
Hari terus berganti, dan dua minggu telah berlalu. Sampai saat ini Satya belum juga mengunjungi apartemennya untuk menemui Hilya.
Sore itu disebuah ruang kerja direktur Agung Wijaya group, tampak dua orang laki-laki duduk berhadap-hadapan sedang berkonsentrasi dengan laptopnya masing-masing.
"Sehari saja temui gadis itu, aku bilang padanya kalau kamu sekitar dua Minggu di luar kota, aku takut dia menanyakan kamu lagi padaku?"
Dirga yang saat telah selesai mengerjakan tugas di laptopnya, mulai membujuk sahabatnya untuk menemui Hilya.
"Kamu cari alasan lagi saja! Aku tidak bisa menemuinya," sahut pria yang sedang berkutat dengan laptopnya itu acuh.
"Ayolah, berbuatlah baik pada gadis itu sebelum kamu menceraikannya!" rayu Dirga lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba simpati pada gadis itu?" tanya Satya dengan mengerutkan alisnya.
"Bukan begitu, masalahnya gadis itu kelihatannya sangat baik padamu."
"Maksudmu?"
"Bayangkan saja saat tengah malam aku kesana, dia masih belum tidur, dia sholat malam, dia bilang dia sengaja melakukannya untu mendoakanmu, waktu itu dia juga berpuasa untuk keselamatan dirimu, gadis itu selalu berdoa untukmu," terang Dirga.
"Hmm..." Satya tersenyum angkuh. "Hari ini Clarissa pulang, aku mau jemput dia di bandara. Untuk Hilya kamu urus saja gadis itu, sampai waktu yang tepat perceraian kita."
Terlihat setelah mengatakan hal tersebut, Satya menutup laptopnya dan beranjak dari kursi empuk tempatnya bekerja.
"Apa mungkin lebih baik aku segera urus perceraian kalian?
"Maksudmu?"
"Rasanya menunggu lima sampai enam bulan sangat lama, aku takut perasaan gadis itu semakin dalam padamu."
"Jangan konyol! Kamu sendiri kan, yang bilang kalau aku harus bersabar sampai empat, lima atau enam bulan?" sahut Satya dengan nada meninggi. "Kita jalankan semua sesuai rencana awal, aku tidak mau gegabah mengambil keputusan, karena perusahaan dan karirku jadi taruhan."
Setelah mengatakan hal itu Satya segera melangkah meninggalkan Dirga yang masih duduk di kursi ruang kerjanya.
"Jika gadis itu lambat laun mencintaimu bagaimana?" tanya Dirga pada laki-laki yang hendak membuka pintu ruangannya itu.
"Itu urusannya. Lagi pula semua omong kosong. Aku tidak pernah merayunya, jadi tidak mungkin dia akan jatuh cinta padaku," sahut Satya dengan menekan suaranya, sembari meninggalkan Dirga pergi.
Dirga hanya bisa menghelan nafas panjang memandang langkah Satya yang hendak pergi menuju bandara untuk menjemput kekasihnya.
__ADS_1
Clarissa kekasih sekaligus tunangan Satya, saat ini sedang menempuh pendidikan desain tekstil di Bunka Fhasion College Jepang. Dan hari ini dia pulang ke Indonesia karena libur kuliah.
Sore itu telah berlalu, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua puluh. Dirga yang saat itu terlihat cemas dan gelisah segera keluar dari apartemennya. Pria berwajah tampan, bertubuh atletis, berkulit sawo matang ini bergegas menuju area parkir mobil, menghampiri mobil sport Toyota 86 warna silver metallic.
Terlihat setelah itu, dia mengemudikan mobil dengan kencang.
Sementara di sisi lain, tampak sepasangan kekasih yang sedang kasmaran menikmati kebersamaannya di sebuah restoran out door lantai lima sebuah hotel berbintang. Ditemani gemerlap bintang dan kerlip lampu malam tampak kaki-kaki berjas putih menyentuh mesra tangan kekasih yang duduk di hadapannya.
"Sayang, makasih ya, kamu udah siapin ini semua untuk menyambut kedatangan aku!" kata wanita cantik berkulit putih, berambut panjang, berdress merah dengan suara manja.
"Kamu suka?" tanya laki-laki berjas putih yang duduk di hadapannya. "Aku sengaja sewa tempat romantis ini buat kamu," lanjutnya dengan masih menyentuh mesra tangan kekasihnya.
"Aku suka sayang, aku suka," jawab wanita itu dengan wajah berbunga-bunga.
Tampak setelah itu laki-laki berjas putih mencium tangan kekasihnya dengan penuh cinta.
"Kamu tahu sayang? Aku tidak akan pernah bosan melakukan sesuatu yang membuat kamu bahagia," kata pria itu.
"Hmm... Makasih sayang," jawab wanita itu dengan senyum merona, sembari menghampiri kursi laki-laki yang duduk di hadapannya, lalu memeluknya, dan menciumnya mesra.
Di waktu yang bersamaan tampak laki-laki berbadan atletis yang baru turun dari mobil sport warna silver metallic berjalan cepat memasuki sebuah apartemen.
"Kreek!!"
"Mas Dirga?"
Seorang wanita yang sedang duduk di meja makan tersentak kaget dan seketika berdiri saat laki-laki bernama Dirga itu masuk ke dalam apartemennya.
"Kamu sedang apa?"
"Aku menunggu Mas Satya datang, Mas Dirga kemarin bilang, kalau Mas Satya dua Minggu keluar kota," sahut wanita itu dengan tersenyum. "Aku juga sudah memasak buat Mas Satya."
"Memang kamu tahu, apa masakan kesukaan Satya?"
"Tidak, aku memasak makanan sebisaku, dan aku berharap Mas Satya suka dengan masakanku."
"Hmm..."
Dirga tersenyum sembari melangkah untuk duduk di meja makan itu.
__ADS_1
"Hilya! Tadi Satya meneleponku, proyeknya masih belum selesai, ada kendala, jadi dia tidak bisa pulang hari ini," jelas Dirga dengan suara lembut. "Sebenarnya Satya bisa pulang hari ini dan menyerahkan semua tugas pada karyawan yang ada di sana. Tapi, Satya adalah orang yang bertanggung jawab, dia tidak suka meninggalkan pekerjaan jika belum tuntas, karena dia seorang pekerja keras," tambah Dirga.
"Masya Allah!" Hilya menyebut nama Tuhannya lirih. "Semoga Allah memudahkan jalan ikhtiar Mas Satya dalam mencari nafkah," kata wanita itu kemudian.
"Satya bilang, mungkin satu bulan lagi proyeknya akan selesai, dia minta maaf masih belum bisa pulang, karena masalah di proyek sedikit besar,"
"Iya," Hilya mengangguk-angguk.
Dirga yang diselimuti pikiran cemas menatap wajah Hilya yang sedikitpun tidak menunjukkan rasa curiga dengan kebohongannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dirga kemudian.
"Tidak," sahut Hilya berat. "Jika hatiku tidak ikhlas, aku takut Mas Satya tidak tenang dalam bekerja," lanjut Hilya dengan menunduk.
Terlihat kesedihan di raut wajah Hilya.
"Maafkan Satya ya! Sebenarnya dia sangat merindukanmu," ucap Dirga meyakinkan. "Jaringan telepon di tempat proyek Satya sangat susah, karena itu dia tidak bisa meneleponmu malam ini, jika siang dia masih bisa turun ke kota untuk mencari sinyal, tapi sayangnya aku yang tidak bisa ke sini jika siang hari, karena aku sibuk di kantor," Jelas Dirga.
"Iya, tidak apa-apa," sahut Hilya pasrah. "O ya, Mas. Mau minum kopi? Aku buatkan ya?"
Hilya mulai memecah rasa sedih di hatinya, dengan menawarkan kopi untuk Dirga.
"Tidak usah, aku makan masakanmu saja," tolak Dirga lembut. "Hmm... Masakanmu enak," pujinya.
"Terimakasih." Hilya tersenyum.
"O iya Hilya, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, apa?"
"Bagaimana perasaanmu terhadap Satya?"
"Maksud Mas Dirga?"
"Mmm... Aku lihat kamu sangat mengkhawatirkannya, dan selalu mendoakannya, apa kamu mencintainya?"
Mendengar pertanyaan Dirga, sejenak Hilya bergeming.
"Mmm... Mas Satya adalah suamiku, berbakti padanya adalah kewajibanku, mendoakannya adalah bentuk baktiku, mencintai dan menyayanginya adalah ibadahku karena dia imamku, dan seharusnya memang begitu. Jadi jika aku mengkhawatirkannya itu wajar kan mas?" terang Hilya dengan senyum yang masih menguntum di bibirnya.
__ADS_1
"Oooh... Mmm..." Dirga tersenyum tipis. 'Sebenarnya kamu terlalu baik untuk disakiti' ucap Dirga dalam hati, dengan memandang lekat wajah gadis itu.
Bersambung