelah Merry Salvina pergi. Ibu Diana mendekat ke arah Satya.


"Kamu pandai sekali ya berbohong?"


"Mama, kenapa bicara seper itu?"


"Mama kesal sama kamu," ucap Ibu Diana dengan wajah marah.


"Mama! Bukankah seharusnya mama bahagia? Tante Merry sangat menyukai menantu Mama. Dan ternyata Hilya bukan gadis kampung yang kampungan, kan? Dia gadis kampung yang pintar dan cerdas. Pandai membawa diri di mana pun berada," ujar Satya penuh percaya diri.


Ibu Diana hanya diam dan kemudian melangkah pergi.


*****


Akhirnya pesta pun selesai.


Kini, Satya dan Hilya sudah sampai di rumah. Begitu juga dengan Ibu Diana dan Clarissa.


Hilya yang saat itu merasa sangat lelah, segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Namu tiba-tiba.


Brak!


Seorang perempuan membuka pintu kamar Hilya dengan kasar.


"Clarissa?"


Seketika Hilya bangkit dari tempat tidurnya.


"Kamu tahu, apa yang sudah kamu lakukan tadi di pesta? Kamu sudah membuat aku sangat marah! Dan semua itu membuat aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia dengan Satya!" ancam Clarissa dengan mata memerah menunjuk wajah Hilya.


"Kamu tahu bagaimana rasa sakit di hatiku? Ingat! Aku akan membuat perhitungan denganmu, agar kamu juga merasakan sakit yang sama! Bahkan rasa sakit yang lebih, dari yang aku rasakan!"


Clarissa mengatakannya dengan meneteskan air mata, seraya kemudian pergi meninggalkan Hilya.


Hilya bergeming, dengan memperhatikan langkah Clarissa yang berjalan keluar dari kamarnya.


Sebagai wanita baik, tentu Hilya dapat merasakan apa yang saat ini Clarissa rasakan. Sakit karena dikhianati oleh kekasihnya, yang saat ini kekasih wanita itu telah menjadi suaminya.


Kreek!


Seketika lamunan Hilya terhenti.


"Kamu kenapa?" tanya Satya yang baru saja keluar dari toilet kamarnya, saat melihat wajah murung Hilya.


"Siapa yang ke sini tadi?"


Satya kembali bertanya.


Ternyata Satya tidak tau kalau Clarissa baru saja masuk ke dalam kamarnya, dan tidak mendengar apa yang telah dikatakan Clarissa kepada Hilya.


Mungkin karena saat di dalam kamar mandi tadi, dia sedang mendengarkan lagu dari headset yang sampai saat ini masih menempel di telinganya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2