Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 8


__ADS_3

Satu hari telah berlalu, Hilya masih berada di dalam ruangan berukuran 35 meter persegi itu sendirian, sebuah ruangan yang sengaja Satya kunci dari luar.


Hilya menunduk cemas, wajahnya tampak gelisah, ada rasa takut di hatinya, ketika dia harus sendirian berada dalam ruangan itu selama berjam-jam. Terbersit keinginan untuk menghubungi Satya, namun dia tidak bisa melakukannya, karena handphone miliknya pun telah disimpan oleh laki-laki itu.


"Kreek!!"


Tiba-tiba suara pintu terbuka. Hilya segera bangkit dan menoleh ke arah pintu tersebut. Berharap Satya yang datang dan mengusir rasa ketakutan yang sedang dia hadapi.


"Mas Dirga? Mana suamiku?" tanya Hilya penuh harap dengan mata menyelidik ke luar pintu.


"Suamimu sibuk, dia ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan," sahut Dirga. "O iya, ini aku bawakan makanan, suamimu berpesan kamu harus banyak makan," lanjut Dirga dengan menyerahkan makanan itu pada Hilya.


"Ini dari suamiku?" tanya Hilya saat menerima kantong plastik warna putih itu.


"Iya," Dirga mengangguk.


Dibawanya makanan itu ke dapur, dan kemudian dia tata di atas meja.


"Apa mas Dirga juga mau makan?" tanya Hilya kepada laki-laki yang masih duduk di sofa apartemennya.


"Tidak, aku sudah kenyang, kamu makan saja!" jawabnya.


Hilya pun mulai menyendoki makanan yang baru saja ditatanya di meja.


"Hilya? Aku dengar ayahmu seorang tuan tanah, dan tanahnya berhektar-hektar di kampungmu sana?"


Dirga mulai mengajukan pertanyaan kepada Hilya.


"Iya," sahut Hilya singkat.


"Suamimu adalah seorang pengusaha properti, kenapa kamu tidak menawarkan tanahmu itu untuk dikelola oleh suamimu?"


"Maksud mas Dirga?" Hilya mulai mengerutkan kedua alisnya.


"Maksudku kamu berinvestasi untuk kemajuan bisnis suamimu," sahut Dirga. "Apalagi tanah abahmu yang dekat dengan pesisir pantai itu, jika dijadikan ladang bisnis pasti keuntungannya akan bernilai milyaran rupiah."


"Mmm," Hilya tersenyum. "Kalau tidak salah dulu ada warga asing yang ingin membeli tanah abahku itu untuk dijadikan hotel, restoran, rumah karaoke, dan entah untuk dijadikan tempat hiburan apalagi. Tapi aku ingatkan abah untuk tidak menjualnya, karena aku ingin membangun lembaga pendidikan di tanah abah yang luas itu. Dan sepertinya abah setuju dengan keinginanku." terang Hilya.


"Saat ini kamu sudah menikah, dan sudah berada di sini, bagaimana caranya kamu bisa membangun pendidikan di sana?"


"Mmm... Mungkin suatu hari nanti," jawab Hilya dengan tersenyum.


"Menurutku, ada baiknya jika kamu investasikan tanah itu untuk pengembangan bisnis suamimu, ayahmu juga pasti akan setuju. Apalagi yang aku tahu tugas seorang istri adalah mendukung kemajuan karir suami? Dan aku yakin kamu pasti akan melakukan hal itu, mendukung kemajuan bisnis suamimu."


Dirga mencoba menggoyahkan pendirian Hilya dengan argumentasinya yang meyakinkan, seraya kemudian berdiri dari sofa dan berpamitan untuk pergi.

__ADS_1


Hilya mulai memikirkan kata-kata Dirga. Matanya berkedip-kedip, haruskah dia menginvestasikan tanah milik abahnya itu untuk kemajuan bisnis suaminya. Hilya mulai bertanya-tanya dalam hati, hingga kemudian waktu adzan magrib menghentikan lamunannya.


Segera Hilya mengambil air wudhu dan kemudian melaksanakan ibadah sholat, berdzikir, membaca Al Qur'an, hingga adzan isya' menjelang. Dia pun melanjutkan ibadahnya tersebut, sholat isya', sholat sunnah, dan kemudian merapikan penampilannya bersiap menunggu kedatangan suaminya.


Jam dinding di ruang apartemen itu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun laki-laki yang ditunggu Hilya belum juga datang, hingga jarum jam berganti, berputar, dan terus berputar.


Hilya mulai memandangi jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ada rasa cemas di hati Hilya, rasa khawatir, rasa takut, dan rasa kecewa.


Namun akhirnya perasaan itu menepi dengan kantuk yang menyelimuti kantung matanya. Hilya tertidur lelap di sofa dan tenggelam dalam mimpi di malam penantiannya yang tak berujung itu.


Tak terasa pagi pun menjelang, terdengar suara adzan subuh yang masuk dari sela-sela fentilasi udara ruangan itu.


Hilya terjaga, berlahan kakinya melangkah menuju jendela yang mengarah ke luar, dibukanya kelambu dan kaca jendela tersebut, ditatapnya hamparan langit subuh yang masih gelap, dan kerlap-kerlip sinar bintang, kemudian dirasakannya udara subuh yang begitu sejuk menyentuh kulit halusnya.


"Terimakasih ya Allah masih memberiku umur panjang dan bisa merasakan udara di pagi ini," ucapnya seraya berbalik dari tempat itu menuju kamar mandi.


Hilya kembali melaksanakan ibadah, dia menunaikan sholat sunnah, sholat subuh, mengaji, dan berdzikir hingga matahari terbit.


Hilya mulai bangkit dari tempat duduknya. Dia buka mukenah, dan meletakkan Al Qur'annya. Setelah itu kakinya mulai melangkah ke dapur, dia menghangatkan makanan-makanan yang ada di kulkas, dengan berfikir kalau-kalau suaminya akan datang untuk sarapan pagi dengannya.


Setelah menata makanan itu di meja, Hilya bergegas membersihkan dirinya, dia berusaha berdandan semenarik mungkin, dengan harapan suaminya akan senang jika bertemu dengannya nanti.


Dan tiba-tiba.


Hilya yang saat itu berada di depan kaca, bergegas menghampiri suara tersebut.


Terlihat seorang pria menatapnya dengan tajam. Dan disaat yang bersamaan tampak bibir Hilya tersenyum sumringah.


"Assalamualaikum mas!" sapa Hilya sembari menghampiri pria tersebut dan mencium tangannya.


"Mmm..."


Pria berjas abu-abu muda itu hanya tersenyum tanpa membalas salam Hilya.


"O iya, aku bawakan sarapan untuk kamu," kata pria itu datar.


"Mas Satya tidak ikut sarapan denganku?" tanya Hilya saat laki-laki itu berbalik hendak meninggalkannya.


"Mmm... Ayo!" sahutnya seraya menoleh ke arah Hilya, dan mengajak gadis itu menuju meja makan.


"Mas Satya mau minum teh, kopi, atau susu?" tanya Hilya ramah.


"Tidak, aku minum air putih saja," jawabnya masih dengan suara datar, sembari membuka tutup botol air mineral yang sudah tersedia di meja makannya.


"Hmm..." Hilya tersenyum seraya menarik kursi untuk duduk di meja makan.

__ADS_1


"Ayo makan!" kata Satya pada wanita yang duduk di hadapannya itu, saat melihatnya hanya terdiam membisu.


"Iya," sahut Hilya seraya membuka kantong plastik berisi kotak makanan yang dibawa Satya. "Mas Satya mau makan yang mana?" tanyanya kemudian dengan menawarkan beberapa makanan yang ada di meja.


"Aku sudah makan, aku minum saja," sahut laki-laki berpenampilan maskulin ini.


"Iya," ucap Hilya lirih sembari mengangguk, dan mulai menyendok makanan di hadapannya.


Disela-sela menyantap makanan, Hilya mulai membuka pembicaraan dengan Satya. Gadis cantik berkerudung coklat muda ini sepertinya selalu ingin memecahkan suasana disaat melihat sikap kaku dan dingin suaminya.


"Mas Satya, tadi malam Mas Dirga kesini, dia membawa makanan," kata Hilya.


"Iya, aku yang suruh."


"Terimakasih ya mas!"


"Mmm..." jawab Satya dengan tersenyum kecil.


"Mas, tadi malam mas Dirga juga memberi aku saran, agar aku mau menginvestasikan tanah abah yang ada di dekat pantai itu, untuk pengembangan bisnis Mas Satya."


"Terus?" tanya Satya penasaran.


Satya terlihat sangat tertarik mendengar ungkapan Hilya.


"Mmm... Aku punya mimpi untuk membangun lembaga pendidikan di tanah tersebut, mengembangkannya hingga menjadi pesantren, memberikan pendidikan gratis untuk anak yatim, dan anak kurang mampu yang ada di sana. Karena aku lihat di daerahku sana jauh dari lembaga pendidikan mas," terang Hilya. "Mungkin mas Satya tertarik untuk membangun bisnis di tanah abah yang lain, aku bisa bilang Abah untuk menginvestasikannya?" tanya Hilya kemudian dengan tersenyum.


"Aku tidak mau. Aku hany ingin tanah yang letaknya ada di dekat pantai itu."


"Kenapa?"


"Karena bisnisku cocok di tempat itu."


"Tapi aku ingin membangun lembaga pendidikan di sana."


"Kenapa?"


"Karena banyak orang asing yang ingin memiliki tanah itu, dan akan dijadikan tempat hiburan malam," sahut Hilya. " Dan aku tidak rela," tambahnya dengan tersenyum manis ke arah Satya.


"Jika disitu dibangun tempat hiburan, maka akan banyak wisatawan yang datang, itu bisa menambah income untuk daerah kamu. Keren kan? Kamu turut membangun daerah kamu untuk jadi lebih maju."


"Jika dengan dibangun tempat hiburan, adab dan budaya akan tercemar untuk apa? Itu bisa menjadi petaka untuk masa depan bangsa," jawab Hilya. "Berbeda halnya jika aku bangun lembaga pendidikan di sana, akan banyak orang yang datang untuk menuntut ilmu, akan banyak orang asing juga yang akan pergi ke sana untuk belajar, jika sekolah itu telah berkembang," lanjutnya.


"Hmm!!!" Satya mulai membuang nafas. "Okey aku ke kantor dulu," pamitnya kemudian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2