Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 42


__ADS_3

Beberapa menit setelah Hilya dan Clara sampai di kamar, tiba-tiba seorang pelayan hotel datang mengantarkan makanan untuk mereka berdua.


"Terima kasih!" kata Hilya dengan tersenyum kepada tiga orang pelayan hotel yang sudah menata makanan di mejanya.


"Sama-sama! Pesan Pak Dir, jika makanannya tidak cocok, atau Ibu butuh yang lain, bisa langsung menghubungi kami, kami akan siap melayani!" kata salah satu dari mereka, sebelum mereka berpamitan untuk pergi.


"Terima kasih, ini sudah cukup!" sahut Hilya.


Setelah Pelayan itu pergi, Hilya dan Clara segera melahap berbagai menu makanan itu, mereka berdua terlihat sangat kelaparan.


"Eeee'k!"


Terdengar Clara bersendawa setelah menghabiskan beberapa piring makanan yang ada di meja.


"Alhamdulillah!" sahut Hilya dengan tersenyum saat melihat gadis kecil itu menutup mulutnya karena malu.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


Hilya segera bangkit dari tempat duduknya, dan bergegas membuka pintu.


"Sudah makan?" tanya seorang laki-laki dengan tersenyum ketika melihat Hilya membuka pintu kamar.


Laki-laki itu berlahan melangkah masuk ke dalam kamar, melewati Hilya yang saat itu berdiri di depan pintu.


Laki-laki itu melangkah menghampiri Clara.


"Enak makanannya? Clara suka?" tanya laki-laki itu dengan membelai rambut Clara.


"Biasa aja!" sahut Clara acuh sembari beranjak dari tempat duduknya menuju ke tempat tidur, mengambil mengambil gawai, dan kemudian bermain game.


Laki-laki berjas hitam itu terlihat memandangi sikap Clara yang begitu acuh. Bibirnya tersenyum tipis, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik berpakaian syar'i berwarna ungu muda.


Berlahan kakinya melangkah ke arah wanita yang masih berdiri di depan pintu itu.


"Clara sepertinya marah sama aku," katanya.


Wanita itu hanya diam, tidak menyahuti Satya.


"Apa kamu juga marah, sama aku?"


Laki-laki itu kembali bertanya.


"Untuk apa aku marah?" sahut wanita itu sembari bertanya, dan melangkah meninggalkan laki-laki yang berdiri di hadapannya.


Seketika Laki-laki itu menghentikan langkah Hilya dengan menarik pergelangan tangannya.


"Mungkin, karena Clarissa tiba-tiba datang ke hotel ini?" tangannya dengan menatap mata Hilya yang menoleh ke arahnya.


"Hmmmh! Aku tidak perduli," jawab Hilya sinis.


"Kamu cemburu?"

__ADS_1


"Aku! Cemburu! Hmmmh! Aku tidak mungkin cemburu pada orang yang tidak punya hubungan apa pun denganku!" tandas Hilya.


"Mungkin, anak kita yang cemburu?"


Seketika Hilya menghempas tangan laki-laki bernama Satya yang memegang kuat pergelangan tangannya.


"Berhenti berbicara omong kosong!" sahut Hilya kesal sembari melangkah cepat meninggalkannya.


Satya tersenyum tipis, dia mengikuti langkah Hilya yang berjalan menuju tempat tidur Clara.


"Clara! Ayo gosok gigi dulu! Sebentar lagi, Om bacakan cerita sebelum tidur!"


Satya menghampiri keponakannya dan meraih tangannya untuk bangkit dari tempat tidur.


"Ayo naik ke punggung, Om!" katanya kemudian dengan membalikkan badan.


Clara pun dengan senang hati menerima ajakan pamannya. Gadis kecil itu bergegas naik ke punggung Satya. Dan mereka berdua terlihat bercanda ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak Hilya, mau ikut gosok gigi bersama kami?" tanya Satya kepada wanita yang terlihat memperhatikan dirinya dan keponakannya itu.


"Mmmh... Tidak, nanti saja!" sahut Hilya dengan senyum yang sedikit terpaksa, seraya mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.


***


Kini Satya dan Clara Teleh selesai menggosok gigi.


Mereka kembali ke tempat tidur masih dengan canda tawa.


Sesekali wanita cantik itu melihat ke arah Satya dan Clara yang masih bercanda di atas tempat tidurnya.


"Om, bacain aku buku ini!" kata Clara dengan menyerahkan buku cerita yang baru saja dia ambil dari dalam tasnya.


"Cerita tentang apa ini?"


Terlihat Satya membolak-balik buku cerita itu.


"Kisah Putri Naura?" ujar Satya dengan menoleh ke arah Clara.


"He, em! Om bacain buat Clara, ya!


Clara mengangguk sembari tersenyum.


"Okey! Sekarang Clara tidur! Om akan mulai baca cerita," sahut Satya dengan meminta Clara untuk tidur di sebelahnya.


Clara mulai menidurkan kepalanya di atas bantal. Telinganya mulai menikmati cerita berjudul Putri Naura yang dibacakan oleh Satya. Sementara matanya tertuju ke arah Hilya yang tengah membaca buku sendirian di sofa.


"Kak Hilya!" seru gadis kecil ini kemudian.


"Ke sini!" panggilnya.


"Mmm... Kakak di sini saja!" sahut Hilya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kakak, ke sini dulu! Sebentar saja!" pinta Clara lagi.


Berlahan Hilya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Clara, sembari meletakkan buku bacaannya di meja.


"Ada apa?" tanya wanita itu.


"Kak Hilya, tidur di sebelahku sebentar saja!" pinta Clara.


"Iya, nanti setelah Om selesai membaca cerita," sahut Hilya sembari mengusap kepala gadis kecil itu.


"Ayolah Kak, sebentar saja! Aku mohon!" rajuk Clara.


"Ayolah! Hanya sebentar!" tambah Satya.


"Mmm... Iya sebentar, ya?" sahut Hilya dengan merebahkan tubuhnya di samping Clara.


"Nah, kalau seperti ini. Clara seperti punya papa dan mama. Clara serasa tidur di tengah-tengah papa dan mama!" kata Clara dengan menggenggam tangan Hilya dan Satya yang saat itu berada di samping kanan dan kirinya.


Tampak senyum mengembang di wajah gadis kecil itu, kepalanya bergantian menoleh ke arah Satya dan Hilya dengan sorot mata bahagia.


Dan melihat semua itu tidak terasa air mata Hilya menetes. Ungkapan lugu gadis kecil yang telah beberapa tahun ditinggalkan oleh orang tuanya itu telah mampu membuat hati Hilya membeku.


Seketika Hilya membelai kepala dan mencium pipinya.


"Ayo, cepat tidur! Kakak temani!" kata Hilya sembari memeluk tubuh gadis kecil itu, menemaninya mendengarkan cerita yang dibacakan oleh pamannya.


Satya pun kembali membacakan cerita, hingga Clara dan Hilya tertidur pulas.


Dengan pelan Satya turun dari tempat tidurnya.


Dia meraih selimut lembut yang ada di ujung kaki dua wanita cantik itu, sembari menutupkannya ke tubuh mereka berdua.


Dipandanginya wajah Clara dan Hilya yang sudah tertidur pulas.


Berlahan kakinya melangkah menuju ke arah Hilya.


Satya mulai menyentuh pipi putih mulus wanita cantik yang tengah tertidur dengan salah satu tangan memeluk tubuh keponakannya.


Laki-laki yang masih mengenakan jas itu, terlihat membungkukkan badan seolah hendak mencium pipi wanita cantik yang saat ini tengah mengandung anaknya.


Namun tiba-tiba, saat dia hendak menyentuhkan bibirnya di pipi Hilya, handphone dalam saku jasnya bergetar.


Laki-laki itu berlahan menegakkan badannya, kemudian meraih handphone yang ada di dalam saku jasnya, dan melihat sebuah gambar di layar telepon selulernya tersebut.


"Clarissa!" gumamnya lirih.


Ternyata Clarissa yang menelpon Satya.


"Sayang! Aku di depan kamarmu. Kamu ada di mana?" tanya Clarissa dari dalam telepon.


"Aku masih ada di kamar Clara. Sebentar lagi aku ke sana!" jawab Satya seraya menutup telepon itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2