
Sepertinya Clarissa benar-benar tidak main-main dengan ancamannya.
Pagi ini dia berdandan sangat cantik.
"Selamat pagi, Ma!"
Clarissa menyapa Ibu Diana yang saat itu sudah berada di meja makan.
Wanita cantik itu mencium Ibu Diana kemudian menarik kursi dan duduk disampingnya.
"Kamu cantik sekali Sayang!" puji Ibu Diana pada Clarissa di depan Satya dan Hilya.
Hilya melirik ke arah Satya, tampak laki-laki itu juga terpukau dengan kecantikan dan keseksian mantan kekasihnya.
"O, iya. Ma! Nanti malam aku ada undang menghadiri acara IFC, kebetulan aku dapat penghargaan sebagai desainer muda kreatif. Mama dan Satya mau kan, menemani aku?"
Clarissa menyentuh tangan Ibu Diana saat mengatakan hal itu, dan menoleh ke arah Satya.
"Undangannya hanya untuk dua orang. Jadi, Hilya tidak bisa ikut," tambah Clarissa dengan suara lembut, dengan tersenyum ke arah Hilya.
Hilya membalas tipis senyum Clarissa, seraya menoleh ke arah Satya.
"Aku tidak akan pergi, jika kamu tidak mengijinkan," kata Satya dengan menggenggam tangan Hilya, seraya mencium punggung tangan wanita cantik itu.
****
IFC adalah Indonesia Fashion Club. Sebuah komunitas para praktisi akademisi fashion. Dan Clarissa tergabung dalam komunitas tersebut.
Malam ini Clarissa memang mendapatkan undangan ke acara tersebut untuk menerima penghargaan sebagai desainer muda kreatif. Dan kesempatan itu, digunakan oleh Clarissa untuk merayu Satya.
"Aku berangkat dulu Sayang!" pamit Satya kemudian pada Hilya.
"Iya."
Hilya tersenyum sembari meraih tangan Satya dan menciumnya. Lalu kemudian terlihat Satya mencium kening Hilya.
"Ma! Aku berangkat dulu! Assalamualaikum!" pamit Satya, seraya beranjak meninggalkan ruang makan.
"Waalaikum salam," jawab Hilya dan Ibu Diana.
"Oma! Kak Hilya! Clara berangkat sekolah, ya!"
Terdengar kemudian Clara yang baru keluar dari kamarnya ditemani oleh Bibi Rum, berpamitan untuk berangkat sekolah.
Hilya dan Ibu Diana tersenyum dan mengangguk.
"Hati-hati!" ujar Hilya dengan melambaikan tangannya pada Clara.
****
Kini hanya tinggal Hilya, Ibu Diana, dan Clarissa yang ada di ruang makan.
Hilya masih belum beranjak dari tempat duduknya, wanita itu masih terlihat menikmati sarapan.
"Hilya tolong izinkan Satya pergi, ya!"
Terdengar suara Ibu Diana memohon kepada Hilya.
"Walau bagaimanapun, Mama dan Satya pernah ada dalam perjalanan karier Clarissa. Jadi wajar kan, jika Clarissa ingin berbagi kebahagiaan dengan kami?" ujar Ibu Diana lembut.
"Iya, Ma!"
__ADS_1
Hilya tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih ya, Nak!" sahut Ibu Diana dengan menyentuh tangan Hilya dan tersenyum.
****
Waktu terus berjalan, kini malam telam telah menjelang. Terlihat Satya dan Hilya sedang berbincang di dalam kamarnya.
"Aku tidak mau pergi. Aku capek."
"Mama ingin kamu ikut, Mas!"
"Sayang!"
"Mas! Aku tidak mau mama mengira, kalau aku tidak mengizinkannya kamu pergi."
"Malam ini Clarissa pasti dandan sangat cantik. Kamu tidak cemburu aku pergi sama dia?"
"Mas! Ya, kamu nggak usah dekat-dekat Clarissa. Kamu jalannya sama mama aja. Gandeng tangan mama!"
"Kalau aku ketukar, gandeng tangan Clarissa, gimana?"
Satya melontarkan pertanyaan sengaja menggoda Hilya.
"Mas!"
Hilya terlihat mengerutkan kedua alisnya.
"Ya udah, aku nggak usah pergi. Aku tidur aja nemenin kamu," kata Satya seraya melangkah duduk di tepi ranjang.
"Mas! Aku nggak enak sama mama kalau kamu nggak ikut. Karena tadi aku bilang aku akan ngizinin kamu pergi," ujar Hilya dengan nada berat.
"Sayang! Begini..." sahut Satya.
Hilya memotong kata-kata Satya. Matanya tajam menatap mata Satya.
"Sayang!"
Satya seketika meraih tangan Hilya yang berdiri di hadapannya.
"Aku belum pergi aja kamu sudah cemburu, apalagi kalau aku pergi?"
"Hmmmh!... Aku nggak cemburu."
Hilya terlihat cemas dan kemudian duduk di samping Satya.
"Aku percaya sama kamu, Mas. Ada mama di sana, jadi aku tidak khawatir membiarkan kamu pergi."
Berlahan Hilya menyandarkan kepalanya di bahu Satya.
"Satya!"
Terdengar kemudian Ibu Diana memanggil Satya dengan mengetuk pintu.
"Mama, Mas!"
Hilya beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu.
Mereka berdua berbicara di depan pintu kamar.
"Hilya! Kamu mengizinkan Satya untuk pergi, kan?"
__ADS_1
Ibu Diana bertanya dengan lembut sembari menyentuh bahu Hilya.
"Iya, Ma."
"Terima kasih ya, Sayang!"
"Sama-sama, Ma! Sekarang Mas Satya masih ganti baju," ujar Hilya.
"Mas cepat, ya! Sudah ditunggu Mama!"
Hilya menoleh ke arah Satya yang masih duduk di tepi ranjang tidurnya.
Berlahan Satya bangkit dari tempat tidur dan menghampiri mamanya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku tidak ikut, Ma! Hilya hamil, dan aku khawatir meninggalkan Hilya sendirian di rumah."
"Satya!"
Ibu Diana menyebut nama putranya dengan mengerutkan alisnya.
"Mas! Aku tidak sendirian. Ada bibi, dan asisten rumah tangga yang lain. Kamu ikut saja, temani mama!" bujuk Hilya.
"Sayang!"
"Maaas!"
Hilya meraih tangan Satya dengan menatap mata Satya penuh harap.
"Satya! Mama tunggu kamu di bawah!" ucap ibu Diana kemudian dengan wajah kesal, sembari meninggalkan tempat itu.
****
"Mas! Aku tidak mau mama berpikir kalau aku tidak mengizinkan kamu pergi."
Hilya berjalan menuju ranjang tidurnya sembari menunduk lesu.
"Iya, aku akan pergi," sahut Satya.
"Kamu benar-benar ikhlas aku pergi?" tanya Satya dengan menoleh ke arah wanita yang duduk di tepi ranjang dengan wajah gelisah.
"Aku percaya sama kamu!" sahut Hilya dengan tersenyum.
"Segera pulang jika sudah selesai, ya!" tambah Hilya seraya bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Satya yang sedang mengenakan jas di depan cermin meja riasnya.
"Mas!"
Hilya memeluk Satya dari belakang.
"Jangan minum alkohol, ya!" pesan Hilya lirih.
Seketika Satya menoleh ke arah Hilya. Laki-laki itu menatap lekat wajah Hilya.
"Iya," sahutnya dengan mengangguk dan mencubit hidung istrinya.
"O, iya. Sayang! Kalau ada apa-apa, telepon aku. Aku pasti akan langsung pulang," pesan Satya seraya merapikan dasi di kerah kemejanya.
"Mmm..."
Hilya mengangguk sembari tersenyum.
"Aku pergi dulu, ya!" pamit laki-laki itu kemudian seraya mencium pipi istrinya.
__ADS_1
Bersambung