Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 58


__ADS_3

Sore ini, Satya sudah berada di kamar Hilya. Hilya masih juga belum terjaga dari tidurnya.


Perasaan Satya mulai cemas, karena sudah hampir dua hari Hilya belum juga terjaga.


"Dreeet!" terasa handphonenya di saku jas bergetar. Satya segera mengangkat handphone tersebut.


"Aku dan orang tua Hilya sudah berada di depan kamar," kata Dirga pada laki-laki itu.


Tidak lama setelah menutup telepon.


"Kreeek!"


Suara pintu dibuka.


"Assalamualaikum!"


Terlihat Dirga membawa seorang perempuan berbaju syar'i warna hijau dengan balutan kerudung dengan warna senada, bersama seorang laki-laki tua mengenakan baju Koko dan sarung serta kopiyah warna putih di kepalanya.


"Waalaikum salam!" jawab Satya. "Ummi, Abah! Mari masuk!"


Satya bergegas menghampiri sepasang suami istri itu, sembari mencium tangannya.


"Jangan cemas ya, Nak! Wanita hamil itu, keluar masuk rumah sakit sudah biasa! Dulu waktu ummi hamil Hilya, ummi juga sakit berhari-hari!" kata seorang wanita cantik yang kurang lebih berusia 45 tahun, mencoba memberi dukungan pada Satya.


"Mmmm, iya."


Satya mengangguk sembari tersenyum heran, dengan sikap mertuanya yang sama sekali tidak menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada putrinya.


Berlahan mata Satya menoleh ke arah Dirga. Dari senyum licik yang ditunjukkan Dirga, dia sadar kalau laki-laki itu pasti sudah mencuci otak mertuanya agar tidak menyalahkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Ibu Diana datang, dan masuk ke dalam ruang itu.


Dia tercengang ketika melihat ada orang yang tidak dia kenal di sana.


"Mama! Ini mertua Satya!" kata Satya, mengenalkan sepasang suami istri yang saat itu tengah bersamanya. "Abah, Ummi! Itu mama Satya!"


Seketika Hajjah Halimah menghampiri Ibu Diana.


"Masya Allah! Ini besan Ummi? Cantik sekali!" puji Hajjah Halimah dengan memeluk dan mencium Ibu Diana.


Ibu Diana menyambut peluk dan cium dari Hajjah Halimah, meskipun dengan rasa canggung.


Akhirnya mereka pun bertegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing.


Namun di tengah keasyikan obrolan mereka, tiba-tiba Hilya terjaga.


"Hilya!"

__ADS_1


Ibu Diana bergegas menghampiri Hilya, saat melihat Hilya membuka mata. Begitu juga dengan Abah, ummi, Satya, dan Dirga.


Hilya yang melihat begitu banyak orang di tempat itu menjadi sangat bingung. Matanya mulai memperhatikan satu persatu orang yang berdiri di samping badnya.


"Abah? Ummi?" ucapnya lirih.


"Iya, Nak!" kata Hajjah Halimah dengan menyentuh tangan putrinya.


"Abah sudah sehat?" tanya Hilya dengan menoleh ke arah ayahnya.


"Alhamdulillah! Suami kamu ini sangat perhatian sama Abah. Dia mengirim dokter ke rumah untuk merawat Abah, sampai Abah sembuh!" cerita Haji Abdul Ghofur pada putrinya dengan merangkul Satya yang berdiri di sampingnya.


"Oooh!" wajah Hilya terlihat datar.


"Istirahatlah dulu!" kata Ibu Diana dengan menyentuh kening Hilya.


"Aku ingin pulang!" kata Hilya kemudian dengan suara lirih.


"Setelah sehat, Ibu akan bawa kamu pulang!" sahut Ibu Diana.


"Aku ingin pulang bersama abah dan ummi," sahut Hilya.


"Sayang! Sekarang kamu istirahat dulu! Kita akan bicarakan itu, setelah kamu lebih sehat!" sela Satya ditengah percakapan Hilya dan Ibu Diana, seraya mendekat wanita itu dan mencium keningnya.


"Iya, suami kamu benar, kita bicara itu setelah kamu lebih sehat ya! Ummi akan jaga kamu, sampai kamu sehat!" kata Hajjah Halimah dengan menyentuh pipi putrinya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


Seisi ruangan seketika menoleh ke arah pintu.


"Selamat sore semua!" sapa dokter Melvina.


Ternyata dokter Melvina dan dokter Candra yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah, Hilya sudah sadar!" ucap dokter Melvina dengan tersenyum saat melihat Hilya sudah membuka mata.


"Mmm... Abah, ummi! Itu dokter Melvina dan dokter Candra. Mereka, sudah seperti keluarga, dan sangat menyayangi Hilya."


Seketika Satya mengenalkan dokter Melvina dan dokter Candra pada mertuanya.


"Dokter Melvi! Ini abah dan ummi Hilya!"


Setelah itu Satya mengenalkan mertuanya pada dokter Melvina.


"Ooooh! Abah, dan ummi Hilya? Masya Allah, cantik sekali ummi Hilya!"


Dokter Melvina memuji ibunda Hilya dengan menyalami dan menciumnya.

__ADS_1


"O, ya. Ini dokter Candra, putra saya!" kata dokter Melvina dengan mengenalkan putranya kepada orang tua Hilya.


"Masya Allah, ganteng sekali! Andai Hilya punya adik perempuan, kita jodohkan ya, Bah! dengan Nak dokter tampan ini!" kata Hajjah Halimah saat dokter Candra menyalaminya dengan mencium tangan.


"Mmm... Ummi bisa saja!" sahut dokter Candra dengan tersenyum. "Andai waktu bisa diputar, pasti saya akan pergi menemui Hilya terlebih dahulu, sebelum dia dinikahi oleh Satya," kata dokter Candra dengan senyum menggoda orang tua Hilya.


Sepertinya kata-kata dokter Candra itu sengaja diucapkan untuk membuat kacau perasaan Satya.


Namun Satya tampak tenang, dengan tersenyum tipis sembari menggenggam tangan Hilya dan kembali menciumnya, seolah-olah sangat mencintai istrinya tersebut.


Sementara Hilya hanya bergeming, ekspresinya datar, seolah enggan untuk berkomentar.


"O, ya. Abah dan ummi baru datang. Mereka juga belum makan, dan sepertinya mereka masih sangat lelah. Jadi akan Dirga antar untuk istirahat sebentar di hotel ya, Tante?"


Terdengar setelah itu Dirga berpamitan pada Ibu Diana untuk mengajak orang tua Hilya makan dan beristirahat.


"Iya," Ibu Diana mengangguk.


Setelah berpamitan, orang tua Hilya keluar dari ruangan itu mengikuti langkah Dirga.


Dan tidak lama kemudian dokter Candra dan dokter Melvina menyusul langkah mereka keluar dari ruangan itu.


Begitu juga dengan Ibu Diana. Wanita paruh baya itu juga berpamitan untuk pergi.


"Mama pulang dulu. Jaga Hilya baik-baik ya!" pesannya sebelum pergi, sembari menyentuh pundak Satya. dan mengusap pipi Hilya. "Hilya! Ibu pulang dulu! Cepat sembuh!" kata Ibu Diana dengan tersenyum, sembari berbalik dan meninggalkan ruangan itu.


Kini, hanya Satya yang menemani Hilya di kamar itu.


Hilya tampak membalikkan badannya, tidur membelakangi Satya. Sepertinya badannya masih sangat lemah, dia terlihat tidak memiliki energi untuk mengungkapkan apapun kepada laki-laki yang duduk di samping tempat tidurnya itu.


Tiba-tiba terdengar suara handphone di dalam tas, yang ada di atas meja berbunyi.


"Handphonemu berbunyi," kata Satya.


Terlihat laki-laki itu melangkah menghampiri meja yang ada di sudut ruangan, untuk membuka tas dan mengambil handphone.


Kemudian dia kembali mendekati bed Hilya, dan berdiri di sampingnya, seraya membacakan isi pesan yang ada di dalam telepon selulernya tersebut.


"Dokter Candra yang mengirimkan pesan," kata Satya lirih. "Hilya! Jangan pernah takut! Jika setelah sehat nanti kamu ingin mengajukan tuntutan pada Satya. Aku akan mendukungmu! Aku sudah menghubungi beberapa pengacara hebat untuk mendukung dan memenangkan kasusmu!" Satya membaca pesan yang dikirim dokter Candra itu pada Hilya.


Laki-laki itu tersenyum tipis sembari menyentuh pipi wanita yang masih terkulai lemas di bad rumah sakit.


"Aku bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak sedang berpura-pura. Istirahatlah!" kata Satya lembut seraya berbalik, melangkah menuju sofa yang ada di sebelah kiri ruangan.


Satya terlihat masih menggenggam handphone milik Hilya, dan kemudian memasukkannya ke dalam saku jasnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2