Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 62


__ADS_3

Kini orang tua Hilya telah meninggalkan rumah keluarga Agung Wijaya. Sementara Hilya tetap berada di rumah itu. Entah apa alasan Hilya untuk tetap berada di rumah itu, mungkinkah karena rasa cinta pada Satya, ataukah hanya sekedar mempertahankan pernikahan demi anak yang ada dalam kandungannya.


Dua hari telah berlalu. Malam ini di rumah ibu Diana, terlihat Clarissa dengan membawa koper masuk ke dalam rumah itu.


Hilya yang saat itu tidak sengaja melihat Clarissa penuh tanda tanya di lama hati, apalagi saat mendengar percakapan wanita itu dengan Ibu Diana.


"Mama! Kenapa wanita itu masih ada di sini?" tanya Clarissa yang melihat Hilya baru turun dari lantai dua kamarnya.


"Duduklah dulu! Nanti mama jelaskan," sahut Ibu Diana dengan meminta Clarissa duduk di sampingnya saat berada di meja makan.


Hilya yang saat itu hendak bergabung di meja makan bersama mereka mengurungkan niatnya. Hilya bergegas melangkah menuju dapur, dan pura-pura mengambil minuman di dalam kulkas yang ada di dapur.


Terdengar setelah itu, Ibu Diana memanggil salah satu asisten rumah tangganya, dan menyuruhnya meletakkan koper yang dibawa oleh Clarissa ke dalam kamar tamu.


Dengan perasaan ragu dan tidak tenang, Hilya kembali ke ruang makan setelah mengambil air minum dari dalam kulkas. Berlahan dia duduk di kursi makan bergabung dengan Ibu Diana, Clarissa, dan Clara.


Satya yang baru saja pulang dari kantor, dan masuk ke dalam ruangan itu, juga merasa kaget saat melihat Clarissa ada di sana.


"Assalamualaikum sayang!" sapa Satya sembari mencium pipi Hilya, dan duduk di kursi yang ada di sebelah Hilya.


"Waalaikum salam, Mas!" jawab Hilya sembari tersenyum, dan mencium tangan Satya.


"O, iya. Ma? Kenapa Clarissa ada di sini?" tanya Satya kemudian.


"Mmm... Mama dan papa Clarissa sedang ada di luar kota, jadi karena Clarissa sendirian di rumahnya, mama ajak Clarissa untuk tinggal di sini," terang Ibu Diana.


"Bukannya di rumah Clarissa banyak asisten rumah tangga yang bisa menemani Clarissa?"


"Satya? Bukankah selama ini, jika om dan Tante Erika di luar kota, Clarissa memang selalu tinggal di rumah ini. Lalu apa masalahnya?" tanya Ibu Diana.


"Mmm... Iya," sahut Satya dengan mulai menyantap makanannya, dan tidak mempertanyakan lagi tentang keberadaan Clarissa di rumahnya.


"Kak Hilya! Setelah makan, bantu Clara mengerjakan PR, ya?" ujar Clara di tengah-tengah keheningan makan malam keluarga itu.

__ADS_1


"Iya, nanti kakak bantu," jawab Hilya dengan tersenyum dan menyentuh tangan Clara.


"Clara! Kak Hilya masih belum sehat. Kak Hilya juga masih harus bnyak istirahat. Jadi, nanti kamu belajar dibantu oleh guru les kamu," sahut Ibu Diana. "Sebentar lagi guru les kamu datang. Jadi, kalau sudah selesai makan, cepat masuk kamar!" perintah Ibu Diana pada Clara dengan wajah datar.


"Hmmmh!"


Clara membuang naoas keras dengan wajah penuh kecewa saat mendengar perintah omanya.


"Tidak apa-apa kok, Bu! Saya sudah lebih sehat. Saya bisa membantu Clara untuk belajar," ucap Hilya.


"Hilya! Jangan keras kepala! Dokter bilang dalam satu bulan ini, kamu harus istirahat total! Jadi tolong, kamu patuhi perintah dokter, demi kesehatan bayi dalam kandungan kamu!" jawab Ibu Diana.


"Mmm... Iya, Bu," sahut Hilya dengan mengangguk dan menundukkan kepala.


"Hmmmh!"


Clara kembali membuang napas keras, seraya turun dari kursinya meninggalkan makanan yang masih tersisa di piring.


Gadis kecil itu melangkah cepat meninggalkan meja makan. Terlihat jelas kekecewaan di mata Clara, saat melihat sikap omanya yang selalu melarang dirinya untuk bermain dengan Hilya.


"Aku sudah selesai, aku pamit ke kamar dulu!" kata Hilya kemudian, dengan beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan meja makan.


"Aku juga sudah selesai, aku ke kamar dulu!"


Satya terdengar mengucapkan hal yang sama, dan kemudian beranjak mengikuti langkah Hilya masuk ke dalam kamar.


"Jika kamu merasa tidak nyaman berada di sini, kita bisa keluar dari rumah ini," kata Satya saat menjejeri langkah Hilya. "Sementara kita bisa tinggal di apartemen, sebelum rumah kita jadi," tambah Satya. "Aku sudah mulai merencanakan pembangunan rumah kita. Jika kamu tidak mau tinggal di apartemen, kita bisa sewa rumah untuk sementara," tawar Satya.


"Mmm... Terima kasih!" sahut Hilya seraya membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat tidur.


"Ibu hanya sendirian tinggal di rumah ini, bagaimana mungkin Mas Satya mau meninggalkan ibu sendirian di rumah ini, padahal Mas Satya adalah anak ibu satu-satunya," ujar Hilya.


"Jika Ibu mengijinkan kita pergi, aku akan ikut Mas Satya pergi. Tapi, jika ibu tidak mengijinkan kita pergi, jangan pergi! Kasihan ibu, kita berkewajiban menjaga ibu mas," ucap Hilya.

__ADS_1


"Selain itu, restu ibu adalah keberkahan keluar kita," tambah Hilya.


"Hmmm!" Satya tersenyum. "Aku tidak habis pikir, kamu bisa berpikir seperti itu. Memikirkan perasaan mama, dan merasa bertanggung jawab untuk menjaga mama," ucap Satya. "Terima kasih!" imbuh Satya dengan tersenyum bahagia sembari menyentuh pipi Hilya. "Aku mandi dulu ya!" katanya kemudian.


Beberapa menit setelah Satya masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara pintu kamar diketuk oleh seseorang.


Hilya bergegas membuka pintu kamar.


"Clarissa? Ada apa?" tanya Hilya saat melihat wanita itu berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aku mau tanya, kenapa kamu masih ada di sini?"


"Maksud kamu?"


"Satya tidak mencintai kamu. Dia menikahi kamu hanya karena sebuah missi, jadi untuk apa kamu masih berada di sini?"


"Hmmmh!" Hilya tersenyum kecut. "Terlepas dia menikahiku karena apa, yang aku tahu dia adalah suamiku, dan wajar jika aku ada di sini, di rumah suamiku."


"Tidak tahu malu! Wanita yang punya harga diri pasti akan meninggalkan laki-laki yang sudah jelas-jelas menipunya, dan sama sekali tidak mencintainya."


"Tunggu! Bukankah wanita yang tidak tahu malu itu, wanita yang datang ke rumah mantan kekasihnya padahal kekasihnya itu sudah menikahi wanita lain," sahut Hilya. "Dimana harga diri kamu? Benar-benar wanita tidak tahu malu," ucap Hilya mengimbangi ucapan ketus Clarissa.


"Kamu!" Clarissa terlihat geram. "Aku akan tunjukkan pada kamu, kalau Satya masih mencintai aku. Dan kamu akan menyesal karena sudah memutuskan untuk tidak pergi dari rumah ini!"


"O, iya. Lakukan apa pun yang kamu mau! Karena aku percaya, suamiku adalah laki-laki baik, yang akan menjaga hatinya untuk wanita yang sudah dia nikahi," sahut Hilya dengan suara tenang dan senyum percaya diri.


"Hilya! Bicara dengan siapa?" tanya Satya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Satya berlahan melangkah menghampiri Hilya dengan masih mengenakan jubah handuk di tubuhnya.


"Sayang! Kamu masih suka pakai jubah handuk pemberian aku itu?" tanya Clarissa tiba-tiba.


Satya terlihat salah tingkah saat Clarissa melontarkan pertanyaan itu di hadapan Hilya. Laki-laki itu seketika memeluk Hilya yang tersenyum datar saat meliriknya.

__ADS_1


"O, iya. Clarissa! Maaf, aku dan Hilya mau istirahat! Kamu silahkan kembali ke kamarmu!" kata Satya dengan tersenyum, sembari menutup pintu kamarnya.


Bersambung


__ADS_2