Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 25


__ADS_3

Mobil mulai melaju dengan kencang menuju sekolah Clara. Dan dalam perjalanan Hilya mulai menyuapi gadis manja itu.


"Minum!" kata gadis itu ketus, setelah makanan yang disuapkan oleh Hilya telah habis.


Hilya pun segera membuka botol minum dan menyodorkan botol itu padanya.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di sekolah.


Pak Juned sopir Clara, bergegas membukakan pintu.


Hilya turut keluar dari dalam mobil untuk mengantarkan anak asuhnya.


"Hati-hati ya Clara, Semangat belajar!" pesan Hilya lembut sembari membantu Clara memasangkan tas di punggungnya.


"Clara!!!"


Tiba-tiba dua orang gadis kecil menyapa Clara.


"Tumben kamu nggak diantar pembantu?" tanyanya.


"Mama kamu cantik," kata salah satu teman yang lain dengan tersenyum ke arah Hilya.


Seketika Clara menoleh ke arah Hilya yang berdiri di belangnya.


"Mama aku udah mati," jawab Clara kemudian dengan suara ketus dan berjalan cepat meninggalkan kedua teman yang menghampirinya.


"Berarti dia tantemu ya?" tanya temannya masih dengan mengikuti langkah Clara.


Hilya tersenyum kecil menyaksikan sikap ketus Clara menjawab pertanyaan kedua temannya.


Ada sesuatu yang menyentuh di hati Hilya. Mungkin Hilya mulai bersimpati pada Clara, seorang anak yatim yang terlihat rindu akan kasih sayang kedua orangtuanya.


Sesaat setelah itu Hilya kembali ke dalam mobil. Pak Juned sopir Clara, mulai bercerita banyak hal tentang Clara dan keluarga Ibu Diana.


"Sejak orang tua Clara meninggal. Saya dan istri saya yang mengurus Clara," kata Pak Juned.


"Istri?"


"Iya, Bik Rum itu istri saya Mbak Hilya."


"Oooh..."


"Nyonya besar itu sibuk sekali. Sering ke luar kota, sering ke luar negri. Jadi jarang sekali menemani Non Clara. Dan itu yang membuat saya terkadang kasihan pada Non Clara. Dia itu sepertinya minder, karena semua teman-temannya di sini selalu di dampingi oleh orang tuanya ketika ada kegiatan di sekolah. Sementara Non Clara, selalu saya dan istri saya yang mendampingi."


Mendengar cerita tentang Clara dari Pak Juned. Hilya merasakan sesuatu kembali di hatinya, sepertinya simpati Hilya pada Clara semakin bertambah.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Pak Satya, apa dia tidak memperhatikan Clara?"


"Tuan muda itu juga sibuk Mbak Hilya. Sering keluar kota, kadang juga ke luar negeri. Mana sempat memperhatikan Non Clara."


"Oooh..."


"Tapi meskipun demikian, keluarga itu, keluarga baik kok Mbak Hilya. Nyonya besar sangat baik, tuan muda juga sangat baik. Sangat perhatian dan perduli pada karyawannya. Buktinya, tiga anak saya di kampung, beliau semua yang menyekolahkan sampai anak saya tamat kuliah. Bukan hanya saya Mbak Hilya. Anak-anak pembantu yang lain juga sama, mendapatkan biaya sekolah dari nyonya besar."


Hilya kembali tersenyum mendengar cerita Pak Juned. Hingga kemudian mobil yang mereka naiki telah sampai di rumah Ibu Diana.


"Loh, kok tumben, sudah siang begini tuan muda belum berangkat?" kata Pak Juned saat melihat mobil Satya masih ada di halaman rumah.


Setelah mobil itu berhenti, Hilya segera keluar dan masuk ke dalam rumah. Dan saat sampai di pintu rumah, Bibik Rum kepala pembantu di rumah ini menyambut kedatangan Hilya.


"Assalamualaikum Bik Rum!" sapa Hilya dengan tersenyum pada seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu untuknya.


"Waalaikum salam. Mbak Hilya, mbak Hilya ditunggu tuan muda di ruang kerjanya!" kata Bik Rum kemudian.


Hilya tersenyum sembari mengangguk.


"Ayo saya antar!" kata Bik Rum.


"O, ya. Bik. Ibu Diana mana?" tanya Hilya saat mengikuti langkah bibik menuju ruang kerja Satya.


"Nyonya besar sudah berangkat ke kantor."


"Oooh..."


"Masuk!"


Terdengar suara seorang laki-laki menyuruh mereka untuk masuk.


"Tuan muda, ini Mbak Hilya sudah datang," kata bibik saat membuka pintu ruangan itu. "Mbak Hilya, ayo masuk!" kata bibik kemudian pada Hilya.


Hilya pun mengangguk sembari berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bik tolong tutup pintunya dari luar!" kata laki-laki yang terlihat sedang duduk di meja kerjanya itu.


"Baik tuan."


Bik Rum pun bergegas pergi dengan menutup pintu ruangan itu.


Terlihat di dalam ruangan itu Satya menatap tajam seorang wanita berjilbab yang berdiri di depan meja kerjanya. Dan tampak juga Dirga berdiri di samping kursi yang diduduki oleh sahabatnya itu.


Hilya, wanita itu terlihat seperti kucing imut yang hendak diterkam anjing dan serigala.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya naik turun. Tubuhnya pun terlihat gemetar. Ada rasa takut dan cemas menyelimuti dirinya.


Namun Hilya mencoba menenangkan jiwanya dengan jutaan doa dalam hati. Agar dia mampu menghadapi Satya, seorang pria yang sudah menorehkan luka sangat dalam di hatinya.


Terlihat setelah itu Satya membuka koper yang ada di mejanya.


"Ini uang. Ambillah uang ini, dan kemudian pergilah dari sini!" kata Satya datar. "Kamu bilang waktu itu kamu mau pulang, kan? Jadi pulanglah, dan bawa uang ini!" kata Satya lagi.


Dengan mata berkaca-kaca Hilya mulai menyentuh koper itu, dan mendorongnya berlahan hingga terjatuh.


"Braakk!"


Koper berisi uang itu terjatuh di lantai.


"Maaf! Aku bukan pengemis. Jadi, berhentilah berfikir untuk memberi aku uang!" kata Hilya dengan mengangkat kepalanya, menatap tajam pria berjas abu-abu yang duduk di hadapannya.


Setelah mengatakan hal itu, Hilya segera berbalik untuk keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" Satya menghentikan langkah Hilya. Pria itu berdiri dan melangkah menghampiri Hilya. "Jika kamu tidak menginginkan uang itu, lalu kamu menginginkan apa? Menginginkan keluargaku hancur?" tanya Satya dengan melirik sinis wanita itu.


"Hmmmh!"


Hilya membalas senyum Satya dengan senyum kecutnya.


"Berhenti berfikir kalau orang lain jahat seperti dirimu! Dengar ya tuan muda! Sekalipun aku ada di rumah ini, aku tidak akan pernah mengusik kehidupanmu. Silahkan urus perceraian kita! Atau kamu bisa katakan pada hakim kalau istrimu ini lari dari rumah dan tidak bisa kamu temukan. Dengan begitu, hakim pasti akan langsung memberikan putusan sesuai yang kamu inginkan!" kata Hilya dengan menatap tajam laki-laki yang menghalangi langkahnya. "Satu hal lagi! Aku ke rumah ini untuk bekerja pada Ibu Diana, dan aku tidak mengenalmu, atau punya urusan denganmu. Jadi, tolong! Berhenti berbicara denganku!" ungkap Hilya dengan mata sinis, seraya menepis tubuh laki-laki yang berdiri di hadapannya, dan berjalan cepat keluar dari ruangannya.


Satya bergeming. Dia tercengang mendengar jawaban Hilya, dan suara nafasnya tampak terdengar naik turun.


"Prok! Prok! Prok!!"


Dirga mulai bertepuk tangan saat Hilya sudah keluar dari ruangan itu.


"Aku lihat Hilya adalah wanita yang memiliki pendirian kuat. Sungguh rencana Tuhan begitu susah kita tebak. Kalian bertemu di rumah ini mungkin juga atas skenarionya," ucap Dirga.


"Mmm..."


Terlihat Satya hanya menjawab ocehan Dirga dengan membuang nafas kuat.


"Aku rasa saran dari Hilya ada benarnya. Aku bisa ajukan tuntutan perceraianmu dengan mengatakan kalau istrimu lari dari rumah, hakim akan langsung berikan putusan, dan kamu akan menang di pengadilan," terang Dirga.


Satya masih bergeming dan tidak memperhatikan ucapan Dirga. Pria itu tampak merapikan kancing jasnya yang terbuka, dan tiba-tiba berjalan keluar dari ruangan itu.


Seketika Dirga pun mengikuti langkahnya.


"Bagaimana menurutmu? Jika iya, aku akan segera urus perceraian kalian!" kata Dirga dengan mengikuti langkah laki-laki angkuh itu.

__ADS_1


"Tunda dulu pengajuan cerai itu, aku masih tidak ingin menceritakan dia," sahut Satya lirih, seraya mempercepat langkahnya keluar dari rumah.


Bersambung


__ADS_2