Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 50


__ADS_3

Seharian ini, Satya tampak berkeliling di area lembaga pendidikan milik Ustadz Ja'far. Entah apa yang Satya lakukan. Namun terlihat Ustadz Ja'far sangat bahagia saat menemani laki-laki itu berkeliling melihat-lihat gedung sekolah miliknya.


Hingga kemudian dia meminta ijin pada Ustadz Ja'far untuk bertemu dengan Hilya.


"O, iya. Ustadz! Boleh tidak saya bertemu dengan Ustadzah Hilya. Mmm, dulu dia pernah bekerja sebagai guru privat keponakan saya. Jadi, saya ingin menyapanya!" kata Satya.


"O, iya, tentu saja. Apa perlu saya panggil biar Ustadzah Hilya ke sini?"


Ustadz Ja'far menawarkan pada Satya untuk memanggil Hilya ke kantornya.


"Tidak usah, biar saya cari dia ke kelasnya saja!"


"Oooh, iya. Boleh, silahkan! Sebentar lagi anak-anak istirahat kedua dan sholat dzuhur berjamaah, jadi bapak Satya bisa langsung bertemu dengan Ustadzah Hilya!"


"Iya, terima kasih!" sahut Satya.


Sesaat setelah itu, Satya melangkah menuju kelas di mana Hilya mengajar.


Terlihat laki-laki itu memperhatikan Hilya yang saat ini masih mengajar di depan murid-muridnya.


Hingga beberapa menit kemudian bel istirahat berbunyi, dan Hilya segera mengakhiri pembelajarannya.


Semua siswa-siswi berhamburan keluar. Hilya pun menyusul langkah murid-muridnya untuk keluar. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika seorang laki-laki berjas abu-abu berdiri di hadapannya.


"Maafkan aku! Aku tiba-tiba ada urusan di luar kota. Jadi, aku tidak sempat berpamitan padamu!" ujar Satya. "Tapi keesokannya, aku langsung menanyakan kabarmu pada Tante Melvi. Tante bilang kamu sudah bekerja. Dan keesokannya lagi saat aku menelepon. Tante Melvi bilang kalau kamu sudah tinggal di mess asrama sekolah ini," cerita Satya.


Hilya bergeming. Wajahnya tampak datar, dan tidak menghiraukan penjelasan Satya. Setelah itu, berjalan cepat meninggalkan Satya.


Sementara Satya yang merasa diabaikan, bergegas mengikuti langkah Hilya.


"Hmmmh!"


Hilya mulai menghela napas panjang, ketika melihat laki-laki itu terus saja mengekor di belakangnya.


"Tolong berhenti menggangguku!" kata Hilya tanpa melihat laki-laki bernama panjang Satya Agung Wijaya itu. "Aku lelah dengan semua ini!" lanjut Hilya.


"Berhenti mempermainkan perasaanku! Berhenti menggantungkan statusku! Segera urus perceraian kita! Agar tidak ada lagi, orang yang meragukan tentang status anakku. Apakah ini anak haram, hasil dari pelecehan seksual, atau memang benar-benar anak hasil dari pernikahan."


Hilya menoleh ke arah Satya. Dan mata Hilya tampak berkaca-kaca saat mengungkapkan perasaannya itu.

__ADS_1


"Aku bisa saja mengatakan pada semua orang tentang siapa sebenarnya dirimu. Tapi apa mungkin mereka akan percaya padaku? Dan apa mungkin kamu juga akan diam saja? Kamu! Bisa saja membayar lawyer mahal untuk mengelak semuanya. Bahkan untuk membungkam mulutku, dan menjatuhkan diriku! Jadi, tolong! Akhiri semua ini! Aku ingin hidup tenang!" ucap Hilya dengan menatap mata Satya.


"Tolong! Jangan menyiksa batinku seperti ini! Aku tetap akan tepati janjiku, untuk tidak mengganggumu, atau meminta apa pun darimu. Jadi, tolong pergilah! Hatiku sudah sangat lelah!"


Hilya mengatakannya dengan wajah pasrah dan meneteskan air mata, seraya kemudian berjalan cepat meninggalkan Satya.


Satya bergeming dan tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak kuasa menjawab uangkapan perasaan Hilya.


Matanya terus memperhatikan langkah wanita yang berjalan meninggalkannya, hingga langkahnya menghilang dari pandangannya.


"Hmmmh!" terdengar Satya membuang napas keras, dan kemudian meninggalkan tempat itu menuju kantornya.


****


Pikiran dan hati Satya mulai berkecamuk. Tampak kekalutan di wajah laki-laki itu. Sesekali dia membuang napas, dan mencengkeram kepalanya saat berada di ruang kerja.


Belum satu jam berada di kantor, tiba-tiba laki-laki itu keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tergesa-gesa.


"Pak, satu jam lagi, bapak ada tamu dari PT Indostar! Mungkin sekitar jam tiga tamu akan datang!" kata seorang sekertaris saat melihat Satya keluar dari ruangannya.


"Tolong kamu handel semuanya! Suruh manager kantor untuk menemui tamu! Aku ada urusan penting!" kata Satya dengan langkah masih tergesa-gesa.


"Bagaimana dengan meetingnya, Pak? Jam lima nanti bapak ada meeting dengan klien!"


Terlihat mobil Satya memasuki sebuah halaman rumah mewah dengan desain etnik.


Seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan Satya dengan ramah dan sopan.


"Silahkan masuk, Tuan Muda!"


"Terimakasih, Bi!" sahut Satya sembari masuk ke dalam rumah itu.


"Non Clarissa masih di butik! Apa mau ditunggu! Atau mau disusul ke butik?" tanya wanita itu ramah.


"Saya ke sini untuk bertemu mami, dan papi. Mereka ada di rumah, kan?"


"Oooh, iya, tuan. Sebentar, saya panggilkan!" jawab asisten rumah tangga itu seraya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Satya yang sudah duduk di ruang tamu.


Tidak lama kemudian papi, dan mami Clarissa menemui Satya di ruang tamu.

__ADS_1


Setelah itu, tampak ketiganya berbincang serius. Entah apa yang mereka bicarakan, namun terlihat mami Clarissa menangis saat Satya berpamitan hendak meninggalkan rumah mereka.


Wajah Satya terlihat kacau saat keluar dari rumah itu.


Dia menghela napas panjang saat membuka pintu mobilnya. Terlihat tangan kirinya mulai mengusap-usap kepalanya saat mengemudikan mobil.


'Dreeet!' tiba-tiba handphone di saku jasnya berdering.


Satya bergegas mengangkat telepon itu.


"Pak! Saya sudah ada di lokasi, berkas untuk meeting sudah saya bawa!" kata seorang sekertaris yang menelepon Satya.


"Iya, terimakasih! Aku segera ke sana!" kata Satya sembari menutup telepon itu, dan kembali berkonsentrasi melajukan mobilnya menuju lokasi meeting.


*****


Waktu terus berjalan. Jam dinding di rumah Satya sudah menunjukkan pukul dua puluh satu, atau jam sembilan malam.


Terlihat Ibu Diana dan Clarissa duduk di ruang keluarga dengan wajah cemas menunggu kedatangan Satya.


Hingga beberapa menit kemudian, Satya datang dengan jas yang sudah dia buka, dan tas kerja di tangannya.


Melihat dua wanita itu memandang dirinya penuh amarah, Satya hanya bergeming.


"Jelaskan pada mama! Kenapa kamu menemui Om Wisnu dan Tante Erika?" tanya Ibu Diana dengan beranjak dari tempat duduknya menghampiri Satya. "Jelaskan pada mama! Kenapa kamu memutuskan hubungan pertunangan kamu dengan Clarissa?" tanya Ibu Diana lagi dengan wajah geram.


"Maafkan aku, Ma! Aku... Aku tidak lagi mencintai Clarissa!" jawab Satya pelan dengan wajah tenang.


Plaaak!!!


Tamparan keras dari tangan Ibu Diana langsung meluncur ke pipi Satya.


Clarissa yang saat itu duduk di sofa berlahan bangkit dan menghampiri Satya, ketika mendengar ungkapan Satya yang sudah tidak mencintainya lagi.


Saat ini, Clarissa bagai gunung api yang meletus, larva dalam gunung itu seketika meleleh membanjiri permukaan.


"Katakan padaku, siapa wanita itu?" teriak Clarissa dengan menarik kuat kerah baju Satya. "Katakan padaku, siapa wanita yang sudah mencuri kamu dari aku?" tanya Clarissa lagi dengan masih menarik kerah baju Satya. "Aku. Tidak terima kamu memperlakukan aku seperti ini! Apa salah aku? Katakan! Apa salah aku?" teriak Clarissa dengan meneteskan air mata.


"Tidak! Kamu tidak salah! Aku yang salah!" sahut Satya lembut dengan memegang kedua lengan Clarissa.

__ADS_1


"Kalau aku tidak salah. Kenapa? Kenapa kamu memutuskan hubungan kita? Kenapa? Kenapa kamu lebih memilih wanita itu?" teriak Clarissa dengan air mata yang mulai menganak sungai, dan memukul-mukulkan tangannya ke dada bidang Satya.


Bersambung


__ADS_2