
Hari itu telah berganti, kini pagi menjelang. Hilya sudah bersiap untuk meninggalkan rumah laki-laki yang telah menikahinya beberapa bulan yang lalu.
Di dalam kamar, Hilya sudah bersiap untuk membawa barang-barangnya keluar.
Tok tok tok!
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Ceklek!
Terlihat seorang gadis kecil masuk ke dalam kamar yang ditempati Hilya.
Tiba-tiba gadis kecil itu berlari ke arah Hilya yang saat itu hendak mengangkat barang-barangnya.
"Aku tidak ingin kakak pergi!" kata gadis itu dengan memeluk erat tubuh Hilya. "Oma bilang kakak sedang sakit, dan aku tidak boleh menemui kakak! Aku mematuhi perintah Oma, meski aku sangat rindu kakak," lanjut gadis kecil itu.
"Tapi saat aku dengar hari ini kakak mau pergi, aku ingin segera bertemu dengan kakak. Aku sedih! Aku tidak ingin kakak pergi!" ungkapnya. "Kakak belum pernah bermain bersamaku meski pun kakak ada di rumah ini. Kakak juga belum pernah membantuku belajar. Lalu, kenapa kakak sudah mau pergi?"
Gadis kecil itu terlihat menyeka air matanya yang mengalir di pipi.
Hilya pun seketika berlutut di hadapan gadis itu dan membatunya menyeka air matanya yang terus mengalir.
"Jangan menangis! Saat ini kakak memang harus pulang bersama orang tua kakak, karena kakak masih belum sehat," kata Hilya dengan mengusap lembut kepala gadis kecil itu.
"Jika Allah mengijinkan, suatu saat kita pasti akan bertemu kembali!" ujar Hilya dengan tersenyum manis ke arah gadis kecil itu.
Seketika gadis kecil itu menepis tangan Hilya dan membalikkan badan berlari keluar dari kamar dengan wajah kecewa.
Hilya mulai bangkit dari posisinya yang semula berlutut di lantai.
Satya yang berdiri di belakang Hilya dan menyaksikan kesedihan dua orang wanita itu mulai berkomentar.
"Aku dan Clara sama-sama tidak menginginkan kamu pergi," ucap Satya lirih.
__ADS_1
Berlahan Hilya menoleh ke arah Satya.
"Pikirkan semuanya! Aku tetap berharap kamu tidak meninggalkan rumah ini. Aku akan menjagamu. Menjaga anak kita. Dan, aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku."
Satya kembali meyakinkan Hilya. Namun Hilya hanya bergeming dan mengabaikan perkataannya.
Satya yang melihat sikap dingin Hilya hanya menghela napas panjang seraya kemudian berjalan keluar dari kamarnya mendahului wanita yang bersikukuh untuk kembali ke kampung halamannya itu.
Berlahan Satya menuruni tangga rumahnya. Dia menuju ruang keluarga, dan sudah terlihat mamanya, ibu mertuanya, dan ayah mertuanya sudah berkumpul dengan membawa koper yang siap mereka bawa untuk keluar dari rumah itu.
"Mana Hilya?" tanya Ibu Diana dengan tersenyum kepada Satya.
"Masih di atas," jawab Satya dengan memberikan senyum datar. Menunjukkan sikap, kalau dia sama sekali tidak menyukai suasana di dalam rumahnya pagi ini.
Tidak lama setelah itu, Hilya muncul di hadapan mereka semua. Hilya tampak berdiri di samping Satya.
"Hilya! Sudah siap untuk pulang?" tanya Ibu Diana dengan tersenyum. "Barang-barang kamu, biar nanti Pak Juned yang mengangkatnya ke dalam mobil," kata ibu Diana.
"Mmmm..."
"Aku.... Aku minta maaf! Aku masih ingin tinggal di sini! Aku tidak jadi ikut pulang Abah dan Ummi," ujar Hilya kemudian dengan menunduk.
Seketika senyum di bibir Satya mengembang. Dan berlahan tangan laki-laki itu mengganggap erat tangan Hilya.
"Kenapa, Nak?" tanya ummi Hilya.
"Mmm.... Aku, aku ingin menemani Mas Satya," sahut Hilya dengan tersenyum ragu.
"Wanita hamil itu memang ingin selalu ditemani oleh suaminya. Ya sudah, Ummi. Kita pulang berdua saja. Lagi pula ada Satya yang pasti akan menjaga Hilya dengan baik," sahut Haji Abdul Ghofur.
"Iya. Abah benar. Jangan khawatir, Satya pasti akan menjaga Hilya dengan baik," kata Satya.
"Jika nanti Satya libur, dan Hilya sudah sehat, Satya pasti akan ajak Hilya untuk mengunjungi Abah dan Ummi," tambah Satya.
__ADS_1
"Ehm!"
Terdengar Ibu Diana mendehem, lalu kemudian melangkah meninggalkan Satya, Hilya, dan besannya.
Satya yang melihat mamanya melangkah pergi, segera menyusul wanita paruh baya itu. Satya mengikuti langkah mamanya yang berjalan menuju ruang kerja.
Sementara Hajjah Halimah yang masih berada di ruang keluarga segera menghampiri putrinya dan memeluk wanita cantik itu.
"Mertuamu bilang, kandunganmu sangat lemah, dan tinggal di desa bersama ummi, pasti akan membuat kesehatanmu lebih baik, karena suasana di sana lebih tenang. Jadi, ikut pulang ummi ya, Nak!" bujuk Hajjah Halimah. "Ummi akan merawatmu dengan baik di sana, dan suami serta mertuamu pasti juga akan sering menjengukku nanti," tambahnya.
"Mas Satya tidak menginginkan Hilya pergi dari rumah ini, Ummi. Hilya harus menjadi istri yang berbakti kan, Ummi? Hilya tidak tenang jika pulang ke rumah tanpa restu dari suami Hilya," sahut Hilya dengan menunduk.
"Sudahlah ummi! Satya pasti akan menjaga Hilya dengan baik di sini!" sahut Haji Abdul Ghofur.
Sementara itu di ruang kerja Ibu Diana
"Kamu apakan Hilya, sampai dia bisa memutuskan untuk tetap tinggal di sini?" tanya Ibu Diana.
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Satya santai.
"Satya! Berhenti menekan Hilya melakukan apapun yang kamu inginkan! Ingat! Kesehatan bayi kamu jadi taruhannya, jika pikiran Hilya stres dan tidak tenang," ujar Ibu Diana geram.
"Mama! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengatakan kalau aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku," sahut Satya. "Dan, jika Hilya memutuskan untuk tidak pergi, mungkin karena dia mulai menyukaiku," jawab Satya dengan tersenyum nakal.
"Satya! Kamu sama sekali tidak menyukainya. Kenapa kamu harus mempermainkan perasaannya?" Ibu Diana kembali menekan suaranya.
"Hilya adalah gadis lugu dan penurut, mama yakin, dia melakukan semua ini pasti karena merasa harus jadi istri yang berbakti padamu. Dan mama tidak ingin kamu memanfaatkan keluguannya itu," lanjut ibu Diana. "Kamu tidak mencintainya, jadi tolong lepaskan dia!" tegas Ibu Diana.
"Mama! Aku mohon! Berhenti seolah-olah Mama memahami perasaanku! Satu hal yang perlu mama tahu! Aku memang tidak memahami seperti apa perasaanku pada Hilya, tapi yang aku rasakan saat ini, aku ingin selalu bersamanya, dan melindunginya." ucap Satya seraya berbalik meninggalkan mamanya.
"Dan mama, akan menyadarkan kamu, kalau wanita itu bukanlah tujuan hidupmu, yang pantas mendampingimu, dan bisa membuat kamu bahagia," sahut Ibu Dian saat Satya mulai membuka pintu ruang kerjanya.
Satya seketika menoleh ke arah Ibu Dian, menatap wanita itu dengan wajah datar, seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
Bersambung