
Dokter Candra mulai melontarkan pertanyaan kepada mamanya, saat Hilya sudah tidak berada di meja makan.
"Mama! Apa mama tidak salah? Hilya itu masih terlihat sangat muda. Terlihat seperti gadis yang belum menikah. Apa mama yakin dia sedang hamil?"
"Mama dulu juga mengira seperti itu. Mama pikir, dia gadis yang sengaja kabur dari rumah karena hamil, dan pacarnya tidak bertanggung jawab. Ternyata dugaan mama salah. Setelah dia menceritakan semuanya pada mama. Mama percaya kalau gadis itu tidak berbohong!" ucap dokter Melvina.
Dalam percakapan mereka tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Sayang! Sepertinya ada tamu, mama lihat dulu ya!"
Dokter Melvina berlahan bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ruang tamu.
Sementara dokter Candra, tampak melangkah menuju dapur rumahnya.
"Mbok Nah! Tolong buatkan aku teh, ya!" ujar dokter Candra.
Hilya yang saat itu tengah membereskan piring kotor di dapur, menoleh ke arah laki-laki itu.
"Mbok Nah masih di kamar mandi. Apa dokter berkenan, jika saya yang membuatkan, teh?"
Hilya menawarkan diri untuk membuatkan Hilya teh.
"Mmm... Boleh, jika tidak merepotkan kamu!" sahut dokter Candra dengan tersenyum sembari melangkah mendekati Hilya.
Hilya pun bergeser menghidupkan kompor untuk merebus air.
"O, iya. Hilya? Boleh aku tahu nama panjangmu?"
"Mmm..."
Hilya tersenyum sembari mengangguk.
"Hilya El Jameela."
Hilya menyebutkan namanya lirih.
"Nama yang sangat bagus. Perhiasan yang cantik! Bagus sekali ya, arti nama kamu," kata dokter Candra sembari tersenyum dengan melirik ke arah Hilya.
Dan Hilya semakin menundukkan pandangan saat dokter Candra tersenyum lekat padanya.
"Nama dokter juga bagus. Candra! Artinya rembulan. Sebuah cahaya yang menerangi kegelapan, menebar manfaat dan kebaikan untuk semua orang," ujar Hilya tanpa melihat ke arah dokter Candra.
"Sempurna! seperti profesi dokter, yang mengemban tugas mulia untuk menolong semua orang," tambah Hilya dengar tersenyum dan menoleh sebentar ke arah dokter Candra.
"Hmmmmh! Kamu bisa saja!"
Senyum dokter Candra semakin mengembang mendengar pujian dari Hilya.
"Silahkan, Dok! Tehnya sudah jadi!" kata Hilya dengan menyodorkan teh yang sudah dia buat untuknya.
"Terima kasih!" sahut dokter Candra sembari menerima cangkir berisi teh panas itu, dan membalikkan badan meninggalkan Hilya.
Selang beberapa menit kemudian Mbok Nah masuk ke dapur, dan kembali meminta tolong pada Hilya.
"Mbak Hilya! Tolong buatkan satu cangkir teh lagi ya, ada tamu!" kata Mbok Nah. "Perut si Mbok mules lagi," ujar Mbok Nah dengan memegang perutnya sembari berjalan keluar dari dapur menuju kamar mandi.
Hilya pun bergegas menyeduh teh. Dan setelah selesai, segera mengantarkan secangkir teh itu ke ruang tamu.
Tampak di ruang tamu Dokter Melvina dan Dokter Candra sedang bercakap-cakap dengan seorang tamu laki-laki.
Mereka bertiga seketika melihat ke arah Hilya, yang saat itu tengah membawa nampan dengan secangkir teh di atasnya.
__ADS_1
Berlahan Hilya membungkuk dan menyodorkan secangkir teh itu di depan tamu tersebut.
"Terima kasih!" ucap tamu laki-laki itu, seraya terus memperhatikan Hilya, yang bersikap datar padanya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya tamu laki-laki itu pada Hilya.
"Alhamdulillah! Sehat," sahut Hilya lirih, tanpa melihat ke arahnya.
Setelah meletakkan secangkir teh, dan menjawab pertanyaan dari tamu itu, Hilya berpamitan pada dokter Melvina, dan bergegas kembali ke dapur.
****
"Tante! Satya mau numpang kamar mandi?" kata tamu laki-laki itu kemudian pada dokter Melvina.
"Iya, boleh! Sana masuk, lurus! Terus belok kanan!" jelas dokter Melvina.
Laki-laki itu mengangguk sembari tersenyum. Dan kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dokter Melvina.
Dia mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, matanya menyelidik mencari keberadaan Hilya.
Akhirnya dia pun menemukan Hilya yang saat itu tengah sendirian di dapur, membereskan piring-piring kotor yang belum selesai dia cuci.
"Hilya!" seketika laki-laki itu memegang kuat lengan Hilya.
"Lepas! Jaga sikapmu! Kamu tidak ingin, kan? semua orang tahu, tentang hubungan kita?" ucap Hilya dengan menggerakkan lengannya.
"Aku akan memberi tahu semua orang tentang hubungan kita, dan setelah itu, aku akan membawa kamu pergi dari rumah ini!"
"Omong kosong! Apa yang bisa dilakukan seorang pecundang sepertimu? Hanya bisa bersembunyi di balik nama baik, dan kehormatan, dengan menyakiti perasaan orang lain!" sahut Hilya kesal.
"Terserah! Akan aku buktikan padamu! Kalau aku, bisa mengatakan semuanya, dan membawamu pergi dari rumah ini!"
Satya masih mencengkeram kuat lengan Hilya, dengan menatap matanya.
"Aku tidak percaya padamu!" sahut Hilya dengan menatap tajam mata Satya. "Dan, aku tidak perduli dengan apa pun yang akan kamu lakukan. Aku tidak ingin rujuk denganmu! Dan aku, akan menggugat cerai setelah aku melahirkan nanti!" tegas Hilya.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin bercerai? Apa karena dokter Candra?"
Seketika Hilya mengernyitkan dahi.
"Apa? Apa yang sudah dia lakukan? Apa dia sangat baik padamu, sampai membuat kamu tertarik padanya?" tanya Satya lagi.
Plaaak!
Seketika Hilya menampar wajah Satya dengan tangan yang lengannya tidak Satya cengkeraman.
"Jaga mulut kamu! Kalau kamu pikir kebaikan seseorang yang baru aku kenal, bisa membuat aku tertarik, kamu keliru!" kata Hilya dengan mengerahkan semua tenaganya, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Satya. Dan setelah berhasil dengan kuat Hilya mendorong tubuh laki-laki itu. Lalu berlari cepat meninggalkannya.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Dokter Candra datang menghampiri Satya yang masih termangu di dapur rumahnya.
"Kamar mandi di sebelah sana!" kata dokter tampan itu mengejutkan Satya.
"Iya, aku bingung, sampai nyasar masuk dapur rumahmu!" sahut Satya dengan tersenyum, menunjukkan ekspresi wajah, seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Dan, setelah berpura-pura masuk ke dalam kamar mandi, Satya bergegas kembali ke ruang tamu menemui Dokter Melvina, dan putranya.
"O, iya. Tante! Sebenarnya aku ke sini, ingin bertemu dengan Hilya. Mmm... Clara tidak berhenti menangis sejak Hilya meninggalkannya. Jadi, aku ingin mengajak Hilya sebentar, untuk pulang ke rumah menemui Clara," kata Satya pada Dokter Melvina.
"Oooh! Begitu," sahut dokter Melvina. "Sebentar ya, tante panggil Hilya dulu!"
Dokter Melvina beranjak dari tempat duduknya, dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kelihatannya Hilya adalah gadis yang penyayang, sampai-sampai Clara tidak berhenti menangis karena ditinggal Hilya?" tanya dokter Candra kemudian pada Satya.
"Mmm... Iya," sahut Satya singkat.
"O, ya. Satya? Bagaimana kabar Clarissa?" tanya dokter Candra lagi.
"Mmm... Sehat."
"Kapan kalian menikah?"
"Mmm... Masih dalam proses perencanaan," sahut Satya. "Kamu sendiri, kapan kamu akan menikah? Aku dengar kamu pacaran dengan mantan model itu, siapa namanya?... Mmm... Laura?"
"Hmmmh! Siapa yang bilang?"
"Ayolah! Kita kan pernah satu sekolah. Jadi, wajar kalau aku tahu, kabar tentang kamu."
"Hmmmh! Begitu ya?" jawab dokter Candra. "Memangnya kita pernah satu sekolah? Bukannya dari sekolah dasar, kamu sudah ikut orang tuamu ke luar negeri?" celetuk dokter tampan itu dengan tersenyum kecil.
"Waktu masih taman kanak-kanak, mungkin?" jawab Satya dengan terkekeh.
"O, ya. Aku lupa. Ya, ya... Dulu kamu sering mencuri bekalku, kan?" sahut dokter Candra.
"O, ya?"
"Iya, kamu bilang minta, tapi tanpa ijin, aku sering menangis karena kehilangan bekalku. Karena itu orang tua kita dekat. Mamamu sering menghubungi mamaku untuk minta maaf, karena kenakalanmu."
"Berarti waktu kecil. Aku nakal, ya?"
Terlihat dua laki-laki itu terkekeh saat mengenang masa kecil mereka.
"O, ya? Bagaimana tadi tentang rencana pernikahanmu dengan Laura?" tanya Satya lagi.
"Kamu itu dapat gosip dari mana? Aku sudah putus enam bulan yang lalu dengan Laura," cerita dokter Candra.
"Pemikiran kita sering tidak sejalan. Jujur, sejak mama berhijrah, dan memakai hijab, aku juga tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan bersama mama. Dan, mungkin itu yang membuat aku dan Laura putus, kita sering berbeda pendapat, dan sering memperdebatkan hal-hal yang menurutku tidak sesuai dengan pemikiran kita masing-masing. Akhirnya kita memilih untuk sendiri-sendiri, dan menjadi teman."
Dokter Candra bercerita panjang lebar tentang hubungannya dengan mantan kekasihnya.
"Mungkin kita juga bukan jodoh. Dan mungkin ada wanita lain, yang akan tuhan jodohkan denganku. Wanita berhijab, yang cantik, dan salihah, seperti yang selama ini mama impikan untuk jadi menantunya," tambah dokter Candra dengan tersenyum tipis.
"Hmmmh! Apa kamu sudah bertemu gadis itu?" tanya Satya.
"Mmm...!"
Dokter Candra hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan Satya. Membuat hati Satya penuh tanda tanya.
"Satya! Maaf ya, Sayang! Sepertinya Hilya kurang sehat pagi ini, dia sangat lemas. Tante khawatir jika dia ikut kamu sekarang," terang Dokter Melvina pada Satya, saat kembali ke ruangan itu.
"Biar Hilya istirahat dulu, ya? Insha Allah besok, tante atau Candra yang akan mengantar Hilya menemui Clara."
"Gimana keadaan Hilya, Ma? Apa perlu Candra periksa?" sahut dokter Candra spontan.
"Nggak usah, udah mama periksa kok."
"Boleh Satya lihat Hilya di kamarnya, Tante? tanya Satya kemudian.
"Hilya baru saja tidur," jawab dokter Melvina.
"Ooh! Ya sudah, kalau begitu. Satya pamit ke kantor dulu ya, Tante!"
Dokter Melvina tersenyum, seraya mengantarkan Satya yang sudah berpamitan keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Bersambung