
Pukul dua puluh satu malam, Satya baru sampai di rumahnya. Laki-laki itu bergegas masuk ke dalam kamar, mengganti pakaiannya dan membersihkan diri.
Setelah itu dia tampak membuka laci, mengambil sebuah buku kecil tuntutan salat yang pernah diberikan oleh istrinya.
Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan membaca buku tersebut.
"Aaaaagh!" desahnya.
"Hmmmh!" kemudian dia membuang napas keras, dan meraih handphone yang ada di meja lampu tidurnya.
Dia menyentuh layar handphone tersebut. Terlihat gambar Hilya, wanita yang pernah dinikahinya di layar utama handphone tersebut.
Gambar wanita cantik itu, tampak tersenyum manis ke arahnya.
Satya tersebut kecil. Entah apa yang laki-laki kaya itu pikirkan, mungkin rasa rindu, karena sudah hampir satu Minggu mereka tidak bertemu.
Namun tiba-tiba senyum di bibir Satya menghilang, berganti dengan wajah kesal.
"Wanita macam apa kamu? Keluar dari rumah tanpa izin. Kamu pikir, aku akan meneleponmu? Tidak akan pernah!"
Satya tampak berbicara dengan gambar yang dilihatnya itu dengan geram.
"Awas saja ya, kalau aku sudah hafal isi buku ini, dan aku sudah bisa jadi imam salat. Kamu pasti akan menyesal!"
Satya tampak menunjuk gambar wanita di handphonenya itu dengan penuh kemarahan.
Sementara itu di sebuah rumah mewah yang ada di desa pinggiran kota kecil. Tampak seorang wanita hamil tengah berbaring di atas ranjang tidurnya.
Wanita itu juga terlihat memandangi gambar seorang laki-laki di dalam handphonenya.
"Sudah satu Minggu aku di rumah ummi, tapi kamu sama sekali tidak pernah menghubungi aku, Mas.... Apa itu artinya kamu sudah benar-benar melupakan aku? Dan akan menikah dengan Clarissa?" wanita itu tampak berbicara sendiri.
"Mungkin ini semua yang terbaik Mas. Tuhan sudah menunjukkan padaku, bahwa kamu bukanlah jodoh yang baik untukku," kata wanita itu.
"Aku tidak akan pernah lagi mengharap kamu Mas. Kamu memang bukan yang terbaik buat aku. Kamu pendosa, kamu pezina, kamu pemabuk. Dan, kamu, sama sekali bukan laki-laki yang ada di dalam doaku. Aku tidak akan pernah menyesal meski kamu meninggalkan aku dengan cara seperti ini."
__ADS_1
Terlihat wanita itu mengatakannya dengan emosi, dan air mata yang mengalir di pipi.
"Laki-laki macam apa kamu? Sama sekali tidak bisa menjadi imam dan panutan yang baik. Jangankan jadi imam salat, bahkan membaca doa-doa salat pun kamu tidak bisa, berwudhu pun kamu masih harus dibimbing. Sama sekali aku tidak menyesal, meski pun kamu meninggalkan aku, Mas!" kata wanita itu dengan menyeka air matanya.
"Nggak pantas air mataku ini menetes buat kamu, Mas! Laki-laki pemabuk! Pezina! Pecundang!" gumam wanita itu seraya memasukkan handphone yang dia pegang ke dalam laci yang ada di meja rias samping tempat tidurnya.
********
Tidak terasa, pagi pun menjelang. Satya kembali beraktivitas seperti biasa. Dan Dirga kembali ke kantor Satya, mengatur jadwal pertemuan Satya dengan wanita-wanita yang hendak dikencaninya.
Lelah rasanya yang dirasakan Dirga. Karena sudah satu bulan lebih berkencan dengan beberapa orang wanita cantik, namun satu orang pun tidak ada yang menarik perhatian Satya.
"Aku capek. Aku rasa aku tidak perlu lagi mengatur jadwal kencanku. Toh, tidak ada wanita yang menarik di matamu kan?" ujar Dirga kesal saat sudah kembali di kantor Satya.
"Tetap atur jadwal, seperti yang aku perintahkan!" sahut Satya dengan membuka jasnya dan meletakkannya di kursi.
"Kamu mau kemana?" tanya Dirga saat melihat sahabatnya tersebut mulai melipat lengan kemejanya.
"Kamu tidak dengan ada adzan Maghrib. Aku mau salat dulu," sahut Satya seraya berjalan keluar dari ruangannya.
"Kesurupan jin muslim dia," gumam Dirga dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Dua puluh menit kemudian Satya sudah kembali ke ruangannya. Dirga yang masih setia menunggu sahabatnya itu di dalam ruang kerjanya, tampak menyambut sahabatnya dengan tersenyum renyah.
"Hebat sekali kamu sudah bisa salat," celetuk Dirga.
"Hilya yang ajari," sahutnya lirih.
"Maksud kamu Hilya...."
Belum selesai Dirga berbicara, Satya langsung menyela.
"Tidak, tidak.... Aku belajar sendiri. Dia tidak pernah mengajariku apa-apa" jelas Satya dengan wajah kesal. "Awas saja dia, kalau aku sudah pintar salat, dia pasti akan menyesal," tambah Satya dengan wajah geram.
"Hmmmh!"
__ADS_1
Dirga membuang napas keras seraya membuang mukanya.
"Sudah jelas, tidak bisa melupakan Hilya. Masih saja jual mahal," gumam Dirga lirih.
"Kamu bilang apa?" tanya Satya dengan meninggikan suara.
"Tidak ada. Aku hanya mau bilang, Mr.Jhon mengundang kita malam ini. Dia bilang dia sangat ingin bertemu dengan kita," jawab Dirga.
"Kamu saja yang pergi, aku sibuk."
"Mana bisa begitu. Dia ingin bertemu dengan kita untuk bersenang-senang."
"Aku tidak bisa ikut."
"Kenapa? Dia mengajak kita minum."
"Kamu saja yang minum. Aku sudah berhenti minum."
"Ayolah kawan. Kita butuh bersenang-senang, lagi pula saat ini kamu laki-laki lajang. Nanti, jika kamu mabuk. Kamu bisa tidur di apartemenku," rayu Dirga.
"Jika Hilya tahu aku mabuk. Dia tidak akan pernah percaya lagi padaku. Dia pasti berpikir kalau aku tidak sungguh-sungguh ingin bertaubat," sahut Satya spontan.
"Hilya?" Dirga memperhatikan Satya dengan wajah heran.
"Ooooh.... Maksudku. Aku tidak perduli dengan Hilya. Aku hanya tidak ingin minum, karena itu larangan Tuhanku," jelas Satya berusaha menutupi apa yang sebenarnya ada dalam hati kecilnya.
"Okey! Kamu pasti mengerti kan? Jadi, maaf aku tidak bisa ikut!" kata Satya kemudian seraya merapikan kancing jasnya yang baru dia pakai
"Aku pulang dulu! Aku akan lanjutkan pekerjaan di rumah," kata laki-laki itu seraya menepuk lengan sahabatnya, dan keluar dari ruang kerjanya.
"Hmmmmh!"
Dirga tampak mengangkat kedua bahunya, seraya menggelengkan kepala dan mengikuti langkah Satya keluar dari ruangan kerjanya.
Bersambung
__ADS_1