
Sore telah menjelang. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu telah selesai.
Setelah membereskan lembar kerja murid-muridnya, Hilya bergegas keluar dari kelas.
Dia berjalan menyusuri ruang-ruang kelas menuju kantor sekolah.
Di tengah perjalanan, Ustadzah Naila memanggilnya.
"Ustadzah! Tunggu!"
Ustadzah Naila menghampiri Hilya dan menjejeri langkahnya.
"Ustadzah, terima kasih ya! Aku nggak nyangka, pak direktur benar-benar perhatian, membawakan aku makanan dan buket buah juga," kata Ustadzah Naila.
Hilya tersenyum tipis mendengar uangkapan bahagia sahabatnya. Meski sebenarnya ada rasa bersalah di hati Hilya, karena sudah berbohong dengan mengatakan kalau buket buah dan makanan itu adalah hadiah dari Pak Direktur untuk Ustadzah Naila yang dititipkan padanya.
Ditengah keasyikan Ustadzah Naila bercerita tentang kebahagiaannya. Tiba-tiba Pak Direktur Satya berdiri di hadapan mereka berdua.
"Assalamualaikum, Ustadzah!" sapa Satya pada dua orang wanita berhijab seragam biru muda itu.
"Waalaikumus salam!" sahut keduanya.
"Pak direktur, terima kasih ya! Buket buah dan makanannya sudah saya terima!" kata Ustadzah Naila dengan tersipu malu.
Seketika Satya mengernyitkan dahi.
"Mmm... Maksudnya?" tanya laki-laki itu dengan melirik ke arah Hilya.
Hilya yang melihat wajah bingung Satya langsung tersenyum geli, sembari berpamitan meninggalkan mereka berdua.
"Aku duluan ya!"
Satya mulai gelisah saat Hilya meninggalkannya hanya berdua dengan Ustadzah Naila. Terlihat laki-laki itu mulai mengusap-usap kepalanya.
"Mmm... Aku..." Satya tampak gugup.
"Mmm... Makanan yang tadi Pak Direktur kirimkan lewat ustadzah Hilya, rasanya sangat enak. Saya suka," kata Ustadzah Naila dengan menunduk.
"Mmm... Iya, iya. Terima kasih kamu sudah suka!" jawab Satya. "O, ya! Aku... Ada urusan. Aku pergi dulu!" katanya kemudian sembari meninggalkan wanita itu.
****
Waktu terus berjalan, dan hari itu telah berganti. Kini, setiap hari Satya selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi Hilya.
Satya punya cukup alasan untuk datang ke tempat kerja Hilya. Karena dia tengah menangani proyek pembangunan gedung sekolah baru di tempat itu.
Seperti pagi ini, kedatangan Satya di sekolah itu, disambut ramah oleh pemilik yayasan.
"Terima kasih Pak Satya sudah menyempatkan waktu untuk selalu datang ke proyek ini! Saya sangat senang bisa bersilaturahmi dengan bapak setiap hari!" kata Ustadz Ja'far kepada Satya.
"Sama-sama, Ustadz. Maaf kalau setiap hari saya datang ke sini. Karena jujur, saya merasa bertanggung jawab untuk mengawasi proyek ini, hingga proyek ini selesai," sahut Satya.
__ADS_1
Terlihat dua orang laki-laki itu berbincang akrab di depan gedung sekolah yang tengah dibangun, dengan memperhatikan para pekerja.
"O, iya. Ustadz! Boleh tidak saya bertemu dengan Ustadzah Hilya?" kata Satya kemudian. "Keponakan saya yang dulu pernah diasuh oleh Ustadzah Hilya, mengalami kesulitan saat belajar. Jadi, saya ingin berkonsultasi kepada Ustadzah Hilya!"
"O, iya tentu! Apa mau saya panggilkan, biar bapak bisa ngobrol tenang di kantor!"
"Tidak usah! Biar saya ke kelasnya saja, mumpung bel masuk belum berbunyi!" jawab Satya.
"Iya, iya, silahkan!"
Setelah mendapat ijin dari Ustadz Ja'far. Satya bergegas menuju ruang kelas Hilya. Dengan sebelumnya mengambil sebuah goodie bag berisi box makanan dari dalam mobilnya.
Satya berjalan menyusuri lorong sekolah, dia melewati ruang-ruang kelas, hingga akhirnya sampai di depan kelas Hilya.
Namun seketika langkahnya terhenti, ketika seorang laki-laki berkemeja biru menghampiri Hilya yang sedang berdiri di depan pintu kelasnya.
"Assalamualaikum Ustadzah Hilya!" sapa laki-laki itu ramah.
"Waalaikumus salam!" sapa Hilya dengan tersenyum dan mengatupkan kedua tangan.
Kedua alis Satya mulai mengerut, Satya tampak penasaran pada laki-laki yang begitu akrab dengan istrinya itu.
"Siapa itu?"
Tiba-tiba suara seorang laki-laki mengejutkan Satya. Laki-laki berkemeja maroon yang tiba-tiba berdiri di sebelah kanan Satya.
"Tidak tahu," jawab Satya pada laki-laki yang terlihat juga memperhatikan Hilya. "Apa itu?" tanya Satya kemudian saat melihat dua buah kantong plastik yang dibawa oleh Laki-laki tersebut.
"Hmmmh!" terdengar Satya membuang napas keras, dengan kembali berkonsentrasi memperhatikan Hilya.
"Itu, kamu bawa apa?" tanya Dokter Candra saat melihat Satya yang juga membawa goodie bag berisi box nasi dan cemilan di dalamnya.
"Ini, dari mama, untuk Hilya," sahut Satya.
"Oooh!"
Kini, dua orang laki-laki tampan itu kembali memperhatikan Hilya yang sedang berbincang akrab dengan seorang laki-laki di depan ruang kelasnya.
Laki-laki itu tampak berbicara dalam bahasa Arab dengan Hilya.
"Kaifa Haluk?" tanya laki-laki itu
"Ana bihoir, Alhamdulillah," jawab Hilya.
"Ustadzah Hilya, tahiyya min uhtun shogirotun hiya Kamila, qolat innaha tasytakun ilaika jiddan."
Laki-laki itu berkata yang artinya, Ustadzah Hilya, ada salam dari adikku Kamila, katanya dia sangat merindukanmu.
"Waalaikumus salam, Akhbir tahiyyati ilaiha aidzon. Ana musytaqun ilaiki," jawab Hilya yang artinya, sampaikan salamku juga padanya, aku juga rindu.
"Na'am, ala fikroti sami'tu min ukhtun shogirotun. Anti tatakholla anil minhati dirosati 'ulya lianna tazawwaj?"
__ADS_1
Laki-laki itu kembali bertanya dalam bahasa Arab pada Hilya yang artinya ; O, ya. Aku dengar dari adikku kamu melepaskan beasiswa S2mu karena menikah?
"Na'am, shohih." Iya, benar sahut Hilya dalam bahasa Arab.
"Al an. Hal anti haamil?"
"Na'am."
"Aasif. Laa Uriidu an tadkhulu fii 'amalikis syahsyi, sami'tu hal zawajaki hunaaka musykilatun?"
Laki-laki itu kembali bertanya, yang artinya; Maaf bukan ingin mencampuri urusan pribadimu, aku dengar saat ini pernikahanmu sedang ada masalah?
"Na'am," jawab Hilya.
"Tahala bisshobri, idzaa kunti bihaajati ila musaa'adati awii syaiin la tataroddada fil ittisholi bii!"
Kemudian laki-laki itu berkata, sabar ya! Jika kamu butuh bantuan atau sesuatu jangan sungkan menghubungi aku.
"Na'am. Syukron katsiron Ustadz Imran!" sahut Hilya dengan tersenyum.
Satya yang kesal saat memperhatikan Hilya dan laki-laki itu segera bertanya pada Dokter Candra tentang obrolan mereka.
"Kamu mengerti mereka berbicara apa?" tanya Satya.
"Tidak," jawab dokter Candra dengan wajah kesal.
Dan setelah itu, terlihat Hilya dan laki-laki itu saling bertukar nomor telepon.
"Kurang ajar! Aku belikan Hilya handphone itu, agar aku bisa lebih mudah menghubunginya. Ini malah nomornya dibagi dengan laki-laki lain," gumam Dokter Candra kesal.
'Aku saja yang suaminya tidak tahu kalau dia sudah punya nomor telepon,' ujar Satya dalam hati, dengan melirik Dokter Candra, sembari mengusap-usap kepalanya, dan kembali memperhatikan Hilya yang tampak sudah mengucapkan salam perpisahan dengan laki-laki itu.
"Saya masuk kelas dulu ya, Ustadz!"
"Iya, silahkan!" jawab laki-laki itu dengan tersenyum manis kepada Hilya.
Tidak lama kemudian terlihat Ustadzah Naila berjalan melewati Satya dan Dokter Candra yang masih memperhatikan Hilya dan laki-laki itu.
"Ustadzah Naila!" seru Satya menghentikan langkah Ustadzah Naila.
"Pak Direktur! Ada apa?" tanya Ustadzah Naila dengan menoleh ke arah Satya dan Dokter Candra.
"O, iya? Siapa laki-laki yang berbicara dengan Ustadzah Hilya itu?" tanya Satya.
"Oooh, itu Ustadz Imran. Konsultan pendidikan di sekolah ini. Biasanya, satu minggu atau dua minggu sekali dia datang ke sekolah ini," terang Ustadzah Naila.
"Kata Ustadzah Hilya, Ustadz Imran itu, kakak kelasnya waktu belajar di pesantren dulu, dan juga kakak dari sahabatnya," jelas Ustadzah Naila.
"Oooh!!"
Terdengar Satya dan Dokter Candra memberikan reaksi yang sama saat mendengar cerita dari Ustadzah Naila.
__ADS_1
Bersambung