Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 54


__ADS_3

Pagi telah menjelang. Seperti biasa Ibu Diana sudah duduk rapi di meja makan.


Satya yang baru turun dari lantai dua rumahnya, segera menghampiri wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Selamat pagi, Ma!" sapanya dengan mencium pipi mamanya.


Pagi ini Satya terlihat berpenampilan casual dengan celana jeans dan sweater panjang yang lengannya dia tarik ke atas hingga mendekati siku.


Laki-laki itu tampak duduk di hadapan mamanya dengan menyendok nasi dan sayuran untuk dia makan.


"Hari ini mama akan ke rumah sakit lagi! Mama harap, kamu bisa menemani mama ke sana!"


"Maaf, Ma! Pagi ini aku sudah janji pada Clara, akan mengantarnya jalan-jalan ke toko buku."


"Satya!"


Ibu Diana menatap Satya kesal.


"Mama akan tunggu!" timpal Ibu Diana.


"Setelah mengantar Clara. Satya ada janji dengan klien," sahut Satya.


"Ini hari minggu! Apa tidak ada hari lain untuk bertemu dengan klien?"


"Sudah terlanjur janji."


"Hmmmh!"


Ibu Diana membuang napas kesal.


"Kenapa kamu berubah menjadi jahat pada Clarissa? Apa salah Clarissa? Bahkan menjenguk dia saat sakit pun, kamu tidak mau."


"Ma, maafkan aku! Aku dan Clarissa sudah putus. Jika aku menemuinya, aku takut, akan semakin menyakiti perasaannya. Jadi, tolong mama mengerti! Biarkan Clarissa melupakanku, dan menerima kenyataan ini!" jelas Satya.


"Mama tidak habis pikir! Di mana perasaanmu? Kenapa kamu begitu jahat? Tega kamu memperlakukan Clarissa seperti ini?" tandas Ibu Diana.


Satya tampak mengaduk-aduk nasi dan sayur yang ada di piringnya. Dia terlihat tidak bersemangat menyantap sarapannya pagi ini.


"Di mana wanita itu? Di mana wanita yang sudah membuat kamu menjadi jahat itu? Mama ingin sekali bertemu dengan dia, dan menjambak rambutnya!" ujar ibu Diana kesal.


"Hmmmmh!"


Terdengar Satya menghela napas kuat, dan kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ke kamar Clara dulu, Ma!" pamit Satya seraya meninggalkan wanita paruh baya itu.


Sesaat kemudian Satya dan Clara sudah keluar dari kamar, mereka berjalan melewati ruang makan.


"Oma! Aku berangkat dulu!" kata Clara dengan suara centil seraya menghampiri omanya, untuk mencium tangan, dan mencium pipinya.


Ibu Diana hanya bergeming tanpa menjawab apa pun.


"Om! Oma kenapa?" tanya Clara pada Satya saat mereka berjalan keluar rumah.


"Mmm... Mungkin oma lagi sedih," sahut Satya seraya membuka pintu mobil.


"Sedih, kenapa?"

__ADS_1


"Mmm... Om tidak tahu. Biarkan saja!" kata Satya dengan mulai mengemudikan mobilnya.


"Om? Bagaimana ya, kabar Kak Hilya? Clara kangen," kata Clara saat mereka dalam perjalanan. "Padahal waktu itu, Kak Hilya bilang, kalau ada waktu, Kak Hilya mau mengunjungi Clara. Tapi kenapa sampai sekarang, Kak Hilya tidak pernah mengunjungi Clara ya, Om?"


"Mmm... Mungkin Kak Hilya belum libur, makanya belum sempat mengunjungi Clara."


"Kenapa sih, Om! Kak Hilya berhenti bekerja?"


"Mmm... Mungkin Kak Hilya dapat pekerjaan yang lebih bagus."


"Apa bekerja jadi Neny Clara tidak bagus, Om?"


"Bukan begitu. Bagaimana ya, menjelaskannya?" jawab Satya bingung. "Mmm... Begini saja! Clara berdoa pada Tuhan! Agar Om bisa segera membawa Kak Hilya pulang ke rumah."


"Memang Om mau membawa Kak Hilya kembali pulang ke rumah?"


"Hmmm!" Satya tersenyum dengan mengangguk.


"Hore!" Clara berteriak bahagia. "Janji ya, Om!" kata gadis kecil itu dengan mengangkat jari kelingkingnya.


"Ok! Janji!" sahut Satya dengan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Clara.


Tidak lama kemudian, Clara dan Satya sampai di tempat yang mereka tuju.


Kurang lebih tiga jam paman dan keponakan itu menghabiskan waktu jalan-jalan bersama.


Setelah membeli buku yang diinginkan, dan puas menghabiskan waktu bersama, akhirnya mereka berdua kembali ke rumah.


Dengan senyum sumringah dan wajah bahagia Clara dan Satya masuk ke dalam rumahnya, dengan suara canda dan cerita bahagia tentang perjalanan mereka.


Namun cerita dan canda mereka tiba-tiba terhenti, ketika melihat Ibu Diana duduk mematung di ruang keluarga dengan tangan dilipat di depan dada.


"Mama kenapa?" tanya Satya kemudian, saat Clara sudah meninggalkan mereka.


"Mama menunggu kamu. Kita akan ke rumah sakit sama-sama! Mama ingin, kamu ikut mama menjenguk Clarissa!" ujar Ibu Diana datar.


"Hmmmh!"


Satya terdengar menghela napas panjay.


"Satya ada janji dengan klien, Ma! Maafkan Satya! Satya tidak bisa menemani Mama!" sahut Satya.


Setelah mengatakan hal itu, Satya bergegas keluar dari dalam rumahnya.


Dia mulai melajukan mobilnya kembali, dan keluar dari gerbang rumah mewah itu.


Tangannya mulai mengendalikan mobil kesayangannya menuju sebuah gedung yayasan pendidikan milik Ustadz Ja'far.


"Hmmmmh!"


Terdengar dia membuang napas keras setelah sampai di halaman gedung sekolah tersebut.


Dia mulai melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Waktu menunjukkan pukul empat belas, tampak di depan aula sekolah, para staf pengajar sudah berhamburan keluar ruangan. Sepertinya kegiatan pelatihan pengembangan SDM hari ini sudah selesai.


Satya masih berada dalam mobilnya. Memperhatikan para karyawan dan staf pengajar sekolah itu satu persatu meninggalkan halaman.

__ADS_1


Laki-laki itu masih saja enggan keluar dari dalam mobilnya. Sesekali dia mengusap-usap rambutnya dan membuang napas keras.


Pikirannya masih sangat kacau. Ada beban berat di hatinya. Rasa bersalah karena sakit yang dialami Clarissa, dan rasa berdosa jika sampai Hilya tidak memaafkannya.


Namun di dalam kegusaran hatinya, tiba-tiba suara seorang laki-laki mengejutkan lamunannya.


"Ustadzah Hilya!"


Seorang laki-laki berlari kecil memanggil Hilya yang berjalan hendak meninggalkan halaman sekolah.


"Ya, Ustadz?"


Seketika Hilya menoleh ke arah suara tersebut.


"Saya punya sesuatu buat Ustadzah!" kata laki-laki itu dengan memberikan tiga buah buku bacaan kepada Hilya. "Siapa tahu buku ini bermanfaat untuk Ustadzah!"


"Terima kasih, Ustadz!" jawab Hilya dengan tersenyum renyah, sembari menerima buku-buku itu.


"O, iya Ustadzah. Tunggu sebentar! Ada sesuatu di dalam mobil saya untuk Ustadzah Hilya," kata laki-laki itu lagi, seraya berbalik dan berlari cepat masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Satya.


"Apa ini Ustadz Imran?" tanya Hilya ketika laki-laki itu menjulurkan dua buah goodie bag kepadanya.


"Hanya cemilan sehat untuk ibu hamil," jawabnya dengan tersenyum.


"Masya Allah, terimakasih Ustadz!" jawab Hilya dengan menerima hadiah itu.


Satya yang memperhatikan Hilya dan laki-laki itu dari dalam mobil tampak geram. Tangannya mulai mengepal, dan darahnya mulai mendidih. Tampak jelas di matanya berkobar api kecemburuan.


"Bisa-bisanya dia tersenyum pada laki-laki lain, dan bersikap angkuh padaku!" gumam Satya kesal.


Seketika Satya keluar dari dalam mobilnya, dan menutup pintu mobil dengan keras.


Braaaak!!!


Suara keras itu, sontak mengejutkan Hilya dan Ustadz Imran yang berdiri tidak jauh di depan mobilnya.


Hilya yang saat itu menoleh ke arah Satya seketika berpamitan kepada Ustadz Imran.


"Ustadz, maaf! Saya kembali ke asrama dulu!" katanya, seraya berbalik dan berjalan cepat.


Ustadz Imran mengangguk sembari tersenyum, dan kemudian berbalik berjalan menuju mobilnya, setelah Hilya melangkah pergi.


Satya yang melihat Hilya berjalan begitu cepat seolah sengaja menghindarinya, segera memanggil wanita itu.


"Hilya!"


Teriakan keras Satya, sontak mengagetkan Ustadz Imran yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Hilya!" seru Satya lagi seraya mengejar Hilya.


Sikap Satya yang seperti serigala hendak menerkam mangsa, membuat Ustadz Imran tidak mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Dan memutuskan untuk tidak masuk ke dalam mobilnya.


Ustadz Imran masih berdiri memperhatikan Satya yang berlari mengejar Hilya.


"Berhenti!"


Satya berlari, dan dengan kuat menarik lengan Hilya untuk menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2