Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 55


__ADS_3

"Lepas!"


Hilya berusaha menggerakkan tangannya untuk melepaskan cengkraman kuat tangan Satya.


"Aku sudah cukup bersabar dengan sikap angkuh, kamu! Dan sekarang aku tidak akan melepaskanmu!" kata Satya kesal.


"Kamu mau apa?" tanya Hilya dengan membalikkan badan, dan mendongakkan wajahnya melihat ke arah Satya.


"Sudah cukup kamu menyiksa aku seperti ini!" tegas Satya. "Berhenti menolak diriku! Berhenti bersikap angkuh padaku! Berhenti mengacuhkanku! Sekarang juga ikut aku!" kata Satya dengan menarik lengan Hilya.


"Aku tidak mau! Lepas!" pekik Hilya dengan berusaha melepaskan tangan kuat Satya yang menarik lengannya hingga terasa sakit.


Dengan mengerahkan semua tenaganya, akhirnya Hilya dapat melepaskan cengkraman tangan kuat Satya itu. Dan, Satya kembali menarik tangan Hilya yang hendak berlari meninggalkannya.


"Mau kemana kamu? Aku tidak akan melepaskanmu!"


Satya terlihat geram.


"Dengar ya Hilya! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikapmu. Kamu bisa bersikap ramah pada laki-laki lain, kamu bisa tersenyum pada laki-laki lain, kamu bisa menerima barang pemberian laki-laki lain! Tapi, Kenapa? Kenapa dengan barang-barang yang aku berikan, kamu tidak pernah mau menerimanya? Kenapa kamu selalu menolaknya?" tanya Satya dengan berteriak.


"Sekarang juga, buang barang-barang itu! Barang-barang tidak berguna."


Dengan kasar Satya merampas goodie bag dari tangan Hilya dan membuangnya.


Hilya yang melihat sikap kasar Satya seketika menyentuh bibirnya.


"Ayo sekarang ikut aku!" kata Satya lagi dengan menyeret lengan Hilya.


"Tolong! Jangan kasar pada wanita!" tiba-tiba Ustadz Imran datang. Tangannya menyentuh tangan Satya dan tangan Hilya, untuk dia lerai.


"Jangan, sentuh, tangan, istriku!" teriak Satya lantang dengan menatap tajam wajah Ustadz Imran.


"Istri?"


Seketika Ustadz Imran melepaskan tangannya.


"Ustadzah Hilya?" Ustadz Imran menoleh ke arah Hilya penuh tanda tanya.


Hilya hanya bergeming, dan terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawab? Katakan pada laki-laki itu! Katakan, kalau aku adalah suamimu! Aku adalah suamimu!" teriak Satya dengan mata memerah, dan wajah diselimuti amarah.


"Dengar ya, Ustadz! Berhenti mengganggu istriku! Berhenti menggoda istriku! Berhenti memberikan barang-barang kepada istriku! Kamu pikir aku orang miskin yang tidak bisa membelikan barang-barang seperti ini untuk istriku?" kata Satya geregetan, dengan menendang barang-barang Ustadz Imran yang telah Satya buang dan tercecer di halaman.


"Dan kamu Hilya! Berhenti tersenyum di depan laki-laki yang bukan suamimu! Ingat! Kamu adalah istriku! Kamu istriku!" teriak Satya dengan menunjuk muka Hilya.


Dengan mengerahkan semua tenaga Hilya melepaskan cengkraman tangan kuat Satya, dan menampar wajah laki-laki itu keras.


Plak!!!


"Cukup!" teriak Hilya dengan mata memerah. "Cukup sudah kamu menyakiti aku seperti ini! Cukup sudah kamu merendahkan aku seperti ini!" kata Hilya dengan air mata yang mulai berlinang.


"Aku tersenyum di depan laki-laki yang bukan suamiku? Iya. Tapi aku bukan tersenyum untuk menggodanya."


Hilya berkata dengan tegas.


"Dengar ya, Pak Direktur! Tuan muda! Orang kaya! Berhenti menganggap aku wanita bodoh!" teriak Hilya lagi. "Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu berteriak kalau aku adalah istrimu? Kenapa, kenapa baru sekarang kamu mengatakan kepada orang lain kalau kamu adalah suamiku? Kenapa? Kenapa kamu berani mengatakannya ketika hanya ada aku, dan Ustadz Imran di sini? Kenapa?"


Hilya menunjuk muka Satya dengan berteriak.

__ADS_1


"Apa pernah, kamu mengakui aku sebagai istrimu di depan semua orang? Apa pernah kamu mengakui aku sebagai istrimu di depan orang tuamu? Di depan temanmu? Apa pernah?" teriak Hilya. "Dan apa kamu sanggup, mengatakan semua itu di depan mereka semua?"


Suara Hilya masih terdengar lantang.


"Berhenti menganggap aku sebagai wanita bodoh dan lugu! Yang akan terlena, dengan iming-iming rujuk darimu. Dengan satu kotak sarapan. Dan buket buah-buahan."


Hilya mengatakannya dengan kesal.


"Kamu pikir aku wanita tolol! Dungu! Yang akan luluh dengan sikap baikmu yang hanya pura-pura saja? Pura-pura ingin rujuk tapi memeluk dan mencium wanita lain di depan mataku. Pura-pura memberiku hadiah, tapi mengatakan kepada semua orang kalau hadiah itu dari ibumu?" tambah Hilya.


"Kamu pikir, aku terima, kamu memperlakukan aku seperti itu? Kamu memperlakukan aku, seperti wanita simpanan, memperhatikan aku ketika tidak ada orang, dan berpura-pura tidak mengenalku ketika semua orang memandang."


Hilya mengatakannya dengan geram.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?" tanya Hilya dengan mendorong tubuh Satya.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau kamu memperlakukan aku seperti ini!" teriak Hilya dengan menangis, dan nafas terengah-engah, sembari mengusap dadanya.


"Tolong! Tolong lepaskan aku! Tolong pergi jauh dariku! Tolong jangan siksa aku seperti ini! Jangan siksa aku seperti ini!" kata Hilya dengan masih berteriak dan tangis yang semakin menjadi-jadi. "Tolong! Jangan siksa aku! Aku lelah! Aku lelah kamu perlakukan aku seperti ini! Aku lelah!!"


Hilya mulai menurunkan nada suaranya dan terlihat napasnya semakin terengah-engah.


"Hilya!" panggil Satya lirih ketika melihat wanita itu mulai mencengkeram kuat perutnya.


"Hilya!" panggil Satya lagi ketika melihat Hilya mulai kehilangan tenaga.


Seketika Satya menopang tubuh Hilya yang mulai terkulai lemas.


"Ustadzah Hilya!" tiba-tiba terdengar suara Ustadzah Naila yang datang dari arah koridor sekolah. "Darah!" kata Ustadzah Naila saat melihat darah segar mengalir di kaki Hilya. "Ustadzah Hilya pendarahan?"


"Hilya!"


"Hilya!"


Satya mulai panik, dan segera menggendong wanita hamil empat bulan, yang sudah berada dalam pelukannya dalam keadaan tidak sadar.


Satya tampak bingung, dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Ustadz! Tolong! Mobil! Mobil!" kata Satya dengan melihat ke arah Ustadz Imran.


"Iya, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit!" ajak Ustadzah Naila kemudian.


Tampak setelah itu Satya menggendong Hilya dengan berlari menuju mobilnya.


"Naik mobil saya saja!" kata Ustadz Imran dengan berlari ke arah mobilnya, dan segera menghidupkan mesin mobilnya itu. "Ayo cepat naik!"


Ustadzah Naila segera membuka pintu mobil bagian belakang untuk Satya. Dan Satya bergegas masuk ke dalam mobil dengan menggendong Hilya yang semakin terkulai lemas.


Lalu kemudian Ustadzah Naila berlari membuka pintu mobil bagian depan, dia duduk menemani Ustadz Imran yang sedang menyetir mobil.


"Ayo cepat Ustadz! Ayo cepat!" kata Satya dengan suara gemetar.


Tampak Satya memandangi wajah Hilya dengan perasaan bersalah.


"Bertahan ya, Hilya! Bertahan! Maafkan aku!" kata Satya dengan mendekap tubuh Hilya dan menciumi keningnya.


Terlihat air mata Satya mulai jatuh di pipi.


"Ayo cepat Ustadz! Cepat!" kata Satya lagi dengan wajah panik.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil itu pun sampai di rumah sakit.


Satya bergegas keluar dari dalam mobil dengan menggendong Hilya, dan berlari cepat masuk ke dalam rumah sakit.


"Dokter! Dokter! Dokter! Tolong!" teriak Satya saat masuk ke dalam rumah sakit itu.


Tampak di sebuah kamar rumah sakit yang tidak jauh dari pintu masuk seorang wanita mengernyitkan dahi ketika mendengar suara lantang Satya.


"Seperti suara Satya?" gumam wanita paruh baya itu.


Berlahan wanita itu keluar dari dalam kamar seorang pasien perempuan yang sedang dia kunjungi.


"Satya!" sebutnya lirih saat keluar dari ruangan itu.


Dia tampak memperhatikan putranya yang tengah berlari dengan menggendong seorang wanita yang bersimbah darah ke ruang UGD.


Berlahan kakinya mengikuti putranya yang tampak panik itu.


Setelah sampai di depan ruang UGD, wanita yang tidak lain adalah Ibu Diana itu mulai mendekati putranya.


Putranya tampak kebingungan, dengan langkah mondar-mandir saat menunggu pasien, yang baru saja dibawa masuk oleh dokter dan perawat ke dalam ruangan.


Tangannya yang masih bersimbah darah, seolah tidak dia perdulikan, karena rasa cemasnya yang begitu dalam.


Dan ketika badannya berbalik, dia melihat Ibu Diana berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanya.


"Mama!" gumam Satya lirih. "Ma! Hilya, Ma! Hilya pendarahan!" katanya dengan air mata yang masih berlinang.


"Hilya, pendarahan?"


Wajah Ibu Diana tampak heran saat melihat sikap putranya yang begitu mencemaskan keadaan Hilya.


"Iya, Ma! Hilya pendarahan hebat, Ma!"


"Lalu, kenapa? Kenapa kamu begitu cemas?" tanya Ibu Diana.


"Ma! Hilya! Hilya itu istriku, Ma! Hilya istriku!" sahut Satya, mengejutkan Ibu Diana.


Mulut Ibu Diana seketika menganga, dan jari jemarinya menutup mulutnya. Wanita itu seolah tidak percaya mendengar ungkapan putranya.


Sementara seorang wanita bernama Clarissa, yang berdiri dengan membawa selang infus di belakang Ibu Diana, tampak bersandar lemas di tembok saat mendengar kata-kata yang diuangkapan Satya.


Begitu juga dengan Ustadzah Naila yang saat itu tengah duduk di kursi tunggu pasien bersama Ustadz Imran. Dia juga spontan kaget mendengar pengakuan Satya di depan orang tuanya.


"Maksud kamu?" tanya Ibu Diana lagi dengan mengusap dadanya, meyakinkan dirinya tentang uangkapan yang baru saja dia dengar dari mulut Satya.


"Hilya istriku, Ma! Hilya istriku!" kata Satya lagi.


Plaaak!!!


Seketika tangan Ibu Diana menampar kuat pipi Satya.


"Ampun, Ma!" kata Satya kemudian dengan berlutut di kaki mamanya. "Maafkan aku, Ma!" katanya lagi dengan menyentuh kaki mamanya.


Tampak air mata ibu Diana mengalir deras.


Bagai petir di siang hari, begitulah sepertinya apa yang dialami oleh Ibu Diana saat ini. Dia mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan dari putranya. Sebuah kabar berita yang tidak pernah dia sangka-sangka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2