Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
bab 34


__ADS_3

"Pada wanita hamil, penurunan kadar HB dapat beresiko pada kematian ibu hamil, dan pada kelahiran prematur, dan..."


Satya terlihat membaca sebuah artikel di laptopnya.


Dia mulai menghelan nafas dan mencengkeram kepalanya. Wajahnya tampak gelisah setelah membaca artikel tersebut.


"Bagaimana jika itu terjadi kepada Hilya?" ucapnya lirih dengan mencubit dagunya.


Laki-laki yang duduk di meja kerjanya itu, tiba-tiba mengangkat gagang telepon dan menghubungi sekertarisnya.


"Ke ruanganku sekarang!"


Tidak lama setelah itu seorang wanita cantik dengan blazer dan rok sepan di atas lutut masuk ke dalam ruang kerja Satya.


"Cika! Kamu pernah hamil kan?" tanya laki-laki itu pada sekertarisnya.


"Iya, Pak. Saya baru dua minggu ini masuk kantor setelah cuti melahirkan."


"Bagus," sahut laki-laki itu, membuat wanita yang berdiri di hadapannya mengerutkan kedua alis karena heran. "O, ya. Saat wanita hamil dua bulan, dan dia mengalami tekanan darah rendah, serta HB turun. Apa yang harus dia lakukan?"


"Periksa ke dokter, Pak. Pasti setelah itu sama dokter di kasih resep obat."


"Kamu pernah mengalami hal itu?"


"Mmm... Iya, Pak. Diusia dua sampai empat bulan, saya mengalami tekanan darah rendah dan HB turun. Suami membawa saya ke dokter, dan dokter menyarankan saya untuk beristirahat. Dan akhirnya waktu itu saya sering ijin, Pak."


"Lalu, dokter menyarankan apa lagi?"


"Menebus resep vitamin dan obat di apotek."


"Apa lagi?"


"Beli susu ibu hamil. Terus dokter menyarankan agar saya makan makanan yang bergizi. Sayur, buah-buahan, daging, dan meminta suami untuk menjaga kestabilan emosi saya, agar saya tidak mudah stres."


"Ya."


Satya terlihat mengangguk-angguk.


"Tugas kamu sekarang. Hubungi dokter kandungan kamu itu! Minta resep vitamin, obat, merek susu terbaik, untuk ibu hamil dua bulan dengan kasus tekanan darah rendah dan HB turun!"


"Maksud, Bapak?"


Sekertaris itu mengernyitkan dahinya.


"Kamu tidak faham maksud saya?"


Seketika Satya menekan nada suaranya dan melebarkan kelopak matanya.


"Faham, Pak!"


Wanita itu seketika mengangguk.

__ADS_1


"Ya, sudah. Sekarang kerjakan tugas kamu! Setelah mendapatkan resepnya, segera beli barang-barang itu, dan segera bawa ke sini!"


"Siap, Pak!"


Dengan sigap sekertaris Satya berbalik dan melangkah untuk melakukan perintah atasannya.


"Aneh? Belum menikah, sudah hamil dua bulan?" gumamnya lirih saat hendak keluar dari ruangan atasannya.


"Kamu bilang apa?" tanya Satya lantang mengagetkan wanita itu.


"Mmm... Saya tidak bilang apa-apa, Pak," sahut wanita itu dengan menoleh ke arah Satya dan tersenyum lebar.


Tidak disangka, ternyata kehamilan Hilya yang telah diketahui Satya. Mampu membuat emosi, pikiran, dan jiwa laki-laki ini menjadi kacau.


Setiap detik, setiap waktu, bayangan Hilya selalu tampak di pelupuk matanya.


Kehamilan Hilya benar-benar telah mencekam pikiran Satya. Menyandera jiwanya, hingga hatinya dipenuhi rasa khawatir, cemas, dan ketukan terhadap hal buruk yang akan menimpa Hilya dan bayinya.


Tidak terasa, jam dinding di kantor Satya sudah menunjukkan pukul 19.00. Satya terlihat cemas dan gelisah karena sekertarisnya belum juga datang.


"Maaf, Pak! Sudah menunggu lama," kata seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya. "Tadi dokter masih ada jadwal operasi 3 pasien. Jadi saya masih menunggu."


Terlihat setelah itu dia meletakkan kantor plastik warna putih di meja Satya.


"Ini obat dan vitaminnya, Pak! Pesan dokter, kalau bisa pasien harus dibawa periksa, biar resep yang dokter berikan lebih tepat dan akurat," tambah wanita itu.


"Iya, terimakasih! Kamu boleh keluar!" sahut Satya dengan meminta wanita itu keluar dari ruangannya.


Sementara itu di rumah Ibu Diana. Tampak Hilya sedang berada di dapur membantu Bibi Rum menyiapkan makan malam.


"Masak sih, Bu?"


"Iya. Apa jangan-jangan, tuan muda, suka ya sama Mbak Hilya?"


"Bibi, mungkin itu hanya perasaan bibi aja."


"Waktu Mbak Hilya pingsan. Tuan muda terlihat sangat cemas. Dia sempat membuka jilbab Mbak Hilya, mengoles minyak kayu putih ke dada, dan leher Mbak Hilya. Kemudian menggenggam tangan Mbak Hilya, sampai Mbak Hilya sadar."


"Mmm... mungkin itu karena darurat, Bik!"


Hilya mengatakannya dengan tersenyum.


"Pasti tuan muda melakukan semua itu karena rasa kemanusiaan, bukan karena suka sama saya, Bi! Bibi sendiri kan yang bilang sama saya kalau tuan muda itu baik," terang Hilya.


"Iya, ya, Mbak. Waktu itu tuan muda juga bilang, kalau yang dia lakukan karena darurat. Mungkin ini hanya perasaan bibi saja," ujar bibi dengan tersenyum. "Selama ini tuan muda sangat setia kepada Non Clarissa. Dia berpacaran sejak kuliah, dan tidak pernah ada masalah. Tuan terlihat sangat sayang pada kekasihnya itu. Jadi mana mungkin, dia suka sama Mbak Hilya."


"Hmmm!"


Hilya tersenyum mendengarkan cerita bibi.


"Ehm!!"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki mendehem.


Hilya dan bibi seketika menoleh ke arah suara tersebut.


"Tuan muda!"


Bibi terperanjat saat melihat laki-laki yang dia bicarakan berdiri di belakangnya.


"Bi! Aku belanja bnyak buah-buahan di mobil, tolong bibi keluarkan ya!"


"Baik tuan," sahut bibi sembari mengangguk dan melangkah meninggalkan tempat itu untuk melakukan perintah tuannya.


"Saya bantu ya, Bi!" kata Hilya sembari mengikuti langkah bibi.


"Tolong buatkan aku kopi!"


Tiba-tiba terdengar suara Satya meminta kopi saat Hilya melangkah melewatinya.


Bibi pun segera berbalik dan menghampiri tuannya tersebut


"Tuan, minta buatkan kopi pada bibi, atau pada Mbak Hilya?" tanya bibi kemudian.


"Bibi, tolong ambilkan belanjaan saya di mobil! Jadi, biar Hilya yang buatkan saya kopi."


"Baik, Tuan!"


Akhirnya bibi bergegas keluar dari ruangan itu untuk mengerjakan tugas dari majikannya.


Sementara Hilya yang hendak mengikuti langkah bibi mengurungkan niatnya. Dia kembali ke ruangan itu untuk membuatkan kopi putra majikannya.


Dan tiba-tiba Satya memegang kuat lengan Hilya yang berjalan melewatinya.


"Aku mau buat kopi!" kata Hilya seraya berusaha menggerakkan lengannya untuk melepas genggaman kuat Satya.


"Aku beli obat untukmu!" ujar Satya seraya melepas genggaman tangannya.


Terlihat laki-laki melangkah dan berdiri di hadapan Hilya.


"Ini vitamin dan obat anemia. Bagus untuk kesehatanmu!" tambahnya dengan menyodorkan kantong plastik warna putih yang baru saja dia keluarkan dari saku jasnya.


"Aku tidak mau," ucap Hilya.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak bisa menjamin, kalau obat itu bukanlah racun, yang sengaja kamu beli, untuk membunuh diriku!"


Hilya mengatakannya dengan nada sinis, dan matanya, tidak sedikitpun melihat ke arah Satya.


Wanita yang selalu terlihat anggun dan lembut dengan busana muslim yang dikenakannya ini, seketika membalikkan badan meninggalkan Satya.


Dan Satya masih terperangah mendengar jawaban menohok dari Hilya. Mulutnya bergeming, dan nafasnya terdengar naik turun.

__ADS_1


"Hilya!" gumamnya kemudian dengan memperhatikan langkah wanita itu sembari mengusap kepalanya.


Bersambung


__ADS_2