
Melihat laki-laki yang sama sekali tidak ingin dijumpainya itu, membuat Hilya menjadi geram. Namun dia berusaha untuk mengendalikan diri, dan menunjukkan sikap tenang.
'Ya Allah, tidak! Aku tidak mengenal laki-laki itu. Aku ke sini untuk bekerja. Beri aku kekuatan Ya Allah! Untuk tidak melihatnya sekalipun dia ada di depanku!' ucap Hilya dalam hati, berusaha membangun kekuatan agar bisa menghadapi laki-laki itu dengan tenang.
Terlihat setelah itu Hilya menghelan nafasnya panjang.
"Hilya, ini Satya. Omnya Clara, putra Ibu Diana," kata dokter Melvina mengenalkan Satya pada Hilya.
Hilya mengangguk sembari tersenyum tipis tanpa melihat seorang laki-laki yang berdiri tegap di hadapannya.
"O, ya Diana. Aku harus ke rumah sakit. Aku titip Hilya ya! Insya Allah Hilya akan bekerja dengan baik, dan tolong hubungi aku ya, kalau ada apa-apa dengan Hilya, karena anak ini tidak punya telepon," kata dokter Melvina kemudian kepada Ibu Diana.
"Okey!" jawab Ibu Diana dengan tersenyum sembari memeluk dokter Melvina yang hendak pergi meninggalkan rumahnya.
"Hilya, ibu berangkat dulu! Ingat pesan ibu ya, Nak!" pamit dokter Melvina pada Hilya sembari menepuk pundak Hilya, dan kemudian berbalik pergi.
Setelah dokter Melvina pergi. Ibu Diana mulai mengajak Hilya masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo masuk!" ajaknya ramah. "Bibik, Bik Rum!" terdengar setelah itu dia memanggil salah seorang pembantunya. "Bik! Tolong bawa tas Mbak Hilya ke kamarnya ya! Soalnya aku mau ajak Mbak Hilya ke kamar Clara," kata wanita itu pada asisten rumah tangga yang baru saja dipanggilnya.
"Baik Bu!" jawab wanita separuh baya dengan mengangguk, sembari meraih tas pakaian dari tangan Hilya.
"Ayo, aku tunjukkan kamar Clara!" ajak Ibu Diana kemudian pada Hilya. "O, ya. Hari ini Clara tidak mau ke sekolah, dia bilang dia sakit. Tapi aku tahu dia hanya alasan. Dan aku juga tidak bisa memaksanya," Jelas ibu Diana pada Hilya.
Terlihat Satya juga mengikuti mamanya dan Hilya menuju kamar Clara.
"Ini kamar Clara!" kata Ibu Diana pada Hilya saat telah sampai di depan pintu kamar Clara.
Ibu Diana mulai membuka pintu kamar tersebut.
"Clara! Lihat siapa yang datang! Oma bawa teman baru buat Clara," kata Ibu Diana pada gadis kecil yang sedang tidur dengan selimut yang menutup rapat di sekujur tubuhnya.
Seketika Clara membuka selimutnya, dan menoleh ke arah beberapa orang yang menghampirinya.
"Ini Kak Hilya, yang akan menemani Clara bermain dan belajar!" kata Ibu Diana pada Clara.
Tampak Clara memandang Hilya dengan wajah angkuh.
"Hilya, aku tinggal dulu ya! Tolong kamu urus Clara!" kata wanita itu kemudian seraya berbalik meninggalkan Hilya.
Sementara Satya terlihat masih berdiri di belakang Hilya. Dan beberapa menit setelah mamanya pergi. Satya langsung melangkah mendekati Hilya.
"Apa tujuanmu datang ke rumahku?" bisik laki-laki itu ke telinga Hilya. "Apa kamu sengaja datang ke rumah ini untuk balas dendam, dan ingin menghancurkan kebahagiaan keluargaku?" tanyanya dengan melirik sinis wajah Hilya.
Hilya mulai mengatur nafasnya, dan membalas lirikan Satya dengan tatapan yang tenang, sembari mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Jika kamu mengira semua manusia di dunia ini, jahat seperti dirimu, kamu salah besar!" sahut Hilya. "Aku di sini untuk bekerja. Dan asal kamu tahu! Aku bukanlah orang yang suka menyakiti hati orang lain. Apalagi menghancurkan kebahagiaan mereka." Tandas Hilya.
Setelah mengatakan hal itu pada Satya, Hilya melangkah mendekati tempat tidur Clara. Sementara Satya tampak memperhatikan langkah wanita itu dengan sejuta kegelisahan yang terpancar dari binar matanya.
__ADS_1
Satya mulai menghela nafas panjang, dan berlahan meninggalkan kamar Clara menuju ruang makan.
"Mama yakin mau memperkerjakan wanita itu?" tanya Satya sembari duduk di meja makan.
"Iya. Kenapa?"
"Ma, aku lihat wanita itu tidak berkompeten, aku juga tidak yakin dia dapat menjadi pengasuh yang baik untuk Clara. Apa mama tidak mau mempertimbangkan lagi?"
"Satya, dia kan baru pagi ini masuk kerja. Kita lihat dulu cara kerjanya. Baru setelah itu kita bisa buat kesimpulan, dia berkompeten apa tidak," sahut Ibu Diana.
"Mama bener sayang. Kita lihat dulu cara kerja wanita itu, baru setelah itu kita bisa menilai dia," sahut Clarissa dengan tersenyum.
Terlihat Satya membuang nafas keras saat mendengan jawaban mama dan kekasihnya. Setelah itu dia mulai memotong roti, dan memulai sarapannya.
Sementara di kamar Clara.
"Clara sakit apa?" tanya Hilya lembut pada gadis kecil yang dari tadi tetap berada di dalam selimutnya. "Mau Kak Hilya bantu minum obat?" tawar Hilya dengan ramah pada gadis itu.
"Berisik!!" teriaknya kasar. "Aku nggak butuh minum obat, sana keluar!" kata gadis itu kasar.
"Tapi Oma Diana bilang, kalau Kak Hilya harus menemani Clara," sahut Hilya dengan tersenyum.
"Ngapain nemenin aku, aku nggak butuh teman," ucap Clara ketus.
"Tapi, kakak tetap harus menemani Clara, karena ini memang tugas kakak," sahut Hilya masih dengan suara lembut.
Terlihat gadis itu mulai membuka selimutnya, dan duduk dengan menoleh ke arah Hilya.
"Boleh, apa syaratnya?"
"Aku mau kasih kamu tantangan. Kalau kamu bisa ngerjain PR matematika dan bahasa Inggris aku, dan mendapat nilai 100, kamu boleh jadi teman aku. Tapi kalau enggak, kamu keluar dari rumah ini," kata Clara dengan wajah menantang Hilya.
"Okey. Tidak masalah," sahut Hilya dengan tenang. "Tapi bagaimana Kak Hilya tau, kalau PR yang Kak Hilya kerjakan akan dapat nilai 100? Sementara kamu kan nggak bisa ngumpulkan PR karena sakit."
"Mmm..."
Gadis kecil itu tampak berfikir, dan kemudian.
"Bibik!!" Dia memanggil bibik dengan suara lantang.
"Iya, Non Clara. Ada apa?" tanya bibik Rum yang secepat kilat tiba-tiba datang ke kamar Clara.
"Aku mau sekolah hari ini. Cepat siapkan seragam aku!" perintahnya dengan kasar.
"Iya, Non. Baik," kata bibik dengan sangat ramah.
Hilya yang melihat sikap kurang sopan gadis ini pada bibik, hanya dapat tersenyum kecil.
"Ini PR aku, kerjain!" kata gadis itu kemudian pada Hilya sembari memberikan buku lembar kerjanya dengan kasar pada Hilya.
__ADS_1
Berlahan Hilya membuka buku itu.
"PR matematika halaman 20 sampai 25, 50 soal pilihan ganda, 5 soal essai. Terus untuk bahasa Inggris halaman 23 sampai 26, 25 pilihan ganda, 10 essai."
"Mmm...Iya," jawab Hilya dengan tersenyum.
Sembari bibik Rum melayani gadis kecil itu mengenakan seragam sekolahnya, Hilya mulai mengerjakan pekerjaan rumah Clara.
"Non Clara mau sarapan apa?" tanya Mbak Ira, salah satu asisten rumah tangga yang lainnya. "Mau roti keju, apa roti dengan selai coklat? Atau roti isi yang lainnya?"
"Aku mau roti dioles mentega aja," jawab gadis kecil yang masih terlihat dibantu bibik mengenakan seragam sekolahnya.
"Baik, Non," jawab mbak Ira.
Beberapa menit kemudian Mbak Ira sudah membawa roti itu ke kamar Clara.
"Non Clara, mau disuapin mbak Ira, apa Bibik Rum?" tanya Mbak Ira kemudian.
"Kalau aku sarapan sekarang, aku bisa terlambat," teriak Clara kasar.
"Biar disuapin saya aja mbak di mobil," sahut Hilya lembut.
Terlihat Clara melirik Hilya yang sedang tersenyum dan bicara dengan mbak Ira.
"Sudah selesai PRku?" tanya gadis kecil itu angkuh.
"Hampir selesai," jawab Hilya masih dengan tersenyum.
Hilya berfikir, mana mungkin dengan waktu kurang lebih sepuluh menit dia dapat mengerjakan PR itu dengan nilai seratus. Tapi meski demikian Hilya tetap mengerjakannya, dan berharap akan ada keajaiban, agar dia tetap bisa bekerja di tempat itu.
Tidak lama kemudian pekerjaan rumah itu selesai. Clara juga telah selesai mengenakan seragam dan sepatunya.
Akhirnya mereka pun bergegas keluar dari kamar.
"Clara mau sekolah?" tanya Ibu Diana heran saat Clara kluar dari kamarnya dengan memakai seragam lengkap.
"Mmm," gadis kecil itu mengangguk-angguk.
"Sudah sembuh?" tanyanya lagi.
"Iya. Kalau aku diajak ngomong terus, nanti aku bisa terlambat sekolah," sahut Clara seraya berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
"Saya mengantar Clara sekolah dulu ya, Bu!" pamit Hilya kemudian pada Ibu Diana yang saat itu masih berada di meja makan bersama Satya dan Clarissa.
"Iya, hati-hati. Jaga Clara ya!" sahut Ibu Diana.
Ibu Diana memandangi langkah Clara dan Hilya dengan senyum bahagia, hingga langkah mereka menghilang dari pandangannya.
"Belum satu hari Hilya di rumah ini, tapi dia sudah bisa memberikan energi positif pada Clara," kata Ibu Diana dengan senyum sumringah pada Satya dan Clarissa. "Dokter Melvina memang tidak salah mengirim Hilya ke rumah ini. Dan saat ini, jujur hati mama merasa tenang. Karena mama sudah menemukan orang yang tepat untuk menjaga Clara." Ungkap Ibu Diana dengan kembali tersenyum.
__ADS_1
Bersambung