Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 66


__ADS_3

Berlahan Hilya berbaring di tempat tidur yang seprainya telah diganti oleh Satya.


"Kamu kenapa?" tanya Satya saat membantu Hilya berbaring.


Terlihat air mata Hilya menetes.


"Sayang! Kamu menangis?"


Satya merasa cemas dengan sikap Hilya yang tiba-tiba melankolis.


"Sayang! Kamu sedang hamil, hati kamu harus tenang. Jadi kalau ada ganjalan di hatimu, atau ada sesuatu yang membuatmu kesal, marah, ceritakan semua padaku!"


Satya membelai kepala Hilya lembut penuh kasih sayang.


Berlahan Hilya membalikkan badannya membelakangi Satya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Satya lagi.


"Uweek!"


Perut Hilya kembali terasa mual.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu mau muntah lagi?"


"Aku jijik membayangkan Mas Satya dan Clarissa berhubungan suami-istri di kamar ini!" ujar Hilya dengan suara tangis yang mengeras.


"Sayang? Maksud kamu apa?"


"Mas Satya sering berhubungan suami istri dengan Clarissa sebelum menikah, kan? Di kamar ini, dan itu sering?"


Seketika Hilya membalikkan badannya melihat ke arah Satya, dan berlahan bangkit untuk duduk.


"Sayang?"


Satya dengan lembut mengusap air mata Hilya yang berjatuhan di pipi.


"Mas Satya berzina, berkali-kali, di atas tempat tidur ini, di atas sprei warna putih tadi, aku jijik membayangkannya!" Hilya berkata dengan menekan suaranya. "Uweek!" Hilya kembali merasa mual.


"Sayang?"


Satya berusaha menenangkan Hilya dengan kembali mengusap air matanya, dan kemudian membelai kepalanya yang terbalut kerudung.


"Clarissa yang mengatakan semua itu sama kamu?" tanya Satya kemudian.


Hilya hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Satya.


"Sayang! Itu hal yang biasa, hal yang wajar. Aku rasa laki-laki normal, jika sudah dewasa pasti akan melakukan hal seperti itu dengan wanita yang dia cinta."


Hilya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Maksud Mas Satya apa? Mas Satya menganggap berbuat dosa besar seperti itu adalah hal yang wajar? Astaghfirullah!"


Hilya mengusap-usap dadanya dengan napas yang tersengal.


"Mas Satya sudah berzina, itu salah, Itu dosa besar!" ucap Hilya lantang. "Dan agama kita melarang hal itu, Mas!"


"Sayang! Dengarkan aku! Iya, aku salah, aku minta maaf! Tapi itu adalah masa lalu! Sejujurnya, aku dan teman-teman menganggap hal itu adalah hal yang wajar. Aku adalah pria dewasa, aku melakukannya karena cinta, dan aku tidak pernah berniat jahat pada wanita itu, karena aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya." Terang Satya

__ADS_1


Hilya terlihat menatap wajah Satya dengan masih menggeleng-gelengkan kepalannya.


"Sayang! Percayalah! Aku bukan laki-laki nakal. Aku adalah pria setia, dan saat itu aku hanya melakukannya dengan wanita yang aku cinta saja."


Satya menatap wajah Hilya dengan menggenggam tangannya.


Hilya masih terlihat bergeming dengan meneteskan air mata.


'Ya, Allah! Aku tidak pernah meminta jodoh seorang penzina seperti dia!' ucap Hilya di dalam hati.


"Sayang?"


Satya kembali mengusap air mata Hilya.


"Sayang! Maafkan aku! Dulu aku memang mencintai Clarissa! Dan sekarang, aku sudah punya kamu. Dan kamu yang saat ini ada di dalam hatiku. Kamu dan anak kita."


Satya berkata dengan lembut, berusaha meyakinkan Hilya dengan masih menggenggam tangannya.


"Jika laki-laki itu bisa menjaga kehormatan wanita yang dia cintai, tentu tidak akan pernah ada wanita yang merasa sakit hati. Mas Satya tau? Apa yang Clarissa lakukan saat ini, karena rasa sakit hati yang begitu besar pada Mas Satya. Mas Satya sudah mengambil kehormatannya, dan kemudian mencampakkannya dengan menikahi wanita lain," ucap Hilya.


Hilya berlahan melepaskan genggaman tangan Satya.


"Seorang muslim yang baik, pasti akan menjaga kehormatan semua wanita, karena itu adalah perintah Tuhannya! Apalagi wanita yang dia cintai. Tapi kenapa Mas Satya melakukannya? Mas Satya berkali-kali merenggut kehormatan Clarissa? Kenapa Mas Satya melakukannya?"


Hilya menangis dengan memukul-mukul dada Satya.


Seketika Satya memeluk Hilya.


"Sayang! Aku adalah orang yang bodoh, yang tidak pernah belajar agama! Aku harus bagaimana? Maafkan aku! Jika kemarahanmu ini bisa menebus dosaku. Aku rela menerimanya," ujar Satya dengan lebih kuat mendekap Hilya.


Hilya terlihat mendongakkan kepalanya, dan memandangi wajah Satya.


"Aku tidak berhak menghakimi Mas Satya, Aku juga tidak berhak, tidak memaafkan Mas Satya," sahut Hilya dengan melepaskan pelukan Satya. "Jika Mas Satya ingin minta maaf. Minta maaflah pada Allah, bertaubatlah! Taubat yang sungguh-sungguh, karena dosa yang pernah Mas Satya lakukan!" kata Hilya dengan mengalihkan pandangannya dari tatapan Satya.


"Bagaimana caranya?" tanya Satya dengan menggenggam tangan Hilya. "Kamu akan mengajari aku, kan?"


Berlahan Hilya menoleh ke arah pria yang duduk disebelahnya.


"Sayang! Kenapa kamu diam? Apa untuk mengajari suamimu cara bertaubat yang benar, kamu butuh bayaran?"


"Mas Satya!"


Teriak Hilya kesal dengan mencubit perut Satya.


Satya pun tersenyum dengan mencium pipi Hilya.


Dan Hilya terlihat tersipu malu dengan sikap lembut Satya.


"Mau kemana?" tanya Satya kemudian saat melihat Hilya beranjak dari tempat tidur.


Tanpa menjawab Hilya terus berjalan menuju lemari pakaiannya, dan membuka laci yang ada dalam lemari tersebut.


"Baca ini!" kata Hilya kemudian dengan menjulurkan sebuah buku tuntunan sholat pada Satya, yang baru saja dia keluarkan dari laci.


"Apa ini?"


"Mas Satya ingin bertaubat, kan? Kita mulai dari belajar salat! Mas Satya baca buku itu, dihafalkan isinya! Nanti akan aku bantu jika Mas Satya merasa kesulitan."

__ADS_1


"Harus sekarang?"


"Mas Satya?"


Bola mata Hilya membulat.


"Iya sayang! Tapi aku kan baru pulang kerja, aku mandi dulu ya!"


Satya melebarkan senyum manisnya seraya bangkit dari tempat tidur dan menyentuh pipi Hilya.


"Setelah mandi, langsung berwudhu! Setelah itu kita mulai praktek belajar salat!"


"Sayang! Apa harus malam ini? Apa tidak bisa mulai besok?" tanya Satya menawar.


"Mas Satya! Mas Satya tidak ingat! Tadi minta ajari aku cara untuk bertaubat!"


Hilya terlihat kesal


"Apa Mas Satya mau menunda kesempatan yang Tuhan berikan untuk bertaubat?" tanya Hilya menyerangah.


"Iya, maaf! Aku hanya bercanda," sahut Satya dengan senyum menggoda Hilya, sembari membalikkan badan melangkah menuju kamar mandi.


Namun tiba-tiba Satya menghentikan langkahnya.


"Sayang!" panggil laki-laki itu dengan menoleh kearah Hilya.


"Apa?"


"Aku tidak tahu cara berwudhu!"


"Waktu itu Mas Satya pernah berwudhu, saat kita berdua salat Magrib di masjid," ujar Hilya dengan mengulik ingatan masa lalunya saat mereka berdua berada di masjid.


"Sayang! Waktu itu aku hanya cuci maka, dan cuci kaki!" ucap Satya polos.


"Haaa?"


Hilya mengernyitkan dahi.


"Maaf sayang!" kata Satya dengan mengatupkan kedua tangan. "Ajari aku ya! Temani aku mandi, lalu ajari aku berwudhu!" rayu Satya dengan mengedipkan mata menggoda Hilya.


"Mas Satya!"


Bergegas Hilya menghampiri Satya dan mencubit kuat perut Satya.


"Aduuh!" jerit Satya.


"Dokter bilang, kita tidak boleh berhubungan dulu kan, Mas?"


"Mmm... Aku tidak minta itu! Kamu cukup menggosok punggungku saja! Kemudian mengajari aku wudhu!" goda Satya dengan tersenyum nakal.


Mulut Hilya tampak menganga.


"Aku cuma bercanda!" ucap Satya dengan menepuk pipi Hilya, "Sekarang, sana ke tempat tidur, tunggu aku sambil istirahat!" pinta Satya dengan tersenyum manis.


Hilya pun tersipu sembari membalas senyum manis Satya. Dan kemudian membalikkan badan melangkah menuju tempat tidurnya.


"Sayang!" seru Satya kemudian. "Pintu kamar mandi tidak aku kunci! Jika kamu berkenan menggosok punggungku, aku tunggu!" ujar Satya dengan kembali tersebut nakal, seraya meninggalkan Hilya masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2