Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 23


__ADS_3

Sudah satu Minggu Hilya berada di rumah dokter Melvina. Dokter cantik itu terlihat sangat menyayangi Hilya, dan Hilya pun sangat menghargai kebaikan dokter Melvina, dengan menunjukkan sikap santun, sopan, ramah, dan bersahaja.


Hilya bekerja sangat rajin di rumah dokter Melvina. Dari membantu Mbok Nah menyapu, mengepel, dan membersihkan halaman rumah.


"Hilya! Ibu lihat dari kemarin kamu rajin sekali," kata dokter Melvina saat melihat Hilya mengurus tanaman di depan rumahnya. "Ingat! Kamu bukan pembantu di rumah ini. Jadi, bantulah Mbok Nah sewajarnya!"


"Iya, dokter."


Hilya mengangguk sembari tersenyum saat dokter Melvina menghampirinya.


"Ingat juga, kamu sedang hamil. Jadi, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik!" tambah wanita itu.


"Mmm..."


Hilya kembali mengangguk-angguk.


"O, ya. Ibu ingin bicara dengan kamu. Ibu tunggu kamu di dalam ya!" kata wanita yang hanya terlihat tinggal bersama pembantunya yang bernama Mbok Nah itu.


Hilya mulai mematikan kran, dan menggulung dengan rapi selang air yang baru saja dipakainya untuk menyiram tanaman. Kemudian dia berjalan ke dalam rumah menghampiri dokter Melvina yang sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Ayo duduk!"


Dokter Melvina meminta wanita muda yang berdiri di hadapannya itu untuk duduk.


"Hilya! Ibu mau menawarkan sebuah pekerjaan untukmu. Salah satu teman ibu ada yang membutuhkan seorang pengasuh yang bisa mendampingi cucunya belajar. Saat ini cucunya berumur 9 tahun, dan sudah kelas 3 SD. Apa kamu mau?" tanya dokter Melvina.


"Iya dokter, tidak apa-apa. Saya mau mencobanya," sahut Hilya.


"Dia bersedia membayar kamu mahal, jika kamu bisa merubah cucunya menjadi anak yang lebih baik."


"Maksud dokter?"


"Begini. Cucu Bu Diana yang bernama Clara itu, anaknya sangat temperamental. Dia suka berteriak-teriak, dan suka melempar-lempar barang ketika marah. Emosinya sangat susah dikendalikan."


"Apa dia anak berkebutuhan khusus Dok?"


"Tidak. Menurut ibu, dia hanyalah anak yang kurang kasih sayang. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan oma yang mengasuhnya juga jarang menemaninya karena sibuk. Sehari-hari Clara hanya ditemani oleh pembantu. Jadi mungkin itu yang membuat Clara seperti itu. Bersikap kasar karena ingin diperhatikan."


"Oooh..."


"Bagaimana, apa kamu bersedia?" tanya dokter Melvina lagi.


"Boleh, saya akan mencobanya Dok. Lagi pula kata Dokter, Clara adalah anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Saya yakin, jika saya dapat mengasuhnya dan membantunya belajar, pasti akan jadi ibadah yang berkah buat saya, karena saya dapat mendidik dan menyayangi anak yatim setiap hari," sahut Hilya dengan tersenyum.


"Kamu yakin?"


"Insya Allah, Dok!"


"Kalau begitu, ibu akan segera hubungi teman ibu ya," kata dokter Melvina kemudian.

__ADS_1


Hilya pun mengangguk sembari tersenyum.


Selang beberapa menit kemudian, setelah dokter Melvina menghubungi temannya, dia kembali memanggil Hilya.


"Hilya! Bu Diana bilang. Dia ingin kamu mulai bekerja besok pagi. Bagaimana apa kamu siap?"


"Insya Allah, saya siap Dok."


"Okey, kalau begitu kemasi barang-barangmu ya! Besok jam 6 pagi kita berangkat, karena jam 7 ibu ada jadwal operasi di rumah sakit."


"Baik Dok," sahut Hilya dengan mengangguk.


"O, iya. Ibu tidak mengatakan padanya kalau saat ini kamu sedang hamil. Karena ibu takut dia tidak mau memberikan kesempatan pada kamu untuk bekerja. Tidak apa-apa ya?" kata dokter Melvina. "Nanti kamu tunjukkan kalau kamu bisa bekerja dengan baik. Jika kinerjamu baik, pasti nanti dia tidak akan mempermasalahkan meskipun kamu sedang hamil." terang dokter Melvina dengan tersenyum.


"Iya Dok!" sahut Hilya lagi.


Akhirnya hari itu pun berlalu. Dan kini pagi telah menjelang. Hilya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Ibu Diana.


"Hilya, tadi malam ibu beli vitamin buat kamu. Ini bagus buat kesehatan dan perkembangan janin kamu. Jadi kamu jangan lupa minum setiap hari. Terus, ini juga ada obat mual untuk ibu hamil. Kamu minum ketika kamu merasa mual saja!" jelas dokter Melvina saat mereka sudah berada di dalam mobil, sembari menyodorkan obat-obatan tersebut.


Hilya tersenyum seraya mengangguk.


"Terimakasih Dok, dokter sudah sangat baik pada Hilya!" ucap Hilya dengan meneteskan air mata.


"Sama-sama. Ayo semangat, tersenyum, hapus air matamu itu!" kata dokter Melvina dengan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Akhirnya mobil dokter Melvina melaju kencang menuju rumah Ibu Diana, seorang wanita yang akan memberikan pekerjaan pada Hilya.


Hilya mulai memandang sekeliling halaman rumah mewah itu.


"Ayo turun!" ajak dokter Melvina.


"Iya Dok," sahut Hilya sembari mengikuti dokter Melvina keluar dari dalam mobil.


Tampak seorang wanita cantik yang kira-kira berusia lima puluh tahun menyambut kedatangan mereka berdua.


Terlihat setelah itu dokter Melvina dan wanita itu saling berpelukan dan mencium pipi satu sama lain.


"Ini lo Diana, anaknya, yang aku ceritain sama kamu kemarin," kata dokter Melvina dengan memperkenalkan Hilya pada temannya yang bernama Ibu Diana.


Ibu Diana terlihat memperhatikan Hilya dengan seksama.


"Assalamualaikum Bu!" kata Hilya dengan mengatupkan kedua tangan dan menganggukkan kepala.


"Waalaikum salam!" jawab wanita yang berpenampilan rapi itu kemudian.


"Bagaimana?" bisik dokter Melvina pada temannya.


"Mmm... Cantik, sopan lagi," sahut wanita itu lirih di depan Hilya dan dokter Melvina.

__ADS_1


Sesaat setelah itu, Hilya berpamitan kepada mereka berdua untuk mengambil barang-barangnya di dalam mobil.


"Bu, saya ambil barang-barang saya di mobil ya!" pamit Hilya.


"Iya." Dokter Melvina mengangguk.


Sembari menunggu Hilya mengambil barang-barangnya, dokter Melvina tampak bercanda tawa dengan sahabatnya itu di teras rumah.


"Tante Melvi!" sapa seorang wanita yang baru keluar dari dalam rumah.


"Hai cantik!" sapa dokter Melvina dengan mencium dan memeluk wanita muda itu.


"Tante mau ikut sarapan sana kita, Ma?" tanya wanita itu pada Ibu Diana.


"Enggak kok sayang. Tante jam tujuh ada jadwal operasi di rumah sakit. Tante kesini cuma mau anterin pengasuh baru buat Clara," sahut dokter Melvina.


"Ooh, ya udah, aku ke dalam dulu ya tante, mama, mau liat bibik udah selesai siapin sarapan apa belum," kata wanita itu kemudian sembari berbalik meninggalkan dokter Melvina dan Ibu Diana.


Namun saat wanita itu masuk ke dalam rumah, terdengar suara seorang laki-laki bertanya padanya.


"Siapa sayang?"


"Dokter Melvina."


"Lo, kok nggak diajak masuk sama mama," kata pria itu sembari keluar menghampiri dokter Melvina dan mamanya.


"Tante Melvi, kok tidak masuk ke dalam rumah?" sapa pria tersebut ramah pada dokter Melvina.


"Calon pengantin baru, bagaimana kabarnya?" sahut dokter Melvina dengan bertanya pada pria berjas abu-abu yang baru saja menyapanya. "Kelihatannya calon istrimu nempel terus ya? Pagi-pagi sudah ada di rumah ini," goda dokter Melvina dengan melirik pria tampan itu.


"Tante bisa aja. Mama kok yang suruh Clarissa ke sini. Kata mama biar lebih dekat dengan keluarga, karena sebentar lagi udah jadi menantunya," jawab pria itu dengan tersenyum.


"Iya Melvi. Aku sengaja suruh Clarissa ke sini pagi-pagi, biar belajar cara nyiapin sarapan buat calon suaminya," sambung Ibu Diana.


"Hmmh... Mama bisa aja. Kan udah ada pembantu ma, yang bisa nyiapin aku sarapan, kalau aku udah nikah nanti. Betul kan, Tante?" sahut pria itu.


"Satya! Pembantu itu, sifatnya hanya membantu. Tetap istri kamu dong yang harus nyiapin semuanya, biar kamunya tambah cinta," jawab dokter Melvina


"Hmmm! Begitu ya tante?" sahut Satya dengan tersenyum renyah sembari bertanya.


Namun tiba-tiba senyumnya menghilangkan ketika melihat wanita berkerudung coklat muda dengan membawa tas pakaian naik ke atas teras rumahnya.


"Sudah kamu ambil semua Hilya, barangmu?" tanya dokter Melvina pada wanita yang baru datang itu.


"Sudah Dok," sahut wanita itu dengan suara pelan.


Tampak tangannya gemetar, saat melihat seorang pria berjas abu-abu berada diantara dokter Melvina dan Ibu Diana.


Jantungnya berdebar kencang. Aliran darahnya naik turun, ketika pria berkulit putih bersih yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya itu berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2