Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 48


__ADS_3

Keesokan harinya. Hilya sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya yang baru. Dan terlihat Dokter Candra juga sudah bersiap untuk mengantar wanita cantik itu.


Kini Hilya mulai bekerja di sebuah lembaga pendidikan Islam milik Ustadz Ja'far, teman baik Dokter Candra.


Ada 3 jenjang pendidikan di yayasan milik Ustadz Ja'far ini. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.


Bukan hanya itu, di yayasan pendidikan ini, juga memiliki asrama yang diperuntukkan bagi siswa dan siswi Tsanawiyah dan Aliyah.


Hilya menjadi guru kelas, serta guru mata pelajaran bahasa Arab dijenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah.


Karena rajin dan gigih dalam bekerja, akhirnya Ustadz Ja'far menawarkan kepada Hilya untuk menjadi ustadzah pendamping dia asrama putri yayasan miliknya ini.


Hilya akan mendapatkan gaji tambahan dan mess untuk tempat tinggal, jika dia berkenan menjadi ustadzah pendamping di asrama perempuan yayasan ini.


Dan, tanpa berpikir panjang Hilya menerima tawaran itu.


Hilya berpikir, dengan tinggal di mess, dan menjadi guru pendamping di asrama, dia tidak akan lagi merepotkan keluarga Dokter Melvina. Dia juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan, sembari mengamalkan ilmu yang dia miliki.


Dengan berat hati akhirnya Dokter Melvina mengijinkan Hilya keluar dari rumahnya, karena Hilya bersikukuh untuk pergi.


Namun meski demikian, Dokter Melvina dan Dokter Candra tetap memperhatikan Hilya. Mengunjungi Hilya setiap saat, dan memperhatikan kesehatan Hilya.


Kini tidak terasa, sudah hampir satu bulan Hilya tinggal di mess yang ada di gedung asrama perempuan yayasan pendidikan milik Ustadz Ja'far.


Di pagi hari Hilya mengajar sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah, dan di malam hari Hilya membantu mengajar mengaji siswi yang tinggal di asrama.


Hilya terlihat sangat menikmati pekerjaannya. Mungkin karena dia bisa mengamalkan ilmu, dan bekerja sesuai dengan kemampuannya.


Dalam diam, sempat terbersit bayangan Satya di benak Hilya. Entah kenapa laki-laki itu, kini tidak pernah lagi mengunjunginya. Ya, Hilya berpikir. Mungkin kali ini Satya telah benar-benar melepaskannya. Karena setelah pertemuannya waktu itu di rumah dokter Melvina. Dia tidak pernah mencari keberadaannya lagi.


'Ya, Allah!' Sebut Hilya dalam kesendiriannya, ketika bayangan laki-laki itu tiba-tiba muncul di benaknya.


Namun, seketika Hilya menepis bayangan itu. Hilya mulai meneguhkan hati, untuk tidak pernah mengingat lagi masa lalunya yang kelam dan menyakitkan.


Hilya fokus menatap ke masa depan, dengan semangat untuk dapat hidup mandiri, dan berusaha mengumpulkan uang, agar kelak dapat membesarkan buah hatinya, yang saat ini masih berada di dalam kandungan.

__ADS_1


*****


"Assalamualaikum Ustadzah!" tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan mengejutkan Hilya.


Hilya yang saat itu tengah duduk sendirian di kelas yang sudah ditinggalkan murid-muridnya, seketika menoleh ke arah suara tersebut.


"Waalaikumus salam!" sahut Hilya.


"Melamun apa Ustadzah?" tanya wanita itu dengan tersenyum.


"Melamun pak dokter yang setiap hari mengantar bekal untuk Ustadzah? Atau, melamun Ustadz Imran yang juga perhatian sama Ustadzah?" tanya wanita itu dengan senyum menggoda Hilya.


"Ustadzah Naila ini bisa saja," sahut Hilya dengan membalas senyum seorang teman sejawat yang saat ini dekat dengannya.


"O, iya. Ustadzah? Pilih yang mana, pak dokter, atau Ustadz Imran?" tanya ustadzah Naila lagi.


"Saya belum boleh memilih siapa pun," sahut Hilya sembari tersenyum. "Sebentar lagi kelas dimulai, ustadzah tidak mau kembali ke kelas?" tanya Hilya saat melihat murid-muridnya ada beberapa yang sudah kembali ke dalam kelas.


Sesaat setelah Ustadzah Naila keluar dari kelas. Hilya kembali memulai pembelajaran. Dan beberapa menit kemudian Hilya mengakhirinya, setelah bel pulang berbunyi.


Saat ini, Hilya berjalan menuju asrama yang ada di belakang gedung sekolah, kira-kira tiga ratus meter jaraknya dari gedung Madrasah Ibtidaiyah itu.


Dan, dalam perjalanan tiba-tiba seorang laki-laki berdiri di depannya, menghentikan langkah Hilya.


"Assalamualaikum Ustadzah!" sapanya ramah.


"Waalaikumus salam!" sahut Hilya dengan tersenyum.


Ternyata Dokter Candra yang menyapa Hilya.


"Hilya, aku bawa makanan untuk kamu. Di sini ada buah-buahan juga!" kata laki-laki itu dengan menjulurkan kantong plastik warna putih yang berisi kotak makan dan buah-buahan segar.


"Kenapa dokter repot-repot. Tidak perlu mengirimi saya makanan setiap hari! Saya sudah dapat jatah makan dari asrama."


"Saya tidak repot. Karena kebetulan saja lewat," sahut dokter Candra. "O, iya. Hilya! Aku mau bicara sebentar!"

__ADS_1


Dokter Candra melangkah ke tempat duduk panjang yang ada di depan kelas gedung sekolah itu.


"Mau bicara apa, Dok?" tanya Hilya penasaran sembari mengikuti dokter Candra, dan duduk di sebelahnya.


"Aku beli sesuatu untukmu," kata laki-laki itu dengan memberikan kotak berbentuk balok yang dari tadi dia pegang.


"Apa ini?"


"Ini, handphone. Aku sudah mengisi nomor, dan kamu tinggal menggunakannya. Mama yang meminta aku untuk membelikan ini untukmu, agar mama bisa lebih mudah jika ingin menghubungi kamu."


"Ini pasti sangat mahal?"


"Jangan pikirkan harga. Ini hadiah," kata Dokter Candra dengan tersenyum.


"O, ya. Hilya! Ustadz Ja'far minta dokumen copyan ijazah akhir pendidikanmu. Aku rasa kamu bisa menghubungi orang tuamu untuk mengirimkan berkas-berkas itu lewat paket! Atau, jika kamu mau, kamu bisa mengambilnya, aku akan mengantar kamu pulang!"


Hilya menunduk dan tidak segera menjawab tawaran Dokter Candra.


Pikirannya mulai berbicara. (Jika aku pulang bersama dokter Candra, pasti ummi akan bertanya-tanya tentang pernikahanku, karena kenapa bukan laki-laki jahat itu yang mengantarku pulang. Dan jika aku mengirimkan alamat tempat tinggalku saat ini pada ummi, pasti ummi akan mencari keberadaanku, jika beliau merindukan aku. Ya Allah, aku belum siap, mengatakan semuanya pada ummi).


"Hilya!" panggil dokter Candra memecahkan lamunan Hilya.


"Iya, Dok!" sahut Hilya. "Insya Allah nanti, saya akan menghubungi orang tua saya. Terima kasih ya, Dok! Hadiahnya," kata Hilya dengan tersenyum.


"Saya permisi dulu, Dok! Terima kasih untuk semuanya!" kata Hilya sembari beranjak meninggalkan dokter Candra.


Dokter Candra terlihat memandangi langkah Hilya yang tampak terburu-buru. Terlihat jelas jika sikap Hilya seolah menghindarinya, hingga membuat pikiran dokter Candra bertanya-tanya.


'Hilya, kenapa ya, dia sangat tertutup. Dia tidak pernah memberitahukan padaku dan mama, siapa laki-laki yang sudah menghamilinya itu. Dia juga terlihat sangat cemas, ketika aku ingin mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Sebenarnya, ada apa dengan dia? Mama bilang orang tuanya sedang sakit, jadi dia tidak ingin memberitahukan kemalanganya ini kepada keluarganya. Tapi, sampai kapan dia harus menyiksa diri bersembunyi dengan keadaan yang seperti ini?' tanya dokter Candra dalam hati.


'Jika dia memang tersakiti, seharusnya dia menuntut laki-laki itu, kan? Tapi kenapa dia malah menyembunyikan identitas laki-laki itu dari aku dan mama. Dengan alasan yang sangat klise, karena tidak ingin berurusan lagi dengan laki-laki itu. Ah! Tidak masuk akal!' pikir dokter Candra.


'Atau, jangan-jangan? Sebenarnya, Hilya korban perkosaan? Ya, Tuhan!' ujar dokter Candra dalam hati dengan mengusap kepalanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Pantas, dia terlihat sangat pendiam, dan sikapnya seperti gadis yang sangat tertekan.'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2