
Clarissa terlihat bersandar lemas di tembok rumah itu, dengan air mata yang terus berlinang.
"Maafkan aku!" kata Satya lirih dengan kembali menyentuh lengan wanita cantik itu.
Seketika Clarissa menepis tangan Satya.
"Katakan padaku? Seperti apa wanita yang sudah merebut kamu dariku?"
Clarisa menegakkan kepalanya dan kembali menarik kerah baju Satya.
"Selama ini. Kamu selalu memujiku, mengagumiku, mengatakan kalau aku adalah kebahagiaanmu! Katakan padaku! Siapa wanita itu?" teriak Clarissa lagi.
"Apa yang membuat kamu, lebih memilih dia dari pada aku?" pekik Clarissa.
"Apa dia lebih baik dari aku?" tanya Clarissa dengan semakin kuat menarik kerah baju Satya hingga kancing baju Satya berjatuhan.
"Iya," sahut Satya lirih dengan menatap sendu mata Clarissa.
"Apa?" tanya Clarissa lagi meyakinkan dirinya dengan jawaban Satya yang baru saja dia dengar.
"Iya," sahut Satya dengan jawaban yang sama.
Seketika mulut Clarissa menganga, dan tangannya mulai menutup mulutnya dengan perasaan tidak percaya.
"Apa dia lebih cantik dari aku?" tanya Clarissa lagi.
"Iya."
"Apa dia lebih pintar dari aku?"
Mendengar pertanyaan Clarissa, seketika terbersit bayangan Hilya di benak Satya. Saat Hilya mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Iya,"
Satya kembali menyahuti pertanyaan Clarissa dengan jawaban yang sama.
"Apa dia juga pernah belajar di luar negeri seperti aku?"
"Tidak! Tapi dia pernah melepaskan beasiswa S2nya di luar negeri demi aku."
"Maksud kamu? Dia jauh lebih segala-galanya dari aku?"
"Iya."
Satya menjawabnya dengan memejamkan mata.
"Seperti apa dia? Seperti apa?" pekik Clarissa penuh emosi dengan kembali menarik baju Satya hingga kancingnya terlepas lagi.
"Dia seperti bidadari, yang sengaja Tuhan kirim untukku! Hingga membuat hatiku tersiksa, jika aku jauh darinya."
'Plaaak!!'
Seketika Clarissa menampar pipi Satya.
"Jika dia seperti bidadari, dia tidak mungkin menghancurkan hubungan pertunanganku denganmu!" teriak Clarissa lagi.
"Dengar! Aku tidak akan melepaskan wanita itu! Aku akan mencarinya, dan membuat perhitungan dengannya!" ancam Clarissa dengan amarah yang membuncah sembari menunjuk wajah Satya.
Dan setelah mengatakan hal itu, Clarissa berlari keluar dari rumah Ibu Diana.
"Clarissa!" seru Ibu Diana.
__ADS_1
Seketika wanita setengah baya itu mengejar Clarissa yang berlari keluar dari rumahnya.
Sementara Satya tampak bergeming, tanpa memperdulikan wanita yang pernah dia cintai keluar dari rumahnya dengan derai air mata.
"Satya! Kejar Clarissa! Kejar Clarissa!" teriak Ibu Diana dengan mengguncang tubuh Satya yang masih mematung di ruang keluar mereka.
"Aku lelah, Ma! Aku istirahat dulu!" kata laki-laki itu seraya beranjak dari hadapan mamanya, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
*****
Akhirnya malam yang penuh dengan tangis, dan ketegangan itu berlalu.
Kini, pagi telah menjelang. Suasana di rumah Ibu Diana tampak berbeda.
Senyap, sepi, di ruang makan keluarga Agung Wijaya saat ini.
Satya membisu tanpa kata. Ibu Diana juga terlihat bersikap dingin.
Meski mereka duduk berhadap-hadapan, keduanya tampak tidak bertegur sapa.
"Clarissa kecelakaan! Mobilnya menabrak trotoar tadi malam!"
Wajah Ibu Diana tampak kesal dan terpaksa saat mengatakan hal itu pada Satya.
"Mama akan ke rumahnya pagi ini. Mama harap, kamu ikut bersama mama!"
"Aku sibuk, ada meeting di kantor, aku tidak bisa meninggalkan tugasku," sahut Satya datar.
"Satya!"
Ibu Diana menyebut nama putranya dengan wajah geram bercampur geregetan.
"Katakan pada mama! Siapa wanita itu?" tanya Ibu Diana kemudian dengan suara meninggi.
"Mama tidak izinkan, kamu membawa wanita selain Clarissa, masuk ke rumah ini!" tegas Ibu Diana.
"Aku akan berusaha, agar mama menyukainya."
"Mama tidak sudi!" sahut Ibu Diana kesal.
"Aku berangkat dulu, Ma!" pamit Satya kemudian sembari bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri mamanya untuk mencium keningnya.
"Salam untuk Clarissa dan keluarganya! Aku minta maaf tidak bisa ke sana!"
Setelah mengatakan hal itu, Satya bergegas meninggalkan mamanya.
"Satya!" seru Ibu Diana.
Satya yang sudah hampir keluar dari ruangan itu, berlahan menoleh ke arah mamanya.
"Mama tidak yakin, ada wanita lain selain Clarissa dalam kehidupanmu," kata ibu Diana dengan beranjak dari tempat duduknya menghampiri Satya.
"Sayang! Mama mengenalmu! Kamu, tidak pernah berhubungan dengan wanita lain, selain Clarissa," lanjut Ibu Diana. "Katan pada mama, Nak! Jujurlah pada mama! Kenapa kamu memutuskan Clarissa?" tanya Ibu Dian lembut. Berharap putranya itu mau berbagi cerita dengannya.
"Hmmmh!"
Satya tersenyum tipis.
"Aku hanya berusaha memilih seseorang yang aku yakini. Aku minta maaf, Ma! Aku berharap Mama dapat memahami keputusanku!" ujar Satya seraya kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan mamanya.
Terlihat Ibu Diana mengusap-usap dadanya, air matanya menetes, saat memperhatikan langkah putra semata wayangnya itu pergi.
__ADS_1
****
Kini, Satya sudah melajukan mobilnya. Tampak mobil tersebut masuk ke dalam halaman sebuah lembaga pendidikan milik Ustadz Ja'far.
Satya mulai keluar dari dalam mobil. Dia membawa sebuah buket buah, dan juga satu kotak makanan untuk Hilya.
Wajahnya terlihat berbunga dengan senyum mengembang saat melangkah menuju ruang kelas Hilya.
Setelah sampai di depan kelas, Satya memanggil salah satu murid Hilya yang ada di sana.
"Tolong, ini berikan pada Bu gurumu, ya!"
Satya meminta tolong kepada murid laki-laki itu untuk memberikan hadiah kepada Hilya, yang saat itu tampak serius dengan perangkat mengajarnya di meja guru.
"Itu ustadzah, bukan Bu guru," kata murid laki-laki Hilya pada Satya.
"Iya, berikan pada Ustadzah Hilya! Ini upahnya!" bisik Satya dengan menyelipkan selembar uang kertas warna biru di saku murid laki-laki itu.
"Siap, Om! Laksanakan!"
Seketika murid laki-laki itu berlari menuju meja Hilya.
"Ustadzah, ini dari Om!" katanya dengan menunjuk ke arah Satya yang masih berdiri di depan ruang kelas.
Satya langsung melebarkan senyuman saat wanita cantik berhijab biru muda itu menoleh ke arahnya.
"Hmmmh!"
Hilya tersenyum tipis, dan berlahan mengalihkan pandangannya, Hilya mulai membuka kartu ucapan yang tertempel di atas buket buah yang sangat indah itu.
"Selamat bekerja! Jaga kesehatan! Jangan telat makan!"
Kata yang tertulis di kartu ucapan itu. Terlihat ada gambar tiga buah bentuk hati juga di bawah tulisan itu.
Setelah membacanya, Hilya kembali menoleh ke arah Satya.
"Tiga gambar hati itu artinya! Aku, kamu, dan anak kita," ucap Satya dengan suara pelan, dengan mulut dan gerakan tangan begitu jelas, yang sengaja dia tunjukkan, agar Hilya memahami kata-katanya.
"Hmmmh!"
Hilya menghela napas panjang sembari tersenyum kecut, dan segera mengalihkan pandangannya lagi.
"Stttt! Stttt! Stttt!!"
Satya kembali memanggil murid Hilya yang sudah dia beri uang saku tadi, dengan sebuah isyarat.
"Apa, Om?" tanya bocah itu dengan menghampiri Satya.
"Bilang pada Ustadzah! Om berangkat kerja dulu!" bisik Satya padanya.
"Siap, Om!"
Seketika murid laki-laki itu berlari menuju meja Hilya kembali.
"Ustadzah! Om bilang, Om mau berangkat kerja dulu!" katanya.
"Iya."
Hilya tersenyum, sembari menoleh ke arah pintu, tempat Satya berdiri. Namun ternyata laki-laki itu telah pergi.
"Hmmm!"
__ADS_1
Hilya tersenyum, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan kembali melihat buket buah dan kotak makanan dari Satya. Lalu kemudian mulai berkonsentrasi untuk memimpin doa dan dzikir pagi, karena bel masuk telah berbunyi.
Bersambung