
Pagi itu Satya tampak termenung di depan jendela ruang kerjanya. Seperti biasa dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, pria tampan itu terlihat berdiri menatap hamparan langit dan awan putih yang terlihat indah di balik jendela kaca.
"Kenapa kamu?" tanya Dirga yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya.
Seketika Satya menoleh ke arah pria itu.
"Syukur kamu datang, aku memang ingin bicara denganmu," kata Satya.
"Apa ini soal pembangunan beutik Clarissa?"
"Tidak," jawab Satya dengan melangkah ke kursinya untuk duduk.
"Lalu?"
"Duduklah dulu!"
Satya mempersilahkan temannya tersebut untuk duduk.
"Ada masalah apa?" tanya Dirga penasaran.
"Mmm... Aku sudah putuskan, untuk tidak menemui Hilya sampai tuntutan perceraianku dilayangkan. Saat ini pernikahanku sudah memasuki dua bulan. Tinggal dua atau tiga bulan lagi tuntutan ceraiku akan dilayangkan. Jadi, selama dua atau tiga bulan ini aku tidak akan menemuinya."
"Kenapa?"
Satya bergeming.
"Apa kamu jatuh cinta pada gadis itu?" tanya Dirga dengan mata menyelidik.
"Hmmh... Omong kosong," sahut Satya lirih dengan tersenyum kecut. "Kamu urus saja gadis itu sampai tiba waktu perceraian kita," jawabnya datar seraya membuka laptop dan mulai berkonsentrasi dengan benda tersebut.
"Okey," jawab Dirga kemudian.
Tak lama setelah itu, pria tampan berkulit sawo matang ini beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan sahabatnya.
Waktu terus berjalan, selama satu bulan ini, di sela-sela kesibukannya, Dirga selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Hilya.
Seperti biasa, Dirga mengatakan kepada gadis itu, kalau suaminya sedang perjalanan bisnis di luar kota.
Semakin hari, perasaan bersalah Dirga kepada Hilya semakin bertambah. Apalagi saat melihat Hilya yang semakin hari semakin mencintai dan mengharapkan kehadiran suaminya. Sungguh dalam hati kecilnya, Dirga tidak ingin melihat Hilya dilukai oleh Satya.
Dan pagi ini saat Dirga bertemu Satya di depan gedung lantai dua sebuah bangunan indah yang hendak Satya hadiahkan untuk kekasihnya.
"Terimakasih teman! Semuanya selesai sesuai jadwal yang ditentukan," kata Satya dengan memeluk Dirga yang saat itu baru keluar dari dalam mobilnya.
"O, ya. Selamat ya, dalam dua bulan ini proyekmu sukses di beberapa kota!" sahut Dirga membalas ucapan terimakasih dari sahabatnya.
"Semua itu karena kamu teman, kamu yang selalu mendukung karirku," sahut pria berjas abu-abu itu dengan senyum sumringah.
"Aku rasa semua ini karena doa istrimu, dia tidak pernah berhenti berpuasa, solat malam, dan mendoakanmu," jawab Dirga dengan menatap Satya sendu.
__ADS_1
"Berhenti bicara omong kosong! Hari ini Clarissa pulang, sebentar lagi aku akan menjemputnya di bandara," sahut Satya dengan tersenyum sembari menepuk lengan sahabatnya.
"Kamu ingat, kan? Nanti malam kita ada janji dengan Mr. Jhonson?" tanya Dirga kemudian.
"Tentu kawan, karena itu seharian ini aku akan habiskan waktuku untuk menemani Clarissa."
"Okey, aku pergi dulu! Aku ada janji dengan klien," pamit Dirga kemudian seraya beranjak menuju mobilnya meninggalkan Satya.
Terlihat jelas, Dirga enggan mendengarkan cerita bahagia Satya dengan tunangannya yang baru pulang dari negeri sakura.
Melihat sikap Dirga yang begitu dingin, Satya hanya bisa menghelan nafas dan berusaha untuk tidak memikirkannya. Dan pria ini kembali berkonsentrasi dengan rencana-rencananya untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya.
Akhirnya Satya pun menjemput kekasihnya yang bernama Clarissa itu di bandara.
Gadis cantik, bertubuh sintal, berpenampilan menarik ini pun menyambut mesra seorang kekasih yang datang menjemputnya.
Peluk mesra nan hangat diberikan oleh wanita cantik berambut coklat itu pada Satya. Dan tangan lembut Satya menggandeng wanita ini untuk dia ajak berjalan menuju mobilnya.
Tampak sopir sudah siap mengantar mereka, seorang kurir yang membawa barang-barang Clarissa pun segera memasukkan barang-barang tersebut ke dalam bagasi mobil Satya.
"Sudah semua pak, mari masuk!" kata sopir yang baru saja membantu kurir meletakkan barang-barang bawaan Clarissa.
"Ya," Satya mengangguk, dan kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Clarissa.
Akhirnya mobil itu melaju kencang.
"Sayang kita mau kemana?" tanya Clarissa saat melihat sopir Satya membawa mobil itu ke arah yang berbeda dengan jalan menuju rumahnya.
"Sesuatu apa?" tanya Clarissa penasaran.
"Mmm... Rahasia," ucap Satya dengan senyum menggoda kekasihnya.
"Sayang!!" sahut Clarissa manja dengan mencubit pinggang Satya, kemudian menidurkan kepalanya di bahu Satya dengan manja.
"Sayang tutup mata kamu ya, sebentar lagi kita akan sampai!" kata Satya saat sudah hampir sampai di tempat yang akan dituju.
Ditutupkannya kain panjang berwarna hitam oleh Satya ke mata Clarissa.
Dan setelah mobil mereka berhenti, Satya segera menggandeng tangan Clarissa untuk keluar dari dalam mobil.
"Sayang, kamu mau tunjukkin apa sih sama aku?" tanya Clarissa penasaran.
Setelah sampai di depan gedung berlantai dua, Satya pun segera melepaskan tali warna hitam itu dari mata Clarissa.
"Clarissa Beutik," Clarissa membaca sebuah tulisan yang di ukir cantik di sudut tembok gedung tersebut. "Sayang ini buat aku?" tanya Clarissa takjub.
Ekspresi wajah Clarissa seolah tak percaya saat menerima hadiah itu dari kekasihnya.
"Iya, ini buat kamu, sekarang kamu tinggal masukkan rancangan-rancangan terbaik kamu ke dalam sana! Dan aku sepenuhnya siap mendukung karir kamu," kata Satya penuh cinta dengan memeluk kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sayang?... Terimakasih!" jawab Clarissa lembut dengan mencium pipi seorang laki-laki yang mendekap tubuhnya dari belakang.
Setelah menunjukkan kado spesial itu untuk kekasihnya, Satya segera mengantar kekasihnya itu untuk pulang ke rumahnya.
Satya menemani Clarissa hingga malam menjelang. Dari mengantar ke rumahnya, menemaninya makan siang, menemaninya menikmati jalanan ibu kota tempat kelahirannya, hingga menemani kekasihnya itu bercengkrama dengan keluarganya.
Setelah waktu menunjukkan pukul dua puluh malam, Satya mulai berpamitan untuk pulang.
"Aku ada janji dengan rekan bisnisku sebentar lagi. Kamu istirahat ya! Besok aku akan datang lagi!" kata Satya pada Clarissa sebelum dia pergi.
"Tin... Tin...!!!"
Terdengar suara klakson mobil yang begitu keras di luar pagar rumah Clarissa.
"Sopir kamu sayang?" tanya Clarissa.
"Bukan. Itu Dirga," jawab Satya.
"Oooh! Hati-hati ya sayang!" kata Clarissa dengan mencium pipi kekasihnya.
"Okey! Aku pergi dulu!" pamit Satya seraya beranjak meninggalkan Clarissa.
Dan di luar pintu gerbang rumah Clarissa tampak Dirga sudah menunggu kedatangan Satya di dalam mobil.
"Maaf sedikit terlambat!" kata Satya saat masuk ke dalam mobil.
"Hmmmh!!"
Dirga membuang nafasnya keras dengan melirik sahabatnya tersebut.
"Mr. Jhonson bilang, dia menunggu kita di tempat biasa," kata Satya kemudian.
"Iya aku tahu," jawab Dirga acuh dengan terus mengemudikan mobilnya.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di area parkir sebuah klub malam.
Dan saat mereka masuk, seorang waiters mengantarkan mereka berdua ke sebuah room karaoke V-VIP.
Tampak seorang pria bule bernyanyi di room tersebut ditemani beberapa wanita berbaju seksi.
"Hi friend, good night! Come on sit here, let's enjoy tonight to celebrate our success," kata seorang pria bule menyambut kehadiran Satya dan Dirga.
"Okey!" jawab Satya dan Dirga seraya bergantian memeluk pria berambut pirang tersebut.
Setelah itu terlihat mereka saling berbincang. Mr. Jhonson yang saat itu juga membawa dua orang teman laki-laki, segera dia kenalkan pada Satya dan Dirga.
Tampak kelima pria itu asyik dalam obrolan, hingga kemudian datanglah seorang waiters membawa beberapa botol minuman beralkohol.
"Come on, let's drink!" kata Mr. Jhonson pada Satya dan Dirga.
__ADS_1
"Okey!" sahut Satya seraya menuang minuman tersebut ke dalam gelas yang ada di hadapannya.
Bersambung