Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 39


__ADS_3

Pagi itu di rumah keluarga Agung Wijaya.


"Mbak Ira! Mana bibi dan Hilya?" tanya Satya saat melihat hanya Mbak Ira yang ada di dapur.


"Bibi, di kamar mandi. Kalau Mbak Hilya di kamar Non Clara, Tuan."


"Ooh!"


Satya yang saat itu membawa sebuah kantong plastik berisi sesuatu, bergegas keluar dari ruangan itu, setelah mendengar jawaban dari Mbak Ira.


Laki-laki yang sudah berpakaian rapi itu, melangkah menuju kamar keponakannya.


"Clara! Seandainya nanti, kakak pergi dari rumah ini, Clara harus tetap jadi anak baik ya! Rajin shalat doain mama, papa! Rajin belajar! Nurut sama Oma dan Om! Terus kalau ada Neny baru, Clara tidak boleh kasar!"


Terdengar Hilya menasehati Clara saat menyisir rambut gadis kecil itu.


"Memang, Kak Hilya mau pergi ke mana? Kak Hilya nggak boleh pergi kemana-mana!"


Hilya mulai melangkah duduk di hadapan Clara, memasangkan sepatu gadis kecil itu, setelah selesai menyisir rambutnya.


"Sayang! Hidup itu rahasia Tuhan. Tidak ada yang bisa menjamin kakak akan lama tinggal di rumah ini. Karena bisa jadi, esok hari kakak harus pergi!" kata Hilya lembut dengan memandang wajah gadis itu.


"Pergi tiba-tiba seperti mama dan papa aku?"


"Andaikan semua itu terjadi. Percayalah! Kalau Allah akan selalu melindungi Clara! Dan karena Allah juga sudah memberi kekuatan di hati Clara!" ujar Hilya dengan menyentuh dada gadis kecil yang terlihat mulai meneteskan air mata itu.


"Tapi aku tidak mau Kak Hilya pergi!" kata Clara dengan memeluk Hilya.


Terlihat Hilya pun berlinang air mata.


Satya yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar itu berlahan masuk ke dalam.


"Kak Hilya tidak akan pergi kemana-mana!" kata Satya dengan mengusap-usap rambut Clara.


Seketika Clara menoleh ke arah pamannya.


"Hari ini, Om yang antar Clara sekolah, ya! Sudah, jangan bersedih! Kak Hilya tidak akan kemana-mana," ucap laki-laki itu meyakinkan keponakannya seraya menggendong gadis kecil itu.


"Om janji, Kak Hilya tidak akan kemana-mana?" tanya Clara.


"Janji!" jawab Satya seraya mencubit hidung Clara dan melirik ke arah Hilya yang berdiri di belakangnya. "Sekarang, sana Clara ke meja makan! Sudah ditunggu sama Oma!" kata Satya kemudian seraya menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya.

__ADS_1


Clara pun segera berlari keluar dari kamar itu meninggalkan Satya dan Hilya.


Dan ketika Hilya hendak mengikuti langkah Clara. Tiba-tiba Satya menghalangi langkah wanita itu dengan menutup pintu kamar.


Dia menyodorkan sebuah kantong plastik yang sedari tadi dia bawa.


"Jika kamu berpikir aku membelikanmu barang yang kadaluwarsa, kamu bisa memeriksa tanggal kadaluwarsanya!" kata Satya.


"Aku tidak butuh barang-barang dari kamu!"


"Kamu butuh! Karena ini untuk kesehatan bayi kamu."


"Aku akan membuangnya, setelah aku menerimanya!" kata Hilya dengan mengambil kasar kantong plastik yang berisi kotak susu, madu, dan vitamin itu dari tangan Satya.


"Hmmmh!"


Satya terlihat menghelan nafas kuat.


"O, ya. Aku besok ada pekerjaan di luar kota. Aku putuskan, kamu dan Clara akan ikut bersamaku!" kata Satya kemudian. "Satu hal lagi! Berhenti berpikir aku akan membunuh kamu dan bayiku! Karena aku bukan laki-laki jahat yang sanggup melukai orang!"


"O, ya? Apa kamu lupa, kalau kamu sudah berbuat jahat, dan sudah melukai hatiku!" sahut Hilya dengan ketus seraya menepis tubuh laki-laki itu untuk keluar dari kamar Clara.


"Nanti malam kita akan berangkat! Dua hari kita akan menginap di luar kota! Jadi berkemaslah!" kata Satya seraya melepaskan tangan Hilya, dan membuka pintu kamar keponakannya tersebut.


Laki-laki itu berjalan keluar kamar mendahului Hilya. Dan sesaat setelah itu Hilya pun melangkah mengikutinya.


Waktu terus berjalan. Tidak terasa malam pun menjelang. Dan tiba saatnya Hilya beserta Clara menemani perjalanan bisnis Satya ke luar kota.


"Satya!" seru ibu Diana dengan mengetuk pintu kamar putranya.


"Masuk ma!" sahut Satya.


Terlihat setelah itu Ibu Diana membuka pintu kamar putranya.


"Kamu yakin mau mengajak Clara ke sana!" tanya wanita itu kemudian.


"Iya," sahut Satya dengan merapikan dasinya di depan cermin.


"Sayang! Apa nanti Clara tidak mengganggu meeting kamu? Kamu kan kesana bukan untuk liburan, tapi untuk bekerja."


"Ma! Kapan lagi aku bisa ajak Clara liburan keluar kota. Selama ini, aku jarang sekali memperhatikan gadis kecil itu. Mengajak dia jalan-jalan, ataupun liburan. Ini kesempatanku untuk memperhatikan dia, mumpung sekarang weekend, dan dia besok dia libur. Jadi, tidak ada salahnya jika aku mengajak dia," Jelas Satya. "Sekalipun perjalanan ini hanya tiga jam. Tapi aku yakin! Setelah sampai di sana, Clara pasti akan bahagia," lanjut Satya. "Lagi pula, ada Hilya yang nanti akan menemani Clara, Ma. Jadi, mama tidak perlu khawatir! Selama nanti menunggu aku meeting. Mereka berdua, bisa bersenang-senang," ucap Satya dengan menoleh ke arah mamanya, yang terlihat ragu dengan keputusan Satya, untuk membawa keponakannya itu dalam perjalanan bisnis.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu! Tapi tolong jaga Clara dan Hilya! Karena jujur, mama khawatir, membiarkan mereka berdua pergi tanpa mama!" kata Ibu Diana dengan menepuk-nepuk lengan putranya.


"Iya, Ma! Jangan khawatir. Lagi pula perjalanan ini hanya dua hari. Besok sabtu, pagi dan malam aku meeting. Hari minggu, pagi aku meeting. Dan setelah itu jika semua sudah selesai aku akan langsung pulang."


"Okey!" sahut Ibu Diana sembari meninggalkan kamar putranya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam Toyota New Alphard 3.5 Q. Sudah bersiap mengantarkan perjalanan bisnis Satya.


"Hilya! Titip Clara ya, jaga Clara dengan baik!" kata Ibu Diana sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


"Baik, Bu!" sahut Hilya sembari mengangguk dan menggiring Clara masuk ke dalam mobil mewah milik laki-laki yang pernah menikahinya.


Tidak lama kemudian mobil itu melaju keluar dari rumah Ibu Diana. Satya yang awalnya duduk di depan bersama sopir kantor, meminta sopirnya untuk berhenti. laki-laki itu pindah duduk di belakang, menemani Clara dan Hilya.


"Aku pindah di depan ya Om!" kata Clara sembari beranjak dari tempat duduknya, pindah ke samping sopir mereka.


Kini, Satya dan Hilya duduk berdampingan.


Wanita itu, tampak acuh kepada laki-laki yang duduk di sampingnya dengan mengalihkan pandangan, menoleh ke jendela mobil.


Tiga jam kemudian, mobil mereka telah memasuki sebuah lahan parkir hotel berbintang yang ada di kawasan tepi pantai. Hotel yang sangat indah dan megah, dengan pemandangan mengarah ke pantai.


Hilya takjub melihat keindahan pemandangan di kawasan hotel itu. Sekalipun sudah malam, masih tampak keindahan disekitarnya. Dan mata Hilya terlihat mengawasi sekeliling tempat itu dari jendela mobil.


"Kamu suka?" tanya Satya membuyarkan konsentrasinya menikmati keindahan tempat itu.


Hilya hanya melirik Satya tanpa menyahuti pertanyaan laki-laki itu.


"Ini adalah salah satu hotel milikku," kata Satya dengan menoleh ke arah Hilya sembari tersenyum.


"Aku tidak perduli," sahut Hilya dengan tersenyum sinis.


"Hotel ini, adalah salah satu hotel milik anak kita," kata Satya lagi.


"Sejak dalam kandungan, anakku aku didik untuk tidak gila harta. Jadi, tidak perlu repot memamerkan hartamu padaku," ucap Hilya lirih dengan wajah yang masih sinis.


"Mmm..." Satya tersenyum tipis, sembari mengalihkan pembicaraannya. Berusaha menahan diri untuk tidak berdebat dengan Hilya.


"Di belakang sana ada cottage juga. Kamu bisa memilih, mau tidur di hotel, atau di cottage," kata Satya lembut dengan menunjuk ke arah belakang hotel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2