
Clarissa duduk di sofa ruang keluarga rumah tunangannya dengan perasaan kacau.
"Ma! Apa mungkin Satya tertarik dengan pengasuh itu?" tanya Clarissa dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang!" seketika Ibu Diana merangkul calon menantunya itu. "Jangan berpikir macam-macam. Satya itu anak yang baik. Bibi saja pernah dia gendong saat jatuh, Mbak Ira juga pernah dia papah saat terpeleset di tangga. Jadi wajar, jika dia menolong Hilya, yang hampir jatuh di depan matanya. Jadi, kamu jangan berpikir macam-macam!"
Terlihat Clarissa mulai memikirkan penjelasan dari Ibu Diana. Dan berusaha menepis kecemburuannya pada Hilya yang tidak lagi beralasan.
"Sekarang, pergi ke kamar Satya! Kamu selesaikan masalah perasaanmu itu dengan tunangan kamu! Ayo, sana!" saran Ibu Diana pada calon menantunya dengan tersenyum.
Akhirnya Clarissa pun menaiki tangga menuju ke kamar tunangannya.
Dia membuka kamar laki-laki yang pintunya tidak terkunci itu. Dan seketika dia memeluk dari belakang laki-laki yang tengah berdiri di depan cermin mengenakan baju.
"Sayang! Aku cemburu tadi waktu kamu meluk pengasuh itu! Tapi setelah itu aku sadar, kalau kecemburuanku tidak beralasan. Mama menjelaskan kalau kamu anak mama yang baik. Bibi aja pernah kamu gendong, Mbak Ira juga pernah kamu bopong. Jadi wajar, kalau kamu tadi nolong pengasuh itu, kan?"
"Hmmm!" Satya tersebut tipis saat mendengarkan ungkapan kekasihnya.
"Lagi pula dia hanya pengasuh. Jadi, mana mungkin calon suamiku ini tertarik pada seorang pengasuh? Iya, kan sayang?"
"Hmmm!" Satya kembali tersenyum tipis.
"Sayang, kenapa sih, kamu sulit banget aku hubungi akhir-akhir ini?" tanya Clarissa kemudian dengan masih bergelayut manja merangkul tubuh tunangannya.
"Aku sibuk!"
"Dulu meski sibuk, kamu selalu ada waktu buat aku!"
"Mmm... Iya, mulai besok aku usahakan untuk lebih perhatian sama kamu!"
"Janji!" kata gadis itu dengan mengangkat jari kelingkingnya di depan Satya.
"Iya, aku usahakan!" jawab Satya dengan menyatukan jari kelingkingnya dengan kelingking Clarissa. "Sekarang ayo turun! Kita makan malam!" ajak Satya kemudian dengan merangkul mesra kekasihnya itu.
Akhirnya mereka berdua turun dari lantai dua rumah itu.
Terlihat tangan kiri Satya merangkul pinggang Clarissa, dan tangan kiri Clarissa tampak erat menggenggam tangan Satya yang melingkar di pinggangnya.
Ibu Diana yang melihat kemesraan putranya itu, mulai melebarkan senyuman.
Wanita yang sudah bersiap di meja makan itu tampak menyambut putra dan calon menantunya dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Mama bahagia melihat kalian seperti ini. Mama buru-buru untuk meresmikannya. Dan jangan lupa segera kasih mama cucu, setelah kalian menikah!" kata Ibu Diana saat Satya dan Clarissa mulai menarik kursi untuk duduk di meja makan.
"Kak Hilya, aku mau disuapin kakak!" rengek Clara pada Hilya yang juga berada di ruangan itu membantu bibi menyiapkan makanan.
"Clara anak hebat! Pasti bisa makan sendiri!" sahut Hilya lembut dengan mengusap-usap kepala Clara, sembari meninggalkan gadis itu untuk makan malam bersama keluarganya.
Tampak Satya memperhatikan langkah Hilya yang meninggalkan meja makan. Wajah Hilya terlihat layu, tatapan matanya juga sendu, seolah menyimpan luka yang mendalam di hatinya.
Wanita itu berjalan cepat menuju dapur. Dia mulai membereskan barang-barang yang berserakan di dapur, dan mulai mencucinya di wastafel.
Tidak terasa air matanya menetes. Entah apa yang dia rasakan, namun terlihat jika wanita cantik ini menyimpan sejuta kekecewaan dalam hidupnya.
"Aku ingin segera keluar dari rumah ini ya Allah!" ucapnya lirih dengan menyeka air matanya.
"Mbak Hilya! Mbak Hilya! Dipanggil Ibu!" seru mbak Ira pembantu rumah ini, yang baru datang, satu jam yang lalu.
"Iya, Mbak!" jawab Hilya.
"Biar aku saja yang beresin di dapur, mbak urus Non Clara saja, sepertinya anak itu rewel!" kata Mbak Ira dengan menggantikan posisi Hilya mencuci wadah-wadah kotor di depan wastafel.
Hilya pun segera berjalan menuju ruang makan keluarga Agung Wijaya.
"Baik, Bu!"
Hilya mengangguk sembari menghampiri Clara, dan duduk di sebelah Clara, yang berada tepat di depan Satya.
Terlihat Satya kembali memperhatikan Hilya yang begitu telaten menyuapi keponakannya.
"Nasi gorengnya kurang banyak!" kata Clara saat Hilya hendak menyuapkan nasi goreng yang sudah ada di piringnya.
"Tidak boleh berlebihan! Ini dulu dihabiskan, setelah ini habis, dan Clara masih kurang, baru boleh ambil, lagi!" sahut Hilya lembut. "Makannya berdoa dulu! Biar tidak ditemani setan!" ucapnya lembut dengan senyuman.
Terlihat Clara membalas senyum Hilya. Dan langsung mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Hilya mulai menyuapi gadis kecil manja itu. Dia sangat menikmati nasi goreng buatannya.
"Nasi gorengnya enak, Kak!" puji gadis kecil itu dengan mengacungkan jempol.
"Stttt!" ucap Hilya sembari tersenyum dengan menyentuh bibirnya.
Sementara Satya yang sedari tadi memperhatikan mereka, tersenyum kecil melihat keakraban Hilya dan keponakannya itu.
__ADS_1
"Bibi! Bibi!"
Tiba-tiba Ibu Dian memanggil Bibi Rum dengan suara lantang. Membuat perhatian semua orang yang berada di ruang makan tertuju padanya.
"Iya, Ibu! Ada apa?"
Secepat kilat bibi datang dan menghadap majikannya.
"Siapa ini ya masak, Bi? Kok rasanya beda. Tidak seperti masakan bibi."
Seketika mata Bibi Rum berkedip-kedip. Wanita paruh baya ini, mulai melirik ke arah Hilya.
"Maaf, Ibu! Tadi mbak Hilya pingin bantuin bibi masak. Jadi, bibi perbolehkan. Dan Mbak Hilya yang masak ini semua," terang bibi dengan menundukkan kepala.
Hilya pun menunduk saat bibi mengatakan hal itu pada majikannya.
"Oooh! Pantas," sahut Ibu Diana dengan menoleh ke arah Hilya. "Masakannya lebih enak dari pada masakannya bibi. Rempah dan bumbunya terasa. Saya suka, cocok di lidah saya! Makanya saya panggil bibi. Biar besok-besok masaknya seperti ini, jangan mengubah-ubah resepnya!" jelas Ibu Diana.
"Oooh!"
Seketika bibik menepuk-nepuk dadanya, dan tersenyum lebar.
"Bibi kira, ibu mau marah sama bibi dan Mbak Hilya," kata bibi kemudian.
"Enggak Bi!" sahut Ibu Diana dengan tersenyum ke arah bibi dan menoleh ke arah Hilya. "Berarti bibi harus belajar masak, sama Kak Hilya! Biar masakan bibi, enak seperti ini! Ya. sudah, sana bibi boleh ke dapur lagi!"
"Siap, Bu!" jawab bibi sembari beranjak dari ruangan itu.
Dan tidak lama setelah bibik pergi. Kembali terjadi kegaduhan di meja makan.
"Om, jangan dihabiskan nasi gorengnya! Itu punya aku!" teriak Clara, saat Satya hendak menyendok nasi goreng yang masih tersisa di piring besar.
"Iya, maaf! Ini buat Clara!" sahut Satya dengan mendorong piring itu lebih dekat ke arah Clara.
Laki-laki itu tampak tersenyum renyah saat Hilya tidak sengaja melihat ke arahnya.
"Terimakasih, ya! Masakan kamu, enak!" puji Satya.
Hilya pun mengangguk dan segera menundukkan kepala. Wanita ini merasa tidak nyaman, karena Satya memujinya di depan mama dan tunangannya.
Bersambung
__ADS_1