Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 72


__ADS_3

Hilya meletakkan nampan yang dia bawa di lantai dan kemudian masuk ke dalam kamar.


Air matanya terus mengalir.


Sembari mengusap-usap dadanya hilang duduk di tepi ranjangnya.


"Sayang aku bisa jelaskan semuanya!"


Satya tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan berlutut di kaki Hilya. Dengan rambut dan pakaian yang masih acak-acakan.


"Sayang! Aku.... Aku benar-benar tidak mengingat apa pun!" kata Satya dengan masih berlutut di kaki Hilya.


"Sayang! Tolong percaya padaku! Semalam aku tidak sedang bersama Clarissa. Aku.... Aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi," ucap Satya lagi.


"Sayang! Aku...."


Satya mendongakkan kepala melihat Hilya yang hanya bergeming dengan air mata yang semakin menganak sungai.


"Sayang! Maafkan aku! Aku mabuk semalam, dan aku lupa dengan semuanya!" kata Satya dengan mencium tangan Hilya.


Berlahan Hilya menepis tangan Satya. Dia mendorong laki-laki yang berlutut di kakinya itu.


Hilya bangkit dari tempat duduknya tanpa berkata apa-apa.


"Sayang! Percayalah padaku! Aku bersama Mr. Jhon tadi malam."


Satya bergegas mengikuti langkah Hilya.


"Dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersama Clarissa. Aku.... Aaaah!"


Satya berteriak dengan mencengkeram kepalanya, berusaha mengingat apa yang sudah dia lakukan semalam dengan Clarissa.


Hilya mengabaikannya. Dan kemudian keluar dari kamar, membiarkan Satya yang berulang-ulang meminta maaf padanya.


Hilya berusaha menenangkan diri dengan duduk di meja makan.


Masih tidak ada orang di ruangan itu, jadi Hilya cukup punya ruang untuk menikmati kesendiriannya.


Hingga beberapa menit kemudian Ibu Diana datang, dan disusul dengan kedatangan Satya.


Terlihat suasana di ruang makan itu tegang saat Ibu Diana mulai meneriaki Satya.


"Kamu harus bertanggung jawab, atas apa yang sudah kamu lakukan pada Clarissa!"


"Bertanggung jawab untuk apa?"


"Satya?"


Ibu Diana berteriak kembali.


"Mama, Hilya, dan Bibi Rum, melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan tidak senonoh kamu."


"Hmmmh!"


Satya membuang napas keras.


"Kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus menikahi Clarissa!"


Ibu Diana menekan suaranya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menikahi Clarissa," sahut Satya seraya beranjak dari kursinya.


"Satya!"


Ibu Diana kembali berteriak.


"Kamu harus bertanggung jawab!"


Satya berlahan menoleh ke arah mamanya.


"Clarissa, dia sudah kamu renggut kehormatannya."


"Lalu?"


"Kamu harus bertanggung jawab. Nikahi Clarissa!"


"Aku sudah menikah, Ma!"


"Iya, kamu sudah menikah. Tapi bukan berarti kamu harus lepas dari tanggung jawab kamu. Hilya harus menerima Clarissa jadi istri kedua kamu!" tegas Ibu Diana.


"Aku tidak mau! Aku tidak akan pernah menikahi Clarissa."


"Satya!"


Ibu Diana kembali berteriak.


"Kamu tahu apa akibat dari perbuatan kamu ini?"


Satya terlihat tidak memperdulikan kemarahan mamanya. Dia bergegas membalikkan badan dan mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu.


Sementara Hilya yang masih duduk di tempat itu, berlahan bangkit, menuju kamarnya, meninggalkan Ibu Diana.


"Kamu lihat kan? Apa yang bisa aku lakukan? Sebentar lagi aku akan menjadi istri kedua Satya," kata wanita itu. "Ini baru langkah awal. Menjadi istri kedua. Selanjutnya, aku akan pastikan, akulah yang akan menjadi yang pertama dan satu-satunya dalam hidup Satya."


"Hmmmh!"


Hilya tersenyum tipis. Tanpa berkomentar dia bergegas masuk ke dalam kamarnya.


*****


Saat ini Satya sudah berada di kantornya. Dia tampak berjalan cepat menuju ruangannya dengan handphone menempel di telinga.


"Cepat! Cepat ke kantorku sekarang!" kata Satya di dalam telepon.


"Huuuu!!"


Satya membuang napas keras. sembari mencengkeram kepalanya dan duduk di sofa ruang kerjanya.


Hingga beberapa menit kemudian.


"Ada apa?"


Seorang laki-laki bernama Dirga masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu! Kamu harus memecahkan masalahku!" kata Satya pada laki-laki itu.


Terlihat kemudian Satya menceritakan masalah yang saat ini sedang dia alami.


Dan terlihat juga Dirga memberi saran apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi masalahnya ini.

__ADS_1


"Aku yakin kalau aku tidak melakukan apa pun dengan Clarissa," kata Satya kemudian. "Ya Tuhan! Aku benar-benar lupa apa yang sudah aku lakukan tadi malam dengannya!"


Satya kembali mencengkeram kepalanya berusaha mengulik ingatan.


"Tenang! Semua akan baik-baik saja," sahut Dirga. "Untuk sementara ikuti saranku! Aku akan segera menyelidiki semuanya," kata laki-laki itu kemudian seraya beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruang kerja Satya.


******


Waktu terus berjalan. Satya Masih terlihat bingung dan gusar. Dia tampak tidak mengerjakan apa pun di kantornya. Hanya duduk, mondar-mandir, duduk lagi, memejamkan mata, dan mencengkeram kepalanya.


Beberapa jam kemudian terlihat handphone di saku jasnya bergetar.


Laki-laki tampan itu tampak membaca sebuah pesan yang baru saja dia terima di handphonenya.


Dia tampak tersenyum sinis seraya kemudian menyentuh layar handphonenya untuk menelepon seseorang yang mengiriminya pesan.


"Aku tunggu kamu di kantor sekarang!" kata Satya dengan tersenyum.


Selang beberapa menit kemudian seorang sekretaris Satya mengetuk pintu.


"Masuk!"


Seorang wanita mengenakan rok sepan di atas lutut masuk ke dalam ruangan itu.


"Pak! Ada tamu," kata wanita itu.


"Suruh masuk!"


"Baik Pak."


Tidak lama setelah itu seorang wanita masuk ke dalam ruangan Satya.


Ternyata wanita itu adalah Clarissa.


"Segera urus rencana pernikahan kita, atau aku akan menghancurkan hidupmu!" kata Clarissa saat masuk ke dalam ruang kerja Satya.


"Maksud kamu apa? Kamu akan menghancurkan hidupku?"


"Ya." Clarissa mengangguk. "Ada video dan foto mesum kita di dalam handphoneku ini. Aku akan menyebarkannya jika kamu sampai tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan!" ancam Clarissa.


"O, iya? Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan!" sahut Satya menantang.


"Kamu sudah siap untuk hancur?"


"Kamu saja! Bukan aku," sahut Satya.


"Aku adalah korban, dan kamu yang akan hancur sendirian," ujar Clarissa dengan tersenyum sinis.


"Kamu pikir, aku yang akan hancur? Dengar ya! Jika sampai video itu tersebar, aku pastikan, setelah itu, kamu akan mendekam di penjara!" balas Satya.


"Kamu pikir aku bodoh? Kamu yang terlalu tolol!" tambah Satya. "Di sini, bukan kamu yang jadi korban. Tapi Aku yang sudah kamu jebak. Dan aku bisa menuntut kamu balik atas kasus ini. Penggoda suami orang!" tambah Satya dengan menatap wajah Clarissa penuh kebencian.


"Lakukan saja apa yang kamu inginkan! Dan setelah itu, polisi akan datang untuk menangkapmu!"


Mata Clarissa tampak berkedip-kedip. Wajahnya juga tampak cemas. Dia menyadari apa yang dikatakan Satya bukanlah hal yang main-main. Dia juga tahu kalau Satya mampu membayar lawyer mahal dan terbaik atas kasusnya ini.


Berlahan Clarissa mundur selangkah, dan kemudian berbalik meninggalkan ruang kerja Satya, tanpa berkata apa pun.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2