Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 36


__ADS_3

Pagi telah menjelang. Satya bersama mama dan keponakannya sudah bersiap di meja makan.


"Satya! Mobil mama masih dibawa Pak Hadi ke bengkel. Pagi ini mama minta antar Pak Juned ke kantor. Jadi tolong kamu antar Clara ke sekolah ya!" kata Ibu Diana saat di meja makan.


"Iya."


Satya mengangguk dan tersenyum ke arah wanita berblazer hitam yang duduk di hadapannya.


Terlihat setelah menghabiskan sepotong roti, dan meneguk segelas jus berwarna hijau muda wanita itu bangkit dari tempat duduknya.


"Mama ke kantor dulu, mama ada meeting pagi ini!" kata wanita itu.


"Ya, Ma. Hati-hati!" sahut Satya seraya berdiri dan mencium pipinya.


Beberapa menit kemudian, Satya dan Clara telah selesai sarapan.


"Om! Aku panggil Kak Hilya dulu, ya?" kata Clara sembari turun dari tempat duduknya.


Satya pun menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk.


Tidak lama setelah itu Clara kembali ke ruang makan.


"Om! Kak Hilya masih ada di kamar mandi. Sepertinya Kak Hilya muntah-muntah," cerita Clara.


Bergegas Satya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kamar mandi yang biasa Hilya gunakan.


"Ada apa?" tanya Hilya saat melihat Satya dan Clara berjalan menghampiri dirinya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu sakit?" tanya Satya.


"Aku sehat," jawab Hilya.


"Kalau kamu kurang sehat, tidak perlu ikut mengantar Clara ke sekolah!"


"Aku sangat sehat!" tegas Hilya sembari berjalan melewati Satya dengan menggandeng tangan Clara.


Satya menghela napas panjang, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, saat memperhatikan langkah wanita yang mengenakan baju syar'i warna biru muda itu.


"Dasar keras kepala!" gumam Satya, sembari mengikuti langkah wanita cantik berkulit putih bersih itu.


Akhirnya pagi itu. Mereka bertiga kembali berada dalam satu mobil.


Satya melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Dia mengurangi kecepatan, karena takut terjadi sesuatu pada Hilya.


"Om! Cepat sedikit, nanti aku bisa terlambat!" ujar Clara."


"Iya, sayang! Sebentar lagi sampai, kok!" jawab Satya lembut.

__ADS_1


Dan tujuh menit kemudian.


"Nah! Sudah sampai, kan?" kata Satya saat mobil yang mereka naiki telah sampai di depan gerbang sekolah.


Hilya bergegas turun untuk mengantar Clara masuk ke halaman sekolah. Dan tidak lama kemudian, Hilya kembali ke dalam mobilnya.


"Aku bisa naik taksi. Tuan muda bisa langsung berangkat ke kantor!" kata Hilya seraya mengambil tas selempangnya di kursi mobil, dan bergegas keluar.


Melihat Hilya yang keluar dari mobilnya seketika Satya membuka pintu mobil dan melangkah menghampirinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Satya saat melihat Hilya hendak menyeberang jalan.


"Aku mau pulang naik taksi."


"Ayo masuk! Aku antar pulang!"


"Ibu Diana bilang, aku bisa pulang naik taksi, agar tuan tidak terlambat ke kantor!" terang Hilya.


Seketika Satya memegang pergelangan tangan Hilya.


"Ayo masuk!"


Dengan kuat Hilya menghempas tangan laki-laki itu.


"Aku bisa naik taksi, atau angkutan umum."


"Tolong jangan keras kepala!"


"Aku antar naik mobil, sekarang! Titik," tegas Satya dengan kembali memegang pergelangan tangan Hilya, seraya memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Aku tidak mau!" Hilya berusaha melepaskan genggaman kuat Satya.


"Kenapa?" Satya kembali menoleh ke arah Hilya.


"Karena, aku, bisa, pulang, sendiri!"


"Hmmmmh!"


Satya mulai membuang napas keras.


"Dengar ya, Hilya! Kalau kamu naik taksi, atau naik angkutan umum. Terus kamu pusing, muntah-muntah, pingsan di jalan, siapa nanti yang akan menolong kamu?" tanya Satya dengan wajah kesal.


Hilya yang mendengar ujaran Satya seketika mengernyitkan dahi.


"Kamu sengaja mau membayakan diri kamu, dan bayi dalam kandungan kamu itu?" kata Satya dengan masih menatap Hilya kesal.


Seketika Hilya terperangah.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu heran, aku tahu kalau kamu hamil?" tanya Satya dengan terus memandangi Hilya. "Ingat! Kamu berada di rumahku. Jadi, sekecil apa pun yang kamu lakukan, aku pasti tau," ucap Satya. "Ayo masuk mobil!" perintahnya dengan tegas, sembari menarik tangan Hilya, untuk masuk ke dalam mobilnya.


Terlihat setelah itu badan Hilya gemetar. Dan matanya mulai berkaca-kaca.


Wanita yang sudah duduk di dalam mobil Satya ini, berlahan menyeka air matanya yang menetes.


'Apa setelah ini, laki-laki jahat itu akan membunuhku, ya?' tanya Hilya dalam hati, dengan memperhatikan Satya yang tengah menghidupkan mesin mobilnya.


Nafas Hilya terdengar naik turun. Wanita ini mulai mengontrol emosinya. Dia berusaha menepis rasa takutnya pada Satya yang tiba-tiba muncul.


"Tuan muda dengarkan aku!" kata Hilya kemudian dengan lantang. "Sekalipun aku hamil, aku tidak akan pernah meminta pertanggung jawaban padamu! Jadi tolong! Jangan pernah mengganggu aku! Ataupun berniat untuk mencelakakan aku dan bayiku!" kata Hilya.


"Hmmmh!"


Mendengar ungkapan Hilya, Satya kembali membuang napas keras. Dan seketika menepikan mobilnya.


"Dengar ya Hilya! Aku melarangmu untuk naik taksi atau angkutan umum tadi, agar aku bisa menjagamu! Agar aku bisa melindungimu! Jadi tolong! Berhenti berfikir buruk tentang sikapku padamu!" terang Satya kesal dengan menoleh ke arah Hilya yang duduk di belakang kursinya.


"Dan yang aku tahu, kamu adalah orang jahat, yang tidak pernah menyukaiku! Yang selalu berpikir, kalau aku akan menghancurkan hidupmu. Jadi, aku harus tetap waspada saat aku berada di dekatmu. Karena bisa jadi, kamu berniat untuk membunuhku! Karena kamu mengira aku akan menggunakan anak ini untuk menghancurkanmu!"


"Hilya!" seru Satya heran.


"Kenapa? Benar, kan? Yang aku katakan? Kamu ingin berbuat jahat padaku?" tanya Hilya dengan wajah menantang. "Dengar, ya! Tuan muda, yang terhormat! Aku, tidak akan pernah meminta apa pun padamu! Jadi tolong! Jangan berniat jahat pada aku dan anakku!"


"Hmmmmh!"


Satya kembali membuang napas keras dengan memejamkan matanya. Sembari menghidupkan mesin mobilnya, dan kembali melajukannya.


'Hilya!' seru Satya geregetan dalam hati, dengan melihat wajah Hilya dari spion mobilnya. 'Jadi selama ini kamu mengira aku adalah seorang mafia yang kejam dan sangat jahat,' katanya lagi dalam hati dengan kembali melihat wajah Hilya yang tampak menyeka air matanya dari spion mobil.


"Hmmmh!" terdengar Satya membuang napasnya lagi. 'Hilya! Mana mungkin aku membunuh bayi kamu? Dia itu anakku! Dia anakku!' kata Satya lagi dalam hati.


Tampak laki-laki itu menyetir mobil dengan wajah penuh beban, dengan hati yang gusar, dan pikiran yang tidak tenang.


Hingga akhirnya mobil yang dia kemudian sampai di tempat tujuan.


Dia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hilya.


"Aku ke kantor dulu! Jaga dirimu!" kata Satya lembut saat wanita yang sedang mengandung anaknya itu keluar dari mobil.


"Hmmm!"


Hilya tersenyum sinis.


"Tidak perlu pura-pura baik padaku!" sahut Hilya ketus, seraya melangkah meninggalkannya dengan acuh.


"Hmmmh!"

__ADS_1


Satya pun memandangi langkah Hilya dengan menghela napas dan mengusap-usap kepalanya.


Bersambung


__ADS_2