Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 64


__ADS_3

Selepas sarapan, Satya mengikuti langkah Hilya menuju kamarnya.


"Aku minta maaf, tadi aku tidak sengaja memanggil Clarissa dengan sebutan seperti itu!" Jelas Satya saat mengikuti langkah Hilya masuk ke dalam kamarnya. "Mmm... Semua terjadi begitu saja, aku spontan mengatakannya saat aku melihat selai kacang itu."


Hilya menoleh ke arah Satya sembari tersenyum tipis, seraya duduk di tepi ranjang.


"Jangan marah, ya! Aku mohon!" pinta Satya dengan berlutut dihadapan Hilya sembari menggenggam tangannya.


"Aku mengerti, bertahun-tahun kalian menjalin hubungan, bahkan setelah kita menikah pun, kamu masih menjalin hubungan dengannya. Jadi, mana mungkin kenangan tentang dia bisa kamu lupakan begitu saja," jawab Hilya.


"Jadi kamu tidak marah?"


"Hmmmh!"


Hilya kembali tersenyum.


"Kamu tidak cemburu?" tanya Satya dengan masih menggenggam tangan Hilya.


"Menurut Mas Satya?"


Hilya berbalik tanya.


"Jika kamu cemburu aku sangat bahagia, karena itu artinya kamu takut kehilangan aku," sahut Satya dengan senyum menggoda Hilya.


"Hmmmh!"


Hilya membalas dengan senyuman dingin.


"Sejujurnya! Aku takut untuk cemburu. Karena di saat aku mulai jatuh cinta dulu, kamu tiba-tiba datang untuk meninggalkanku!" kata Hilya dengan menatap Satya sendu.


Seketika Satya mencium tangan Hilya, sembari berkata, "Maafkan aku! Aku akan berusaha memperbaiki semuanya!"


"Hmmmh!" Hilya mengangguk.


Satya kembali mencium tangan Hilya, dan kemudian menyentuh lembut pipi wanita itu.


"Aku mencintaimu!" ucap Satya lirih dengan berdiri, dan mencium pipi wanita berkerudung merah jambu itu. "Aku ke kantor dulu!" pamitnya. "Doakan aku, ya! Seperti kamu mendoakan aku waktu itu!" pintanya dengan tersenyum lembut.


Hilya hanya bergeming dengan menatap Satya.


"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Satya.


"Jika kamu tidak benar-benar cinta, jangan pernah mengatakan cinta padaku!"


"Mmmmh!" Satya tersenyum. "Jangan pernah ragu, dan jangan memungkiri perasaan cinta yang ada di hatimu untukku!" kata Satya dengan menatap Hilya penuh rayu.


"Hmmmh!"


Hilya tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya.


"Bahkan kamu takut jatuh cinta padaku saat aku menatapmu?"


"Aku mau salat Dhuha, kamu ingin aku mendoakanmu, kan?" sahut Hilya kemudian seraya bangkit dari ranjang tidurnya.


Tiba-tiba Satya memeluk tubuh Hilya dari belakang.

__ADS_1


"Terima kasih sudah bertahan di sini untukku!" bisik laki-laki itu di telinga Hilya. "Aku akan selalu menjaga dirimu dan anak kita!" lanjutnya.


"Aamiin! Semoga itu bukan dusta!" jawab Hilya lirih seraya melepaskan dekapan tangan Satya.


"Maksud kamu?"


Seketika Satya menghalangi langkah Hilya.


"Sayang! Kamu masih tidak percaya?" tanya Satya dengan langkah semakin mendekat ke arah Hilya. "Sayang! Aku mau kamu layani aku pagi ini!" ucapnya kemudian lirih dengan menatap Hilya dan menyentuhkan hidung mancungnya ke wajah Hilya.


Jantung Hilya berdegup kencang, dan spontan tangan Hilya mendorong tubuh Satya.


"Mas Satya! Kata dokter kan, kehamilanku sangat lemah! Bukankan satu bulan ini aku harus istirahat total! Dan dokter menyarankan agar kita tidak melakukan hubungan, karena ditakutkan akan terjadi pendarahan lagi!" jelas Hilya.


"Mmmmh!" Satya tersenyum tipis. "Aku akan pelan-pelan!" ucapnya lirih.


"Aku takut!" sahut Hilya dengan wajah memerah, dan tangan gemetar. "Mas Satya! Jangan sekarang, ya! Tunggu aku lebih sehat, ya!" rajuk Hilya.


Seketika Satya terkekeh.


"Aku suka mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Mas Satya lagi," ujarnya. "Ingat! Berhenti memanggil aku dengan sebutan kamu, ya!"


"Hmmmh!"


Hilya membalas senyum Satya dengan mengangguk.


"Aku akan tunggu sampai kamu lebih sehat. Aku kan sudah janji akan menjagamu. Jadi, mana mungkin aku akan mencelakaimu, dan anak kita!" ujar Satya dengan menyentuh pipi Hilya. "Aku berangkat kerja dulu!" katanya kemudian dengan mencium pipi Hilya.


Terlihat Hilya tersipu saat Satya bersikap mesra dan lembut padanya.


Sesaat setelah Satya pergi, Hilya masuk ke dalam kamar mandi dan kemudian memulai melakukan ibadahnya.


Beberapa menit setelah itu, Hilya keluar dari kamarnya. Dia tampak menawarkan diri membantu para asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dari merawat tanaman yang ada di taman, hingga membantu Bibi Rum di dapur menyiapkan makan makanan.


Tidak terasa siang pun menjelang. Clara yang baru sampai di rumah, terlihat sangat bahagia saat melihat Hilya tidak lagi mengurung diri di dalam kamarnya.


Gadis kecil itu bergegas menghampiri Hilya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Clara mulai meminta kepada Hilya untuk menemaninya belajar, mengerjakan PR, dan menghabiskan waktu bersama di dalam kamar hingga sore menjelang.


"Kakak! Clara lapar. Pingin nasi goreng buatan kakak!" rajuk Clara manja.


"Boleh! Tunggu ya! Kakak buatkan," sahut Hilya.


"Clara temani kakak di dapur, ya?"


"Boleh."


Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar Clara menuju dapur.


Hilya mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.


Sementara Clara, nona muda rumah ini menemaninya dengan duduk di kursi yang ada di dapur.


"Mbak Hilya! Biar bibi ya, yang bikin nasi gorengnya? Bibi takut Mbak Hilya kecapean," kata Bibi Rum saat melihat Hilya sibuk menyiapkan bumbu masak untuk nasi goreng.

__ADS_1


"Clara maunya dimasakin Kak Hilya, bukan dimasakin bibi!" celetuk Clara.


"Iya, kakak kok yang buatin," sahut Hilya dengan menoleh ke arah Clara.


"Bi! Biar Hilya yang bikinin nasi goreng buat Clara, ya? Nggak papa kok, Hilya nggak cepek. Malah kalau Hilya diam di kamar terus, badan Hilya pegel-pegel," sahut Hilya.


"Ya, sudah! Tapi kalau capek harus segera istirahat, ya!" pinta bibi dengan lembut.


"Siap, Bibi!" jawab Hilya.


Akhirnya Hilya pun mulai memasak nasi goreng untuk Clara. Sementara bibik dan Mbak Ira mulai memotong sayuran dan menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak untuk makan malam.


"Alhamdulillah sudah selesai," kata Hilya saat nasi goreng yang dia masak untuk Clara sudah matang.


Setelah memplating nasi goreng itu di piring, Hilya segera menyodorkannya pada Clara.


"Sudah matang. Silahkan dinikmati anak cantik!" katanya dengan menghidangkan makanan itu di meja Clara.


"Terimakasih kakak!" sahut Clara dengan senyum sumringah.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak!" sahut Clara dengan mengangkat dua jempolnya.


Tiba-tiba di tengah kemesraan obrolan Hilya dan Clara.


"Hilya! Kenapa kamu ada di dapur?" tanya seorang wanita paruh baya dengan mengerutkan kedua alisnya, dan nada suara kesal.


wanita itu berdiri di lorong pintu dapur dengan seorang wanita muda berdres abu-abu.


Clara dan Hilya spontan menoleh ke arah suara itu. Dan senyum mereka yang semula mengembang seketika menghilang karena rasa takut dan cemas melihat sikap dingin nyonya besar rumah ini.


Bukan hanya itu. Bibi dan Mbak Ira, yang saat itu memotong sayuran juga tampak tegang dengan kehadiran majikannya.


"Dokter bilang, kamu harus bedrest selama satu bulan," lanjut wanita itu. "Kamu mau membahayakan bayi kamu?" tanyanya dengan suara ditekan. "Tugas di dapur, adalah tugas bibi! Kamu bukan pembantu," tambahnya.


"Sekarang, cepat istirahat! Masuk kamar!" perintahnya kemudian dengan menatap wajah Hilya kesal.


"Baik, Bu!" sahut Hilya dengan mengangguk.


Setelah mengatakan hal tersebut pada Hilya, wanita paruh baya itu bergegas membalikkan badan dan meninggalkan dapur.


Sementara Hilya segera mencuci tangannya, dan kemudian melangkah keluar dari tempat itu.


Namun saat di pintu dapur, seorang wanita berdress abu-abu yang masih berdiri di sana, menghentikan langkah Hilya.


"Mungkin, mental pembantu sudah mendarah daging di jiwa kamu ya?" kata wanita itu dengan senyum mengejek. "Jadi, mana pantas seorang pembantu bersanding dengan seorang konglomerat," cibirnya dengan senyum dan lirikan mata menghina Hilya.


"Hmmmh!"


Hilya membalasnya dengan tersenyum tenang.


"Tapi sayangnya itu hanya pemikiran kamu," sahut Hilya kemudian. "Karena kenyataannya, Tuhan telah memantaskan aku untuk bersanding dengan konglomerat tampan itu," tambah Hilya dengan tersenyum geli saat membalas lirikan wanita berdress abu-abu yang mengejeknya. "Kamu iri padaku? Kasihan!" ledek Hilya sembari berjalan cepat meninggalkan wanita cantik yang terlihat geram dengan sikap Hilya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2