
Sore itu, Satya membawa Hilya ke salah satu butik milik seorang desainer terbaik yang ada di kota itu.
Satya mulai meminta pemilik butik untuk memilihkan gaun terbaik yang bisa Hilya pakai di pesta malam nanti.
Setelah lama memilih, pilihan Satya jatuh pada gaun mewah berwarna merah jambu.
Kulit Hilya yang mulus, putih bersi, tentu sangat cocok dengan warna gaun pilihan Satya tersebut.
Tidak hanya itu. Satya juga membawa Hilya ke salon milik seorang tata rias ternama.
Satya meminta seorang penata rias dan seorang desainer ternama tersebut, memberikan sentuhan yang luar biasa pada penampilan Hilya.
Akhirnya dengan bantuan penata rias tersebut, malam ini Hilya dapat mendampingi Satya dengan penampilan yang sangat sempurna.
Tepat jam tujuh malam. Mobil Satya telah sampai di tempat parkir hotel berbintang lima.
Satya meminta Hilya untuk menggandeng tangannya.
Mereka berdua masuk ke dalam hall sebuah hotel berbintang tersebut.
Sekalipun saat itu hanya Hilya satu-satunya pengunjung pesta yang mengenakan hijab. Namun penampilan Hilya tidak kalah elegan dengan wanita-wanita papan atas lainnya.
Ibu Diana dan Clarissa yang lebih awal sudah berada di pesta itu, tampak terpukau dengan penampilan Hilya.
Mata Clarissa mulai menatap sinis wajah Hilya. Apalagi di pesta itu, Clarissa adalah salah satu wanita cantik yang penampilannya sangat dipuji oleh para tamu undangan.
Bukan hanya itu, para fotografer yang di undang di pesta, juga selalu mengikuti Clarissa, untuk mengambil setiap pose penampilannya yang mempesona.
*****
Suasana pesta yang asing bagi Hilya. Tentu membuat wanita ini sangat canggung.
Gemetar tentu, cemas pasti, apalagi saat semua mata tamu undangan tertuju ke arahnya.
"Sayang setiap ada orang yang menyapa kita, jangan lupa tersenyum ramah!" bisik Satya di telinga Hilya.
"Iya Mas," sahut Hilya lirih.
"Mas, aku malu!" bisik Hilya kemudian.
"Kenapa?"
"Aku takut akan mempermalukan Mas Satya."
"Tenang! Mas akan selalu ada di dekat, kamu!"
"Apa aku pulang saja ya? Biar Clarissa saja yang menemani Mas Satya. Seperti saran mama," ujar Hilya dengan suara tidak percaya diri.
"Kamu nggak cemburu, kalau mas menggandeng tangan Clarissa?"
__ADS_1
"Cemburu."
"Kalau begitu! Belajar jadi istri direktur utama Agung Wijaya Group! Bersikap anggun dan elegan di pesta ini! Aku yakin kamu bisa! Karena kamu istriku yang sangat cerdas!"
Satya berusaha membangkitkan rasa percaya diri Hilya.
"Iya," gumam Hilya ragu.
Sejujurnya Hilya masih merasa canggung. Namun dia berusaha membangkitkan rasa percaya dirinya, agar tidak mempermalukan suaminya tersebut di dalam pesta.
Satya adalah seorang eksekutif muda sukses, tampan dan berpenampilan menarik, yang tentu menjadi pusat perhatian di pesta malam itu.
Setiap melangkah selalu ada orang yang menyapanya. Sekalipun hanya say hello saja.
"Istrimu cantik sekali malam ini?"
Ternyata malam ini Dirga juga ada di pesta itu. Dia menghampiri Satya, dan menyapa pria tampan itu.
"Jadi kamu baru tahu, kalau wanita yang kamu jodohkan denganku ini, benar-benar cantik."
Satya membalas kata-kata Dirga dengan melirik Hilya sembari tersenyum.
"Hmmm!"
Hilya membalasnya dengan tersenyum tipis dan mencubit pinggul Satya.
Tidak lama kemudian, seorang laki-laki juga menghampiri Satya.
Dia bertanya pada Satya, tentang siapa wanita yang digandeng oleh Satya.
"She's my wife. Hilya El Jameela," sahut Satya dengan memberitahukan nama panjang Hilya penuh percaya diri.
"Oooh? Lalu, Clarissa?"
Laki-laki itu bertanya dengan menoleh ke arah Clarissa, yang saat itu tengah berdiri di samping Ibu Diana, berbicara dengan tamu pesta yang lain.
"Bukan jodoh," sahut Satya singkat sembari mengajak Hilya meninggalkan laki-laki itu.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita dan laki-laki paruh baya naik ke atas panggung, dan menjadi pusat perhatian dalam pesta itu.
Semua bertepuk tangan saat sepasang suami istri itu memberikan sedikit sambutan dan ucapan terima kasih pada undangan yang sudah hadir dalam pestanya.
Ternyata dia adalah Merry Salvina penyelenggara pesta tersebut. Seorang pengusaha sukses dan pemilik pabrik garmen terbesar yang ada di negara ini. Bukan hanya itu dia juga punya beberapa perusahaan garmen di luar negeri.
Itulah yang membuat orang tua Satya sangat dekat dengannya. Karena perusahaan mereka saling bekerja sama.
"Sayang! Tante Merry itu adalah orang yang sangat berpengaruh di perusahaan mama. Jadi, sebisa mungkin kita harus bersikap menyenangkan di depan Tante Merry. Karena, jika tidak, mama pasti kecewa!" ucap Satya.
"Iya, Mas!" sahut Hilya masih dengan nada tidak percaya diri.
__ADS_1
"Sayang! Tidak usah takut! Jika ada kemungkinan kita berbicara dengan Tante Merry. Nanti biar aku yang menjawab semua pertanyaannya. Kamu berada di dekatku, dan tersenyum saja!" ujar Satya.
"Mmmm!" Hilya mengangguk ragu.
"Atau, kita tidak usah temui dia!"
"Kalau dia menyapa Mas Satya?"
"Biar aku sendiri yang mendekat padanya."
"Iya," Hilya mengangguk.
******
Sebenarnya Satya juga merasa khawatir. Dia takut kalau Hilya akan berbuat sesuatu yang dapat mempermalukan dirinya dan keluarganya. Karena hal itu dapat mempengaruhi reputasi dan karirnya, sebagai seorang pengusaha sukses, yang di mata koleganya sangat sempurna.
Tapi dia berusaha meredam kekhawatirannya itu dengan rasa percaya diri, karena dia sudah mengatakan kepada mamanya, kalau dia akan membuat semua orang yang datang ke pesta itu, akan terkesan pada istrinya.
Selang beberapa menit kemudian. Seorang pelayan membisikkan sesuatu di telinga Satya.
Setelah pelayanan itu pergi Satya mulai menoleh ke arah Ibu Diana.
Ibu Diana dan Clarissa terlihat bersama Merry Salvina.
Ibu Diana menoleh ke arah Satya dan meminta Satya agar menghampiri dirinya.
"Sayang! Tunggu di sini! Aku akan ke sana sebentar!"
Satya berlahan melepaskan tangan Hilya yang melingkar di lengannya. Sembari berjalan menuju Ibu Diana, Merry Salvina, dan Clarissa yang sedang berbincang akrab.
Satya sengaja tidak mengajak Hilya, karena Satya merasa cemas kalau Merry Salvina akan bertanya sesuatu pada Hilya, yang mungkin pertanyaan itu tidak bisa Hilya jawab, dan bisa mempermalukan mamanya.
"Apa kabar Satya?"
Merry Salvina langsung menjabat tangan dan mencium pipi Satya, saat Satya mendekat padanya. Dan mereka pun mulai berbincang akrab.
Sementara Hilya yang saat itu berdiri sendiri di tengah-tengah pesta. Tampak merasa gelisah. Sesekali matanya menoleh ke arah Satya yang berbincang dengan Merry Salvina.
"Auuuu!"
Tiba-tiba Hilya berteriak ketika seorang pelayan yang membawa nampan berisi minuman tidak sengaja menabraknya.
"Ya Allah!"
Hilya mendesah dengan memperhatikan gaunnya yang tersiram minuman tersebut.
Seisi ruangan itu pun seketika memperhatikan Hilya.
Begitu juga dengan Satya, Ibu Diana, Merry Salvina, dan Clarissa. Mereka berempat pun segera melangkah menghampiri Hilya.
__ADS_1
Bersambung