
Keesokan paginya, mobil Satya sudah terparkir di halaman gedung sekolah tempat Hilya mengajar.
Satya mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil, ketika sebuah mini bus warna hitam berhenti, dan parkir di sebelah mobil mewahnya.
Terlihat seorang laki-laki berkemeja hijau, keluar dari dalam mobil.
Dia adalah Ustadz Imran. Dia tampak bercermin di jendela kaca mobilnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Saat Ustadz Imran masih berdiri di samping mobilnya. Tiba-tiba Satya membuka pintu mobil, dan menghempaskan pintu itu dengan keras hingga mengenai tubuh Ustadz Imran.
"Astaghfirullah!"
Ustadz Imran terkejut.
"Maaf! Aku tidak sengaja!" kata Satya pura-pura tidak sengaja melakukannya.
"Mmm, tidak apa-apa!" sahut Ustadz Imran dengan tersenyum.
"O, iya. Kenalkan! Aku Satya. Donatur yang sedang menyelesaikan pembangunan gedung baru di sekolah ini!" kata Satya dengan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Iya."
Ustadz Imran langsung menjabat tangan Satya dengan mengangguk.
"Saya Imran. Konsultan pendidikan di sekolah ini."
"Oooh! Konsultan pendidikan?"
"Iya. Satu bulan sekali, setiap hari sabtu dan minggu, saya memberikan pelatihan untuk pengembangan SDM para pengajar di sekolah ini," terang Ustadz Imran.
"Saya permisi dulu, ya! karena sepertinya acara akan segera dimulai!"
"Hmmmh! Sombong! Sok pintar! Aku juga bisa memberikan pelatihan!" gumam Satya lirih saat laki-laki itu berjalan meninggalkannya.
"Hanya punya mobil jelek seperti ini, mau bersaing denganku?" maki Satya kesal dengan menendang ban mobil Ustadz Imran.
Tidak lama kemudian Ustadz Ja'far datang menghampiri Satya yang masih berdiri di antara mobilnya dan mobil Ustadz Imran
"Pak Satya! Masya Allah! Terima kasih sudah menyempatkan waktu datang ke sini!"
Satya tersenyum, dan berjabat tangan dengan Ustadz Ja'far, lalu kemudian berjalan menuju lokasi pembangunan gedung baru sekolah.
"Ustadz, ada kegiatan apa di gedung itu?" tanya Satya saat melihat gedung di samping masjid tampak ramai.
"Ooh, begini Pak. Program pendidikan di sini, kan full day school, jadi setia hari Sabtu siswa libur. Dan di akhir pekan seperti ini, biasanya saya fokuskan untuk evaluasi, dan pengembangan SDM para pengajar dengan pelatihan-pelatihan," terang Ustadz Ja'far.
Satya pun mulai mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ustadz Ja'far.
"Ustadz! Apa saya bisa bertemu Ustadzah Hilya! Kebetulan mama saya menitipkan barang-barang untuknya, dan menitipkan sebuah pesan yang harus saya sampaikan langsung pada Ustadzah Hilya!" kata Satya.
"O, iya! Tentu. Ustadzah Hilya saat ini pasti sudah ada di dalam aula. Mari saya antar ke sana!" kata Ustadz Ja'far.
"Mmm... Barang-barangnya masih ada di dalam mobil, saya ambil dulu ya Ustadz!" kata Satya sembari meninggalkan Ustadz Ja'far menuju mobilnya.
Tidak lama kemudian Satya kembali menghampiri Ustadz Ja'far yang sudah berdiri di depan Aula sekolah.
Ustadz Ja'far tampak memperhatikan berjalannya pelatihan yang diikuti oleh para pengajar di lembaga pendidikannya. Dia berdiri di depan pintu aula yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Pak Satya!"
Ustadz Ja'far menyapa Satya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ustadzah Hilya itu sangat pintar, dan cerdas!" puji Ustadz Ja'far, dengan menunjuk Hilya yang tengah berargumentasi di depan teman-temannya setelah mendapatkan materi pelatihan.
Satya tersenyum, sembari ikut memperhatikan Hilya yang saat itu begitu aktif di depan forum.
Ada rasa kagum di hati Satya ketika melihat Hilya begitu cerdas saat mengungkapkan gagasan di depan teman-temannya.
Senyumnya pun mengembang, matanya tak beralih memperhatikan wanita yang kehamilannya sudah tampak membesar itu.
Namun kemudian senyumnya menghilangkan, ketikan Ustadz Imran mendekati tempat duduk Hilya.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari kejauhan Satya melihat Ustadz Imran sedang menunjukkan sesuatu di laptopnya kepada Hilya. Terlihat setelah itu mereka berdua berbincang akrab, dan kemudian saling memberi senyuman satu sama lain.
Melihat semua itu tangan Satya spontan mengepal. Laki-laki itu tampak geram, darahnya tiba-tiba mendidih, dan pikirannya menjadi gelisah tidak tenang.
"O, ya. Pak Satya! Bagaimana kalau kita menunggu Ustadzah Hilya di kantor saja. Nanti saya akan meminta panitia pelatihan ini, untuk memanggil Ustadzah Hilya ke kantor!" saran Ustadz Ja'far.
"Mmm, iya."
Satya mengangguk seraya menoleh ke arah Ustadz Ja'far, dan kemudian mengikuti langkah Ustadz Ja'far, meninggalkan pemandangan yang sempat memancing emosinya.
Dreeet!
Saat perjalanan menuju kantor Ustadz Ja'far tiba-tiba handphone di saku Satya bergetar. Satya bergegas mengangkatnya.
"Iya, iya, aku akan segera ke sana!" kata Satya saat menjawab telepon itu.
Setelah memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jas, Satya mulai berpamitan pada Ustadz Ja'far.
"Oooh... Iya, iya. Besok juga masih ada. Kegiatan ini berlangsung dua hari."
"Baik, Ustadz. Jika nanti sore urusan saya belum selesai, besok saja saya ke sini lagi," kata Satya sembari menitipkan beberapa goodie bag hadiah untuk Hilya kepada Ustadz Ja'far.
Setelah berpamitan kepada Ustadz Ja'far Satya bergegas pergi. Dan dengan cepat dia melajukan mobilnya keluar dari gerbang sekolah itu.
Ternyata hari ini Satya ada meeting dengan klien di sebuah Padang golf.
Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Begitu istilah meeting Satya di weekend kali ini. Sembari berolahraga, Satya melakukan obrolan bisnis. Makan bersama, bercanda tawa, hingga akhirnya sampai pada membicarakan soal pekerjaan, dan keuntungan perusahaan.
Sudah lima jam Satya bermain-main dengan kliennya di area padang golf yang tampak asri itu.
Kini meeting telah selesai. Waktu di jam tangan Satya sudah menunjukkan pukul enam belas, atau jam empat sore.
Satya bergegas melajukan mobilnya kembali ke sekolah tempat Hilya bekerja.
Hampir satu jam perjalanan. Perasaan Satya begitu cemas, dia khawatir kalau-kalau tidak dapat menemui Hilya karena waktu sudah sangat sore.
Tepat jam tujuh belas Satya berada di halaman parkir sekolah itu.
Beruntung acara baru selesai. Satya melihat para pengajar yayasan pendidikan milik Ustadz Ja'far itu mulai berhamburan keluar dari aula sekolah.
Ketika hendak keluar dari dalam mobil, Satya terlihat mengernyitkan dahi.
Matanya tertuju pada Hilya dan Ustadz Imran yang saat itu sedang berjalan bersama.
__ADS_1
Ada senyum mengembang di bibir Hilya saat sedang berbicara dengan Ustadz Imran.
Entah apa yang mereka bicarakan. Namun pemandangan itu tampak membuat Satya gusar.
Sesekali Satya memukul-mukulkan tangannya yang mengepal ke atas setir mobilnya, saat melihat keakraban Hilya dan Ustadz Imran.
Hingga kemudian Satya membuka pintu mobilnya, dan menutupnya dengan sangat keras.
Braaak!!!
Suara pintu mobil yang begitu keras, tentu membuat Hilya dan Ustadz Imran yang berdiri beberapa meter di depan mobil itu menjadi kaget.
Hilya seketika menoleh ke arah suara yang telah membuatnya kaget, dan melihat Satya berdiri memperhatikannya.
Bergegas Hilya berpamitan kepada Ustadz Imran.
"Ustadz! Saya mau ke asrama dulu, karena sebentar lagi adzan Magrib! Terima kasih atas ilmunya! Assalamualaikum!" pamit Hilya sembari berjalan cepat meninggalkan laki-laki itu.
Satya yang melihat Hilya seolah ingin menghindar darinya, segera melangkah membuntuti Hilya.
Dan, Satya tampak kesal ketika Ustadz Imran tersenyum ramah padanya saat berpapasan.
Satya bergegas melanjutkan langkahnya. Dia berlari kecil agar segera sampai pada Hilya.
"Hilya! Hilya!" seru Satya dengan langkah cepat menghampiri Hilya yang sudah dekat dengannya.
Hilya menoleh, dan kemudian lebih mempercepat langkah kakinya, masuk ke dalam pintu gerbang asrama putri yayasan milik Ustadz Ja'far.
"Sial!"
Satya mulai mengumpat saat Hilya tiba-tiba masuk ke dalam asrama itu tanpa memperdulikannya.
Dreeet!!
Di tengah-tengah kekesalannya dengan sikap Hilya, tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar.
"Kamu ada di mana? Cepat pulang! Sekarang!"
Terdengar suara Ibu Diana saat Satya mengangkat teleponnya yang bergetar itu.
"Iya, Ma!" sahut Satya sembari menutup teleponnya.
Laki-laki tampan itu menghela napas panjang, dan kemudian berbalik meninggalkan pintu asrama yang sudah tertutup rapat.
Akhirnya dengan kecewa dan perasaan kesal Satya melangkah meninggikan tempat itu. Dia langsung menuju mobilnya, dan kemudian melajukannya dengan kencang, hingga sampai di halaman rumah mewah milik orang tuanya.
Tampak di depan pintu rumah, Ibu Diana sudah menunggu kedatangan dirinya.
"Kenapa di luar, Ma?" tanya Satya penasaran.
"Satya! Clarissa masuk rumah sakit! Dia ditemukan pingsan di kamarnya! Clarissa tidak makan selama tiga hari hingga badannya lemah," cerita Ibu Diana, menghentikan langkah Satya yang hendak masuk ke dalam rumah. "Sekarang juga. Kamu ikut mama ke rumah sakit!"
"Hmmmmh!"
Satya membuang napas keras.
"Aku capek ma! Aku mau istirahat! Maaf tidak bisa mengantar mama!" sahut Satya seraya masuk ke dalam rumah, melewati mamanya yang tampak kesal dengan sikap acuhnya.
__ADS_1
Bersambung