
Tiga Minggu sudah Hilya berada di rumah Ibu Diana. Semakin hari hubungan Hilya dengan Clara semakin dekat.
Dengan kesabaran dan ketelatenan Hilya membimbing gadis kecil itu, hingga akhirnya gadis kecil itu menjadi pribadi yang sangat manis dan penurut.
Sikapnya yang dulu kasar dan suka berteriak-teriak pada pembantu, kini menjadi lembut. Tidak dimungkiri, perubahan sikap Clara ini membuat Ibu Diana menjadi sangat bahagia, dan membuat Ibu Diana bersimpati kepada Hilya.
"Hilya terimakasih ya! Sudah membantu Clara belajar, dan sudah membimbing Clara menjadi lebih baik," kata Ibu Diana pada Hilya, saat Hilya membantu bibi menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Sama-sama Bu," jawab Hilya dengan mengangguk sopan, seraya meletakkan susu dan air putih di sebelah piring-piring yang tertata rapi di meja makan itu.
Tidak lama kemudian, Satya datang. Laki-laki itu terlihat menarik kursi dan duduk di hadapan mamanya, sembari melirik Hilya yang sedang menata sarapan.
Hilya yang melihat laki-laki itu meliriknya segera menundukkan pandangan, dan berpamitan meninggalkan tempat itu setelah pekerjaannya selesai.
"Bu, sudah selesai, saya mau ke belakang dulu!" kata wanita ini dengan sopan pada Ibu Diana.
"Iya," sahut Ibu Diana dengan tersenyum.
Setelah Hilya meninggalkan ruangan itu, Ibu Diana mulai membuka pembicaraan dengan putranya.
"Satya, Hilya itu sangat sopan, ya?" ucap Bu Diana sembari tersenyum. "Jujur, mama suka sama dia. Apalagi semenjak dia ada di rumah ini, rumah ini menjadi lebih tenang dan damai. Mama tidak pernah mendengar teriakan Clara, rengekan Clara, dan juga alasan Clara untuk bolos sekolah," ungkap Ibu Diana.
"Mmm..."
Satya hanya menjawabnya dengan tersenyum kecil.
"Mama jadi berfikir. Jangan-jangan Hilya adalah bidadari atau malaikat yang dikirim tuhan ke rumah ini untuk menjaga Clara," kata Ibu Diana kemudian dengan menatap mata Satya.
"Hmmmh... Mama ini, ada-ada saja," sahut Satya dengan mengalihkan pandangannya.
Kata-kata Ibu Diana seketika mengingatkan Satya pada ungkapan Dirga waktu itu, bahwa Hilya adalah bidadari Spesial yang sengaja dikirim tuhan untuknya.
"Hmmmh!"
Satya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya dengan membuang nafas keras saat mengingat hal itu, seraya meraih gelas berisi susu segar yang ada di hadapannya dan meneguknya hingga habis.
"O, iya. Satya! Pak Hadi hari ini ijin, anaknya sakit. Jadi hari ini, mama minta tolong kamu untuk mengantar Clara ke sekolah. Karena mama mau minta tolong Pak Juned untuk jadi sopir mama, selama Pak Hadi ijin," kata Ibu Diana kemudian.
"Iya."
Satya mengangguk-angguk.
"Kalau untuk menjemput Clara pulang sekolah nanti, mama bisa suruh pak Juned. Jadi kamu cukup mengantar saja," tambah Bu Diana.
"Iya,"
Satya kembali mengangguk-angguk dengan terus memotong roti berbentuk persegi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"O iya, sayang! Mama berangkat dulu, ya!" kata wanita itu kemudian setelah makanannya habis. Seraya beranjak dari tempat duduknya dan mencium pipi putranya yang masih menikmati roti berisi selai coklat.
Ibu Diana, pemilik pabrik tekstil itu, memang selalu berangkat kerja lebih awal dibandingkan dengan putranya. Kesibukannya di pabrik inilah, yang membuat dia jarang sekali punya waktu untuk memperhatikan Clara, cucu semata wayangnya.
lima belas menit telah berlalu. Satya mulai melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sembari sesekali menoleh ke belakang melihat keponakannya yang belum juga muncul untuk sarapan di meja makan.
"Ce'k! Aku bisa terlambat ini," kata Satya sembari mendesis.
Laki-laki itu bergegas bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah menghampiri kamar Clara.
Dia mulai membuka kamar yang pintunya tidak tertutup rapat. Terlihat Hilya sedang duduk di hadapan Clara memasangkan tali sepatu gadis kecil manja itu.
"Kak Hilya? Kenapa sih Clara lihat, Kak Hilya sering sholat?" tanya gadis kecil itu pada Hilya saat Hilya berkonsentrasi memasangkan tali sepatunya.
"Sholat itu adalah kewajiban orang muslim. Selain itu sholat juga bisa menenangkan hati. Ketika kita punya masalah, dan ketika kita rindu pada orang tua kita. Sholat itu bisa menjadi obat penenang."
Hilya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Clara dengan sangat lembut.
"Kenapa Kak Hilya rindu orang tua? Memangnya orang tua kakak sudah mati, kayak orang tua aku?"
"Mmm... Tidak sayang! Orang tua kakak jauh, ada di kampung. Karena itu Kak Hilya rindu. Jadi, Kak Hilya sholat untuk mendoakan mereka, agar mereka sehat dan selalu di lindungi oleh Allah," jawab Hilya masih dengan suara lembut.
"Clara juga rindu pada orang tua Clara. Tapi mereka sudah mati. Kalau Clara sholat, Clara berdoa apa untuk mereka, kan mereka sudah ada di dekat Allah?"
Terlihat setelah itu Hilya berdiri dan mengusap-usap kepala gadis kecil itu.
"Mmm... kalau begitu aku mau belajar sholat ya, Kak!"
"Boleh! Nanti kakak ajari, sekarang kita berangkat sekolah dulu!" kata Hilya sembari membantu gadis kecil ini memakai tasnya.
Sementara Satya yang dari tadi memperhatikan obrolan mereka bergegas melangkah meninggalkan tempatnya berdiri.
Pikiran Satya mulai berbicara. Laki-laki ini mulai memikirkan sikap Hilya yang begitu baik kepada keponakannya, padahal selama ini dia telah bersikap begitu jahat dan kejam pada wanita yang telah dinikahinya itu.
"Om Satya, mana Pak Juned?" tanya Clara saat melihat Pak Juned dan mobil yang biasa dia naiki belum ada di halaman rumah untuk mengantarnya ke sekolah.
"Hari ini om yang antar. Ayo masuk mobil!" jawab laki-laki yang berdiri di halaman rumahnya itu, sembari melirik Hilya dan Clara yang berdiri tidak jauh di sampingnya.
Clara dan Hilya pun segera mengikuti langkah laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Om Satya! Clara sarapan dulu ya!" Kata Clara saat mobil yang dinaikinya itu mulai melaju.
"Hmmm," jawab Satya sembari mengangguk dan terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
Sesekali Satya memperhatikan Hilya dari spion depan mobil, saat tangan wanita itu begitu lembut menyuapi keponakannya.
"Om Satya! Teman-teman Clara di sekolah mengira kalau Kak Hilya ini adalah tante Clara," cerita Clara kemudian pada Satya setelah sarapannya selesai. "Mungkin karena Kak Hilya cantik ya, mirip dengan Clara," tambah Clara. "O, ya. Om! Clara perhatikan. Kak Hilya dan Tante Clarissa, lebih cantik Kak Hilya. Kenapa om tidak bertunangan sama Kak Hilya saja?" tanya Clara polos mengejutkan Satya dan Hilya.
__ADS_1
Seketika Satya tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan keponakannya tersebut. Dan laki-laki itu, terus berkonsentrasi menyetir mobilnya tanpa menjawab pertanyaan dari Clara.
Sementara Hilya yang duduk di sebelah Clara tersenyum tipis saat gadis ini menoleh ke arahnya. Sembari mengalihkan pandangan, menatap jendela mobil yang ada di sampingnya, seolah tidak ingin membahas pertanyaan yang diungkapkan gadis kecil itu.
Selang beberapa menit kemudian, mobil yang mereka naiki sampai di depan gedung sekolah Clara.
"Semangat belajar ya, Sayang!" kata Hilya saat mengantar gadis kecil itu masuk ke gerbang sekolahnya.
Setelah langkah Clara tidak terlihat lagi. Hilya bergegas kembali untuk masuk ke dalam mobil Satya.
"Kalau kamu buru-buru, aku bisa pulang naik taksi," kata Hilya datar, tanpa melihat ke arah laki-laki yang duduk di depannya.
Tanpa menjawab, Satya langsung menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kencang.
"Ueeek!!"
Tiba-tiba Hilya merasa mual dan ingin memuntahkan isi dalam perutnya.
"Jangan terlalu cepat! Aku pusing! Aku mau muntah!" kata wanita ini dengan memijit kepala dan memegang perutnya.
Satya yang melihat wanita yang duduk di belakangnya itu tiba-tiba pucat, segera menepikan mobil.
Hilya bergegas keluar dari dalam mobil untuk memuntahkan isi perutnya.
"Kamu sakit?" tanya Satya saat melihat wanita yang baru kembali masuk ke dalam mobilnya itu masih terlihat pucat.
Hilya bergeming, dan tidak segera menjawab pertanyaan Satya.
"Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba mual dan pusing. Apa ini karena kehamilanku? Tidak! Aku harus sehat, aku tidak boleh muntah lagi. Aku tidak mau laki-laki ini sampai tahu tentang kondisi kehamilanku, karena pasti nanti dia akan semakin jahat padaku, atau bahkan akan membunuh bayiku, karena dia takut aku akan menuntutnya macam-macam," kata Hilya dalam hati.
"Kamu kenapa?" tanya Satya lagi, saat melihat Hilya yang tiba-tiba tercengang.
"Aku tidak apa-apa," sahut Hilya kemudian saat laki-laki itu menoleh dan memperhatikannya.
"Ini minum!"
Setelah itu Satya menyodorkan botol air mineral pada Hilya.
"Tidak usah!"
Seketika Hilya menolak dengan mendorong tangan Satya yang menjulurkan botol minuman kepadanya.
Satya menghela nafas sembari meletakkan botol minum itu di kursi yang ada di sebelahnya, lalu menghidupkan mesin mobil, dan kembali melajukannya.
Sesekali Satya memperhatikan Hilya lewat spion depan mobil. Tampak wanita itu meraih obat dari dalam tasnya, dan meminumnya dengan air putih yang juga dia keluarkan dari dalam tasnya.
Bersambung
__ADS_1