Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 79


__ADS_3

Pagi telah menjelang. Seperti biasa Satya kembali disibukkan dengan pekerjaannya, dan jadwal kencannya.


Terlihat handphone di mejanya bergetar. Satya bergegas mengangkat handphone tersebut sembari terus berkonsentrasi dengan laptop dan file-file yang ada di hadapannya.


"Jam satu nanti kamu ada jadwal makan siang dengan Syakila, dia model, dan seorang hijabers," terang Dirga, seorang sahabat yang menelepon Satya.


"Hari, hari aku sibuk, jadi aku tidak bisa menemanimu," tambahnya.


"Kalau begitu tunda saja pertemuannya. Jika waktumu sudah senggang, baru kita temui wanita itu," jawab Satya sembari terus mengetik sesuatu di laptopnya.


"Ce'k!" Dirga mendesis. "Ayolah teman! Aku benar-benar sibuk beberapa hari ini. Aku sudah atur jadwal pertemuanmu. Asisten dan sopirmu juga sudah aku beri tahu, jadi untuk sementara mereka semua yang akan menemanimu."


Tanpa membalas penjelasan Dirga, Satya mematikan handphonenya, dan kemudian meletakkan benda berbentuk pipih tersebut di sebelah laptopnya.


Handphone pun kembali bergetar, dan Satya terlihat mengabaikan benda tersebut.


Waktu terus berjalan, tidak terasa lima jam telah berlalu.


Ceklek!"


Seorang laki-laki membuka pintu ruang kerja Satya.


"Kamu bilang kamu sibuk?" tanya Satya saat melihat seorang laki-laki berdiri di hadapannya.


"Aku sudah membuat janji pertemuanmu dengan Syakila, tidak mungkin aku membatalkannya. Dia wanita sibuk. Saat ini, dia juga menyempatkan waktu untuk bertemu denganmu," terang Dirga.


"Lalu?"


"Sekarang juga, ayo kita pergi!"


Tanpa basa-basi Dirga berbalik dan keluar dari ruang kerja sahabatnya itu.


Satya pun bergegas mengikuti langkahnya.


*****


Mobil mewah yang dinaiki Satya mulai melaju. Seorang sopir mengemudikan mobil menuju sebuah restoran mewah yang ada di kota itu.


Terlihat seorang wanita cantik dengan balutan busana muslim modern tengah duduk di salah satu meja restoran.


Wanita itu mulai tersenyum saat Satya dan Dirga berjalan menghampirinya.


Mereka saling berjabat tangan dan menyebutkan nama satu sama lain.


"Satya...."


"Syakila...."


Setelah berkenalan mereka mulai duduk berhadap-hadapan.


"Okey, makanan sudah datang. Sekarang silahkan nikmati makan siang kalian!" kata Dirga kemudian saat beberapa orang pramusaji mengantarkan makanan yang sudah Dirga pesan untuk mereka.


Berlahan Dirga membalikkan badan dan melangkah meninggalkan mereka berdua.


Dari kejauhan Dirga mulai memperhatikan dua orang yang sedang menikmati makan siang itu.


Syakila adalah wanita yang sangat cantik dan ramah. Sesekali dia tersenyum saat berbincang dengan Satya, dan mata Satya tampak tidak berkedip saat memperhatikan wanita cantik berhijab trendy tersebut.


Terlihat jelas ketika wanita itu mulai memotong daging steak yang ada di hadapannya. Mata Satya tidak berhenti menatap, memperhatikan suap demi suap bagaimana wanita itu mulai mengunyah makanannya, hingga wanita itu tersipu dengan sikap pria tampan yang duduk dihadapannya.


Tidak terasa makan siang pun selesai. Satya mulai meninggalkan wanita yang dia kencani. Laki-laki berjas navy itu mulai masuk ke dalam mobil mewahnya.

__ADS_1


Tampak Dirga sudah duduk terlebih dahulu di dalam mobil.


"Bagaimana? Sepertinya kalian berdua sangat akrab?" tanya Dirga saat sahabatnya itu mulai duduk di sebelahnya.


"Selain model, Syakila juga seorang perancang busana. Cantik, cerdas, stylish, pasti sangat cocok denganmu," kata Dirga lagi.


"Hmmmh!"


Satya mulai membuang napas keras, dan berlahan menoleh ke arah Dirga.


"Wanita seperti apa dia, berhijab tapi makan dengan tangan kiri," ujar Satya dengan wajah tanpa berekspresi.


"Maksudmu?"


"Setelah memotong daging steak, seharusnya dia meletakkan pisaunya, dan memindahkan garpunya di tangan kanan, bukan langsung memakannya dengan tangan kiri. Apalagi dia seorang muslim," terang Satya dengan wajah kesal.


"Apa dia tidak belajar, bagaimana cara elegan seorang wanita terhormat menyantap makanan," tambah Satya.


"Ce'k!"


Dirga mendesis kesal.


"Jika dia kidal, dia bisa saja kan, makan dengan tangan kiri," bantah Dirga.


"Lagi pula, kamu juga sering melakukannya," tambah Dirga dengan wajah geregetan.


"Itu dulu, sebelum aku bertemu Hilya. Sekarang aku selalu makan dan minum dengan tangan kanak. Kamu tahu kenapa? Karena Hanya setan yang makan dengan tangan kiri," terang Satya.


"Omong kosong. Siapa yang bilang?"


Seketika Satya teringat kenangan masa lalunya saat pertama kali makan di restoran bersama Hilya.


"Hilya yang bilang. Tapi aku juga pernah baca. Jika seseorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanan, dan jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya. Hadist riwayat Muslim," terang Satya.


Dirga tersenyum kecut sembari membuang mukanya.


"Sudah seperti ustadz saja gayanya," gumam Dirga geregetan. "Jika tidak bisa melupakan Hilya, kenapa harus berpetualang," tambahnya kesal. "Dasar laki-laki tidak waras!"


"Apa kamu bilang?" tanya Satya.


Seketika Dirga menoleh ke arah laki-laki itu.


"Aku bilang! Kamu tidak waras! Dan, aku sudah lelah mengatur jadwal kencanmu!"


"Lalu?"


"Lalu temui Hilya, dan berhenti melakukan petualang aneh ini!"


"Hmmmh!"


Satya tersenyum sinis seraya mengalihkan pandangannya.


Laki-laki itu tampak merapikan dasinya.


"Atur kembali jadwal kencanku!" pintanya dengan wajah datar.


"Aku ada rapat, aku pergi dulu!" katanya kemudian saat mobil yang dia naiki telah sampai di depan lobbi kantornya.


Dirga hanya bisa memandangi sahabatnya itu dengan wajah heran bercampur kesal. Dia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya saat sahabatnya itu tanpa beban keluar dari dalam mobil.


"Dasar gila!" gumam Dirga dengan terus memperhatikan langkah sahabatnya yang mulai masuk ke dalam gedung berlantai dua puluh tujuh itu.

__ADS_1


*****


Sementara itu di sebuah desa yang ada di pinggiran kota kecil.


"Sudah dua bulan, tapi ummi lihat, suami kamu tidak pernah menghubungi kamu?" tanya Hajjah Halimah pada putrinya saat mereka berdua berada di dalam kamar.


"Kamu selalu bilang kalau hubungan kalian baik-baik saja. Tapi entah kenapa, ummi merasa, kamu tidak jujur sama ummi," tambah Hajjah Halimah.


Hilya yang saat itu berdiri di depan jendela kamarnya mulai membalikkan badan, menghampiri seorang wanita yang duduk di tepi ranjang tidurnya.


Berlahan wanita yang tengah hamil sembilan bulan itu duduk di sebelah umminya.


Dipegangnya tangan umminya dengan erat.


"Hilya masih ingin fokus dengan proses persalinan Hilya Ummi."


"Cerita sama ummi, Nak! Ada masalah apa?"


"Setelah melahirkan, Hilya akan segera ajukan gugatan cerai."


Hilya mengatakannya dengan meneteskan air mata


"Ma Sha Allah!"


Hajjah Halimah mengusap-usap dadanya.


"Ada apa sebenarnya, Nak?"


Hajjah Halimah menatap dalam wajah putrinya.


"Mungkin kita bukan jodoh Ummi."


"Tapi kalian akan segera punya anak."


"Aku bisa besarkan anakku sendiri," sahut Hilya dengan tersenyum seraya mengusap air matanya.


"Apa hubungan kalian memang sudah tidak bisa diperbaiki?"


Hilya terdiam mendengar pertanyaan umminya. Dalam hatinya mulai berkata, 'Jika dia baik, dia pasti akan datang ke rumah ini. Setidaknya, untuk menemui orang tuaku, mengembalikanku pada mereka. Lalu kemudian menceraikanku dengan cara yang baik.'


"Nak?"


Hajjah Halimah mulai mengguncang lengan putrinya.


"Mmmm...."


Hilya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hilya...."


"Hilya berharap, jangan hanya karena dia orang kaya, Ummi berat melepaskan dia sebagai menantu Ummi!" kata Hilya dengan menyeka air matanya.


"Nak?"


"Ummi!!!"


Tiba-tiba Hilya meringis kesakitan dengan mencengkeram lengan umminya.


"Hilya!!!"


Wajah Hajjah Halimah mulai panik saat melihat putrinya semakin kesakitan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2